Saya banyak sependapat dengan pak Magnus. Semua kegiatan dan tindakan yang 
mengarah ke pelarangan buku seharusnya tidak boleh ada. Ini memang mentalitas 
jaman suharto. Kalau tidak setuju, harus dilawan dengan tulisan. Buku adalah 
produk intelektual dan karenanya harus dihadapi dengan intelektulitas dan bukan 
main larang.
Tapi terlepas dari persoalan protes, bila para sastrawan yang tidak termasuk 
dalam angka 33 itu sama sekali tidak berarti tidak ada lagi sastrawan lain yang 
berpengaruh di luar angka 33. Berpengaruh atau tidak berpengaruh, cumalah soal 
pengakuan formalitas dan sangat mudah subyektif. Seorang sastrawan seharusnya 
berani jujur terhadap dirinya sendiri dan jangan sampai punya mentalitas 
penguasa atau politikus berjiwa korup:haus popularitas, penonjolan diri untuk 
meraih kedudukan dan uang. 
ASAHAN.

  ----- Original Message ----- 
  From: RM.Magnis Suseno SJ 
  To: [email protected] 
  Cc: [email protected] 
  Sent: Saturday, January 18, 2014 3:23 PM
  Subject: Re: Fw: [GELORA45] Aksi Tolak Buku 33 Tokoh Sastra Juga Ada di Yogya 
- Alasan Ditolaknya Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia


  Maaf, saya tidak bisa diam. Saya terkejut dan tersinggung dengan bahasa 
penolakan buku itu. Buku ini tentu boleh, dan harus dikritik, segi-segi yang 
dikritik semuanya pantas dikritik, buku dinilai jelek, silahkan, dan betul, 
mengapa tidak diberi judul “33 Sastrawan Indonesia” saja? Bisa dimengerti bahwa 
mereka yang tidak masuk marah. Tetapi “mencederai integritas dan moral”, 
“kesesatan publik”, “bentuk kejahatan”: Di mana proporsionalitas kritik? Malah 
bikin „petisi“ agar buku itu „ditarik dari peredaran“: Apa tak malu, apa mau 
kembali ke zaman Lekra dan Suharto, di mana publikasi yang tidak disenangi 
dilarang saja? Apa reaksi seperti itu tidak mempermalukan mereka yang 
mengajukannya? Magnis


  ----- Original Message ----- 
    From: Salim Said 
    To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 
[email protected] ; Djoko Suyanto ; [email protected] ; Achmad 
Sucipto, Admiral ; [email protected] ; Effendi Ghazali ; 
[email protected] ; [email protected] 
    Sent: Saturday, January 18, 2014 5:24 PM
    Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Aksi Tolak Buku 33 Tokoh Sastra Juga Ada di 
Yogya - Alasan Ditolaknya Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia





    ---------- Forwarded message ----------
    From: Salim Said <[email protected]>
    Date: 2014/1/18
    Subject: Fw: [GELORA45] Aksi Tolak Buku 33 Tokoh Sastra Juga Ada di Yogya - 
Alasan Ditolaknya Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia
    To: "[email protected]" <[email protected]>






    On Saturday, January 18, 2014 6:24 AM, awind <[email protected]> wrote:

      
    
http://www.tempo.co/read/news/2014/01/17/109545931/Aksi-Tolak-Buku-33-Tokoh-Sastra-Juga-Ada-di-Yogya

    Jum'at, 17 Januari 2014 | 20:45 WIB
    Aksi Tolak Buku 33 Tokoh Sastra Juga Ada di Yogya

    Denny Januar Ali. TEMPO/ Muradi
    Berita Terkait
      a.. SBY Tak Disebut Presiden Saat Peluncuran Bukunya 
      b.. Peggy Merilis Buku 3.5 Luapan Cinta di Air Tenang 
      c.. Loyalis: Buku Anas Urbaningrum Agar SBY Tak Peragu 
      d.. Loyalis Anas Tuding SBY Tiru Waktu Peluncuran Buku 
      e.. SBY dan Anas Urbaningrum Kompak Luncurkan Buku 
    Grafis Terkait
     
    Serangan Sintong Untuk Prabowo
    Foto Terkait
     
    Fatin Shidqia Luncurkan Buku Fantastic Fatin Ini Baru Permulaan
    Video Terkait
     
    Fatin Kaget, Dibukunya Ada Kapten Bala
    Topik
      a.. #Peluncuran buku 
    Besar Kecil Normal 
    TEMPO.CO, Jakarta - Penerbitan buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia 
Paling Berpengaruh tak hanya ditolak keras oleh pegiat sastra di Jakarta. 
Penolakan serupa juga dilakukan oleh pegiat sastra yang di Yogyakarta.

    "Hari ini, pada waktu yang sama, teman-teman di Yogyakarta juga menggelar 
petisi untuk menolak buku tersebut," kata Eimond Esya, salah satu perwakilan 
pegiat sastra, saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 17 Januari 
2014.

    Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus menuai kecaman 
setelah memasukkan promotor buku tersebut, Denny J.A., sebagai salah satu tokoh 
sastra paling berpengaruh.



    Eimond mengatakan kalangan pegiat sastra di daerah lain ikut mendukung 
petisi penolakan peredaran buku karya Jamal D. Rahman dan kawan-kawan itu. "Ada 
juga teman di daerah lain yang menyatakan berminat, tapi saya tak berani bilang 
dulu karena belum pasti. Yang pasti Jakarta dan Yogyakarta, yang lain nanti," 
katanya.

    Para pegiat sastra di Yogyakarta juga menunjukkan reaksi terhadap buku 
berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terbitan Kepustakaan 
Populer Gramedia. Mereka tergabung dalam Aliansi Menolak Pembodohan, yang juga 
mengeluarkan petisi terhadap peredaran buku tersebut. "Saya pribadi tak peduli 
berapa yang tanda tangan. Berapa pun itu, tetap maju ke Kemendikbud 
(Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) agar ditarik dari peredaran," tutur 
Eimond.

    Anggota Aliansi menilai pembiaran penyebaran buku tersebut adalah bentuk 
kejahatan karena masyarakat dibodohi. Buku tersebut juga dinilai berpotensi 
menjadi bahan pembelajaran siswa-siswa sekolah meski mengandung kecacatan nilai 
dan sejarah.

    Aliansi mendukung seluruh petisi yang diajukan para pegiat sastra untuk 
mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar menarik buku 33 Tokoh 
Sastra. Mereka juga mendukung desakan kepada kementerian untuk mengkaji ulang 
dan mengevaluasi dasar pemilihan tokoh sastra tersebut.

    Selain itu, Aliansi meminta pertanggungjawaban terhadap perancang buku yang 
dikenal sebagai Tim 8, yaitu Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R. 
Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman Mahayana, dan 
Nenden Lilis Aisyah. "Selamatkan sejarah sastra Indonesia!! Tuntut Jamal D. 
Rahman dkk minta maaf," begitu tulisan dalam spanduk berisi ajakan 
penandatanganan petisi.

    Aliansi ini juga mengajak para pencinta sastra, penulis, kritikus sastra, 
akademikus, dan masyarakat untuk menolak pembodohan yang dihasilkan buku 33 
Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

    ROSALINA


                                                                                
                                 =============


    
http://www.tempo.co/read/news/2014/01/17/109545912/Alasan-Ditolaknya-Buku-33-Tokoh-Sastra-Indonesia

    Jum'at, 17 Januari 2014 | 20:00 WIB
    Alasan Ditolaknya Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia

    Denny Januar Ali. TEMPO/ Muradi
    Berita Terkait
      a.. Petisi Pegiat Sastra Tolak Buku 33 Tokoh Sastra   
      b.. Liburan, Langit Ajak Mahasiswa Buat Novel 
      c.. Gajah Mada Versi Bahasa Inggris di Pasar Dunia   
      d.. Denny Indrayana Curhat di Buku Barunya   
      e.. No Wamen No Cry, Buku Terbaru Denny Indrayana   
    Foto Terkait
     
    Buku Tumbangnya Soeharto Diburu di Pasaran
    Topik
      a.. #Penerbitan Buku 
    Besar Kecil Normal 
    TEMPO.CO, Jakarta - Buku berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling 
Berpengaruh terus menuai kontroversi. Bahkan, ada penolakan dari kalangan 
pegiat sastra. Mereka menolak sejumlah hal, dari kriteria yang dijadikan dasar 
pemilihan para tokoh sastra tersebut hingga penggunaan kata "paling" dalam 
judul.

    "Di sana disebut 'paling berpengaruh', tapi isi buku tidak menjelaskan 
kesuperlatifan pengaruh tokoh-tokoh yang dipilih. Kriteria yang dipakai hanya 
cukup untuk memiliki tokoh yang berpengaruh, bukan paling berpengaruh," kata 
Nuruddin Asyhadie, salah satu perwakilan pegiat sastra saat ditemui di Taman 
Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 17 Januari 2014.

    Pegiat sastra yang menolak buku karya Jamal D. Rahman dan kawan-kawan ini 
bahkan mengeluarkan petisi yang menuntut penarikan buku dari peredaran. 
Setidaknya ada tiga alasan utama pengajuan petisi atas buku terbitan 
Kepustakaan Populer Gramedia tersebut.(baca : Petisi Pegiat Sastra Tolak Buku 
33 Tokoh Sastra)

    Pertama, adanya potensi kesesatan publik. Kesesatan terjadi karena Tim 8, 
sebagai penyusun buku, dinilai memiliki klaim asertif dengan menyematkan kata 
"paling berpengaruh" pada judul buku. Para pegiat sastra menilai, 
tulisan-tulisan dari para tokoh yang dipilih justru tak menunjukkan adanya sisi 
superlatif pengaruh mereka dalam dunia sastra secara kuantitatif dan kualitatif.

    Kesesatan selanjutnya muncul karena Tim 8 tak memiliki definisi dan 
kriteria yang jelas dalam memilih tokoh sastra. Tim dinilai tak dapat 
membedakan antara afek, efek, dampak dan pengaruh tokoh-tokoh yang dipilih. 
Kesesatan berikutnya adalah adanya konflik kepentingan yang memasukkan promotor 
buku tersebut, Denny J.A., sebagai salah satu tokoh sastra paling berpengaruh.

    "Kesesatan ini fatal karena Denny sendiri sama sekali tak memenuhi salah 
satu kriteria pemilihann" ujar Nuruddin yang juga dikenal sebagai penyair dan 
komentator sastra.

    Alasan kedua pembuatan petisi adalah buku ini dinilai telah mencederai 
integritas dan moral para ahli sastra, sastrawan, dan masyarakat. Alasan 
terakhir, buku ini menjadi preseden buruk karena berpotensi membuat masyarakat 
percaya pada klaim asertif serupa dalam tulisan-tulisan lain pada masa 
mendatang.

    "Beberapa orang menuduh kami fasis karena meminta buku ini ditarik. 
Sebenarnya tidak. Kalau fasis itu memaksakan ide kepada yang lain," kata dia. 
Namun, menurut dia, penolakan ini muncul karena tokoh sastra dalam buku ini 
tidak sesuai dengan kriteria yang digunakan untuk memilih mereka.

    Bahkan para pegiat sastra juga menolak kehadiran buku tersebut karena tim 
juri tidak berkompeten dan dianggap telah kehilangan integritas. "Mereka dalam 
banyak hal inkompeten, terutama dalam hal komposisi, bahkan relasi antarkalimat 
tidak tepat," ujarnya.



    ROSALINA


    






    -- 
    Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari 
Grup Google.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
    Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


  -- 
  Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari 
Grup Google.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
  Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

p kuasa da nkedudukan 

Kirim email ke