Rakyat adalah golongan istimewa dalam sebuah bangsa yang justru di Indonesia 
golongan istimewa ini tidak diistimewakan bahkan dimarjinalkan. Sebuah 
Pemerimtahan yang mengabdi rakyat  masih tetap merupakan sebuah impian dan 
belum jadi perjuangan seluruh rakyat. Memang rakyatpun bisa melakukan kesalahan 
karena rakyat bukan terdiri dari para dewata melainkan adalah juga manusia. 
Kesalahan rakyat disebabkan oleh bermacam faktor. Salah satunya karena memang 
belum cerdas lalu juga sebagai akibat politik pembodohan yang dilancarkan para 
penguasa Pemerintahan yang tidak bersih atau korup. Faktor lain karena rakyat 
tidak mempunyai Partainya sendiri yang sanggup memimpin dan mendidik rakyat. 
Dan faktor yang tidak kurang pentingnya adalah karena mentalitas rakyat masih 
terbelakang oleh sisa pengaruh-pengaruh sistim penindas rakyat di masa lalu 
ataupun penindas kontemporernya. Dan tentu masih banyak faktor lain yang 
menyumbang rakyat melakukan berbagai kesalahan. Tapi sekarang kita katakan 
rakyat Indonesia telah lebih mendewasa, lebih cerdas diasah oleh pengalamannya 
sendiri dan juga daya kritisnya yang semakin tajam. Hal itu memang benar dan 
kita tidak boleh melihat rakyat itu sebagai benda mati yang tidak berubah dan 
tidak bisa berubah.
Karenanya saya kira dalam Pemilu 2014 gerakan Golput akan terseleksi sebagai 
akibat lebih kritis dan mencerdasnya rakyat. Rakyat akan memilih atau 
setidaknya harus memilih dan menyeleksi para pemimpin mereka yang menyangkut 
program politik dan ekonomi apakah di dalamnya tercermin kepentingan rakyat 
atau tidak. Rakyat tidak boleh hanya melihat ketokohan atau "popularitas"para 
calon pemimpin mereka semata tapi yang pertama-tama adalah program pokok, 
program minimum mereka harus ditunjukkan  secara amat jelas dan mudah 
dimengerti rakyat. Tanpa program pokok dan minimum dan tanpa janji-janji 
sebagai jaminan pelaksaannya( meskipun janji-janji bukan jaminan dan sering 
janji palsu) sebaiknya  rakyat tidak memilihnya. Umpamanya memilih calon 
Presiden yang tanpa janji, sama saja dengan memilih kucing dalam karung. Sekali 
lagi, rakyat bukan harus percaya pada janji namun tanpa janji dagang politik 
tidak bisa dilakukan.
Program pokok dan minimum umpamnya apa yang akan dilakukan oleh seorang calon 
Presiden dalam menghadapi dominasi ekonomi Neoliberal sekarang ini. Apakah akan 
tetap saja melanjutkan sistin ekonomi Neoliberal sekarang ini yang akibatnya 
Indonesia tidak akan berubah malah akan hanya melajukan kemerosotan ekonomi 
lebih lanjut dan menambah berat ketergatungan pada ekonomi modal asing yang 
sebagai akibatnya pemiskinan rakyat Indonesia dan keterpurukan negara Indonesia 
secara lebih dalam lagi.
Soal pengabdian rakyat, banyak tergantung pada apakah ekonomi yang sekarang ini 
masih akan dilanjutkan atau merubahnya sama sekali menjadi ekonomi yang bebas 
tidak tergantung dan berdiri sendiri dan ekonomi yang mengabdi rakyat. Hanya 
bermaksud baik saja (mengabdi rakyat) tidak mungkin terlaksana bila sistim 
ekonomi Neoliberal seperti sekarang tetap dipertahankan karena yang menimba dan 
menikmati keuntungan hanyalah kaum modal monopoli, para kapitalis dalam dan 
luar negeri dan para koruptor dan penguasa rakus yang tidak pernah memikirkan 
kepentingan dan nasib rakyat.

Juga soal demokrasi sangat perlu direvisi kembali. Demokrasi yang berlaku di 
Indonesia sekarang adalah DEMOKRASI PINCANG, DERMOKRASI BERAT SEBELAH dan 
dermokrasi yang sangat berat dibebani oleh pengaruh Orba suharto: demokrasi 
anti komunis, demokrasi yang tidak memberikan hak politik pada rakyat untuk 
memiliki Partainya sendiri. Revisi demokrasi yang sekarang harus juga menjadi 
program pokok dan minimun calon Presiden yang mengabdi rakyat dengan 
setulusnya. Bila masih tetap mempertahankan demokrasi ancaman laten terhadap 
Komunisme maka demokrasi Indonesia tidak akan pernah normal dan hanya akan 
memupuk dendam dan kebencian terhadap sesama bangsa dan di tengah rakyat.
Juga program anti korupsi yang akan dijalankan oleh seorang calon Presiden 
pengabdi rakyat harus lebih dipertegas dan diperluas lagi. Rakyat harus diberi 
peranan sebagai pengontrol KPK agar tidak tebang pilih. Harus dipertegas 
kembali bahwa tidak seorang manusia Indonesiapun yang kebal terhadap hukum 
termasuk kebal atas tuduhan korupsi betapapun tinggi dan penting  jabatan yang 
dijabatnya. Korupsi adalah musuh rakyat sepanjang masa dan pembasmiannya perlu 
termaktub dalam Program pokok seorang calon Presiden pengabdi rakyat.
Singkat kata pada Pemilu 2014 rakyat harus bisa melihat kepentingan dirinya dan 
nasibnya  tercermin dalam program calon Presiden yang ingin mengabdi rakyat. 
Dan kalau tidak mau mengabdi rakyat, rakyat jangan memilih mereka dan tinggal 
dirumah sebagai Golput. Rakyat memberikaan kesempataan yang begitu leluasa bagi 
mereka yang ingin merubah Indonesia menjadi tempat yang nyaman dan sentosa bagi 
semua warga yang baik secara tidak berdarah dan damai. Tapi bila kesempatan ini 
tetap tertutup, maka rakyat tidak punya pilihan lain kecuali menyiapkan sebuah 
revolusi, betapapun hal itu mungkin masih panjang jalannya. Dan siapa tahu 
tidak perlu panjang.
ASAHAN.


  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: achmad Mubarok ; Achmad Sucipto, Admiral ; alumnas-oot ; Group Diskusi 
Kita ; Bismo Gondokusumo ; Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] 
; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Zainal Bintang ; Effendi Ghazali ; Achmad Sururi 
  Sent: Tuesday, January 14, 2014 2:05 AM
  Subject: Fwd: OPINI: Presiden Yang Memimpin


  Silahkan mengomentari pandangan Bambang Soesatyo di bawah ini.



  ---------- Forwarded message ----------
  From: <[email protected]>
  Date: 2014/1/14
  Subject: OPINI: Presiden Yang Memimpin
  To: Salim Said <[email protected]>


  Memilih Presiden Yang Memimpin 2014

  Bambang Soesatyo
  Anggota Komisi III DPR RI/
  Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

  SEPANJANG paruh pertama 2014, hampir seluruh elemen rakyat Indonesia akan 
disibukan oleh kegiatan mempersiapkan dan melaksanakan pemilihan umum. Maka, 
dalam rentang waktu itu,  warga negara pemilik suara dituntut berpikir jernih, 
independen, serta memahami hakikat kebutuhan. Sebab, Indonesia harus mencari 
dan memilih pemimpin. Bukan sembarang pemimpin, melainkan pemimpin yang mau 
menjadi abdi sejati bagi rakyatnya.
   
  Ketidaknyamanan hidup berbangsa dan bernegara yang berlangsung selama hampir 
satu dekade terakhir ini  merupakan buah dari sikap dan pilihan tidak cerdas. 
Maka, jadikan pengalaman tidak enak yang dirasakan sampai hari-hari ini sebagai 
pelajaran, agar pada saat menggunakan hak pilih nanti, sikap dan pilihan tidak 
cerdas itu tak terulang.
   
  Rakyat Indonesia sudah cukup dewasa dalam berdemokrasi, dan karenanya tidak 
boleh lagi terkecoh oleh penampilan palsu, sarat rekayasa dan pencitraan dari 
sosok-sosok yang ingin tampil menjadi pemimpin. Jangan memilih topeng, karena 
dibalik topeng tersimpan banyak tipu muslihat. Warga negara pemilik suara 
dituntut berpikir jernih dan cerdas agar tidak lagi terjebak dan terbuai oleh 
janji-janji dan omong kosong.
   
  Semua elemen rakyat harus bertekad mengakhiri ketidaknyamanan hidup berbangsa 
dan bernegara yang telah berlangsung hampir satu dekade terakhir ini. Karena 
itu, hindari kesalahan dalam memilih wakil rakyat, baik anggota DPR maupun 
DPRD. Dan, jangan juga melakukan kesalahan lagi dalam memilih pemimpin atau 
presiden. Sebagai acuan untuk mengoreksi kesalahan dalam memilih, silahkan 
masing-masing mengkalkulasi dampak buruk atau ekses dari kesalahan memilih itu.
   
  Kalkulasi bisa dimulai dengan menimbang-nimbang perubahan derajat 
kesejahteraan bersama dalam rentang waktu hampir 10 tahun belakangan ini. 
Pertanyakan juga militansi pemerintah dalam membela dan menjaga kepentingan 
nasional serta kepentingan rakyat. Apakah pemerintahan ini cerdas dan berani 
dalam mengelola semua komoditi kebutuhan pokok rakyat? Tentu, yang juga sangat 
penting adalah mengkaji seberapa jauh pemerintahan ini efektif dan bersih. Ada 
sejumlah aspek lain yang patut dipertanyakan dan dicari jawabannya.
   
  Tetapi, pada akhirnya, konteks pertanyaan pokoknya hanya seputar pemimpin 
yang melayani atau dilayani? Dan, pemerintah yang melayani atau dilayani? 
Pertanyaan ini sebenarnya tak perlu dikemukakan. Sebab, sejatinya, pemimpin 
pemerintahan yang dipilih oleh rakyat itu melayani negara dan rakyat. Maka, 
pemimpin yang mengepalai sebuah pemerintahan harus memosisikan pemerintahan 
yang dipimpinnya sebagai pelayan negara dan pelayan rakyat. Prinsip ini harus 
diterima dan dimaknai sebagai sebuah konsekuensi logis. Terutama, lebih karena 
pemimpin dan pemerintahan yang dipimpinnya bekerja harus seturut aspirasi 
rakyat, dan digaji dengan pajak yang dipungut dari rakyat.  
   
  Dengan demikian, pada tahun Pemilu 2014, target bersama seluruh elemen rakyat 
hanyalah satu; mencari pelayan atau abdi rakyat. Mencari anggota DPR/DPRD yang 
melayani, serta mencari presiden yang mau dan fokus melayani rakyat dan negara. 
Tidak boleh ada agenda lain. Fokus anggota DPR/DPRD serta Presiden dan 
pemerintahan yang dipimpinnya hanya melayani negara dan rakyat. Melayani 
berarti mereka harus menjadi abdi negara dan abdi rakyat dalam arti yang 
sebenar-benarnya, bukan sekadar slogan untuk meraih popularitas.
    
  Gambaran Ekses
    
  Sesuai rencana, Pemilu 2014 dilaksanakan dalam dua tahap; Pemilu Legislatif 
pada 9 April 2014 akan memilih anggota DPR/DPRD, serta Pemilu Presiden pada 9 
Juli 2014 yang memilih Presiden dan Wakil Presiden. Apa yang akan didapatkan 
rakyat Indonesia dari Pemilu 2014 itu terpulang kepada warga negara yang berhak 
memilih. Ingin dilayani atau melayani?
   
  Menjadi abdi rakyat yang sejati berarti harus memahami dan menghayati 
persoalan rakyat. Bahkan, demi efektivitas pelayanan dan pengabdian kepada 
rakyat,  anggota DPR/DPRD serta Presiden dan para birokrat di semua institusi 
pemerintahan harus menyatu dengan rakyat. Tak boleh ada jarak atau gap, agar 
DPR/DPRD dan presiden tahu betul jalan keluar seperti apa yang diperlukan untuk 
memecahkan aneka persoalan yang dihadapi rakyat kebanyakan. Contoh tentang 
praktik yang demikian telah diperlihatkan oleh sejumlah pemerintahan daerah.
   
  Maka, jangan memilih abdi atau pelayan semu. Sebab, jika berperan sebagai 
pelayan semu, anggota DPR/DPRD dan presiden tidak akan pernah tahu persoalan 
yang dihadapi rakyat. Kalau persoalan rakyat tidak dipahami, bagaimana mungkin 
DPR/DPRD dan presiden bisa merumuskan jalan keluar. Berarti, anggota DPR/DPRD 
harus rajin ke daerah pemilihan di masa reses untuk menyerap aspirasi 
konstituen. Presiden pun hendaknya rajin mengunjungi daerah untuk mengetahui 
perkembangan pembangunan di setiap pelosok. Perjalanan ke luar negeri harus 
jelas urgensinya, dan tentu saja harus berkait dengan kepentingan negara dan 
rakyat. Karena itulah menjadi sangat penting bagi presiden dan para legislator 
untuk tidak mempunyai agenda lain selain melayani negara dan rakyat.
   
  Jika hak pilih digunakan dengan pikiran jernih dan independen, rakyat 
Indonesia pasti bisa mendapatkan wakil-wakil rakyat dan pemimpin yang melayani. 
Sebaliknya, jika hak pilih digunakan dengan sembrono, yang didapatkan bukanlah 
abdi rakyat sejati, melainkan legislator dan pemimpin yang justru dirundung 
masalah, termasuk terjerat kasus hukum.
   
  Pada bulan Februari 2013, Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan catatan yang 
menunjukan 2.976 anggota dewan (DPRD provinsi dan kabupaten/Kota) terjerat 
kasus hukum. Saat itu, sudah  431 anggota DPRD provinsi terjerat kasus hukum 
dan 83,76 persennya kasus tindak pidana korupsi (Tipikor). Sedangkan jumlah 
anggota DPRD kabupaten/kota yang terseret kasus hukum bahkan mencapai 2.545 
orang. Dan, 40,07 persennya kasus Tipikor. Di Jakarta, beberapa anggota DPR pun 
terjerat kasus hukum.
   
  Sementara itu, jumlah pejabat pada level pimpinan daerah yang bermasalah 
dengan hukum sudah mencapai 304 pejabat. Pejabat daerah yang bermasalah dengan 
hukum meliputi 22 gubernur, 7 wakil gubernur, 156 bupati, 46 wakil bupati, 41 
walikota, dan 20 wakil walikota.
   
  Dan, kasus Bank Century, kasus Hambalang, kasus suap Kepala SKK Migas hingga 
kasus suap impor daging sapi sangat jelas menggambarkan pemerintah pusat tidak 
bersih. Persoalan gelembung dana talangan Bank Century bahkan merusak citra 
pemerintahan sekarang ini, karena tak satu pun pejabat maupun institusi yang 
berani tampil untuk mempertanggungjawabkannya.
   
  Seperti itulah gambaran eksesnya jika para legislator dan pejabat tinggi 
memiliki agenda lain di luar agenda pelayanan kepada negara dan rakyat. 
Artinya, jika hak pilih tidak digunakan dengan cerdas, rakyat hanya akan 
mendapatkan legislator dan pemimpin yang lebih memrioritaskan agenda memperkaya 
diri sendiri dan kelompoknya.
   
  Belum lagi persoalan kapabilitas mengelola dan memanfaatkan anggaran. Dalam 
beberapa tahun belakangan ini, alokasi anggaran rutin dan belanja pegawai dalam 
APBN rata-rata sudah di atas 50 persen. Jelas, ini menjadi kecenderungan yang 
tidak sehat. Begitu besar jumlah anggaran yang digunakan tidak untuk 
memperbaiki kesejahteraan rakyat. Anggaran rutin dialokasikan untuk biaya 
pemeliharaan aset, belanja pegawai, perjalanan dinas hingga dana alokasi umum 
(DAU) serta pembayaran pokok dan bunga utang.
   
  Oleh karena berorientasi melayani rakyat, DPR/DPRD dan Presiden terpilih dari 
Pemilu 2014 harus mau mengubah arah atau orientasi pengelolaan dan pemanfaatan 
anggaran negara serta daerah untuk memperbaiki kesejahtaraan rakyhat. Bukan 
hanya mencipta lagu dan mengeluh.

  Link: http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2014/01/11/249084
  Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!



  -- 
  Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari 
Grup Google.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
  Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke