Tentang Stanley Greenberg dan Indonesia
Sehubungan dengan permintaan sahabat-sahabat Blog I-I, saya memutuskan untuk 
menyampaikan informasi dan analisa mengenai isu keterlibatan Stanley Greenberg 
dalam pesta demokrasi dan pemilu di Indonesia. Hal menjadi sangat penting 
sebagai bagian pembelajaran publik untuk lebih teliti dan dalam berita yang 
belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Sebelum sahabat-sahabat Blog I-I membaca artikel ini, sesuai dengan etika yang 
telah dipegang teguh selama sekitar 10 tahun eksistensi Blog I-I mohon 
dimaklumi apabila saya tidak dapat membuka seluruh bukti-bukti dalam bentuk 
dokumen otentik. Namun hal ini tidak mengurangi validitas proses penyelidikan 
yang dilakukan jaringan Blog I-I karena sahabat Blog I-I dapat melakukan 
pengecekan sumber-sumber yang dirujuk dalam artikel ini. Blog I-I memegang 
prinsip untuk tidak menyebarkan fitnah dan semua dilakukan tanpa pamrih demi 
Bangsa dan Negara Indonesia.


Terima kasih sebelumnya kepada jaringan Blog I-I yang lebih senang disebut para 
Ronin Indonesia yang tersebar di seluruh dunia, khususnya yang berada di New 
York, Washington DC, Boston, Dover, dan London. Terima kasih atas berkas-berkas 
informasi yang telah dikirimkan kepada Blog I-I sebagai bahan-bahan bukti untuk 
penjelasan kepada publik Indonesia mengenai isu yang dikembangkan oleh sebuah 
akun twitter yang dikenal dengan nama @triomacan2000 yang juga dipopulerkan 
melalui website berita www.asatunews.com.

Artikel ini jangan dipandang sebagai sebuah dukungan politik ataupun bantahan 
yang memojokkan sesama anak bangsa Indonesia yang giat bersemangat dalam 
memperbaiki bangsa melalui narasi-narasi intelektual, perdebatan, diskusi 
mendalam yang mendorong perubahan Indonesia menjadi lebih baik. Selain itu, 
meskipun berbau politik, hal ini juga jangan dilihat sebagai pergeseran Blog 
I-I untuk masuk dunia politik. Blog I-I tetap teguh berpendirian bahwa 
Intelijen tidak mencampuri urusan politik dalam negeri, khususnya dalam 
persaingan menuju kekuasaan melalui mekanisme pemilu.

Pertama, berdasarkan konfirmasi kepada Kantor Greenberg Quinlan Rosner 
Research, belum pernah ada satupun tokoh Indonesia yang menggunakan Jasa 
Stanley Greenberg baik untuk pencitraan maupun pemenangan pemilu. Bila anda di 
Amerika Serikat silahkan kunjungi kantornya yang beralamat di 10 G Street, NE 
Suite 500, Washington DC. Bila anda ingin kontak per-telepon silahkan kontak +1 
202 478 8300 atau Fax +1 202 478 8301. Jawaban resminya adalah demikian, TIDAK 
BENAR ada upaya pencitraan ataupun upaya mendorong salah seorang tokoh 
Indonesia menjadi Presiden. 

Beberapa pihak mungkin akan mendebat bahwa pekerjaan Stanley Greenberg bersifat 
rahasia dalam deal dengan peranan Arkansas Connection (Ingat kisah Bill Clinton 
dan pengusaha keluarga Riyadi). Kerahasiaan client sangat mungkin terjadi 
karena ada Undang-Undang di AS yang melarang pembocoran identitas client tanpa 
izin sang client. Sehingga tidak memungkinkan bagi siapapun dari Indonesia 
untuk mendesak pengungkapan siapa yang menyewa Lembaga Greenberg tanpa adanya 
delik hukum atau perintah pengadilan. Hal inilah yang dimanfaatkan 
pelaku-pelaku propaganda entah untuk kepentingan kelompok atau demi uang 
merancang suatu argumentasi karena akan sangat sulit dilakukan penyelidikan 
yang akurat. 

Kedua, dasar informasi dari tuduhan keterlibatan Greenberg adalah berdasarkan 
pada sebuah survey yang diberitakan dilakukan oleh Greenberg Quinlan Rosner 
Research terkait dengan 3 nama capres menjelang pemilu di Indonesia yakni 
Jokowi, Prabowo dan Aburizal Bakrie dan juga mengenai popularitas Partai 
Politik. Hal ini ramai diberitakan sejumlah media massa pada akhir September 
2013, contohnya Suara Pembaruan, Merdeka, sigmanews, dll namun hanya asatunews 
yang cenderung memanfaatkannya untuk menyerang secara serius menjadi isu 
rekayasa pencitraan sebagaimana juga dilakukan oleh akun twitter @triomacan2000 
dan beberapa akun twitter sejenis lainnya. Sayangnya sejumlah website yang 
dikelola kalangan Muslim juga mulai termakan oleh oleh propaganda hitam 
tersebut, karena akan sangat efektif untuk melemahkan dukungan publik dengan 
tuduhan keterlibatan Yahudi dalam politik nasional Indonesia. Semoga artikel 
ini dapat secara obyektif menempatkan duduk
 persoalannya. 

Ketiga, akun @triomacan2000 menampilkan diagram yang menghubungkan sejumlah 
pihak terkait dalam rekayasa pencitraan Jokowi. Misalnya saja pencitraan 
tersebut didukung oleh konglomerat seperti Anthony Salim, James dan Mochtar 
Riyadi, serta politisi Pat Robertson (Republikan), Kristen Evangelist, 
China/RRC connection, Catholic Community, serta berbagai lembaga yang 
melambungkan salah seorang tokoh Indonesia untuk menjadi Presiden Boneka. 
Bahkan dalam kuliah twit-nya juga disebutkan mengenai keterlibatan Intelijen 
Militer China dan dikait-kaitkan dengan kasus Lippogate dalam politik dalam 
negeri AS.


Diagram tersebut diatas bukan saja dangkal melainkan juga janggal secara 
logika. Utamanya adalah mengenai kolaborasi China (Intelijen), agen (pengusaha 
Riyadi), Politisi (Republikan), Greenberg (Kiri - Demokrat) serta memasukan 
unsur Evangelist dan Catholic semua untuk pencitraan seorang tokoh Indonesia 
yang rencananya akan dijadikan Presiden Boneka. Mengapa tidak logis? Karena 
unsur-unsur pendukung yang ditampilkan hampir semuanya berlawanan/beroposisi 
baik secara kepentingan maupun ideologi. Satu-satunya yang dapat menjadi faktor 
pengikat dari unsur-unsur pendukung proyek pencitraan tersebut adalah "persepsi 
ancaman" terhadap Islam yang merupakan agama mayoritas dianut bangsa Indonesia. 
Sehingga besar kemungkinan analisa dalam bentuk diagram diatas sengaja disusun 
untuk menarik perhatian umat Islam agar terbentuk persepsi tertentu terhadap 
salah seorang tokoh yang memiliki popularitas.

Kasus Lippogate sudah lama selesai, keluarga Riyadi tetap memiliki kekayaan 
yang signifikan dan memiliki hubungan baik dengan sejumlah tokoh penting di 
China. Anthony Salim cenderung apolitis dan jauh lebih profesional daripada 
Ayahandanya Soedono Salim dan lebih berkonsentrasi kepada Bisnis. Pat Robertson 
dari Partai Republik adalah politisi Evangelist yang dianggap aneh dan memiliki 
pandangan radikal terhadap non-Kristen da Kristen non-Evangelic mungkin ada 
hubungan dengan James yang belum lama pindah menjadi Evangelist, tetapi belum 
ditemukan bukti kepentingan Evangelist terhadap Jokowi, terlebih dalam diagram 
juga dimasukan faktor komunitas Katholik baik melalui Ahok maupun langsung ke 
Jokowi. Evangelist memiliki perbedaan mendasar dengan Katholik dalam hal 
organisasi dimana gereja Evangelist tergantung pada denominasi, sedangkan 
Katholik atau Katholik Roma memiliki hirarki organisasi yang dipimpin oleh 
Paus. Dalam hal penafsiran dan ajaran tentunya
 para penganutnya lebih memahami daripada saya.

Justru karena diagram tersebut diataslah menjadi suatu keyakinan bahwa 
propaganda @triomacan2000 terlalu dipaksakan dan belum matang untuk 
dipublikasikan menjadi polemik di tengah-tengah dunia sosial media. Andaikata 
Bung Triomacan belajar lebih teliti, tentunya akan dapat membangun suatu 
propaganda yang lebih baik dan meyakinkan. 

Keempat, release hasil penelitian Greenberg Quinlan Rosner Research konon 
dilakukan "tertutup" namun kemudian dikutip sejumlah media massa. Pertanyaan 
selanjutnya tentu siapa yang melaksanakan survey tersebut di Indonesia? 
Tentunya membutuhkan pelaksana lapangan bukan? Pada tahun 1999 dan 2004, 
lembaga yang menjadi rujukan bagi AS tentang dinamika demokrasi di Indonesia 
adalah National Democratic Institute (NDI). Bahkan NDI juga membesarkan nama 
Presiden SBY bersama-sama survey yang dilakukan LP3ES yang kemudian akhirnya 
SBY menjadi presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia. 
NDI sudah memiliki jaringan yang bagus di Indonesia dan mungkin satu-satunya 
lembaga yang dibiayai oleh Pemerintah AS dan memiliki misi demokratisasi di 
seluruh dunia. NDI juga tercatat memiliki kerjasama erat dengan Greenberg 
Quinlan Rosner Research di berbagai negara. Apakah NDI yang melaksanakan survey 
Greenberg ataukah Greenberg yang mengklaim memiliki
 jaringan di seluruh dunia yang melaksanakannya sendiri belum dapat kami 
pastikan.


Kelima, motivasi dibalik suatu berita dalam dunia politik memiliki banyak 
probabilita. Baik pencitraan maupun propaganda hitam memiliki tujuan 
mendapatkan perhatian publik. Sebuah berita yang baik adalah yang asli apa 
adanya dan tidak diwarnai terlalu banyak opini penulis yang menterjemahkan isi 
berita.

Misalnya dalam kasus Greenberg.

Intisari berita adalah Pada sekitar September 2013 Greenberg membuat laporan 
survey yang menujukkan elektabilitas Jokowi tertinggi.

Opini oleh pendukung Jokowi adalah :


        1. "Bukti survey lembaga asing yang kredibel yang tidak mungkin 
direkayasa semakin meningkatkan kepercayaan rakyat Indonesia." 
        2. "Wajar bila survey lembaga asing hasilnya sama dengan survey-survey 
lembaga survey Indonesia"
        3. "Pengakuan asing terhadap Jokowi semakin bertambah karena Greenberg 
Research yang berhasil menjadikan sejumlah tokoh di berbagai negara menjadi 
Presiden ternyata juga membuat survey tentang popularitas Jokowi sebagai 
Capres."
Opini oleh pihak Anti-Jokowi adalah :


        1. "Greenberg Yahudi merekayasa seluruh pencitraan Jokowi"
        2. "Kospirasi Yahudi-Kristen-China dalam rekayasa popularitas Jokowi 
ternyata sebuah kebohongan yang memuakan rakyat Indonesia.
        3. "Ternyata ada pihak-pihak tertentu yang menyewa Greenberg untuk 
rekayasa pencitraan Jokowi melalui berbagai media dan survey."
Silahkan sahabat-sahabat Blog I-I renungkan dan pelajari bagaimana sebuah 
proses propaganda politik bekerja dan mempengaruhi persepsi publik.

Akhir kata, artikel ini murni pembelajaran publik dan dapat sahabat Blog I-I 
pelajari secara seksama bagaimana sebaiknya kita sebagai bangsa yang besar mau 
meluangkan waktu untuk mencermati dinamika di sekeliling kita termasuk 
bagaimana upaya-upaya mempengaruhi persepsi kita tentang diri kita dan pemimpin 
kita. Bila ada sedikit keraguan, sahabat Blog I-I dipersilahkan melakukan 
pendalaman informasi atau menyampaikan informasi tambahan kepada Blog I-I.

Semoga bermanfaat

Salam
Senopati Wirang

Kirim email ke