KALAU SBY jadi meminta maaf atas pelanggaran HAM berat, dia akan 
digulingkan pihak-pihak lawannya karena itu adalah kesempatan emas bagi pihak 
lawan SBY untuk melabraknya. Dia berhati-hati. Mega turut dalam komplotan 
menggulingkan Gus Dur. Apa motivnya? . Gus Dur teman dia sejak remaja. Motiv 
yang pokok barangkali karena dia ingin jadi Presiden yang hanya dalam 
kesempatan demikian bisa dia lakukan. Lalu sebagai Presiden, Mega juga 
menjalankan politik BERHATI-HATI seperti juga yang dijalankan SBY sekarang ini. 
Untuk apa?.Untuk menyelamatkan jabatan dan sebagai hasilnya dia tidak mempunyai 
prestasi yang berarti yang bahkan merehabilitasi nama bapaknya sebagai Preaiden 
yang digulingkan suhartO- pun, tidak dia lakukan. Sukses besar Mega adalah 
dengan politknya yang berhati hati itu dia selamat menjalani masa jabatan 
Presidennya hingga ahir meskipun rakyat tidak memetik setetes faedahpun.

Lantas politik apa yang akan dijalankan Jokowi bila dia terpilih sebagai 
Presiden? Apakah Jokowi akan juga melakukan politik berhati-hati (baca:  
KOMPOMI) terhadap lawan-lawan serta pihak koalisinya? untuk juga menyelamatkan 
jabatan?, meneruskan politik tradisionil berhati-hati yang pernah  dijalankan 
Mega, SBY dan bahkan juga Habibie? Kalau cuma akan demikian, apalah lagi 
artinya seorang Jokowi ? Atau kita hanya harus optimis, positiev denken? 
.Bisakah Indonesia diperbaiki cuma dengan cara begini? 
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bismo Gondokusumo ; [email protected] 
; [email protected] ; [email protected] ; Fadli Zon ; 
Achmad Sucipto, Admiral ; Ahmad Syafii Maarif ; Djoko Rahardjo ; 
[email protected] ; Effendi Ghazali ; [email protected] ; 
Anwar Nasution ; [email protected] ; [email protected] ; hamid 
awaludin ; [email protected] ; Syafiuddin Makka ; Muhammad Basri ; 
Bahtiar Effendy ; Ichsan Loulembah ; Harjono Kartohadiprodjo ; 
[email protected] ; chandra motik ; [email protected] 
  Sent: Sunday, February 09, 2014 3:45 AM
  Subject: Fwd: Kolom IBRAHIM ISA - - WALIKOTA PALU TELADAN,,PELURUSAN SEJARAH 
MELAWAN "LUPA"


  Menarik untuk diamati. Salah satu pertanyaan, apakah walikota Palu mudah 
memohon maaf sebab di wilayah Palu memang tidak terjadi pembantaian di tahun 
1965? Jadi minta maaf atau tidak minta maaf jadinya sama saja. Saudara Ichsan 
Lolulembah adalah putra Sulawesi Tengah yang mungkin bisa kita harapkan 
menjelaskan latar belakang permintaan maaf ini.



  ---------- Forwarded message ----------
  From: isa <[email protected]>
  Date: 2014-02-08 21:47 GMT+07:00
  Subject: Kolom IBRAHIM ISA - - WALIKOTA PALU TELADAN,,PELURUSAN SEJARAH 
MELAWAN "LUPA"
  To: 



  Kolom IBRAHIM ISA

  Sabtu, 08 Februari 2014
  ---------------------------------- 



  WALIKOTA PALU TELADAN 

  PELURUSAN SEJARAH MELAWAN "LUPA"




  * * *




  "Palu Meminta Maaf kepada Keluarga Korban 1965"




  "Walikota Palu Rusdy Mastura juga akan memulihkan hak-hak kekeluargaan korban 
yang diuduh terlibat dalam Partai Komunis Indonesia". . . . . 




