SAYA sependapat dengan bung Salim yang mengatakan bahwa Bu Mega tidak 
bodoh. Apa yang dikatakan Mega itu benar. Hanya saja tidak taktis. Tidak taktis 
bukan selalu berarti bodoh, hanya saja kurang lihay. Semua Partai yang 
mengusung Presiden mereka yang diprediksikan menang atau sudah menang, maka 
sebagai Presiden yang yang menjadi anggota suatu Partai tentu saja harus 
"tunduk" atau "Menjalankan tugas" Partai di mana dia menjadi anggotanya. Itu 
adalah logis dalam politik kepartaian dan Partai manapun akan melakukan hal 
itu. Hanya saja apakah hal itu perlu diomongin atau diumumkan. Tidak setiap 
kebenaran memancing simpati. Ketua Ho chi Minh sering bilang: "Ngomong benar 
(terus terang) bisa menyakitkan hati orang". Jadi kadang-kadang diperlukan 
taktik tertentu siapa yang kita hadapi atau dalam situasi yang mana kita sedang 
berada. Dulu PKI sering ngomong "garis massa" tapi ternyata tidak tahu 
bagaimana menggunakannya. PKI cuma pandai membikin musuh-musuhnya marah hingga 
naik pitam melalui pelaksana-pelaksananya yang kaum ektremist super agressiv 
terhadap musuh dan bahkan terhadap kawan-kawannya sendiri. Dan akibatnya fatal.

Kita mulai merasakan gejala-gejala pada penyokong Jokowi yang ekstrim dan 
agressiv yang tentu saja para fanatikus yang setiap hari membikin 
saingan-saingan Jokowi marah yang sesungguhnya sangat tidak perlu. Dan secara 
analogis kaum ektrim ini membikin persatuan intern Partainya Jokowi terpecah 
pecah sukar bersatu. Kita tahu ektrimitas itu adalah pisau dua mata: disamping 
mengiris musuh juga mengiris teman sendiri. Kaum  ektrim tidak punya rasa 
tanggung jawab: mereka merusak ke kanan dan ke kiri. Ideologi mereka ada di 
nalurinya dan bukan di otaknya.
Kita juga mulai merasa kuatir, terutama saya, kalau seandainya Jokowi kalah  
atau katakanlah  menang sangat tipis, maka kekalahan itu lebih banyak 
disebahkan kaum ektremist, fanatikus yang menyokong Jokowi sambil menikam-nikam 
para saingan Jokowi lainnya yang juga akan membuat para pemilih Jokowi yang 
semula akan memilihnya, lalu saat Pilpres, malah memilih calon lain karena 
takut atau merasa disinggung perasaannya. Saya pribadi ingin Jokowi terpilih 
sebagai Presiden RI karena di saat sekarang ini, bila capres saingan Jokowi 
yang justru menang yang mereka itu hampir semuanya memiliki ideologi 
suhartoisme dan penerus Orba suhartO yang merindukan jaman suhartO seperti 
merindukan istri simpanan gelapnya, tentu akan membuat Indonesia bertambah 
semrawut dan lebih terpuruk lagi.
Jadi untunglah Indonesia masih punya seseorang seperti Jokowi. Melihat tindak 
tanduknya, Jokowi adalah seorang yang nuchter, bukan politkus agressiv tapi itu 
bukan berarti dia begitu mudah jadi "Presiden boneka" seperti yang dituduhkan 
para saingannya. Jadi hubungan antara Jokowi dan Partainya (Megawati)  
sebaiknya kita pandang sebagai urusan dalam Partai mereka. Saya sendiri tidak 
percaya Jokowi akan menjadi boneka Partainya dan nurut segala-galanya apa yang 
diperintahkan oleh Partainya. Hal itu hanya mungkin dilakukan oleh seorang yang 
memang boneka sungguh yang saya yakin Jokowi bukan manusia seperti itu. Dan 
kalau kita berpikir begitu, berarti kita merendahkan dan menghina Jokowi yang 
itu sangat tidak menguntungkan bagi kemenangan Jokowi. Ada orang yang bilang: 
"Jokowi itu bukan apa-apa tanpa Megawati" .Ini sungguh sebuah penghinaan 
terhadap Jokowi yang bahkan  memandang  Jokowi lebih rendah dari sebuah  boneka 
sungguh. Tapi di segi lain tak usahlah kita memuja-muja Jokowi setinggi langit. 
Kwalitas Jokowi sudah terlihat dari semua tindakannya dan prestasinya. Tidak 
perlu menggaraminya lagi seperti dalam cerita Anton Chekhov yang mengisahkan 
seorang manusia yang sedang justru menyelamatkan penumpang dalam kereta 
saljunya, tapi karena si penumpang curiga dia seorang perampok lalu membikin 
cerita-cerita ngeri membikin riwayatnya sendiri sebagai jagoan klas berat yang 
ahirnya membikin sang kusir ketakutan dan lari meninggalkan kereta dan 
penumpangnya di  tengah gurun dan badai salju dan diahiri dengan nasib fatal si 
penumpang. Jangan garami Jokowi seperti itu, banyak orang yang akan takut, 
padahal Jokowi itu orang ramah dan ingin berbuat baik.
ASAHAN.


----- Original Message ----- 
From: Salim Said 
To: alumnas-oot ; [email protected] ; [email protected] ; 
Group Diskusi Kita ; Djoko Rahardjo ; Achmad Sucipto, Admiral ; Budiarman 
Bahar, MA ; halim perdanakusuma ; [email protected] ; Fadli Zon ; Ahmad Syafii 
Maarif ; Syafiuddin Makka ; François RAILLON ; Liddle Bill ; Anwar 
Nasution,Prof. ; Nazaruddin Nasution, MA. ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; Djoko Suyanto ; A. 
Irmanputra sidin ; Fitriciada Azhari ; Zainal Bintang ; Bahtiar Effendy ; 
Effendi gazali ; Institut Peradaban ; Bonnie Triyana ; 
[email protected] ; Danipurwanegara /PPSN ; Baitul Muslimin ; Ichsan 
Loulembah ; [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; hamid awaludin ; Emil Salim 
Sent: Friday, May 16, 2014 3:57 AM
Subject: Fwd: [alumnas-OOT] Fw: Jokowi pdip





Ibu Mega tidak bodoh.

Sudah dua kali Ibu Mega (Ketum PDIP) mengingatkan Capres Jokowi untuk menyadari 
bahwa sebagai Presiden RI (kalau terpilih nanti) mantan Wali Kota Solo dan 
Gubernur Jakarta itu akan  duduk di istana sebagai petugas partai (PDIP). 
Pernyataan Ibu Mega ini, tidak bisa lain, gampang sekali dan logis  untuk 
ditafsirkan, Jokowi sebagai Presiden (kalau terpilih) , tetap harus tunduk dan 
menjalankan petunjuk Ketum PDIP. Maka tidak salah kalau ada yang menuduh  
Jokowi adalah hanya akan jadi  boneka Ibu Mega. Jika begitu jadinya maka  
sebenarnya yang akan jadi Presiden RI adalah Megawati, sementara Jokowi adalah 
hanya front man saja.


Keadaan seperti ini mengingatkan  saya pada cerita masa lalu (zaman devisa 
proyek Banteng) yakni cerita Ali-Baba. Yang dapat devisa adalah Ali yang 
menguasai dan memanfaatkan devisa dan yang menjadi kaya adalah Baba. Dalam hal 
sekarang  ini Jokowi yang berjuang mendapatkan keperyaan rakyat untuk berkuasa, 
tapi yang mengendalikan  kekuasaan, yang jadi   Baba-nya adalah Ibu Mega. 


Saya percaya Ibu Mega tahu konsekuensi dari pernyataan beliau itu. Ibu Mega 
bukan orang bodoh. Beliau  tidak memilih Jokowi untuk dihinakan sebagai menjadi 
 hanya sekedar boneka bagi sang Ibu. Jadi saya kira ini soal bahasa saja. 
Maksud beliau, saya hampir, yakin, Jokowi sebagai Presiden nanti jangan sampai 
mengkhianati cita-cita perjuangan dan agenda politik PDIP.  


Pernyataan   Ibu Mega itu mestinya tidak usah terulang seandainya ada 
tokoh-tokoh senior PDIP yang  segera mengingatkan Ibu mengenai kekeliruan 
ucapan tersebut. Di sinilah sedihnya pula. Nampaknya tidak ada petinggi PDIP 
yang cukup punya keberanian "mengoreksi"  bahasa yang dipakai Ibu Mega. 
Akibatnya sang Ibu mengulangi ucapan yang salah itu. 

Saya cemas, terjadinya kekeliruan yang berulang ini adalah fenomena dari amat 
mutlaknya kontrol Ibu Megawati atas PDIP Artinya mesin kepemimpinan tidak 
berjalan seperti seharusnya. Bahaya   keadaan seperti ini baru akan terlihat 
ketika kelak Ibu Mega tidak lagi memimpin PDIP. Bisa berantakan partai itu, 
sebab pemersatunya tidak ada lagi. Inilah nasib Golkar sekarang. Sebagai sudah 
berkali-kali saya kiatakan, Golkar hanya bersatu dan kompak  ketika dikontrol 
oleh Jenderal Besar Soeharto, ketua Dewan Pembina  Golkar. Soeharto mangkat, 
Golkar sibuk ribut sendiri.


Ibu Mega dan elit pimpinan PDIP harus menghindari nasib yang melanda Golkar 
sekarang.



BS.





---------- Forwarded message ----------
From: Djoko Suyanto [email protected] [alumnas-OOT] 
<[email protected]>
Date: 2014-05-15 18:38 GMT+07:00
Subject: Re: [alumnas-OOT] Fw: Jokowi pdip
To: [email protected]



  

Sahabat Alumnas ysh.  
Pernyataan Ketua Umum Partai bahwa calon Presiden itu adalah "penugasan" Partai 
ini adalah yg kedua kali nya. 
Presiden itu pada saat pemilu nanti tgl 9 juli adalah pilihan "rakyat" yg belum 
tentu mereka anggota partai atau simpatisan partai itu sekalipun. Mereka 
memilih "figur" yg di "sukai" nya utk memimpin negara ini. Terlepas dari mana 
adal usulnya.
Sistem Presidensiil yg kita anut memberi mandat kepada "seseorang"...untuk 
menjalankan pemerintahan dan... seharusnya "seseorang" itu memiliki "indepen 
densi" dalam menentukan apa saja untuk menjalankan mandat rakyat.  Bukan 
ditentukan oleh orang lain yg memberi tugas kepada ybs. 
Loyalty to the party ends...when loyalty to the country begin"... 
Mungkinkah bisa terjadi intervensi dari Ketua Umum partai terhadap Presiden yad 
(apabila menang) ?... mengingat sudah 2 kali disampaikan warning seperti ini 
kepada calon  Presiden
Ambasador Salim Said mungkin bisa memberi pencerahan...
Salam hangat




Sent from Samsung Mobile



-------- Original message --------
From: "'Ardi Sutedja K.' [email protected] [alumnas-OOT]" 
Date:15/05/2014 17:01 (GMT+07:00) 
To: [email protected] 
Subject: Re: [alumnas-OOT] Fw: Jokowi pdip 


  

Sabar Mbak, lagi era sinetron. 


ASK

On 5/15/2014 16:59, 'ItaSoedjalmo' [email protected] [alumnas-OOT] wrote:

    
  Aduh, kenapa begini siiihhh?
  :-(



  Proud to be Indonesian !!

------------------------------------------------------------------------------

  From: "rudy setyopurnomo [email protected] [alumnas-OOT]" 
<[email protected]> 
  Sender: [email protected] 
  Date: Thu, 15 May 2014 16:49:50 +0800 (SGT)
  To: [email protected]><[email protected]>
  ReplyTo: [email protected] 
  Subject: [alumnas-OOT] Fw: Jokowi pdip


    


  Berita Capres.


  m.jpnn.com : Pernyataan Megawati Tegaskan Jokowi Capres Boneka - 
http://m.jpnn.com/news.php?id=234485


  Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the XL network.











-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke