TERLEPAS daripada cerita-cerita "siapa itu Jk", tapi saya  kira 
Jokowi/PDI-P akan sangat tidak bijaksana bila memilih JK sebagai capres untuk 
pasangan Jokowi. JK  absolut sudah masa lalu sebagai tokoh politik dan dia 
tidak sedikitpun membawa aroma masa depan bagi Indonesia. Sebaiknya 
Jokowi/PDI-P terpusat pada Ryamizal Ryacudu sebagai pendamping Jokowi karena 
lebih bisa diharapkan keharmonisan yang lebih merakyat antara militer dan 
rakyat Indonesia, lebih ideal dari itu sudah tak mungkin diharapkan. Takut 
kalah? . Siapa yang tidak takut kalah sebagai peserta Pemilu. Semua keyakinan 
menang masih selalu  bersifat semu dan itu berlaku untuk siapapun. Tapi bila 
tepat dalam memilih pasangan, itu sudah 50 persen kemenangan. Ingatlah selalu 
akan kepentingan rakyat Indonesia dan bukan semata meraih kemenangan tanpa 
prinsip atau dengan cara pragmatis tanpa rem.
Jokowi sudah melakukan langkah pertama yang sudah baik: bertemu atau ditemui 
oleh dubes AS. Kita harus cepat membuang pikiran kalau langkah Jokowi ini 
otomatis akan menjadi "budak" atau "antek-antek Amerika". Politik anti Amerika 
Presiden Soekarno sudah tidak bisa dipakai: terbukti berbahaya dan mencelakakan 
negeri dan merugikan rakyat sendiri. Tapi juga memakai politik SBY dalam 
berhubungan dengan Amerika, sama usangnya dan merugikan pihak Indonesia. Jokowi 
hendaknya memilih hubungan yang saling menguntungkan dengan Amerika maupun 
dengan negeri-negeri Eropah lainnya. Tidak menjual Indonesia tapi  
memperdagangkan barang-barang Indonesia dengan harga pantas dan mengharamkan 
dikte meskipun juga terkadang perlu luwes. Bisakah? Sudah tentu bisa asalkan 
semuanya bertolak dari kepentingan rakyat dan sudah pasti hal ini tidak akan 
mungkin bila ada JK di sekeliling istana: JK itu pengusaha keluarga dan 
membagikan sebagian keuntungan pada teman-temannya dan bukan untuk Indonesia 
dan bila Jokowi turut dapat bagian darinya, maka hancurlah nama Jokowi maupun 
PDI-P untuk selamanya.
Ini bukan lagi untuk dipikirkan tapi untuk dilaksanakan sekarang juga.
ASAHAN.


----- Original Message ----- 
From: Salim Said 
To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 
[email protected] ; Achmad Sucipto, Admiral ; halim perdanakusuma ; 
[email protected] ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; 
[email protected] ; Danipurwanegara /PPSN ; Baitul Muslimin ; 
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; Ahmad Syafii Maarif ; Syafiuddin Makka ; 
[email protected] 
Sent: Thursday, May 01, 2014 3:32 AM
Subject: Fwd: Fw: HAL: Fwd: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar 
yang Dibayangkan





---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2014-04-28 19:46 GMT+07:00
Subject: Fw: HAL: Fwd: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang 
Dibayangkan
To: Salim Said <[email protected]>






Sent from my BlackBerry 10 smartphone.
      From: muhyusufgau
      Sent: Senin, 28 April 2014 19:17
      To: Zulfikar
      Subject: HAL: Fwd: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang
      Dibayangkan 



Saya setuju dgn pendpt pak salim.. bhw jokowi harus cerdas dan hati2 memilih 
cawapres nya.. kalau pak JK itu hanya gaung nya saja besar.. pak JK itu tdk 
kuat di akar rumput di wilyh sulsel... sebenarnya byk org dari sulsel yg 
sengaja ekspose di media elektronik agar pak JK itu mendampingi pak JOKOWI... 
Sebenarnya org2 yg berkoar2 agar pak JK itu menjadi pendamping jokowi itu 
adalah kelompok org2 yg menikmati dan byk mengambil mamfaat kenikmatan 
fasilitas diwaktu pak JK jadi wapresnya pak SBY... logika sy sendiri pak JK itu 
pasti punya kekurangan dan ketidakberesan sewaktu mendampingi pak SBY.. kalau 
tdk ada kekurangan yg mendasar mustahil pak SBY menolak di paket ke 2..... pak 
SBY itu sdh byk menolong pengusaha, dimana byk pengusaha nasional diawal 
jabatan presiden SBY itu bangkrut dan dilibatkan dlm kabinet SBY..  sejak 
dilibatkan pengusaha itu byk yg sukses membyr utangnya puluhan dan bahkan 
ratusan milyar karena keberadaannya di kabinet SBY jilid 1.. dan enak betul 
utang lunas dan berhasil pula meraup keuntungan dgn beli aset dimana2.. ada yg 
beli hotel dimaba2.. ada yg bangun gedung pencakar langit krn berada dlm 
kekuasaan.. anak dan cucu bisa beli pulihan milyar diluar dan dlm negeri krn 
ada dikekuasaan.. sy kira pak SBY itu tahu juga. Hanya krn org jawa itu sabar 
sehingga semua ini didiamkan. Ada info bhw pak SBY mau ketemu bu Megawati, sy 
kira yg akan disampaikan pak SBY ke MEGAWATI tak lain adalah agar JOKOWI jgn 
paket dgn JK. 




Terkirim dari Samsung Mobile


-------- Pesan asli --------
Dari: Zulfikar 
Tanggal:28/04/2014 16:48 (GMT+07:00) 
Ke: [email protected] 
Subjek: Fwd: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang Dibayangkan 





Begin forwarded message:


  From: Salim Said <[email protected]>
  Date: April 26, 2014 13:50:33 GMT+07:00
  To: Group Diskusi Kita <[email protected]>,  alumnas-oot 
<[email protected]>, [email protected],  
[email protected], [email protected], [email protected],  
[email protected],  "Danipurwanegara /PPSN" 
<[email protected]>, Baitul Muslimin <[email protected]>,  
"[email protected]" <[email protected]>, Zainal Bintang 
<[email protected]>, [email protected],  Zul fikar 
<[email protected]>, Sofyan Hasdam <[email protected]>,  "Anwar 
Nasution,Prof." <[email protected]>, "Nazaruddin Nasution, MA." 
<[email protected]>, [email protected],  Amir Santoso 
<[email protected]>, Bahtiar Effendy <[email protected]>,  Ichsan 
Loulembah <[email protected]>, Ahmad Syafii Maarif <[email protected]>,  
Syafiuddin Makka <[email protected]>,  "Budiarman Bahar, MA" 
<[email protected]>, Budi Soepandji <[email protected]>,  
sjafrie sjamsoeddin <[email protected]>, halim perdanakusuma 
<[email protected]>,  "Mar.Norman" <[email protected]>, Liddle Bill 
<[email protected]>,  Harold Crouch <[email protected]>, Mangadang 
Napitupulu <[email protected]>,  Saiful Mujani <[email protected]>, 
Jayadi Hanan <[email protected]>,  Jaya Suprana <[email protected]>, 
Fitriciada Azhari <[email protected]>,  [email protected], 
[email protected], [email protected],  Agus Abubakar Arsal 
<[email protected]>, Taufiq Ismail <[email protected]>,  "Dr. 
Taufik Abdullah" <[email protected]>,  Burhanuddin Abdullah 
<[email protected]>,  Burhanuddin Muhtadi 
<[email protected]>, Hidayat Nur <[email protected]>,  
[email protected], Institut Peradaban <[email protected]>,  Abdillah 
Toha <[email protected]>, [email protected],  Endriartono Sutarto 
<[email protected]>, Wiryono Sastrohandoyo <[email protected]>,  
"R.M.A.B Kusuma" <[email protected]>, [email protected],  François 
RAILLON <[email protected]>,  Von Magnis Suseno <[email protected]>, 
Stanis Sularto <[email protected]>
  Subject: Fwd: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang Dibayangkan


  JK Lebih Pantas Jadi Presiden, Bukan Wakil Presiden.

  (Dua catatan Salim Said untuk Ibu Mega, Jokowi dan pimpinan PDIP lainnya).



  SEBAGAI professor ilmu politik yang secara saksama mengikuti perkembangan 
politik Indonesia sejak zaman Orde Baru hingga hari ini, dan kebetulan secara 
pribadi kenal JK dan SBY, saya punya dua catatan mengenai kemungkinan lahirnya 
pasangan Jokowi-JK.


  1. Ibu Mega, sebagai Ketum PDIP, sebaiknya sesegera mungkin mempelajari 
dengan saksama  cerita hubungan SBY-JK ketika keduanya secara bersama 
memerintah.Cari tahu mengapa pasangan SBY-JK pecah kongsi sehingga JK  
"terpaksa" digantikan oleh Prof Budiono pada masa jabatan kedua SBY.


  2. Setelah secara saksama mempelajari jalannya hubungan kerja SBY (sebagai 
Presiden) dan JK (sebagai Wakil Presiden), saya sampai pada kesimpulan, jabatan 
Wapres untuk JK terlalu kecil. JK sebenarnya lebih pantas menjadi Presiden. 
Tapi buat sementara, mungkin  jabatan Presiden  masih terlalu besar untuk 
politikus dari Makassar tersebut. 


  Saya menghimbau Ibu Mega, Joko Widodo  dan teman-teman pemimpin PDIP lainnya  
agar sedapat mungkin memanfaatkan  hasil pengamatan saya ini. Jangan sampai 
terulang "tragedi" yang dulu menimpa hubungan SBY-JK pada hubungan Jokowi-JK 
kelak, jika Ibu Mega dan Jokowi sepakat memilih JK.***








  ---------- Forwarded message ----------
  From: barata media <[email protected]>
  Date: 2014-04-26 6:33 GMT+07:00
  Subject: Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang Dibayangkan



  Mulai Disadari Pengaruh Jusuf Kalla Tak Sebesar yang Dibayangkan.

  Jum'at, 25 April 2014 , 10:54:00 WIB

  Laporan: Ade Mulyana


           

       

       
  RMOL. Sikap kalangan internal PDI Perjuangan mengenai sosok Jusuf Kalla masih 
belum bulat dan secara umum terbelah dalam dua faksi besar. 

  Pertama, faksi yang dengan begitu bersemangat menginginkan Jusuf Kalla 
menjadi pendamping Joko Widodo. 

  Kedua, faksi yang dengan tegas menolak kehadiran mantan Ketua Umum Partai 
Golkar yang pada periode 20014-2009 menduduki jabatan wakil presiden 
mendampingi SBY. Faksi ini tak mau ada lawan yang dengan mudah memasuki rumah 
ideologi partai banteng. Mereka memiliki catatan mengenai track record JK yang 
menurut mereka tidak bagus-bagus amat selama berkuasa baik di Golkar maupun di 
pemerintahan.

  Perpecahan atau setidaknya perbedaan pendapat di kalangan petinggi dan 
lingkaran satu Megawati Soekarnoputri ini akhirnya muncul ke permukaan menjadi 
semacam pertempuran pernyataan. Bila dibiarkan, ini jelas merugikan soliditas 
partai. Membuat lawan dengan mudah membaca arah gerakan PDIP.

  Dari pantauan di lapangan, di dalam faksi yang mendukung dan menginginkan 
kehadiran JK di samping Joko Widodo ada dua anasir yang punya cara pandang dan 
kalkulasi politik berbeda. 

  Pertama anasir yang tidak ideologis, yang memandang jabatan wakil presiden 
yang diduduki JK adalah pintu masuk untuk benar-benar berkuasa di Indonesia 
dalam arti yang sebenarnya baik secara politik maupun ekonomi. 

  Anasir ini ingin mengulangi keberhasilan menguasai lapangan ekonomi pada 
pemerintahan SBY-JK yang lalu. Bagi mereka JK hanya sebatas tool untuk 
memperbesar jaringan bisnis.

  Anasir kedua adalah kalangan elit PDIP yang secara teknis melihat JK sebagai 
faktor yang dapat memperkuat basis dukungan dan memperbesar perolehan suara 
dalam pemilihan presiden Juli mendatang. 

  Bila ditelisik lebih lanjut, anasir kedua ini sebenarnya memendam kecewa atas 
perolehan suara PDIP dalam pemilihan anggota legislatif yang lalu, yang hanya 
19 persen. Angka ini jauh dari yang mereka bayangkan sebelumnya, yakni 27 
persen atau bahkan di atas 30 persen. 

  Mereka tak tahu harus menyalahkan siapa. Apakah menyalahkan Jokowi yang tidak 
punya efek sebesar yang dibayangkan, atau menyalahkan tim internal yang 
melakukan survei dan pemetaan politik.

  Selain kecewa pada perolehan suara pemilihan anggota legislatif yang lalu, 
mereka juga khawatir dengan popularitas dan elektabilitas Jokowi yang 
memperlihatkan trend menurun, sementara di sisi lain popularitas dan 
elektabilitas Prabowo Subianto, jago dari Partai Gerindra, memperlihatkan trend 
menanjak.

  Disebutkan bahwa gap atau jarak antara Jokowi dan Prabowo saat ini sudah 
berada pada kisaran 8 persen. Padahal pemilihan presiden masih baru 
diselenggarakan dua bulan lagi. 

  Bila semakin hari jarak ini semakin pendek, maka sangat terbuka peluang 
Prabowo menyalip popularitas dan elektabilitas Jokowi. Kalau ini yang terjadi, 
dapat dipastikan PDIP akan memperpanjang karier sebagai partai oposisi. 

  Anasir ini juga khawatir dengan kehadiran poros ketiga yang mungkin dipimpin 
Partai Golkar atau Partai Demokrat. Poros ketiga diyakini akan menjadi kekuatan 
yang signifikan untuk memecah suara. 

  Bila faktor trend popularitas dan elektabilitas Jokowi yang turun bertemu 
dengan popularitas dan elektabilitas Prabowo yang menanjak serta kehadiran 
poros ketiga, maka bayangan kekalahan semakin tampak di depan mata.

  Nah, inilah yang membuat mereka melirik JK. Mereka percaya JK adalah tokoh 
yang baik dan punya basis dukungan yang besar. Menurut kalkulator politik yang 
mereka pegang, dukungan yang sudah dikantongi PDIP bila ditambah dengan 
dukungan JK dan Partai Nasdem yang konon mendukung JK, akan membuat kemenangan 
masih mungkin diraih walau hanya berupa kemenangan tipis.

  Tetapi nampaknya anasir ini keliru membaca peta kekuatan JK. JK mungkin 
memiliki citra yang baik, terlebih setelah ia terpaksa hengkang dari Istana 
karena SBY tak sudi lagi mengajaknya dalam koalisi. Karena perpisahan dengan 
SBY itulah JK mendadak jadi hero baru dalam konstelasi politik di tanah air. 

  Keluar dari Istana tak membuat JK terhempas dan hilang dari peta. Ia 
dipercaya menduduki sejumlah jabatan, seperti Ketua Umum Palang Merah Indonesia 
dan Ketua Dewan Masjid Indonesia. 

  Faksi di tubuh PDIP yang menolak kehadiran JK sadar benar bahwa JK adalah 
semacam bubble politician, yang tampak bagus di kalangan elit, tetapi 
sebenarnya tidak mempunyai basis dukungan yang mantap di akar rumput. 

  Bukti yang paling dekat dan paling meyakinkan, ia terjerembab dalam pemilihan 
presiden yang lalu. Berpasangan dengan Wiranto ketika itu, JK hanya mendapatkan 
12 persen. Jauh di bawah Megawati yang berpasangan dengan Prabowo (26 persen) 
dan SBY yang berpasangan dengan Boediono (60 persen). 

  Bahkan, dalam pilpres itu, JK dipermalukan di kampung halaman sendiri. Ia 
kalah telak di Sulawesi Selatan. 

  Menurut faksi yang menolak JK, JK punya dua persoalan penting. Pertama, 
secara ideologis dia tidak memiliki pemikiran ekonomi kerakyatan dan komitmen 
membela Trisakti. Hal pertama ini melahirkan hal kedua dimana secara hitungan 
politik, karenanya JK tidak punya basis dukungan yang mantap di kalangan 
masyarakat bawah.

  Faksi yang menolak kehadiran JK sejauh ini berhasil menyadarkan sebagian 
besar dari anasir ideologis faksi yang mendukung kehadiran JK. 

  Persoalan mereka kini hanya satu, menemukan tokoh yang dapat mengisi 
kebutuhan PDIP. Tokoh yang punya ideologi kerakyatan dan memperjuangan ajaran 
Trisakti Bung Karno, serta di saat bersamaan secara ril memiliki basis dukungan 
di akar rumput. 

  Hanya tokoh seperti ini yang dapat menyelamatkan PDIP dan Indonesia. [dem]








-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke