MENGUNGKAP KECURANGAN PEMILU 9 APRIL 2014 

BY @TrioMacan2000

Eng ing eeng .. Kemarin sore kami diundang seorang ketua partai politik utk 
mendiskusikan kecurangan - kecurangan pemilu 2014. Kebetulan pada saat yang 
sama, PDIP melalui Hasto Kristianto dan Timses Jokowi (Andi Widjajanto cs) juga 
membahas kecurangan pemilu.

Diskusi kami dengan ketua partai itu dimulai dgn satu pernyataan pembuka : apa 
pun hasil pemilu & pilpres, semua tergantung maunya istana. Kami sdh pernah 
bahas bahwa pemenang pemilu 2014 ini sebenarnya adalah SBY. Bukan PDIP, Golkar, 
Gerindra dst. Hasil pemilu sdh diatur. Hasil pemilu sdh direkayasa. Sdh diatur 
sedemikian rupa sesuai maunya SBY, Sudi Silalahi, KPU dan KPUD. Hasilnya sesuai 
rencana mereka. Tidak usah bicara Pilpres jika hasil pemilu tdk dieksaminasi. 
Tdk ada guna, krna siapa pun pemenang pilpres ditentukan oleh Istana & KPU. 
Istana dan KPU merekayasa agar PDIP dapat suara hanya 18%, Golkar 16%, Gerindra 
12%, P Demokrat 10%, dan seterusnya. Mau buktinya?

Bukti 1. Formulir C-1 tidak mau diserahkan PPS kepada caleg atau saksi caleg 
atau pemantau pemilu. Siapa yg kuasai? KPUD, Polres, Kodim

Bukti 2 : KPU mengapus atau meniadakan layar monitor TABULASI perhitungan 
sementara yang pada pemilu2 sebelumnya PASTI ADA.

Tanpa ada Layar Monitor Tabulasi Suara Sementara, rakyat tidak punya akses 
untuk mengetahui perhitungan suara yang sebenarnya. Layar Monitor Tabulasi 
Suara Sementara adalah sarana bagi rakyat utk mengetahu update perhitungan 
suara ril. Dari detik ke detik dst. Meski begitu, pada pemilu 2009, terbukti IT 
Tabulasi Suara direkayasa, dibuat "hang" selama beberapa jam, diganti dgn yg 
sdh direkayasa. Pada Monitor Tabulasi Suara Pemilu 2009 di Hotel Borodudur, 
awalnya ditampilkan adalah Tabulasi milik KPUD DKI berlambang Monas. Setelah 
"hang" 9 jam, diganti dgn Layar Monitor KPU yang sebenarnya namun sdh diprogram 
menampilkan hasil sesuai rekayasa KPU. Namun, untuk pemilu 2014 ini, TIDAK 
diketahui alasannya, KPU menghapus / meniadakan Penayangan Tabulasi Suara 
Sementara. Gila ! Anehnya, TIDAK ADA satu pihak pun yang mempertanyakan 
keputusan KPU yang sangat mencurigakan itu. Partai2 diam semua. Kenapa?. Karena 
sebagian partai yaitu : PKS, PPP, PKB, PAN,
 Demokrat, Gerindra, Golkar sdh sepakati koalisi sejak awal : "Koalisi Cikeas". 
Hasil pemilu 2014 sdh direkayasa. PAN, PKS, PPP, PKB (partai sekoci cikeas) 
diatur mendapatkan jumlah kursi relatif sama di DPR

Bukti 3 : perolehan suara PKS, PKB, PPP, PAN, PPP terbukti beda jauh sekali dgn 
hasil survey electabilitas sebelum pemilu

Sebelum pemilu, electabilitas partai2 itu hancur : PAN (1.7%), PKS (2.6%), PPP 
(3.1%), PKB (3.4%), Demokrat (4.1%), Gerindra (6.3%). Namun hasil pemilu 2014 
(setelah direkayasa/diatur) : PKS 7%, PKB 9%, Demokrat 11%, PPP 7%, PAN 7.4%, 
Gerindra 12%. Semua naik > 100%. PAN, PKB, PPP, PKS dan PPP kami juluki sebagai 
Partai SEKOCI CIKEAS. Mereka dapat bantuan Cikeas dan KPU utk manipulasi hasil 
pemilu. Bagaimana caranya? Mudah sekali. Formulir C-1 diutak atik sebelum 
direkapitulasi KPUD dan disahkan dlm rapat pleno KPUD. Tdk ada kontrol

Bukti 4 : program E KTP yang sengaja digagalkan jadi back up rekayasa hasil 
pemilu 2014. Berapa puluh juta suara fiktif bisa ditambahkan

Bukti 5 : KPU terbitkan peraturan KPU bahwa siapa saja yg belum terdaftar di 
DPT dapat memilih asal bisa tunjukan KTP asli. Faktanya?

Faktanya : Peraturan KPU itu tdk dilaksanakan jika ada WNI yg mau daftar 
susulan. Peraturan itu hanya back up manipulasi suara Pemilu. Melalui peraturan 
tsb, KPUD, Polres dan Kodim atau oknum2 tertentu bisa mengubah C-1 dan 
rekapitulasi suara sesuka hati. Tidak ada satu caleg pun atau satu partai pun 
yang memiliki saksi di semua TPS di satu dapil. Tdk 1 partai pun punya 517.000 
saksi. Pihak yang punya kontrol terhadap C-1 hanya TNI dan Polri. Kodim2 dan 
Polres seluruh Indonesia dgn koramil dan polsek sbg ujung tombak

Bukti 6: semua pelaksana Quick Count yg melakukan laporan / input data Quick 
Count mengalami kemacetan proses data rata2 30-45 menit

JSI milik PDIP mengaku macet proses input data bahkan hampir 1 jam. Kenapa? Ada 
apa ? Kok bisa ?. Hasilnya, semua QC menunjukan prosentase perolehan suara 
partai peserta pemilu yang relatif sama. Seragam. Kok bisa? Aneh ! Di mana 
anehnya ?

1. Mustahil hasil seluruh pelaksana QC bisa relatif sama dgn margin 0.5-1% saja 
pdhl sample TPS hnya 2000 = 0.0003%

2. Dari 49 pelaksana Quick Count Pemilu tedaftar di KPU kenapa hanya 10-12 
pelaksana QC yg melaporkan hasil surveynya? Mana 37 yg lain?. Mustahil dari 49 
pelaksana QC yang terdaftar di KPU, 37 diantaranya BATAL melakukan QC Pemilu. 
Apa dibalik misteri ini? Misteri apa ini?

Apa hubungannya 49 lembaga QC terdaftar di KPU dgn Lembaga Sandi Negara yg 
pernah melakukan kerjasama dgn KPU meski dibatalkan kemudian. Data apa saja 
yang sdh diserahkan KPU kepada Lembaga Sandi Negara? Apakah termasuk data dari 
lembaga pelaksana QC pemilu? Bingo !

Bukti 7: kenapa SK KPU tentang pihak penanggungjawab IT KPU beda antara de 
fakto dgn nama penanggung jawab IT KPU yg tercantum di SK KPU

Bukti 8: Perhatikan hasil pemilu di dapil2 tertentu, muncul nama baru caleg DPR 
terpilih dgn suara terbanyak tapi orangnya tdk dikenal

Untuk menggeser atau membatalkan kemenangan caleg dari partai tertentu, rekap 
C-1 mudah dimanipulasi. Ditambahkan suara ke caleg lain. Partai2 yg dirugikan 
seperti PDIP, Hanura dan Nasdem dapat mendorong tim audit KPU sebelum hasil 
Pemilu disahkan rapat Pleno KPU. Dapat dipastikan perolehan suara partai 
Demokrat (dari 4% jadi 11%), PAN (1.7% menjadi 7.4%), Gerindra (6% jadi 12%), 
dst = PALSU

Tidak ada guna partai2 sibuk pikirkan strategi dan habiskan uang serta energi 
utk pilpres 2014 jika hasil pemilu 2014 tdk dieksaminasi. Kunci/ faktor utama 
yg menentukan hasil pilpres adalah audit thdp hasil pemilu. Jika tidak, percuma 
saja pilpres krna yg menang Cikeas. Jangan terkecoh hingar bingar manuver 
partai2 yg sibuk bentuk koalisi. Itu tipuan belaka. Termasuk ribut2 di PPP. 
Hanya pengalihan isu. Fokuslah pada audit dan pemeriksaan hasil pemilu yg 
dilaporkan KPUD dan yg disahkan KPU. Itulah kunci utk mengetahui manipulasi 
pemilu. Jika KPU tidak menyediakan akses bagi partai utk menganalisa hasil 
perolehan suara dgn basis rekap per TPS, dipastikan ada kecurangan. Jika KPU 
tdk sediakan akses IT multiscreen yg bisa sajikan tampilan rekap bbrp TPS 
sekaligus yg jadi objek audit = pasti ada kecurangan

Pemilu 2014 adalah pemilu teraneh dlm sejarah pemilu Indonesia. Tdk ada 
sosialisasi intensif &masif melalui media. Sengaja disenyapkan. Tidak ada 
pidato dan ajakan utk sukseskan pemilu oleh presiden, menteri2, gubernur, 
bupati, wakilota, KPU/KPUD. Senyap. Disengaja. Dan yang teraneh : tidak ada 
penayangan monitor hasil tabulasi suara pemilu sementara yg up date. Kok bisa 
ya? Tdk ada yg tanya kenapa. Hasil pemilu & caleg yang diloloskan dan yang 
tidak diloloskan tergantung pada TR (telegram rahasia) dari mabes ke 
mapolres/makodim hehe

Tidak ada partai atau pihak yg mempertanyakan korupsi dan mark up jumlah EKTP 
yg dicetak. Tdk ada yg kaitkan dgn manipulasi hasil pemilu. Jika KPK sekarang 
pura2 sibuk usut korupsi EKTP, Itu hanya utk membentuk opini dan persepsi : sdh 
ada pihak yg mengusut korupsi EKTP. Padahal substansi masalahnya bukan pada 
korupsi EKTP tetapi pada mark up jumlah EKTP dan kaitannya dgn hasil pemilu yg 
sdh dimanipulasi

Akibatnya kecurangan pemilu ini > pemenang pemilu bersedih, yang kalah malah 
bersuka cita hehe >> http://t.co/5lNC92K3sj . Itulah sebab kami berani 
menyimpulkan : pemenang pemilu 2014 adalah SBY dan Partai Demokrat. Telak ! > 
70% hehe http://t.co/VY1ewZl24o . Statistik TIDAK PERNAH BOHONG. Maka hasil 
pemilu 2014 lah yang sesungguhnya sdh dimanipulasi atau bohongi rakyat 
http://t.co/DPEs2pdWKY. . Sebagai referensi, kami ungkap sebagian Modus 
Pencurangan Pemilu 2009. Silahkan Baca ! http://t.co/cOV4n4Y4nF l

Modus pencurangan pemilu 2014 lebih sederhana, simple dan efektif. Anehnya : 
tidak ada yg peduli. Kenapa ya ? Kayak disirep semuanya. Hasil pilpres akan 
sama dgn hasil pemilu. Terserah sang Dalang. Dia hny butuh justifikasi 
/legitimasi OPINI saja utk wujudkan rencananya

Kirim email ke