  * * *




  Peristiwa diatas terjadi dalam tahun 2012/13. Suatu permintaan maaf terhadap 
keluarga Korban 1965 dan pemulihan hak-hak kekeluargaan korban, yang dinyatakan 
oleh seorang pejabat negara Republik Indonesia, Walikota Palu Rusdy Mastura, 
dan Pemerintah Kota Palu. Kejadian tsb diberitakan secara nasional oleh 
Tempo.com. Tindakan Walikota Palu dan Pemerintah Kotapraja Palu tsb merupakan 
penerobosan besar. Meskipun terjadi pada tingkat daerah, di sebuah kotapraja di 
Sulawesi Tengah, namun, punya arti penting nasional. 




  Kemudian terjadi sbb (20/5/2013) -Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin 
mendeklarasikan Desa/Kelurahan Sadar Hukum dan Kota Palu sebagai Kota Sadar HAM 
di lapangan. Walikota Palu, Sulawesi Tengah. Acara ini merupakan tindak lanjut 
dari program kerja Panitia Ranham Propinsi Sulawesi Tengah. Deklarasi dihadiri 
oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Longky Janggola; Walikota Palu, Rusdi Mastura; 
Wakil Walikota Palu dan Kapolda Sulawesi Tengah.




  * * *




  Ketika menganalisis peristiwa tsb sekaligus mengeritik sikap Presiden SBY -- 
Sri Sulastri Wahyuningroem, yang sedang meneliti Keadilan Transisional di 
Indonesia untuk mencapai PhD pada Universitas Nsaional Ausastralia di Brisbane, 
menulis a.l teks aslinya dalam bahasa Inggris bb: 




  "President Susilo Bambang Yudhoyono has always been reluctant to include the 
1965 mass killings in his never-realized plan to make an official apology to 
survivors; and as head of state, he never supported or instructed the Attorney 
General's Office to follow up the four-year investigation by the National 
Commission on Human Rights (Komnas HAM) into the 1965/1966 crimes against 
humanity.




  "Since his time in office will end this year, we can congratulate Yudhoyono 
for another success in allowing such an important issue to be "hidden with 
shame", both domestically and internationally.




  "Unlike Yudhoyono or most of our other political leaders, the Palu mayor has 
choosen to come to terms with the past because, as he said to me some time ago: 
"This kind of [atrocity] must never happen again". He learned from his own 
personal experience the damage and cost to communities as well as to the 
victims, as a result of decades of stigmatization of being associated with the 
Sept. 30 Movement, and concluded that survivors were entitled to peace and 
dignity.




  "The Palu regulation fits with a title awarded to the city by the Law and 
Human Rights Ministry, Palu: city of human rights awareness. The bylaw is one 
of the mayor's efforts to realize his commitment following his formal apology.




  "The Palu initiative reminds us of one very important thing in democracy: 
That it is always possible to push for change at a local level, even though the 
status quo may remain strong at the center of politics in Indonesia. The New 
Order's master narrative on the so-called "abortive coup" blamed the Indonesian 
Communist Party (PKI) and justified the mass killing of suspected leftists and 
other civilians. This was the political legitimacy used by president Soeharto 
to hold sway and maintain his power for more than three decades.




  "Since the dawning of the 1998 Reform era and its failure to acknowledge this 
country's dark history, the same narrative has remained strong and has provided 
the basis of political legitimacy for the new, supposedly democratic, regimes. 
  <The writer is researching transitional justice in Indonesia for her PhD 
thesis at the Australian National University in Canberra.> 







  * * *




  Dialihbasakan kira-kira sbb: 




  "Presiden SBY selalu enggan memasukkan masalah pembunuhan masal 1965 dalam 
rencana-yang tidak pernah dilaksanakannya, untuk minta maaf resmi kepada para 
penyintas, dan sebagai kepala negara, ia tidak pernah mendukung atau 
menginstruksikan Kejaksaan Agung untuk menindaklanjuti investigasi empat-tahun 
yang dilakukan oleh KomnasHAM terhadap kejahatan kemanusiaan 1965/1966.




  "Karena masa jabatnnya akan berakhir tahun ini; kita bisa mengucapkan selamat 
kepada Yudhoyono untuk sukses lainnya membiarkan kasus begitu penting seperti 
itu "disembunyikan dengan malu", baik secara nasional maupun internasional.




  "Lain dari Yudhoyono atau sebagian besar dari pemimpin kita, Walikota Palu 
memilih mengakui dan mengakhiri masa lampau, karena kata beliau kepada saya 
suatu ketika: "(Kekejaman) semacam itu tidak boleh terulang lagi". Ia belajar 
dari pengalaman pribadinya kerusakan dan kerugian terhadap masyarakat sama 
seperti terhadap para korban, sebagai akibat dari stigmatisasi dilibatkan 
dengan Gerakan 30 September, dan (ia) menyimpulkan bahwa para penyintas berhak 
atas kedamaian dan hargadiri manusia.




  "Pengaturan Palu cocok dengan penghargaan yang diberikan pada kota tsb oleh 
Kementerian Hukum dn Ham kepada Palu: Kota Sadar Ham. Pengaturan tsb merupakan 
usaha Walikota untuk merealisasi janjinya sebagai tindak lanjut permintaan maaf 
yang dilakukannya secara resmi.




  "Prakarsa Palu mengingatkan kita pada satu hal penting di dalam demokrasi: 
Bahwa adalah selalu mungkin mendorong terjadinya perubahan di tingkat lokal, 
meskipun statusquo masih kuat di pusat politik di Indonesia. Versi yang 
diuarkan oleh Orde Baru mengenai apa yang dinamakan "kudeta yang gagal" yang 
dituduhkan pada Partai Komunis Indonesia (PKI) dan (dengan itu) membenarkan 
pembunuhan masal terhadap orang-orang Kiri yang dicurigai dan warga sipil 
lainnya. Ini adalah legitimasi politik yang digunakan Presiden Suharto untuk 
berkuasa terus selama lebih dari tiga dasawarsa.




  "Sejak dimulainya era Reformasi 1998 dan kegagalannya untuk mengakui sejarah 
kelam negeri ini, cerita yang sama masih kuat dan telah memberikan dasar bagi 
legitimasi politik untuk rezim-rezim baru yang dikatakan demokratis.




  * * *


  Permintaan maaf serupa pernah dilakukan oleh Gus Dur, mantan Presiden RI. Ada 
sedikit perbedaan. Kotapraja Palu memulihkan hak/hak kekeluargaan korban. Gus 
Dur belum sampai kesitu. Makanya Pramudya Ananta Tur merespons permintaan maaf 
Gus Dur, menyatakan `kok gampang amat minta maaf ยด. Pram menuntut Gus Dur 
sebagai pejabat tertinggi negara melakukan tindakan kongkrit di bidang 
pemulihan hak-hak kewarganegaraa korban. Baik lewat MPRS atau dalam posisi 
beliau sebagai Presiden R.I. 




  Mungkin Gus Dur juga bermaksud demikian. Hanya kurang waktu dan keburu 
digulingkan oleh manuver politik Amin Rais-Akbar Tanjung-Wiranto. . . ., dan . 
. . . . Megawati.




  * * *




  Kesimpulan yang dikemukakan dalam tulisan Sri Sulastri Wahyuningroem, sesuai 
dengan kenyataan situasi Indonesia dewasa ini. 




  Perubahan-perubahan yang berkembang selangkah demi selangkah sejak dimulainya 
era reformsi, menunjukkan adanya kemajuan-kemajuan di daerh yang bersifat 
pendobrakan terhadap situasi "jalan ditempat": yang masih berlangsung di pusat. 
Di lain fihak masih terjadi peritsiwa di Jawa Timur, dimana suatu pertemuan 
peluncuran buku mengenai TAN MALAKA di ancam dibubarkan oleh organisasi yang 
mengatasnamai Islam.




  Gerakan masal yang berkembang terus di daerah --- suatu waktu akan 
menghasilkan perubahan berarti di tingkat pusat. Dalam hal gerakan daerah yang 
maju, Kota Palu dan Walikotanya Rusdy Mastura, adalah TELADAN!!




  * * * 




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "diskusi kita" dari 
Grup Google.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke diskusi-kita+berhenti [email protected] .
  Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke