Apakah dengan begini malah membikin rakyat Indonesia semakin bingung? Mengkritik SBY tentu saja sudah benar hanya saja kritik-kritik yang ditujukan padanya sesungguhnya cuma lunak-lunak saja dan tidak menyinggung soal-soal fundamentil yang dilakukan maupun yang tidak dilakukan oleh SBY terhadap rakyat. Umpamanya SBY masih terus melanjutkan demokrasi pengkor, berat sebelah, meneruskan politik suharto yang tidak memberikan hak hidup pada rakyat untuk mendirikan Partainya sendiri dan selalu diancam membangkitkan bahaya Komunisme. Demokrasi palsu yang dijalankan di Indonesia sekarangn ini tidak digubris oleh pihak Barat karena sifat anti komunis demokrasi palsu yang dijalankan SBY. Hal ini yang seharusnya ditentang dan dikritik habis-habisan oleh semua golongan yang pro demokrasi. Dan masih banyak soal soal lain yang besar di bidang politik, ekonomi dan ideologi yang diselewengkan dan disabot oleh SBY yang lolos dari krtitik atau kalaupun ada cumalah sekedar kritik halus sutra putih dan akibat absennya kritik-kritik mendasar dan kuat yang seharusnya dilancarkan pada SBY membuat SBY tetap saja tak tergoyahkan hingga ahir dua masa jabatannya dan mengesankan SBY adalah "pahlawan demokrasi". Itu membuktikan perjuangan yang dilakukan untuk menggoyahkan dan menjatuhkan SBY selama ini bukan untuk kepentingan rakyat tapi hanya semata untuk kepentingan golongan/Partai dan pribadi-pribadi. Karenanya tidak disokong oleh rakyat dan sia-sialah kritik dan semua protes-protes terhadap SBY dan dia tetap tegar tak tergoyahkan dan santai-santai saja sambil menulis buku yang lebih 800 halaman tebalnya yang lalu dipestakan pula di Bali yang indah. Kalau hanya mengkritik SBY karena dia tega memestakan peluncuran bukunya di saat-saat banyak wilayah Indonesia termasuk ibu kota Jakarta dilanda banjir, itu bukan kritik tapi sekedar mengingatkan saja. Peluncuran buku kan tidak akan menghabiskan waktu sampai seminggu. Bisa saja SBY pulang ke Jakarta pada sore harinya atau besoknya lalu datang ke daerah-daerah banjir seperti yang dilakukan Jokowi... dan bereslah soalnya. Kritik sudah dibetulkan dengan amat mudahnya. Rakyat pasti tahu, satu juta SBY plus satu juta Jokowi tidak akan mampu menghisap air banjir dalam sehari. Dan Anas yang tertuduh dan telah ditangkap oleh KPK karena melakukan mega korupsi toh masih ada yang membelanya dan memberikan timbang rasa, membesarkan hatinya dan memberikan simpati sambil mengadunya dengan SBY. Ini membikin rakyat semakin bingung. Tidak ada pengarahan dan terkesan kontradiktif antara anti korupsi dan melindungi para koruptor yang dilakukan para tokoh, Partai-partai dan yang terpenting Pers/Media Indonesia. Dinamika politik Indonesia dibikin simpang siur dan tak terarah yang membikin rakyat bingung dan bisa tersesat dan tertipu. Ucapan "terima kasih"nya Anas Urbaningrum sebagai bekas ketua Partai Demokrat pada SBY sebagai Presiden dan Pembina PD jelas punya arti: "Terima kasih SBY karena kamu sudah menangkap saya dan dengan demikian saya punya kesempatan besar untuk mermbongkar kamu punya dosa"... dan rakyat diminta bertepuk tangan atas "Ke-kesatriaan"Anas menghadapi SBY. Kebobrokan dalam Partai Demokrat yang belepotan dengan korupsi dan macam-macam kecelakaan politk lainnya mestinya di arahkan demi perjuangan rakyat dengan tombak yang lebih tajam dan bukan mengajukan semboyan: Membasmi korupsi dengan melindungi para koruptor. Mengapa harus membujuk Anas agar dia tegar membongkar skandal korupsinya SBY sambil memberi simpati dan dorongan pada Anas yang tertuduh korupsi? .Mengapa tidak KPK saja yang mengurus semua itu. Jelas pertarungan politik di Indonesia sekarang ini adalah antara dua pihak yang saling berebut kuasa, antara dua kubu yang bermusuhan dengan SBY dan BUKAN PERTARUNGAN POLITIK UNTUK MEMBELA KEPENTINGAN DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT. Anas dibela oleh seorang advokat kawakan yang selama ini dikenal sebagai advokat pembela kebenaran dan keadilan tapi sekarang membela seorang koruptor besar. Kalau begitu jadi saja advokat biasa-biasa saja yang cari pengidupan yang setiap ada kesempatan meraih uang besar cepat digunakan tidak pandang siapa yang dia bela. Rakyat perlu waspada dan kalau perlu tinggal saja di rumah di saat Pemilu 2014. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Fadli Zon ; Achmad Sucipto, Admiral ; Ahmad Syafii Maarif ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; Effendi Ghazali ; [email protected] ; Anwar Nasution ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; hamid awaludin ; [email protected] Sent: Tuesday, January 21, 2014 2:26 AM Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] Buku SBY Dituding Pencitraan --------- 2014/1/20 Sunny <[email protected]> http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Politik DINAMIKA POLITIK Buku SBY Dituding Pencitraan Bambang Soesatyo, Angggota DPR Senin, 20 Januari 2014 JAKARTA (Suara Karya): Isi buku Selalu Ada Pilihan yang ditulis oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai hanya bertujuan untuk pencitraan belaka sekaligus mencerminkan arogansi SBY yang merasa berhasil setelah memimpin negara ini dalam dua periode. Demikian pendapat pengamat politik Boni Hargens dan angggota DPR Bambang Soesatyo secara terpisah di Jakarta kemarin. Menurut Boni, bukti arogansi SBY terlihat jelas dari subjudul. "Apa keberhasilan SBY dalam sepuluh tahun terakhir? Enggak ada. Saya rasa sepuluh tahun ini hanya tahun-tahun kebohongan," katanya. Boni menganggap satu-satunya keberhasilan SBY adalah memanipulasi masyarakat dengan pencitraan politik yang luar biasa. Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu juga menilai peluncuran buku SBY merupakan sebuah antisipasi terhadap "kicauan" Anas Urbaningrum. Menurutnya, setelah Anas mengucapkan terima kasih kepada SBY, itu merupakan sebuah simbol ancaman. "Ucapan terima kasih Anas itu kan sebuah ancaman. Sekiranya SBY meluncurkan buku ini, ibaratkan mengeluarkan payung sebelum hujan," ujar Boni. Kendati Anas dan SBY sama-sama mengeluarkan buku pada hari yang sama, yakni Jumat (17/14), Boni menilai saat ini Partai Demokrat ingin memengaruhi opini masyarakat untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Boni juga meminta agar KPK segera menyidangkan Anas. Dengan begitu, Anas akan dapat mengungkapkan kebenaran yang terjadi. "Saya kira, kalau persidangan Anas ini cepat, ini lebih menarik dan lebih baik. Kita dapat mendengar informasi yang disampaikan Anas. Kita mendorong Anas harus segera disidang sebelum pemilu," kata Boni. Boni juga menilai, dengan kasus-kasus korupsi yang membelit sejumlah mantan kader Partai Demokrat, akan menurun elektabilitas partai sebagai peserta Pemilu 2014. Bambang Soesatyo menilai momentum peluncuran buku itu kurang tepat. "Saya mengapresiasi buku Selalu Ada Pilihan buah karya Presiden SBY itu, tetapi momentum peluncuran buku itu tidak tepat," ujarnya. Bahkan, menurut dia, peluncuran tersebut sama sekali tidak bijak karena pada saat bersamaan rakyat di sejumlah daerah sedang dilanda bencana banjir dan gunung meletus. Peluncuran buku setebal 824 halaman itu, dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, anggota DPR, serta sejumlah tokoh dari berbagai profesi. Padahal, pada hari itu warga di sejumlah wilayah di Jakarta hingga Manado di Sulawesi Utara dan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sedang berjuang mengatasi sejumlah persoalan akibat banjir. Sementara warga di Kabupaten Karo, Sumut, harus berupaya membebaskan diri dari siraman abu Gunung Sinabung. "Saya tidak ingin mengomentari esensi atau muatan buku itu. Tetapi, perayaan meluncurkan buku itu akan memunculkan kesan Presiden tidak bersimpati dengan situasi bencana yang sedang terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air," tuturnya. Akibatnya mudah ditebak, publik pun kurang peduli pada buku itu. Bagi warga kebanyakan, tidak ada waktu untuk menyimak perayaan peluncuran serta muatan buku itu, karena masyarakat sedang berkonsentrasi mengantisipasi bencana dengan segala akibatnya. Ceritanya akan berbeda jika Presiden memerintahkan para pembantu terdekatnya mengumumkan penundaan peluncuran buku itu karena alasan bersimpati kepada warga yang sedang menghadapi bencana. Kalau penundaan perayaan itu dilakukan, bukan hanya simpati yang mengalir untuk SBY, tetapi juga menjadi sarana mempromosikan buku itu. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf tidak ingin peluncuran buku SBY dikait-kaitkan dengan peluncuran buku Anas, Janji Kebangsaan Kita. "Saya enggak tahu siapa yang menyamakan hari peluncuran buku ini," ujarnya. "Peluncuran buku Pak SBY sudah direncanakan terlebih dahulu, jauh hari. Jadi tidak ada kaitannya dengan peluncuran buku Anas," kata Nurhayati. (Rully/Antar -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
