BETUL sasaran pokok terror suharto bukan pada Perantau etnis Tionghoa di Indonesia. suhartO hanya ingin memberikan sinyal "TEMBAKAN PERINGATAN" pada Tiongkok (sayangnya harus dengan korban puluhan ribu yang gugur). Karna ketika itu musuh besar suharto diluar negeri adalah Tiongkok yang mereka tuduh menggunakan Hoakiau (perantau Tionghoa) sebagai agen Tiongkok di Indonesia yang banyak membantu PKI. Dan memang "tembakan peringatan"suharto itu mempunyai efek atau dampak yang amat berkesan bagi Pemerintah Tiongkok hingga membuat Tiongkok sedia lebih berkorban lagi asalkan hubungan diplomatik Tiongkok Indonesia jangan sampai terputus. Tentu soal puluhan ribu nyawa yang harus dikorbankan bukan soal bagi Tiongkok yang masih punya modal satu milyard manusia di negerinya. Karnanya Tiongkok menjalankan "politik pasif" atau bungkam tidak protes, tidak mengutuk meskipun darah saudara-saudara mereka setanah air telah mengalir deras di bumi Indonesia. Namun rupanya rezim suharto masih saja belum merasa puas dengan sikap Tiongkok yang diam dan tanpa keluhan itu dan suharto menafsirkan sikap demikian sebagai masih kurangnya efektifitas yang ingin dicapai. Dan pada tahun 1998 pada bulan Mei, sinyal berikutnya ditembakkan lebih fokus lagi: HANYA PADA PERANTAU TIONGHOA yang berbentuk kerusuhan berdarah dan perkosaan terhadap etnis Tionghoa yang memakan korban nyawa tidak kurang dahsyatnya dibandingkan dengan ketika dalam G30S-suhartO. Dan "tembakan Peringatan"suhartO yang ke dua ini agaknya lebih berkesan bagi Tiongkok yang lalu a.l. berujuang Indonesia menuntut supaya di bumi Tiongkok harus bersih dari bekas-bekas orang PKI atau Tiongkok harus mengusir mereka kalau ingin memulihkan kembali hubungan diplomatik dengan Indonesianya suharto dan tentju saja Tiongkok setuju dan melaksanakannya secara netjes dan kemudian berhamburanlah bekas-bekas PKI dari Tiongkok ke luar Tiongkok (Eropah) yang diusir secara "terhormat". Dan tentu saja di segi para usiran bekas PKI itu merekapun mendapatkan lebih banyak kebebesan bergerak di tempat mereka diterima sebagai "pelarian politik" dan bahkan hingga mendapatkan paspor yang diberikan oleh tuan rumah mereka masing-masing dengan relatif mudah dan bahkan kehidupan mereka cukup sentosa dan berkecukupan dan bahkan mereka bisa mengadakan kegiatan politik bila mereka inginkan atau sekedar melanjutkan hidup menikmati sisa-sisa umur mereka yang itu cukup untuk setiap orang merasa sejahtera dan terjamin. Dan tentunya mereka "berterima kasih" pada Tiongkok meskipun mungkin cuma dalam hati. Dan bahkan berterima kasih pada pada suhartO(lebih di dalam hatinya yang lebih dalam lagi) karena telah urun "membebaskan"mereka dari "konsentrasi kamp" Tiongkok yang berdinding tahu dan berpagar kawat berduri sutra itu selama belasan hingga puluhan tahun lamanya. Begitulah, di bumi ini ada jenis politik yang demikian. Dan terhadap puluhan ribu jiwa perantau Tionghoa yang dijagal suharto maupun tiga juta rakyat Indonesia lainnya, akan tetap meninggalkan kesan dalam, JUGA bagi para bekas-bekas PKI di luar negeri meskipun hidup mereka pada umumnya sudah selesai walaupun dengan dendam dingin hingga dendam panas dan bahkan juga yang tanpa dendam. Amin ya rabbil Alamin. ASAHAN
----- Original Message ----- From: F. Magnis-Suseno To: [email protected] Sent: Tuesday, January 28, 2014 2:49 AM Subject: RE: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China Film Oppenheimer kiranya memang khusus hal kejadian-kejadian di sekitar. Kalau ditempatkan ke dalam deretan film dan dokumentasi lain, seperti film "Jembatan Bacem" (tak kalah mengerikan dengan film Oppenheimer) atau laporan-laporan dalam edisi khusus Majalah Tempo September 2012, kita mendapat snapshot-snapshot dengan relevansi tinggi tentang kejahatan tingkat dunia yang terjadi di Indonesia dengan memanfaatkan aksi Gerakan 30 September. Yang luput sama sekali dari perhatian dalam film Oppenheimer adalah peran Angkatan Darat dalam kejahatan-kejahatan itu. Magnis ------------------------------------------------------------------------------ From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Salim Said Sent: 28 January, 2014 6:12 AM To: Group Diskusi Kita; alumnas-oot; Bismo Gondokusumo; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Fadli Zon; Achmad Sucipto, Admiral; Ahmad Syafii Maarif; Djoko Rahardjo; [email protected]; Effendi Ghazali; [email protected]; Anwar Nasution; hamid awaludin; [email protected]; [email protected]; Prof.Dr. Amir Santoso; Syafiuddin Makka; [email protected]; Muhammad Basri; Margarito Kamis; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; Zainal Bintang Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China Saya sepakat dengan R.M. Magnis Suseno yang berpendapat bahwa saudara-saudara kita orang-orang Tionghoa bukanlah sasaran khusus pembantaian pada masa itu. Kebetulan di Medan masyarakat Tionghoa memang menonjol, terutama dalam kegiatan bisnis sehingga menjadi sasaran pemerasan para preman. Pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa di Medan tidak bisa dilepaskan oleh aktifitas preman di kota tersebut. Seandainya Oppenheimer (sutradara) membuat film di wilayah lain Indonesia, maka akan terlihat bahwa bahwa korban orang-orang Tionghoa akan sangat minim sekali. Tapi kalau film itu tidak dibuat di Medan, seperti yang kita lihat sekarang ini, maka film itu tidak akan dramatis,sensasional dan menarik perhatian. Dengan kata lain, film the Act of Killing (Jagal) sama sekali tidak mewakili apa yang terjadi di Indonesia pada masa pembantaian tersebut. Film buatan Oppenheimer itu lebih tepat dipandang sebagai film tentang preman Medan yang menggunakan kesempatan kacau masa itu untuk "memeras" saudara-saudara kita orang Tionghoa yang memang mendominasi kegiatan bisnis di wilayah Medan. ---------- Forwarded message ---------- From: RM.Magnis Suseno SJ <[email protected]> Date: 2014-01-27 Subject: Re: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China To: [email protected] Yang ditulis Pak Asahan, sejauh saya ingat (buku makalah ybs. belum saya dapat ), sesuai dengan apa yang diprasarankan dalam seminar Goetheinstitut Jakarta 2011 (?) tentang bagaimana G30S dan buntutnya dipersepsi oleh LN dan media LN. Saya sendiri sering mengoreksi pendapat orang LN bahwa kurban pembunuhan anti-PKI pada pokoknya orang-orang Tionghoa. Yang dibunuh, sasarannya, adalah orang-orang "PKI", ya orang Jawa, orang Bali, orang Manggarai dst. - dan juga orang Tionghoa. Namun di film Oppenheimer ada bahwa di Medan (dan sekitarnya) orang-orang Tionghoa diburu/dibunuh begitu saja (apalagi kalau tak mau membayar) di jalan. Itu baru bagi saya - dan, sayang, kiranya pasti benar. Yang saya ingat, sekitar Nopember 1966 ada insiden di mana tentara (RPKAD?) mengamuk di Jakarta Kota dan di salah satu pagi hari membunuhi orang-orang Tionghoa yang kebetulan ketemu di jalan, sekitar 100 orang. Lantas tentu ada pembunuhan orang-orang Tionghoa yang didorong oleh AD 1967 di Kalimantan Barat dalam rangka kampanye penghabisan terhadap para gerilyawan sisa tentara konfrontasi kita. Magnis ----- Original Message ----- From: ASAHAN To: [email protected] ; SASTRA PEMBEBASAN ; SANTRI KIRI ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; AKSARA SASTRA ; [email protected] ; [email protected] ; Zainal Bintang ; [email protected] ; Margarito Kamis ; [email protected] ; [email protected] ; Syafiuddin Makka ; Muhammad Basri ; Prof.Dr. Amir Santoso ; [email protected] ; [email protected] ; hamid awaludin ; Anwar Nasution ; [email protected] ; Effendi Ghazali ; [email protected] ; Djoko Rahardjo ; Ahmad Syafii Maarif ; Achmad Sucipto, Admiral ; Fadli Zon ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Bismo Gondokusumo ; alumnas-oot ; Group Diskusi Kita Sent: Tuesday, January 28, 2014 8:35 PM Subject: Re: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China TIDAK beberapa lama setelah G30S terjadi, hubungan diplomatik antara Tiongkok- Indonesia memburuk. Pemerintah Tiongkok tidak ingin hubungan diplomatik dengan Indonesia sampai terputus(pada saat itu terror besar suharto sedang menggelora terhadap PKI dan yang tertuduh PKI).Tapi Pemerintah Tiongkok bertekad menyelamatkan hubungan diplomatik dengan Indonesia yang sudah dikuasai suharto dengan harga seberapapun. Bahkan mereka pernah bilang bahwa Tiongkok akan menyerahkan kepala mereka ( perantau Tionghoa) yang terahir asalkan hubungan dengan Indonesia(suharto) bisa dipertahankan. Dan itu memang setengahnya berhasil dengan membiarkan ribuan kepala (atau mungkin puluhan ribu kepala etnis Tionghoa) dipotong suharto meskipun ahirnya hubungan diplomatik Tiongkok-Indoenesia terbatas hingga dibekukan. Di sini jelas kepentingan nasion jauh di atas kepentingan solidaritas klas. Dan memang dalam kenyataan Pemerintah Tiongkok dan Partainya PKT waktu itu tidak memberikan sokongan politik atau solidaritas politik terhadap PKI. Lebih dari itu orang-orang PKI yang sedang bermukim di Tiongkok di dalam "konsentrasi kamp" dibalik kawat berduri sutra, semuanya pada diusiri meninggalkan bumi Tiongkok yang kemudian bertebaran pindah ke seluruh Eropah demi memenuhi tuntutan suharto dan dipulihkannya hubungan dengan Indonesia secara 100 persen(Juga dilakukan oleh ex. Soviet Uni). Dan semua ini tidak diketahui oleh rakyat Tiongkok dan memang dirahasiakan. Yang masih dibolehkan tinggal di Tiongkok cuma segelintir kecil orang PKI yang jumlahnya tidak melebihi hitungan jari yaitu kader-kader PKI terpilih yang adalah "sahabat tradisionil" Tiongkok yang sifat hubungan mereka adalah hubungan pribadi dan bukan hubungan Partai dan pula dengan sarat ketat tidak boleh mengadakan kegiatan politik selama tinggal di Tiongkok. Ketua Mao Tse Tung sendiri menulis sajak yang sangat berhati-hati mengenai terbunuhnya ketua PKI D.N.Aidit. Dalam sajak Ketua Mao itu sama sekali tidak ada nuansa politik sedikitpun dan hanyalah sajak belasungkawa biasa saja dan sangat puitis. Namun semua itu adalah juga hikmah dan pelajaran berharga untuk rakyat Indonesia yang ingin meneruskan perjuangan membebaskan diri: Berdikari dan tidak tergantung pada bantuan sahabat luar negeri yang manapun apakah itu Tiongkok, Rusia atau negara manapun di dunia ini. Saya tidak mau mengatakan bahwa PKI telah dihianati oleh sahabat-sahabatnya sendiri dikala sulit menghadapi kematiannya, tapi PKI dikhianati oleh garis politiknya sendiri yang berilusi damai terhadap musuh yang kejam dan juga banyak mendengarkan nasihat-nasihat yang menjerumuskan dari sementara sahabat kentalnya sendiri. Sekarang rakyat Tiongkok mulai sedar bahwa saudara-saudara mereka yang satu etnis sangat banyak yang dibantai suharto di Indonesia tanpa mendapat pembelaan dari Pemerintah dan Partai mereka dan bahkan tidak mencela perbuatan suharto terhadap saudara-saudara se-etnis mereka di Indonesia. Bahkan di PBB pun mereka tidak pernah buka mulut terhadap pelanggaran HAM secara barbarisme yang dilakukan rezim suharto dan Orba-nya. KITA TAK INGIN MENAMBAH MUSUH TAPI JUGA KITA TIDAK INGIN BERTEMAN DENGAN ORANG YANG TIDAK SETIA DAN TIDAK TERUJI DALAM PERSAHABATAN. ASAHAN. From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Fadli Zon ; Achmad Sucipto, Admiral ; Ahmad Syafii Maarif ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; Effendi Ghazali ; [email protected] ; Anwar Nasution ; hamid awaludin ; [email protected] ; [email protected] ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Muhammad Basri ; Syafiuddin Makka ; [email protected] ; [email protected] ; Margarito Kamis ; [email protected] ; Zainal Bintang ; [email protected] ; [email protected] Sent: Monday, January 27, 2014 10:14 AM Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China ---------- Forwarded message ---------- From: Salim Said <[email protected]> Date: 2014-01-27 Subject: Fw: [GELORA45] "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China To: Salim Said <[email protected]> On Monday, January 27, 2014 12:38 PM, iwamardi <[email protected]> wrote: Patut disayangkan , bahwa baru dan hanya melalui film Joshua Oppenheimer saja masyarakat RRT melihat dan merasakan kebiadaban rejim orba Suharto, bukan hanya kepada saudara2 kita etnis Tionghoa, tetapi kepada seluruh masyarakt yang dianggap komunis atau "diPKIkan" ! Walaupun ini merupakan hal yang baik sekali, namun seharusnya , selain membangun negeri dengan begitu pesatnya , pimpinan RRT seharusnya juga memberikan pandangan luas , pandangan akan sikon dunia kepada warganya (terutama generasi mudanya) , sehingga mempunyai wawasan yang luas dan obyektiv tentang dunia, termasuk kebiadaban rejim orba Suharto ! Kita harus sangat berterima kasih kpd. Joshua Oppenheimer dalam menyebarkan berita kebenaran (Wahrheitsbotschaft, truth message) kepada dunia , termasuk RRT ! salam iwa On Monday, January 27, 2014 4:14 AM, Chan CT <[email protected]> wrote: News / Internasional "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China Kamis, 23 Januari 2014 | 07:53 WIB ACT OF KILLINGPoster film the Act of Killing yang bercerita tentang pembunuhan massal di Indonesia tahun 1960-an. Baca juga · Pengguna Angkutan Umum Singapura Disebut Orang Miskin · Cari Suami untuk Putrinya, Pengusaha Tawarkan Uang Rp 1,5 Triliun · "The Act of Killing" Picu Kegaduhan di China · Pentagon Izinkan Prajurit AS Kenakan Turban dan Berjanggut · Saat Jet Rombongan Pemerintah Israel Parkir Berdampingan dengan Iran HONGKONG, KOMPAS.com - Film dokumenter The Act of Killing (Jagal), yang menggambarkan peristiwa berdarah di Indonesia pada periode 1965-1966, dilaporkan memicu kegaduhan di China, Selasa (21/1). Warga China menyatakan keterkejutan dan kemarahan mereka di media sosial di internet setelah menonton film yang masuk nominasi Oscar untuk kategori Film Dokumenter Terbaik tersebut. Menurut laman surat kabar Hongkong, South China Morning Post (SCMP), edisi Selasa, kemarahan dan sentimen nasionalisme warga China muncul setelah mengetahui bahwa banyak warga etnik China yang menjadi korban dalam peristiwa berdarah tersebut. Sejumlah penulis blog China bahkan membandingkan peristiwa yang mengawali Orde Baru di Indonesia itu dengan tragedi Pembantaian Nanking tahun 1937, saat tentara imperial Jepang membantai sekitar 300.000 warga China semasa pendudukan Jepang atas China. Menurut perkiraan sejumlah organisasi hak asasi manusia, 500.000-1 juta orang tewas dalam peristiwa 1965 di Indonesia itu. Hubungan diplomatik Indonesia-China juga sempat dibekukan selama 23 tahun setelah peristiwa tersebut, tepatnya sejak 30 Oktober 1967 hingga 8 Agustus 1990. Buku sejarah Para bloger dan aktivis media sosial di China kemudian menuntut Pemerintah China bersikap lebih keras terhadap Indonesia. Mereka juga menuntut peristiwa yang tidak terlalu diketahui oleh khalayak luas di China itu dimasukkan ke dalam buku sejarah. SCMP menyebut, banyak warga China baru tahu mengenai film buatan sutradara Amerika-Inggris, Joshua Oppenheimer, itu setelah banyak media di daratan China mengulasnya. Bahkan, surat kabar People's Daily, koran resmi Partai Komunis China (PKC), turut menulis soal film yang banyak memperoleh penghargaan itu. Menurut SCMP, di laman mikroblog Sina Weibo, diskusi mengenai peristiwa 1965 tersebut berkembang hingga peristiwa kerusuhan 1998, saat banyak warga etnis China juga menjadi korban. "Sebrutal apakah kau, Indonesia?" tulis seorang pengguna Weibo. Pengguna lain mengusulkan agar Pemerintah China menghentikan bantuan luar negerinya ke Indonesia. Sejumlah pengguna bahkan menyerukan agar warga China melakukan "boikot pariwisata" terhadap Bali. SCMP mengutip Chen Zonghe, seorang konsultan asal Shanghai, yang menulis, "Baik Indonesia maupun China harus bertindak dan memberikan penjelasan atas sejarah ini." (DHF) -------------------------------------------------------------------------- Editor : Egidius Patnistik Sumber : KOMPAS CETAK -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. [Non-text portions of this message have been removed]
