Pasca PilLeg 2014: Capres Koalisi pengganti kekosongan Capres Partai
  
 Teman,
 Kita bersyukur karena Pileg 2014 berlangsung dan berhasil baik. Walau Pileg 
ini menghasilkan peringkat, perolehan suara cenderung hampir merata. Sementara 
PDIPerjuangan memperoleh suara terbanyak dan PDemokrat ikut masuk dalam 5 
besar, namun tampak perolehan semua OPP cenderung merata, tidak ada yang 
berhasil perolehan 20% suara. 
 1.       Capres Koalisi pengganti kekosongan Capres Partai
 Menjelang PilLeg, beberapa OPP sudah mentargetkan Capres Partai yang 
bersangkutan. Sementara PDI Perjuangan sempat merencanakan Gubernur aktif untuk 
menjadi Capres Partai, Partai Demokrat juga menyiapkan sejumlah Capres Konvensi 
untuk dijadikan Capres Partai Demokrat. Demikian pula dengan partai lainnya. 
Namun menjelang PilLeg, ada persyaratan bahwa untuk mengajukan Capres, suatu 
partai harus meraih minimal 20% suara. Kenyataan bahwa tidak ada OPP yang 
memenuhi perolehan 20%, berarti semua Capres Partai yang pernah diumumkan sudah 
tidak lagi relevan karena tidak memenuhi syarat itu. Dengan kenyataan bahwa 
keberhasilan Pileg 2014 tidak berhasil mengesahkan Capres Partai, maka untuk 
menentukan Capres, antara partai harus melakukan kesepakatan untuk menentukan  
Capres dukungan bersama yang selanjutnya akan kita sebut sebagai Capres Koalisi 
untuk mengganti kekosongan Capres Partai. 
 Setiap gabungan partai yang berhasil mencapai kekuataan sama atau melebihi 20% 
suara, akan memperoleh kesempatan menetapkan Capres Koalisi. Jika semua 
pemenang PilLeg dihitung sebesar 100% suara, seandainya syarat Capres Koalisi 
menggunakan kekuatannya hanya sebesar 20% suara, maka maksimal hanya akan 
didapatkan sebanyak 100% : 20%= 5 Capres Koalisi. Kenyataan kemungkinan 
kekuatan setiap penggabungan bisa diatas 20% suara,  menurut teori 
probabilitas, koalisi yang terbentuk hanya akan mungkin menghasilkan 3 atau 4 
Capres Koalisi. Selanjutnya, Capres Koalisi bisa mengusulkan CaWaPres yang 
dianggapnya bisa bekerja sama mendukung tugas-tugas kepemimpinan kepada partai 
Koalisi untuk dijadikan CaWapres yang akan membantunya.
  
 2.       Usulan kepada Ketum PD dan Ketum PDIPerjuangan
 Januari dan Maret lalu, saya mengusulkan kepada Ketum PDIPerjuangan dan Ketum 
PD, 10 kriteria Capres yang ideal. Teman2 bisa membacanya dengan klik ... 
https://sites.google.com/site/YohanesMulyadiLiu/dpp-2014 
https://sites.google.com/site/YohanesMulyadiLiu/dpp-2014
 Beberapa hari lalu, saya menyampaikan surat kepada Ketum Demokrat mengenai 
Capres Konvensi Demokrat, seperti halnya Capres Partai lainnya sudah tidak lagi 
relevan. Walau sebagai partai pemerintah, untuk memenuhi kuota, PD harus 
menjalin koalisi untuk menentukan Capres Koalisi. Untuk kesempatan itu, saya 
kembali memberanikan diri meminta dipertimbangkan untuk menjadi Capres Koalisi 
untuk diajukan PD kepada mitra koalisi. Sebagai mitra, saya usulkan pak SBY 
untuk mengajak PDIPerjuangan untuk membentuk koalisi. Walau sempat mengusulkan 
seorang tokoh senior untuk menjadi Cawapres menjadi pasangan saya, dua hari 
lalu ketika mengemudi, tanpa sengaja tiba-tiba saya terbesit ide untuk 
mengajukan sdri. Puan Maharani, putri Ketum PDIPerjuangan yang juga cucu 
Proklamator Bung Karno. Walau  baru melihat sdri Puan melalui TV atau media, 
saya percaya saya bisa bekerja sama dengan beliau. Kenapa saya berpendapat 
demikian? Karena saya memiliki pengalaman ketika bersama berjuang bersama bu 
Mega dulu. Karena usia sdri Puan masih lebih muda dari saya, saya percaya akan 
lebih mudah bagi saya untuk meminta dukungannya dalam memimpin kinerja kabinet 
yang akan datang. Agar tidak membingungkan, seandainya koalisi Merah dan Biru 
berhasil terbentuk dan saya dipercaya menjadi CaPres Koalisi, saya akan 
mengusulkan jika sdri Puan Maharani, putri Ketum PDIPerjuangan yang adalah cucu 
Proklamator RI bersedia menjadi Cawapres untuk mendukung saya dalam pasangan 
koalisi PDIPerjuangan dan Partai Demokrat.
 3.       PD bersama PDIPerjuangan = Sinergi Kekuatan Yin dan Yang
 Beberapa teman berpendapat bahwa Biru dan Merah tidak bisa bersama. Tentu itu 
tidak benar,karena saya adalah bagian dari kedua kubu itu. Pak SBY (sesuai 
dengan karakternya) sangatlah ramah dan perhatian kepada saya. Kebalikannya, 
saya merasa menurut sejarah, saya adalah bagian dari PDIPerjuangan. Saya 
percaya seandainya koalisi ini terbentuk dengan baik, akan menimbulkan sinergi 
bagi kebaikan kita: IndonesiaHebat.
 Pak SBY mengatakan bahwa nama Perjuangan pertama didengar setelah penyerangan 
kantor kami di jalan Diponegoro 27 Juli. Tanggal 28 Juli saya disembunyikan 
ayah dengan dalih gangguan kejiwaan di rs Omni (d/h RSJ OngkoMulyo). 17Agustus, 
usai saya mengikuti lomba nyanyi (saya sambil solo gitar) serta ikut  
pertandingan cerdas cermat melawan sesama rekan pasien rs jiwa itu, ayah 
menjemput saya pulang ke rumah. (Sebagai pemenang juara pertama pertandingan 
nyanyi dan lomba cerdas cermat antar seluruh pasien rumah sakit jiwa, beberapa 
hari kemudian saya mendapat paket hadiah kain sarung dan kaus oblong J. )  
 Memang sejak saat itu, walau rapat mingguan DPC sudah semakin sepi (tinggal 
saya, bu Muji dan bu Tatang Sekr), kami lebih biasa menggunakan nama Perjuangan 
untuk menegaskan pada  kubu mana kami berpihak. Namun tidak lama setelah pak 
Habibie memerintah, saya mengusulkan mbak Mega agar menyerahkan nama PDI bagi 
kubu Surjadi-Fatimah Achmad-ButtuHutapea dan mengganti nama partai kami dengan 
nama PDI-Perjuangan. Namun setiap fax saya kerumah bu Mega, saya selalu 
menggunakan hurupsuper script bagi kata Perjuangan. Super script bisa diartikan 
eksponen atau pangkat. Jika 103 artinya 10x10x10=1000. Jika PDI sebelumnya 
disebut  Partai Sandal Jepit, Partai Wong Cilik, biar Gepeng asal Banteng, tapi 
dengan eksponen Perjuangan, saya berharap PDI kelak akan menjadi partai terkuat 
di Indonesia.  Harapan itu kini sudah terbukti.
 Apakah perjuangan TPDI pak RO Tambunan, pak Robert Keytimu untuk merebut 
kembali PDI sia-sia? Tidak ada yang sia-sia dalam kebenaran dan ketulusan. Saya 
percaya, setiap benih baik, ditabur di tanah yang baik, akan bertumbuh baik dan 
menghasilkan buah baik yang pada saatnya mendatangkan berkat kebaikan serta 
sukacita bagi kita semua.
 4.       Negara Kapasitas Super butuh Kepemimpinan Super
 Jika saya gambarkan,  jabatan presiden Indonesia adalah seperti  orang yang 
diberi wewenang mengemudi Super-Jumbo-Bus (kendaraan dengan kapasitas sangat 
besar) dengan tanggung jawab bagi keselamatan dan kenyamanan 250 juta 
penumpang. Selain kwalitas kendaraan harus baik, sopir yang bertanggung jawab 
haruslah orang yang memiliki ketrampilan mengemudi sangat baik, mengenal 
situasi serta permasalahan lalu lintas yang biasa ataupun tidak terduga. Sopir 
itu juga harus mempunyai gambaran yang jelas lokasi serta strategi terbaik yang 
akan diterapkannya. Jika tidak, itu bisa menimbulkan masalah yang merugikan 
perjalanan.
 Jika kita mengemudi mobil, kita harus mengetahui target lokasi serta 
permasalahan atau kesempatan yang akan kita tempuh. Jika kita tidak tahu arah 
tujuan yang jelas, mungkin saja sopir akan terjebak dalam kemacetan yang 
memboroskan BBM serta menghabiskan 5  tahun milik 250 juta penumpang untuk 
sesuatu perjalanan yang tidak berkwalitas.  
 Misalnya, perusahaan berani membayar Rp25juta untuk iklan TV yang 1 menit 
ditonton oleh 2 juta pemirsa. Artinya pengiklan itu berkesempatan menyita waktu 
berkwalitas pemirsa untuk mengikuti pesona iklan selama 2.000.000 menit = 1.400 
jam= 46 bulan=3,8 tahun. 
 Pemilihan Presiden mirip dengan merekrut sopir pengemudi Super-Jumbo-Bus yang 
diberi wewenang untuk tanggung jawab memimpin perjalanan selama  5 tahun x 250 
juta orang. Jika 1 menit x 2 juta orang pemirsa bernilai Rp 25juta, berapa 
Trilyun kerugian atas waktu yang dipertarukan penumpang  jika kwalitas 
kepemimpinannya tidak memiliki arah yang baik? Kebalikannya, jika sopir 
berkwalitas tinggi dipercaya mengendalikan Super-Jumbo-Bus itu. modal waktu 
yang dipercayakan para penumpang, akan menghasilkan sekian banyak keuntungan 
berganda yang akan dinikmati 250 juta penumpang itu.
 Indonesia adalah sebuah negara adhi daya yang seharusnya setara dengan 
Amerika, Jepang dan China.  Sebagaimana pengemudi handal bagi kendaraan 
berkapasitas Super-Jumbo-Bus, untuk menampilkan kehebatan,  Indonesia 
memerlukan kepemimpinan dengan kinerja yang berkwalitas.
 5.       Sinergi 2 kekuatan
 Kerja sama 2 kekuatan, bisa mendatangkan hasil yang bervariasi. 
 Ø  5 + 3  = 8. Kerja sama itu dilakukan dengan faktor jumlah. Walau ini adalah 
kerja sama yang sudah cukup bagus, namun koalisi seperti ini adalah koalisi 
yang sudah umum dan sangat standar.  
 Ø  5 x 3 = 5 + 5 + 5 = 15.  Kerja sama ini dilakukan dengan faktor ganda. 
Walau kerja sama ini sudah sangat bagus, namun koalisi ini sebenarnya sudah 
sering terjadi.
 Ø  53      = 5 x 5 x 5 = 125. Kerja sama ini dilakukan dengan faktor pangkat. 
Koalisi seperti ini merupakan suatu sinergi yang akan menghasilkan ledakan yang 
sangat hebat bahkan mungkin memberikan hasil diluar dugaan yang tidak pernah 
kita bayangkan sebelumnya.
 Demikian pula saya mengharapkan akan terbentuknya sinergi dalam koalisi 
PDIPerjuangan dan Partai Demokrat.
  
 Teman2,
 Minyak dan air memang sulit bersatu. Namun seandainya saya dan sdri Puan bisa 
menjadi katalisator, saya percaya bahwa Indonesia yang Hebat akan terwujud 
dalam kepemimpinan kami. Kemarin saya mengirim sms kepada bu Sri (asisten ibu 
Mega di DPP) mengenai gagasan ini. Beliau kemudian membalas: ‘Amin. Tks’. 
Karena belakangan sms ke pak SBY sering gagal, saya kemudian memforward sms itu 
ke bang Ruhut Sitompul, pejabat senior PD yang kini menjadi ketua DPR. Apakah 
ini menunjukkan terbukanya jalan mulus ke arah itu? Saya kira demikian. Namun 
baik mulus maupun kurang mulus, seandainya upaya itu dilaksanakan dengan niat 
yang sungguh serta tulus, harapan luhur itu akan kita dapatkan.
 Mari kita dukung dan doakan,  Sinergi Kekuatan Yin dan Yang = IndonesiaHebat
  
 Salam Indonesia,
 Mulyadi Dharmadi
 

































Kirim email ke