MEMANG kita harus mempertimbang golongan masyarakat yang tidak suka 
menggunakan kata "CINA" yang itu bisa menyangkut soal emosi dan harga diri. 
Harus kita akui bahwa kata "Cina" mengandung penghinaan atau perendahan atau 
ejekan atau pengabaian terhadap etnis yang dimaksud. Dan itu sudah historis 
yang kongkretnya sejak jaman kolonial Belanda  dan bahkan juga di jaman feodal 
di Indonesia.Tapi pula harus diperhatikan bahwa tidak semua orang yang terdapat 
dalam masyarkat Indonesia yang menggunakan kata "Cina" punya maksud menghina 
atau merendahkan etnis Tionghoa atau Tiongkok yang hal ini tidak bisa 
dipungkiri,
 Namun juga kita harus mempertimbangkan segolongan masyarakat lain yang masih 
menggunakan  kata "Cina" karena sudah menjadi kebiasaan, sudah terbiasa karena 
kata tsb sudah lama digunakan yang tanpa dengan maksud menghina tapi semata 
karena sudah sangat lazim dengan penamaan atau sebutan demikian. Bisakah kita 
mendidik atau memaksa mereka atau membiasakan mereka agar merubah kebiasaannya 
agar tidak lagi menggunakan kata "Cina". Sebagian orang mungkin bisa. Tapi kita 
lihat dalam kenyataannya di masa sekarang yang masih terbiasa dengan 
menggunakan kata "Cina" masih saja terdapat meskipun tidak dengan maksud 
menghina. Orang sering mengatakan bahwa bahasa itu tidak logis.Tentu tidak 
sepenuhnya benar. Bahasa tetap saja logis TAPI gejala tidak logis dalam bahasa 
tetap saja terjadi dan tidak jarang bahwa yang tidak logis itu ahir-ahirnya 
menjadi logis dan normal dan lalu terus dipergunakan. Kita bisa mengatakan 
dalam msyarakat Indonesia sekarang ini, jika masih menggunakan kata "China" 
sudah terasa ridak logis karena itu masa lalu, masa kolonial Belanda, masa Orde 
Baru. Tapi hampir semua orang masih menerima seperti yang sebagaimana pernah 
ada kata "Bidara Cina" (rasanya kurang pas kalau diganti dengan "Bidara 
Tionghoa" atau "Bidara China" dan contoh-contoh lainnya seperti "Petai Cina", 
"Tahun baru Cina" dsb, dsb,).Tapi kalau "restauran Cina" kita ganti dengan 
"restauran Tionghoa" atau "masakan Cina" menjadi masakan Tionghoa" terdengar 
biasa dan juga mudah membiasakannya. Dan masih betapa banyak contoh-contoh 
tidak logis dalam bahasa akan kita temui yang  bisa memancing perdebatan tanpa 
usai. Lalu bagaimana sikap kita ?.
Hanya ada dua pilihan: Terus mempersoalkannya, mendiskusikannya atau membiarkan 
gejala tsb mengalir dalam masyarakat bahasa dengam dua alternatif atau multi 
alternatif. 
Tentu di seginya yang lain masaalah emosi tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan 
di sinilah rumitnya. Kita tidak punya MAHKAMAH EMOSI. Jadi biarkanlah emosi itu 
mengalir dalam masyarakat bahasa dan itu kita tafsirkan sebagai dinamika dari 
demokrasi:rasa suka atau tidak suka mendapatkan tempatnya dalam demokrasi.
ASAHAN.



----- Original Message ----- 
From: Chan CT 
To: [email protected] 
Sent: Wednesday, January 29, 2014 10:59 AM
Subject: Re: [GELORA45] TEMPO : ANTARA CINA, CHINA, TIONGKOK, DAN ... CUNGKUO


Menurut pengertian saya, sebutan bagi satu NEGARA dan BANGSA sepenuhnya 
merupakan HAK bangsa itu lebih suka dan maunya disebut apa, kita hanya bisa 
menuruti saja kehendaknya. Sebagai bangsa yang bersahabat, seharusnya-lah kita 
menuruti saja kehendak bangsa itu maunya gunakan sebutan apa yang dirasakan 
lebih nyaman dan sesuai, ...! 

Bagaimanakah perasaan bangsa Indonesia seandainya saja Belanda masih saja 
menggunakan sebutan Inlander sebagaimana yang digunakan jaman koloni dahulu? 
Bagaimana pula perasaan arakyat Indonesia seandainya saja Malaysia secara resmi 
masih saja menggunakan sebutan Indon, ... sekalipun diprotes???

Dan, ... ingat, itulah yang terjadi terhadap Tiongkok, yang TIDAK hendak 
dirinya disebut CINA dan berulang kali mengeluarkan PROTES KERAS dan menentang 
saat pemerintah Soeharto merubah sebutan Tiongkok/TIonghoa menjadi CINA! Karena 
jelas-jelas perubahan sebutan menjadi CINA itu sengaja digunakan untuk 
menghina/melecehkan Tiongkok dan Tionghoa di Indonesia! Sedang sebutan CHINA 
(Caina), terjadi akibat perundingan pemulihan diplomatik RI-RRT diakhir tahun 
1989, pemerintah Soeharto yang ndableg tetap ngotot gunakan sebutan CINA, tidak 
hendak kembali gunakan sebutan Tiongkok/Tionghoa. Sedang pihak Tiongkok yang 
lebih mementingkan dipulihkannya hubungan diplomatik RI-RRT, akhirnya 
mengusulkan jalan keluar menggunakan CHINA sebagaimana bhs. Inggris.   

Bagi negara-negara lain yang lasim gunakan sebutan China, atau 
Chinese/Chinesisch, Kina, ... dan karena memang tidak dimaksudkan untuk 
penghinaan dan melecehkan Tiongkok, selama ini pihak Tiongkok juga tidak pernah 
mempermasalhkan. Teruskan saja gunakan sebutan yang lasim digunakan itu. 

Begitu juga sama halnya dengan seseorang yang TIDAK hendak disebut Bagong, 
apapun alasannya, bisa dibenarkankah kalau kita ngotot tetap gunakan sebutan 
Bagong??? Kecuali memang mau ngajak dia berkelahi, ...!

Salam-damai,
ChanCT



From: F. Magnis-Suseno 
Sent: Wednesday, January 29, 2014 9:44 AM
To: [email protected] 
Subject: RE: Fw: [GELORA45] TEMPO : ANTARA CINA, CHINA, TIONGKOK, DAN ... 
CUNGKUO

Lha, Pak Dahana, lalu saya sebaiknya memakai apa: "Cina" atau 
"Tiongkok/Tionghoa" (dalam bahasa Jerman yang dipakai: "China" dan 
"Chinese/chinesisch", diucapkan "Kina" dan "Kinese/kinesisch")?
Terimakasih
Magnis


--------------------------------------------------------------------------------
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of Salim Said
Sent: 29 January, 2014 5:58 AM
To: Group Diskusi Kita; alumnas-oot
Subject: Fwd: Fw: [GELORA45] TEMPO : ANTARA CINA, CHINA, TIONGKOK, DAN ... 
CUNGKUO





---------- Forwarded message ----------
From: Salim Said <[email protected]>
Date: 2014-01-29
Subject: Fw: [GELORA45] TEMPO : ANTARA CINA, CHINA, TIONGKOK, DAN ... CUNGKUO
To: Salim Said <[email protected]>






On Tuesday, January 28, 2014 1:45 PM, "[email protected]" 
<[email protected]> wrote:

  
Berikut ini berita dari majalah TEMPO edisi 27 januari – 2 Februari 2014, 
semoga bermanfaat bagi pembacanya.


TEMPO : KOLOM
SENIN, 27 JANUARI 2014, HAL 82


ANTARA CINA,
CHINA, TIONGKOK,
DAN ... CUNGKUO

A. Dahana*

ADA semacam kerepotan yang kita hadapi baik pada pergaulan sehari-hari, 
menulis, percakapan formal dan informal, maupun pada waktu mengucapkan pidato 
resmi atau tak resmi. Itulah kata atau istilah yang mengacu pada sebutan untuk 
Tiongkok sebagai negeri dan etnis Tionghoa sebagai salah satu kelompok etnis di 
negeri kita. 
Soal itu tampaknya sederhana, tapi tak sesederhana itu. Dalam hampir semua 
diskusi mengenai Cina, yang tak ada hubungannya dengan istilah tersebut, 
istilah “Tiongkok”, “Cina”, dan “Tionghoa” selalu muncul dan perdebatannya tak 
pernah usai.
Dulu istilah-istilah yang disebut pada judul tulisan ini digunakan secara 
bergantian tanpa makna atau maksud terselubung. Namun kini keadaannya lain. 
Istilah “Cina” oleh sebagian orang dianggap sebagai penghinaan baik terhadap 
Tiongkok sebagai negeri maupun terhadap etnis Tionghoa sebagai kelompok etnis. 
Akibatnya, kita harus berhati-hati dengan siapa kita bercakap. Siapa tahu lawan 
kita ngobrol tersinggung pada istilah “Cina”.
Sebagai catatan, pemerintah Orde Baru dengan Edaran Presidium Kabinet Ampera 
tentang Masalah Cina Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967 menyampaikan imbauan agar 
istilah “Cina” digunakan secara umum karena itulah yang katanya benar. Surat 
edaran itu juga menganjurkan agar istilah “Tiongkok” dan “Tionghoa” sejak surat 
tersebut terbit ditinggalkan saja. Tak jelas apa dasar surat edaran yang 
ditandatangani Jenderal Sudharmono, yang waktu itu menjabat Sekretaris Kabinet, 
tersebut.
Republik Rakyat China (RRC) punya jalan keluar yang unik. Tak lama setelah 
pemerintah Orde Baru runtuh dan reformasi dimulai, mereka menuntut pemerintah 
dan publik Indonesia mulai menggunakan istilah “China” buat mengacu pada Negeri 
Tiongkok. Sejak itu, istilah resmi yang digunakan pemerintah Indonesia adalah 
“China”. Para pembicara di seminar ataupun di media elektronik tak ketinggalan 
menggunakan “China”. Sebagian besar media cetak dan media dunia maya pun mulai 
menggunakannya.


Dalam percakapan dengan rekan-rekan wartawan, penulis, dosen, dan lain-lain, 
kita mendapat banyak masukan menarik, dan seringkali sedikit lucu, yang bisa 
dicatat pada tulisan ini. Orang yang bertahan dengan istilah “Cina” punya 
alasan yang masuk akal. Mereka segan menggunakan “China” lantaran kata itu 
tidak ada dalam kosakata bahasa Indonesia. Mereka mengusulkan bagaimana kalau 
Komisi Istilah dari Lembaga Bahasa menetapkan istilah yang lebih mengindonesia, 
misalnya “Caina”.


Atau, kalau kata itu bisa tertukar dengan kata bahasa Sunda yang berarti 
“airnya”, pilihlah istilah lain, misalnya “Cayne” atau “Cayna”. Lalu,  kalau 
ada golongan etnis China yang keberatan disebut “Cina”, sudah ada istilah lain 
yang telah melembaga, yakni Tionghoa.


Yang menarik lagi, ada komentar cukup unik. Katanya, “kalau ada orang Indonesia 
merasa tersinggung lantaran negeri mereka disebut “Indon” di Malaysia, itu 
masuk akal,“ ujar mereka. Tapi mereka tak habis pikir mengapa ada orang 
Indonesia merasa tersinggung karena Negeri China disebut Cina.


Saya punya pengalaman menarik tentang kekisruhan penggunaan istilah “Cina” dan 
“China” ini. Pada masa Orde Baru, saya menjadi anggota delegasi Universitas 
Indonesia yang diundang oleh Universitas Peking (Beida) buat mengadakan kerja 
sama. Ketika kami harus menyusun sebuah MOU, timbulah masalah. Sebab, sebagai 
universitas milik pemerintah, kami harus menggunakan istilah “Cina”. Sedangkan 
tuan rumah berkeras kami menggunakan kata “Tiongkok”. Karena tidak tercapai 
kompromi, MOU itu akhirnya disusun menggunakan bahasa Inggris.


Untuk keluar dari kekisruhan istilah ini, Remy Sylado, penulis kondang, 
mengusulkan sebuah terobosan yang tak kurang menariknya. Di sebuah diskusi 
dalam rangka Borobudur Festival, Oktober tahun lalu, ia mengemukakan ide 
bagaimana kalau kita menggunakan istilah “Cungkuo” saja. Ini memang sejalan 
dengan penamaan orang Cina memberi nama negeri mereka “Zhongguo” atau “Negeri 
di Tengah Dunia”, yang sering diterjemahkan secara bebas dengan “Pusat 
Kebudayaan Dunia”. Maka kita bisa terbebas dari kontroversi istilah “Cina” dan 
“China”, dan semua orang akan senang.


Mendengar apa yang disampaikan Saudara Remy, saya jadi teringat kepada seorang 
kawan yang mengajar bahasa Tionghoa di Surabaya. Ia menulis surat kepada saya, 
mengusulkan agar kita menulis petisi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk 
mengubah nama “People’s Republic of China” menjadi “People’s Republic of 
Zhongguo”. Itu dilakukan agar kontroversi istilah “Cina” dan “China” selesai.


Ide Saudara Remy dan kawan saya orang Surabaya itu memang jenius. Asalkan 
penggantian istilah tersebut tidak melebar ke kata-kata yang sudah melembaga di 
masyarakat kita. Misalnya kita tak usah menyebut “petai cungkuo” buat “petai 
cina”, “pecungkuoan” buat “pecinan”, atau lebih ekstrem lagi : “Pondok Cina” 
menjadi “Pondok Cungkuo” buat sebuah stasiun kereta api setelah stasiun UI ke 
arah Bogor dan “Bidara Cina” di Cawang jadi “Bidara Cungkuo”. Atau “Program 
Studi Cina” di Fakultas Ilmu Budaya UI menjadi “Program Studi Cungkuo”. 





-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke