Pemberontakan Para 'Borjuis' Terhadap Kenaikkan Elpiji 12Kg


Apa yang ada di benakmu kalau melihat foto ini? Kembali ke pertanyaan tadi, 
mungkin jawabannya ragam ya.. Ada yang bilang Pantai, ada yang sebut Bule, ada 
juga yang bilang alam yang bagus, Tapi kalau saya cenderung jawab.. Cuma orang 
kaya yang bisa ke tempat macam ini.. At least sebagian besar demikian, Tempat 
di foto ini adalah sebuah restoran di atas sebuah tebing daerah Ungasan, Bali



Seperti biasa, setiap memesan makanan, saya kadang suka menengok ke dapur 
restoran, sekedar untuk lihat cara sang koki memasak. Cukup janggal, ketika 
saya tengok ke dapur restoran ini, ternyata tempat mewah ini memakai tabung gas 
elpiji 3kg alias tabung melon. Pikir saya, "Kok tempat semewah ini pakai tabung 
melon alias gas elpiji 3kg? Bukannya tabung melon itu subsidi?"



Coba lihat baik-baik foto yang saya kasi tadi, tamunya bule semua, termasuk 
saya #buledepok, Bisa jadi, pendapatan harian restoran mewah di tebing Ungasan 
Bali ini meraup ribuan dollar.. Masak pakai tabung melon elpiji 3kg sih?

Tak tahan rasa penasaran, saya tanya sama orang-orang di dapur restoran mewah 
ini, "Kok pakai tabung elpiji 3kg, Bli?" Si Bli (sebutan mas untuk orang Bali) 
menjawab, "Bos yang suruh ganti, katanya karena harga elpiji 12kg mau naik. 
Untuk efisiensi bisnis," "Tadinya kita pakai tabung 12kg, tapi ya sekarang 
ganti, antisipasi kenaikan harga," kata salah seorang staff restoran mewah ini. 
Saya tanya lagi, "Bli tahu tidak kalau tabung gas 3kg itu disubsidi 
pemerintah?" Si Bli itu jawab lagi, "Ya tahu sih, tapi bos bilang ganti elpiji 
3kg, ya mau gimana, saya kan cuma staff,"

Memang kalau dipikir-pikir, banyak pengusaha dan orang kaya itu medit alias 
pelit ya, masak maunya pakai yang subsidi sih, Harga tabung gas elpiji 12kg 
memang akan naik.. Dan banyak pihak mulai ribut dengan seolah-olah mengatakan 
kalau rakyat akan tercekik. Mungkin yang teriak-teriak tolak elpiji 12kg naik 
itu tidak tahu bahwa elpiji 12kg tabung biru itu memang produk bisnis. Kalau 
untuk rakyat, kita sudah punya elpiji 3kg tabung melon yang harganya disubsidi 
pemerintah. Tabung elpiji 12kg itu tidak disubsidi dan harganya mengikuti 
mekanisme pasar, berbeda dengan elpiji 3kg yang disubsidi. Jadi ya wajar saja 
kalau elpiji 12kg harganya naik.. Kok malah ribut-ribut pakai isu seolah-olah 
rakyat akan susah kalau harganya naik. Setiap warga yang merasa tidak mampu 
beli elpiji diharga pasar, ya silakan beli elpiji 3kg, tapi kalau mampu beli 
harga pasar ya pakai 12kg. Kalau anda sebetulnya mampu beli yang 12kg tapi 
merasa perlu efisiensi alias penghematan alias
 pelit alias medit, ya migrasi saja ke 3kg

Seperti restoran mewah ini, karena bosnya merasa perlu efisiensi, padahal 
pendapatan ribuan dolar per hari, ya sah-sah saja pindah ke 3kg. Tapi ya 
jadinya kelihatan banget pelitnya. Masak orang mampu pakai barang bersubsidi?

Memangnya para pengusaha ini berpikir kalau subsidi itu unlimited alias tidak 
terbatas? Beda cerita kalo negara mampu menyubsidi semua orang. Elpiji 12kg dan 
3kg ini sedikit banyak mirip dengan pertamax dan premium, meski tidak apple to 
apple. Pertamax merupakan produk bisnis yang harganya mengikuti mekanisme 
pasar, sedangkan premium disubsidi karena untuk masyarakat kurang mampu

Memang pada kasus pertamax versus premium, keduanya juga berbeda kandungan, 
pertamax beroktan 92, premium beroktan 88. Pada kasus elpiji 12kg dan 3kg tidak 
ada perbedaan kandungan, keduanya gas yang sama, hanya saja 12kg tidak 
disubsidi, 3kg disubsidi

Walaupun sah-sah saja pengusaha restoran mewah ini pakai elpiji 3kg, tapi ya 
agak gimana gitu melihatnya. Melihat orang mampu pakai elpiji 3kg itu seperti 
melihat orang pakai mobil mercedes terbaru 2013, tapi pakai premium. Mercedes 
2013 pakai premium.. Hmmmm.. Selain tidak tahu malu, juga merusak mesin kalee 
mobil kayak gini harus pertamax plus

Kalau semua orang kaya pakai barang bersubsidi, cukup kah ketersediaan barang 
bersubsidi untuk seluruh orang kurang mampu? Pertanyaannya kemudian, kenapa ada 
orang-orang teriak jangan naikkan elpiji 12kg? Padahal elpiji 12kg bukan 
konsumsi rakyat kebanyakan? Kira-kira siapa saja yang akan dirugikan dengan 
naiknya harga elpiji 12kg? Kan elpiji 12kg bukan produk bagi rakyat tak mampu? 
Politisi dan parpol tiba-tiba mengatasnamakan rakyat menolak kenaikan elpiji 
12kg? Siapa yang mendanainya? #tebak2an

Kenapa tiba-tiba muncul pemberontakan borjuis? Yes, bagi saya penolakan 
kenaikan harga elpiji 12kg adalah pemberontakan borjuis. Jawabannya sudah saya 
sebutkan kategorinya di awal tweet ini, Adalah para pengusaha restoran, mal, 
hotel dan lain sebagainya yang menjadi dalang di balik penolakan kenaikan harga 
elpiji 12kg

Bisa bayangkan tidak, gurita retail milik Chairul Tanjung akan mengalami 
peningkatan beban usaha berapa banyak kalau elpiji 12kg naik? Bisa bayangkan 
ratusan mal Lippo, Ciputra, juga ratusan gerai retail Syamsul Nursalim akan 
catat kenaikan beban usaha berapa?

Saya akan dukung penolakan kenaikan harga elpiji kalau kenaikannya terjadi pada 
elpiji bersubsidi. Itupun jika kenaikan elpiji 3kg disebabkan oleh pengurangan 
subsidi, bukan karena harga dasar gasnya yang memang sudah naik di pasar 
global. Tapi kalau penolakan kenaikan elpiji 12kg, apa mesti didukung? Jadi 
kita harus dukung penolakan kenaikan harga bbm pertamax? Tak logis bung. Coba 
saja kita ambil contoh, Irman Gusman bersuara tolak kenaikan elpiji 12kg. Wajar 
saja, ia punya Rumah Makan Padang banyak banget. Maklum saja, Irman Gusman kan 
mau maju Capres (meski tidak jelas kapalnya), kalau elpiji 12kg naik, 
keuntungan dia untuk nyapres bakal seret. Mirip sama Chairul Tanjung, dia juga 
mau nyapres, makanya danai penolakan elpiji 12kg, supaya ribuan retail miliknya 
tetep untung gede

Saya bukan orang kaya, tapi orang di kelas menengah. Dan saya tetap pakai 
elpiji 12kg. Berapapun kenaikan harganya, saya tetap pakai elpiji 12kg dan 
tetap pakai pertamax atau shell yang super. #bukan sombong Yes, tweet saya tadi 
bukan sombong, tapi karena saya sadar diri bahwa elpiji bersubsidi 3kg tabung 
melon masih banyak yang membutuhkan.

Harga elpiji 12kg non subsidi itu Rp 5.850/kg, akan naik ke Rp 9.000/kg. Harga 
per tabung 12kg dari Rp 77.000 akan naik ke Rp 139.800. Selisih harga baru dari 
harga lama per tabungnya kira-kira Rp 62.800 atau setara dengan 6 bungkus rokok 
(dibulatkan) Artinya, kalau sebulan rumah saya habiskan 1 tabung gas elpiji 
12kg, saya cuma perlu tambah biaya 6 bungkus rokok saja. Kalau saya di rumah 
habiskan 2 tabung gas elpiji 12kg sebulan, saya cuma harus tambah biaya 12 
bungkus rokok. Yakin itu berat?

Apa betul kelas menengah dan kelas atas tidak mampu menambah biaya rumah tangga 
sehari-hari sebanyak 6 s/d 12 bungkus rokok? Masak ketimbang menambah biaya 
sehari-hari sebanyak 12 bungkus rokok karena kenaikan elpiji 12kg, lalu mau 
pindah ke elpiji subsidi? Saya yakin semua kelas menengah dan kelas atas tidak 
ragu-ragu keluarkan biaya nonton bioskop sebesar Rp 100.000 tiap akhir pekan. 
Memangnya ada kelas menengah dan kelas atas yang protes ketika harga tiket 
bioskop naik dari jaman dulu 10.000 ke 50.000 kayak jaman skrg? Oke anda bilang 
"Tapi bioskop kan swasta, mana bisa kita protes?"

Naah, sebetulnya anda sudah benar. "Perlakukanlah Pertamax dan Elpiji 12kg 
seperti produk swasta, karena mereka ikut mekanisme pasar," Shell V Power, 
Pertamax, Pertamax Plus, Blitzmegaplex, Elpiji 12kg, Zara, 21 Cineplex, 
Giordano, dll. Semuanya ikut mekanisme pasar

Kembali ke topik, masak mau protes kalau Zara naikkan harga bajunya? Atau Nike 
naikkan harga sepatunya? Sama juga sama Pertamax, Elpiji 12kg, masak mau protes 
kalau harga keduanya naik? Wong dua produk ini mengikuti mekanisme pasar kok

Contoh lain, rupiah terhadap dolar AS sedang melemah drastis. Memangnya mau 
protes? Wong pergerakan kurs mengikuti mekanisme pasar kok Kecuali kita hidup 
di jaman Orde Baru, dimana sebagian besar kebutuhan pokok dikendalikan 
harganya, juga nilai tukar rupiah

Ya memang begitulah konsekuensi hidup di era demokrasi kapitalis. Harga 
barang-barang pokok dilepas ke mekanisme pasar. Justru kita masih beruntung, 
negara masih menyediakan produk subsidi seperti premium, elpiji 3kg, malah 
kalau bisa beras, gula juga. Kalau seperti negara-negara maju alias kapitalis 
tulen, mana ada produk subsidi?

Bukankah itu yang kita mau ketika memutuskan jatuhkan Orde Baru? Menyesal? 
Ingin kembali ke Sistem ekonomi Orde Baru? #Dilema Salah satu mahar 
demokratisasi adalah kapitalisasi, bahkan pada barang-barang pokok. Jangan 
protes kalau memang mendukung Orde Terbaru. Seperti saya katakan tadi, kita 
cukup beruntung pemerintah masih sediakan barang pokok bersubsidi, meski hanya 
untuk masyarakat kurang mampu

Pesan saya buat yang teriak tolak kenaikan elpiji 12kg, apa betul berat 
menambah biaya bulanan rumah tangga sebanyak 6-12 bungkus rokok? Kalau berat, 
ya pindah saja ke elpiji 3kg. Kok repot? Oke ada yang bilang kalau bersamaan 
dengan wacana kenaikan elpiji 12kg, lalu elpiji 3kg menghilang dari pasaran. 
Berhubungan? Bedakan dong. Apa yang saya twitkan tadi adalah landasan filosofi 
dari kenaikan harga elpiji 12kg yang tidak subsidi, Saya belum bicara pada 
tatanan lapangan. Menghilangnya elpiji 3kg itu masuk kategori lapangan bung, 
bukan filosofi.

Saya ulang ya, bagi saya kenaikan harga elpiji 12kg itu wajar dan sah karena ia 
tidak disubsidi dan harganya mengikuti mekanisme pasar. Kalau bicara hilangnya 
elpiji 3kg dari pasar, itu beda konteks. Tanya dong, kenapa elpiji 3kg 
menghilang? Apakah kalau elpiji 12kg tidak jadi naik, lalu suplai elpiji 3kg 
akan kembali beredar? Berarti sebenarnya stok elpiji 3kg ada dong? Mudah kan 
jawabnya, kalau pasokan ada tapi menghilang, berarti permainan spekulan. Saya 
kira, para distributor elpiji 3kg memanfaatkan wacana kenaikan elpiji 12kg 
untuk ikut menaikkan harga di pasaran

Kita harus lihat permasalahan lebih tepat. Semula saya bicara landasan filosofi 
kenaikan harga elpiji non subsidi sebagai kewajaran Dan itu beda konteks dengan 
aksi para spekulan alias distributor elpiji 3kg untuk memanfaatkan situasi ini 
untuk mencari keuntungan

Bicara soal alasan kenaikan elpiji 12kg dengan fakta elpiji 3kg menghilang dari 
pasar itu tidak linier mas dan mba'e, Jadi harus dibedakan antara, menolak 
kenaikan elpiji 12kg dengan menolak hilangnya elpiji 3kg dari pasaran. Kenaikan 
elpiji 12kg adalah aksi bisnis pertamina, sedangkan hilangnya elpiji 3kg adalah 
aksi bisnis spekulan alias distributor. #bedakalee

Okelah, sekian dulu celoteh saya kali ini. Mau lanjut menikmati pantai di 
tebing Ungasan Bali dulu   

Kirim email ke