http://www.ambonekspres.com/index.php/aeberita/aeopini/item/3757-memilih-capres-2014.html


Memilih Capres 2014 
  a.. Rabu, Mei 07 2014 
  b.. Ditulis oleh  amex 
  c.. ukuran huruf   
Смесители для душа и ванны
Детские игрушки, развивающие игры 
Cetak Email 
OLEH : IR. Felix Christanto, Direktur Wahana Inovasi Utama Ambon

Motivator Kita Mario Teguh mengatakan “jangan bersedih ketika belum dipromosi 
karena tidak pandai mencari muka, “muka” akan datang dengan sendirinya ketika 
Kita bekerja dengan hati”.selanjutnyademikian uraiannya, “Jangan juga bersedih 
ketika masih dipandang sebelah mata, buktikan bahwa anda juga layak mendapatkan 
kedua matanya”

Fenomena Jokowi berupa blusukan  adalah antiklimaks dari kekecewaan rakyat soal 
mayoritas Pemimpin.  bagai kacang lupa kulit,  banyakPemimpin gemar menebar 
pesona ketika musimnya kampanye tetapi nyatanya lupa atau pura - puralupa akan 
janjinya ketika terpilih. Akibatnya kebijakan – kebijakan yang muncul menjadi 
bias alias tidak pro rakyat. Semuanya berakar dari fatsun politisi bahwa ” 
Pemimpintidak perlu pandai karena tugasnya hanya sebagai penentu arah dan 
kebijakan”. Keteknisannya akan dilaksanakan bawahannya yang notabene adalah 
birokrat.

Pada tataranini pemimpin cenderung malas mengupgrade diri,sebaliknya 
condongbertindak bagai seorang raja,duduk manis mengendalikan perintah dari 
balik meja sembarimenunggu  laporan ABS, asal bapak senang yang selalu 
menyenangkanPemimpin  seolah semua  masalah lapangan  berjalan  mulus tanpa 
hambatan.

Jokowi muncul menjungkirbalikkan pranata umum bahwa Pemimpin yang baik 
seharusnya mampu mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan tanpa perlu terlibat 
terlalu dalam. Jokowi mendapat simpati rakyat karena terbukti blusukannya jauh 
lebih efektif menjaring permasalahan diakar rumput ketimbang hanya duduk diam 
menerima laporan dari balik meja.

Timbul pertanyaan, Kenapa bisa begitu?, apa  anomalinya?. “krisis multi 
dimensional”yang mendera Bangsa kita  ketika tumbangnya rezim orde baru hingga 
babakan kini era reformasi terasa belum pulih sikap aliassystem belum dapat 
berjalan efektif layaknya Negara teratur, dimana kepastian hukum 
dapatmendorongdinamika systemberoperasi sebagaimana mestinya sekalipun lagi 
genting karena vakum pemimpin.

Krisis demi krisis akhirnya melahirkan krisis kepepemimpinan dimana patron atau 
keteladanan pemimpin menjadi suatu keharusan jikaingin system dimobilisasi 
dengan baik.  gerakan reformasi dengan   amandemen UUD 45 bahkan meniadakan 
keberadaanGBHN, garis –garis besar haluan Negara dimana sebagai gantinya setiap 
daerah wajib membuat renstranya masing – masing yang diselaraskan dengan 
kepentingan  Nasional.

Nyatanya kata “wajib dan selaras” kerap diasosiasikan sebagai himbauan, 
cenderung melahirkan pembangkangan demi pembangkangan dengan hasil banyak 
bermunculanraja – raja kecil di daerah. Banyak Perda yang dihasilkan justeru 
berbenturan dengan PP sebagai representasi  kepentingan Nasional.

Efek Jokowi pada Pileg 2014 ternyata  tidak semujarab efek SBY pada momentum 
pemilihan  legislative  2009. Ketika itu Demokrat berhasil mendongkrat 
perolehan suara dari 3,…% menjadi 18,…% sementara PDIP hanya meningkat dari 
16,…% menjadi kira - kira 19 %.

Walaupun demikian koalisi competitor PDIP CS pada ketar – ketir, cenderung 
berusaha membentuk koalisi mayoritas basis bagi – bagi kekuasaan untuk menjegal 
PDIP CS karena kesadaran,  efek SBY ketika pertama kali terpilih hanya bermodal 
perolehan suara Pileg sekitar 3,…% ditahun 2004.

Rasanya PDIP tidak boleh lengah dengan berbesar hati apalagi berbesar kepala 
ketika public menapaktilasi rekam jejak perjalanan  partai saat berkuasa 
sebagai pemenang mayoritas awal reformasi 1999. Tercatat saat Megawati menjadi 
Presiden, banyak asset – asset Negara berupa BUMN yang dijual. Kwik Kian Gie 
atas itikad baik mencoba menyadarkan euphoria mabuk kekuasaan dengan lontaran 
pernyataan bahwa Partai Paling korup saat itu adalah PDIP,  malah berbuah 
simalakama berupa perpecahan dengan keluarnya beberapa kader terbaik dari 
partai.

Rekam jejak Jokowi juga akhir – akhir ini tampak agak tidak memuaskan dengan 
mencuatnya beberapa kasus atau ketidak puasan. Tercatat kasus Mark Up bus yang 
ternyata malah  karatan lagi. Janji mengatasi banjir dan kemacetan di DKI malah 
kerepotan. Gugatan para kepala sekolah senior soal lelang jabatan yang 
melanggar Permen Pendidikan soal persyaratan minimal yang harus dipenuhi.

Efek keterpilihan kepala daerah pada kampanyenya cenderung mengecewakan.  
Benturan – benturan ini bisa terjadi karena penyelesaian seharusnya tidak hanya 
bermodal integritas, kompetensi sebagai kunci pengurai masalah harus bisa 
dikedepankan untuk membuktikan  kata bisa seiring dengan perbuatan. 

Megawati, sang ketua umum mestinya harus makin cerdas belajar dari pengalaman 
sejarah bahwa kekuasaan itu identik dengan korupsi. Ketika beberapa waktu lalu  
Demokrat dan Golkar saling debat kusir soal  partai siapa yang paling korup, 
PDIP pun terjebak dalam arus yang sama ketika berkuasa. Kita berharap Megawati 
tidak mengulangi kesalahan yang sama dari SBY yang tercermin dari pernyataannya 
bahwa hati – hati memilih mitra koalisi agar tidak dibuat makan hati.

Kita juga berharap bahwa jargon perubahan yang menghantarkan kesuksesan SBY 
meraih dukungan, tidak dimanfaatkan kubu PDIP melalui “Indonesia Hebat” sekedar 
hanya untuk merebut kekuasaan.      

Korupsi itu bermula dari kurangnya kompetensi. Selama ini kita terjebak 
pandangan bahwa moral atau integritaslah satu – satunya penyebab.  Moral 
Pemimpin pasti akan tergadaikan ketika tidak menyatu dengan kompetensi. 
Kompetensi juga sering diterjemahkan sempit seolah melekat orisinil dengan sang 
pribadi. Padahal ketrampilan mendengar adalah sumber utama penerimaan 
kompetensi.

Membangun system dengan baik juga bagian dari kompetensi. Rontoknya 
industriawan kita satu demi satu menjadi pedagang atau penyalur akibat 
inefisiensi atau ekonomi biaya tinggi adalah bentuk melemahnya kompetensi 
bangsa. Kita sepakat bahwa akar dari kejahatan bermula dari adanya niat dan 
kesempatan. Niat mewakili moral sementara kesempatan mewakili System atau 
kompetensi.

Kejahatan cenderung terkendali ketika keduanya tidak saling berpihak.    

Semua parpol besar  pengusung kontestan Capres tidak ada yang bersih rekam 
jejak. Sebaliknyaakan menonjol perbedaannya ketika Parpol dengan Capres 
pemenang pemilu bisa menyatakan jati dirinya sebagai Negarawan. ARB masih 
menyisahkan jejak kasat mata soal amburadulnya penanganan lumpur lapindo. 
Dugaan lari pajak dari perusahaan besutannya melahirkan tanda Tanya soal 
kenegarawannya. 

Prabowo Subianto dengan kontroversinya seputar lahirnya era reformasi. Aksi 
sepihaknya ketika alih kepemimpinan dari Soeharto ke habibie meninggalkan kesan 
kurang baik seakan bawahan tidak loyal dengan berani berontak melawan atasannya 
panglima tertinggi yang justru berjiwa sangat demokratis.

Peristiwa tersebut meninggalkan misteri seputar kerusuhan mei 1998seakan ada 
benang merahnya.

Machmud MD ketika berkesempatan menjadi pemimpin di mahkamah konstitusi   
memiliki tanggung jawab moral ketika meninggalkan generasi penerusnya yang amat 
memalukan dan memilukan, seakan beliau gagal membentuk system yang baik ketika 
berkesempatan sebagai Pemimpin.

Yusuf Kalla dengan real Presidennya terbukti tidak terlalu berhasil dengan 
program konversi gasnya.

Disamping meninggalkan bencana ledakan karena factor kualitas dan budaya atau 
perilaku masyarakat. harga gas kini melambung cenderung melampaui keekonomian 
rakyat.

Semua kelemahan atau kekurangan tersebut bisa terjadi karena ada pemicunya. 
Konsekwensi dari ketidak teraturan Negara adalah lahirnya efek berantai yang 
saling menghancurkan. Persoalan bagai benang kusut yang sangat susah untuk 
diurai kembali. Karena berlaku hukum kalau bisa dipersulit kenapa harus 
dipermudah untuk menciptakan celah penyelewengan kekuasaan.

Lelang jabatan yang dirintis Jokowi cs selaludianggap melanggar aturan karena 
filosofi, kompetensi seseorang yang tercermin dari lembar ijasah atau 
sertifikat ternyata sering mengecewakan. Atas dasar kepentingan politis, 
gagasan mobil listrik oleh kandidat Capres demokrat Dahlan Iskan harus kandas 
ditengah jalan karena terganjal izin Menristek.

Orang bijak mengatakan masa lalu adalah guru terbaik bagi penuntun masa depan. 
Tidak ada gading yang tidak retak terkadang dijadikan  alasan untuk membolehkan 
pemimpin berbuat salah. Padahal di Negara teratur seperti korea selatan 
misalnya, musibah  tenggelamnya kapal ferry Sewol mendorong  sang Perdana 
Mentrinya sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan langsung mengundurkan diri 
sebagai wujud perasaan bersalah, padahal seharusnya level pemimpin setingkat 
mentri transportasi yang harus bertanggung jawab.kriteria Pemimpin yang baik 
atau ideal utamanya tidak akan mengalami post sindrom ketika tidak lagi 
berkuasa. Dengan demikian Pemimpin bisa memimpin tanpa beban yang berlebihan.

Tidak takut jabatannya dicopot ketika ditengah jalan dijegal karena dianggap 
melawan arus.

Rasanya manusiawi dan sudah resikonya menjadi pemimpin di Negara sebegitu besar 
seperti Indonesia ketika para pemimpinnya sering dihujat pasca turun atau 
diturunkan dari kekuasaan. Walaupun Negara kita berbasis NKRI, banyak 
Pemerintahan tingkat II tidak taat kepada Gubernur sebagai representasi 
Pemerintah Pusat. Sebaliknya bebasnya lintas manusia antar propinsi membuat 
control kualitas pembangunan menjadi relative sulit untuk dikendalikan.

Kecenderungan urbanisasi dari desa ke kota membuat perkotaan penuh sesak 
sehingga justeru menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

Kita butuh Pemimpin yang memahami bahwa pembangunan harus dimulai dari desa 
dengan menciptakan lapangan – lapangan kerja produktif. Di RRT misalnya desa 
diubah menjadi kawasan industry dengan target memindahkan dua ratus juta tenaga 
kerja produktif ke kawasan – kawasan kota baru dalam 10 tahun belakangan untuk 
menunjang gerak industrialisasinya. Gerakan mencintai produksi dalam Negeri  
jika dikaitkan dengan bonus demografi berupa melimpanya angkatan kerja mestinya 
disiasati dengan cerdik.

Perlunya suatu pusat keunggulan untuk bargaining terhadap produk – produk yang 
belum bisa di produksi didalam negeri agar dirakit / dibuat didalam negeri. 
Keuntungannya bersifat multiplier efek atau efek ganda. Akan tercipta besar – 
besaran lapangan kerja baru.

Akan ada transfer pengetahuan dan teknologi. Bermunculan indusitri – industry 
ikutan sebagai lokal contain. Sebagai Negara besar berkebutuhan besar pula, 
nilai bargainingnya ada di pihak Kita. Tanpa Ekonomi yang kuat mustahil Kita 
bisa membangun dibidang – bidang lainnya dengan baik. Tanpa menaikkan nilai 
tambah dari suatu produk atau komoditi, mustahil Kita bisa memiliki masa depan 
yang bisa menjanjikan masa depan bagi anak cucu Kita.

Megawati,  mestinya harus makin cerdas belajar dari pengalaman sejarah bahwa 
kekuasaan itu identik dengan korupsi. Ketika sekarang Demokrat dan Golkar 
saling debat kusir soal  partai siapa yang paling korup, Kwik Kian Gie telah 
melontarkan pernyataan serupa saat Megawati menjadi Presiden bahwa partai 
paling korup saat itu adalah PDIP.

Kita berharap Megawati tidak mengulangi kesalahan yang sama dari SBY yang 
tercermin dari pernyataannya bahwa hati – hati memilih mitra kualisi agar tidak 
dibuat makan hati. Kita juga berharap bahwa jargon perubahan yang menghantarkan 
kesuksesan SBY meraih dukungan, tidak dimanfaatkan kubu PDIP melalui “Indonesia 
Hebat” sekedar hanya untuk merebut kekuasaan.      

Megawati, sang ketua umum mestinya harus makin cerdas belajar dari pengalaman 
sejarah bahwa kekuasaan itu identik dengan korupsi. Ketika sekarang Demokrat 
dan Golkar saling debat kusir soal  partai siapa yang paling korup, Kwik Kian 
Gie telah melontarkan pernyataan serupa saat Megawati menjadi Presiden bahwa 
partai paling korup saat itu adalah PDIP.

Kita berharap Megawati tidak mengulangi kesalahan yang sama dari SBY yang 
tercermin dari pernyataannya bahwa hati – hati memilih mitra kualisi agar tidak 
dibuat makan hati. Kita juga berharap bahwa jargon perubahan yang menghantarkan 
kesuksesan SBY meraih dukungan, tidak dimanfaatkan kubu PDIP melalui “Indonesia 
Hebat” sekedar hanya untuk merebut kekuasaan.      

Megawati, sang ketua umum mestinya harus makin cerdas belajar dari pengalaman 
sejarah bahwa kekuasaan itu identik dengan korupsi. Ketika sekarang Demokrat 
dan Golkar saling debat kusir soal  partai siapa yang paling korup, Kwik Kian 
Gie telah melontarkan pernyataan serupa saat Megawati menjadi Presiden bahwa 
partai paling korup saat itu adalah PDIP.

Kita berharap Megawati tidak mengulangi kesalahan yang sama dari SBY yang 
tercermin dari pernyataannya bahwa hati – hati memilih mitra kualisi agar tidak 
dibuat makan hati. Kita juga berharap bahwa jargon perubahan yang menghantarkan 
kesuksesan SBY meraih dukungan, tidak dimanfaatkan kubu PDIP melalui “Indonesia 
Hebat” sekedar hanya untuk merebut kekuasaan.      

Mencuatnya Fenomena jokowi mestinya didukung rakyat Indonesia karena momentum 
ini bisa memaksa partai politik kembali ke fitrahnya, meninggalkan politik 
transaksional untuk melaksanakan Meritokrasi dalam pengkaderanagar semakin 
banyak lagi lahir Negarawan – negarawan yang karakternya mendahulukan 
kepentingan Bangsa dan Negara diataskepentingan pribadi dan golongan agar 
semangat Indonesia hebat bisa segera terwujud.

Kita mendukung Jokowi soal sikapnya, bukan fisiknya yang dianggap sebagian 
orang sebagai sosok tidak ideal mewakili kewibawaan layaknya SBY dengan fisik 
tinggi besar.ketika kelak terpilih tetapi lantas terlena atau terbawa arus 
kezoliman dalam kepepemimpinannya, mayoritas rakyat pasti akan meninggalkannya.

Walaupun tingkat kepuasan rakyat Jakarta cenderung menurun soal penanganan 
macet dan banjir, keberaniannya turun langsung mengurai masalah dipandang 
sebagai sosok bagai panglima perang yang berani mati memimpin langsung 
peperangan dimedan pertempuran. sangat kelihatanitikad baiknyabekerja keras 
menyelesaikan masalah dalam segala keterbatasan apakah sumbernya dari dirinya 
ataukah karena ruwetnya masalah.

Solusi paling penting bagi Jokowi ketika terpilih adalah menghimpun cendekiawan 
dan praktisi Nasional berkualifikasi yang masih memiliki harga diri untuk 
berbuat yang terbaik bagi Bangsa dan Negara demi untuk makin memartabatkan 
karena keberhasilan  visi – misinyahanya bisa terjadi ketika kesempatan 
berkuasa bertemu dengan kesiapan.

Megawati, sang ketua umum mestinya harus makin cerdas belajar dari pengalaman 
sejarah bahwa kekuasaan itu identik dengan korupsi. Ketika sekarang Demokrat 
dan Golkar saling debat kusir soal  partai siapa yang paling korup, Kwik Kian 
Gie telah melontarkan pernyataan serupa saat Megawati menjadi Presiden bahwa 
partai paling korup saat itu adalah PDIP.

Kita berharap Megawati tidak mengulangi kesalahan yang sama dari SBY yang 
tercermin dari pernyataannya bahwa hati – hati memilih mitra kualisi agar tidak 
dibuat makan hati. Kita juga berharap bahwa jargon perubahan yang menghantarkan 
kesuksesan SBY meraih dukungan, tidak dimanfaatkan kubu PDIP melalui “Indonesia 
Hebat” sekedar hanya untuk merebut kekuasaan.  

Kirim email ke