Bung Dimas Latief yang baik. a.. Dalam kesepian setiap orang menemukan sorganya (setidaknya bila pandai menemukannya).Memang, di dalam al Qur'an tidak ada disebutkan sebuah keluarga atau serombongan orang dalam sebuah surga. Manusia diciptakan ke dunia adalah untuk sendiri dan lalu diberi otak dengan rasa sepi yang juga adalah DNA-nya manusia di dunia( rasa sepi adalah juga kerja otak). Lalu mengapa yang Maha pencipta membekali manusia dengaa rasa sepi. Karna di dunia penuh bahaya. Dengan rasa sepi timbulah pada manusia rasa keinginan berkumpul yang lalu menjadikannya mahluk sosial. Ini bukan berarti lalu manusia menjadi mahluk sosial untuk memerangi atau menindas kesepiannya. Kesepian diperlukan oleh manusia yang hidup di dunia agar dia menciptakan surganya sendiri dalam kesepiannya masing-masing. Orang Jawa punya filsafat seperti ini: "Biar ora mangan asal kumpul". Itu maksudnya agar kesepian kolektif bertumpuk jadi satu gundukan kesepian untuk dinikmati bersama menggantikan absennya nasi dan lauk pauk yang tak pernah cukup.Lalu di mana letak nikmatnya atau surgawinya?. Gundukan kesepian akan melahirkan gagasan-gagasan baru yang pada ahirnya akan menemukan materi yang mereka perlukan. Jadi bukannya mereka mengganyang kesepian, tapi sebaliknya merapatkan diri dan bersahabat dengan kesepian. Bentuk fisiknya bisa kita lihat ketika lihat ketika orang bertapa, bersemadi atau di abad moderen kita disebut orang Meditasi dan di sinilah manusia berdamai dan bersahabat dengan kesepiannya sendiri dan merasa bahagia.
Tpi di surga orang sudah tidak punya rasa sepi karena sang pencipta tidak memberikannya (dicabut dari otak manusia). Di surga ada keamanan mutlak, tidak ada bahaya, tidak memerlukan masyarakat sosial dan hanya kebahagiaan individual yang sudah mutlak tak mungkin terusik lagi. Lalu kaum atheis. Menurut ajaran filsafat Sufi setiap orang percaya tuhan dengan caranya sendiri-sendiri, tidak ada atheis yang ada hanya penganut yang berbeda-beda cara menganutnya. Saya bukan penganut Sufi. Tapi dari cerita-cerita Sufi yang saya baca, filsafat Sufi banyak menerangkan persolan-persoalan agama(terutama Islam) yang rumit dengan cara mudah dimengerti, mudah diterima akal dengan pencerahan yang sangat logis meskipun melalui cerita-cerita, metafor-metafor yang menggugah pemikiran. Umpamanya, ada diceritakan seorang yang berdoa kepada tuhan agar diberi kehidupan abadi tanpa mati.Tuhan mengabulkannya dan setelah berumur ratusan hingga mendekati ribuan tahun tidak mati-mati maka iapun berdoa kembali meminta tuhan mencabut nyawanya karena dia merasa sangat menderita mengmban berbagai penyakit tua. Tentu wajar saja bila hidup ratusan tahun berbagai penyakitpun turut menyertainya. Dan mungkin dia lupa meminta agar dalam kehidupan abadinya tidak disertai penyakit apapun. Tapi juga kalau demikian, mungkin tuhan tidak akan mengabulkannya karena manusia dan penyakit tidak mungkin dipisahkan untuk selamanya. Itu sebuah metafor yang menunjukkan bahwa keajaiban itu ada batasnya yang kadang-kadang Tuhan memberikannya tapi tidak pada setiap orang dan juga punya batas. Hidup itu sendiri adalah keterbatasan. Kembali kepada sepi. Sepi juga ada batasnya seperti juga kenikmatan. Jika batas sepi itu terlampaui maka matilah manusia. Bukankah itu sebuah solusi yang sangat indah?. Salam, ASAHAN. ----- Original Message ----- From: [email protected] [sastra-pembebasan] To: [email protected] Sent: Thursday, May 15, 2014 3:37 AM Subject: Re: Bls: #sastra-pembebasan# DALAM KESEPIAN Sebenarnya dilihat dari sisi agama saya, semua itu memang sendiri. Artinya masuk surga sendiri, masuk neraka sendiri. Tidak ada voucher yang bisa dibagikan kepada teman-teman pada judgement day. Atau tilpun untuk reservasi guest list. Bahkan tidak ada yang tahu siapa yang VIP dan Non-VIP. Namun ketika di dunia memang sengaja di taruh dalam kelompok, komunitas, bangsa-bangsa. Apakah ini kontradiktif? Mungkin tidak, karena di salah satu ayat dikatakan manusia haruslah saling nasehat-menasehati untuk kebaikan dan kesabaran (Al-asr). Ilmu terapan Al-asr yg artinya Demi Waktu ini sepertinya dapat dilihat dari kehidupan Keluarga Rosetta, jika tulisan Malcolm Gladwell ini belum digugat sampai sekarang, kelompok tersebut meninggal karena memang tua. Tanpa sakit gula, jantung dll. Hidup bebas penyakit ini karena mereka kenal satu sama lain. Mereka suka menghantarkan makanan ke pintu-pintu tetangga. Tanya chef di dunia ini, tidak akan ada ma kanan yang enak dengan hati yang bau busuk dan tidak punya kesabaran. Mungkin surat Al-asr ini memang obat untuk manusia. Hanya 3 ayat pendek, yang pada jaman itu tidak ada mesin fotokopi, hanya bisa menghafal untuk melestarikan ayat-ayat ini, dan langsung datang kerumah-rumah untuk mengajarkan. Surat yang mengatakan umat manusia sebenarnya dalam kerugian, kecuali orang-orang yang saling menasehati tadi. Kegagalan menjalankan ini lah yang saya rasa menciptakan istilah baru yang dikenal introvert dan ekstrovert. Namun surat ini sesuai untuk semua jaman dan kondisi. Ini yang dilakukan oleh Bung Harsutejo. Saya rasa Bung Harsutejo suka melahap pemikiran-pemikiran pastilah terkandung nasehat. Sebenarnya itupun ilmu terapan. Pemikiran-pemikiran itu sendiri menjadi masakan yang enak. Tanya semua penulis tidak ada pemikiran yang enak dibaca jika penuh dengan kebohongan. Bung Asahan, saya baca sejarah. Semoga semua in i berbalas. Jika sendiri itu diidentikan dengan kesepian, dalam pandang agama, memang pada akhirnya kita akan sendiri yang sekarang diartikan sepi. Tapi kenapa diciptakan berbangsa. Kontradiksi ini sebenarnya untuk para Ateis berpikir. Karena bagi yang tidak percaya surga dan neraka, sepi di dunia inilah neraka mereka, dan nampaknya itu pasti. Salam, ---In [email protected], <cakmo9998@...> wrote : Aku dapat menghayati benar larik tulisan Bung Asahan ini. Ketika aku 20 tahun berada di kantor asing megah dengan para pegawai yang neces, wangi, ayu dan gagah, aku sering merasa sepi dan terpencil. Beruntung aku ditemani buku puisi dan buku-bu ku Pramoedya yang terlarang dan kusimpan di laci terkunci, aku punya teman dialog. Sekarang ini aku di tengah ruang kerjaku yang cukup lapang, dikelilingi buku-buku, nyaman, udara segar, mentari, pepohonan di sekitar: mangga, jambu, rambutan, bambu kuning, pohon pisang, melati belanda yang merambat dan berjuntai. Tapi kadang aku sepi dan terpencil meski sesaat di tengah keluargaku yang hangat dan amat peduli. Ya rasa sepi dan terpencil dapat kuhayati dan kunikmati seperti apa adanya dengan bahagia, barangkali terlebih karena pada dasarnya aku orang introvert. Ya aku cuma bahkan kurang dari setitik noktah di alam raya, sedang Bumi pun setitik debu di sana atau di situ. Lalu tak ada yang membuat resah. Salam hangat buat Bung Asahan dan teman-teman lain utamanya yang jauh di sana. Kemang Pratama 3, Bekasi, 15 Mei 2014 Harsutejo.- Pada Kamis, 15 Mei 2014 5:00, "Marco Polo comoprima45@... [sastra-pembebasan]" <[email protected]> menulis: ...dan kata orang jerman bhw JEDER FLUSS KOMMT DOCH ZUR ENDE .... und so ist ... Was Mann eins gehabt haben ..... will doch alles wieder verloren ................ ( bahwa ...> Setiap Sungaipun akan berakhir dimuara.... dan begitulah pula , bhw Semua Apa yang perenah dipunyai Manusia akan suatu saat kembali menghilang ...... ...mari KIta bersama-sama minum kopi doelu .... sambil menenangkan bathin dan pikiran ... 2014-05-15 22:12 GMT+02:00 'ASAHAN' a.alham1938@... [sastra-pembebasan] <[email protected]>: ASAHAN AIDIT: DALAM KESEPIAN Sementara orang mengejek hidupku Yang katanya sepi dan terpencil Mereka tidak tahu Sepi adalah sahabat seiring sejak lahir Ia pembunuh sekaligus penyelamat Jadi tak seorangpun mampu membuat Seseorang itu sepi dan terpencil Karna sepi dan terpencil adalah Saudara kembar setiap orang Dan siapa yang bebas Dari rasa sepi dan keterpencilan Dan siapa yang merasa selalu ramai Dikelilingi para sahabat dan kerabat Yang mencintainya Itu cuma perasaan palsu Penipuan diri sendiri Pelarian dari kelemahan manusia Setiap orang akan menemukan buktinya Rasa sepi itu akan menggebu di hari tua mereka Tidak peduli apakah dia di tengah keramaian Para sahabat dan kerabat penuh kasih sayang Bila usia renta dan tubuh yang sudah lunglai Kau hanya bisa berdamai dengan kesepianmu sendiri Tak seorang mampu berperan penyelamat Kecuali kesepian yang kau sahabati hingga ahir Dan berterima kasihlah pada pemencilan Pada sepi yang akan mendamaikan perjalanan terahirmu Yang tak tergantikan oleh seorang pendeta maupun penghulu Sepi dan keterpencilan adalah asal usulmu Dan untuk itu kamu berteriak ketika lahir memprotes hiruk pikuk Untuk apa kau ejek kesepian meskipun dengan alasan politik dan sentimen Sepi adalah kebahagiaanmu dan bukan rasa hina yang tak perlu Jangan bohongi dirimu dan orang lain Karna kesepian akan membunuhmu bila kau hina Yang sesungguhnya kau takuti Dan kau hindari kehadirannya Dengan kesia-siaan tanpa daya Kesepian adalah anugrah alam untuk dinikmati Bila kau seorang manausia menurut kodratnya. ASAHAN AIDIT Hoofddorp, 14 Mei 2014
