Beste bung Salim,

      BEBERAPA waktu yang lalu saya memberanikan diri mengatakan di hadapan 
teman-teman saya (dalam sajak) bahwa saya menyukai sajak-sajak Gunawan Mohamad: 
indah rangkaian katanya dan berkesan ungkapannya. Tapi juga dengan rasa kesal 
karna sangat tidak mudah untuk dipahani hingga sama sekali tidak bisa saya 
pahami. Prof. Dr. Joko Damono dalam esai-nya tentang sajak-sajak GM mengatakan, 
sajak-sajak GM bukan untuk dipahami tapi untuk "dihayati". Ternyata itu bukan 
solusi. Sajak-sajak GM hanya bisa dihayati bila telah tertangkap 
intinya(maksudnya) dan barulah kita bisa meresapi dan menghayati keindahan  
rangkaian kata dan ungkapan-ungkapan GM yang sering-sering brilyant. Selama 
intinya belum tertangkap, orang hanya dirangsang rasa kesal dan itu sangat 
sulit untuk menghayatinya. Membaca sajak-sajak GM memerlukan ketekunan karna 
untuk menangkap intinya secara bulat hampir tidak mungkin dan mungkin inilah 
yang dimaksudkan oleh Sapardi Joko Damono (SJD) sebagai "sajak yang bisa 
(mudah) dipahami sebagai sajak yang sudah selesai dan sebuah sajak  tidak 
sekarusnya dikemas  secara"selesai". Saya merasa ini sebagai satu pelarian yang 
membiarkan sajak tanpa pemahaman. Dan ketika saya membacai sajak-sajak SJD, 
ternyata sajak-sajak beliau jauh lebih sukar dari sajak-sajak GM bahkan saya 
kira "lebih gila lagi". Itu bukan berarti saya tidak suka sajak-sajak SJD tapi 
saya lebih cenderung kalau sajak-sajak SJD masuk kategori "sajak-sajak gelap" 
meskipun sementara kritikus menilai sajak-sajak SJD adalah sajak-sajak 
imajinatif, sajak-sajak "suasana" yang saya kira lebih mirip seperti seorang 
pemain biola virtuos memainkan potongan-potongan  berbagai karya komponis yang 
juga virtuos tapi sepotong-sepotong dan memang ...tidak selesai. Dan begitulah 
sajak menurut Prof. Dr. Joko Damono.
Saya belum banyak membaca sajak-sajak Dr. Taufiq Ismail. Tapi memang 
sajak-sajak pada "jaman demonstrasi" anti Sukarno- nya TI  yang menyerupai  
gaya Lekra (dengan ideologi anti Lekra) ternyata lebih terasa bagus(stilistika) 
dibandingkan dengan sajak-sajak penyair-penyair Lekra sendiri(lebih kreatif 
dalam ungkapan dan retorikanya terasa lebih matang). Tentu ideologi saya 
berlainan dengan pikiran-pikiran TI. Namun dalam persajakan (sastra) kita tidak 
perlu saling bunuh suara. Hyperbola anti komunisnya Taufiq Ismail tidak perlu 
dihadapi dengan "mata pisau" nya Sapardi Joko Damono. Mengapa kita tidak mau 
menemukan keindahan dalam puisi tidak pandang dari manapun dia diciptakan dan 
bagaimanapun dia diungkapkan.. Dan kembali pada soal peradaban kita: bila beda 
dalam pikiran ,meskipun dalam satu barisan kita hanya mengenal perang sabil. 
Apalagi di luar barisan yang berbeda. Salam,
ASAHAN.
  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Taufiq Ismail ; Dr. Taufik Abdullah ; 
Syafiuddin Makka ; Achmad Sucipto, Admiral ; Amir Santoso ; hamid awaludin ; 
Bahtiar Effendy ; Zainal Bintang ; Liddle Bill ; [email protected] ; Bambang 
Harymurti 
  Sent: Wednesday, June 04, 2014 4:50 AM
  Subject: Fwd: SAJAK GOENAWAN MOHAMAD TENTANG PEMILU suhartO


  Pak Asahan Yth,

   Sajak Goenawan Mohamad (GM) yang Anda bicarakan ini kebetulan juga satu dari 
sejumlah sajak GM yang saya senangai. Komentar Anda bagus dan tepat.Sajak ini 
bagus karena indah,readable dan relevan.Sajak itu menangkap secara puitis 
suasana politik zaman itu.Dalam suatu hal GM dan Taufiq Ismail (TI) mempunyai 
persamaan, Keduanya  mempunyai ketrampilan dalam menggambarkan suasana. Banyak 
sajak TI yang indah tatkala menulis tentang  suatu kejadian pada suatu masa.TI 
lebih senior dari GM. TI sebagai remaja mengalami revolusi (1945-49). Kesaksian 
terhadap masa itu digambarkan dengan baik dalam beberapa puisi TI. Saya 
teringat sajaknya tentang mantan Sersan Nurcholis yang bekerja sebagai tukang 
arloji selepas revolusi. Di zaman revolusi, pada salah satu pertempuran, 
Nurcholis kehilangan salah satu kakinya  oleh ledakan mortir Belanda. Di 
kemudian hari, kita mendapatkan gambaran puitis dari pengamatan TI dari 
sejumlah perjalanannya.


  Tapi harus diakui bahwa dibanding dengan TI,  GM yang punya kecendrungan 
filosofis (GM esais terbaik Indonesia hingga masa kini) sehingga sajaknya 
banyak yang sulit dinikmati. Kesan yang sama akan kita dapatkan ketika membaca 
Catatan Pinggirnya di malajah TEMPO. Ada yang mudah dimengerti, tapi banyak 
juga ada yang lebih menunjukkan hal yang sebenarnya belum selesai dicernakkan 
oleh GM sendiri.Yang terakhir ini saya kira hanya resiko tak terhindarkan 
akibat rutinas wajib menulis tiap pekan.


  Sebagai peminat puisi saya selalu curiga kepada sajak-sajak yang sulit 
dimengerti ("puisi-pusi gelap" istilah Goenawan di tahun enampuluhan). Fenomena 
seperti ini terlihat banyak di tahun limapuluhan dan enampuluhan. Saya menduga 
ini menyangkut ketrampilan menulis atau bakat  penyair yang minim.


  Komentar singkat saya akan saya akhiri, dengan mengatakan, GM pasti tidak 
tergolong penulis puisi gelap, sebab selain berbakat amat besar, juga seorang 
Javanese native speaker yang penguasaannya atas bahasa Indonesia amat luar 
biasa. Dalam hal ini padanannya nampaknya hanya almarhum Syubah Asa, seorang 
yang native Pekalongan, Jawa Tengah. 

  Sebagai penyair, persoalan GM  saya kira cuma satu, dan ini yang menghasilkan 
semacam "puisi gelap" versi GM:kecenderungan cerebral (tarikan filosofis) yang 
belum selesai dalam diri GM masih sangat kuat. Hal ini tidak kita temukan pada 
TI. Tapi tidak berarti TI tidak ada masaalah. Persoalan TI adalah makin 
sempurnanya ketrampilan kepanyairannya (kata lain untuk pertukangan puisi) 
sehingga semua soal bisa dikemukakan dalam bentuk sajak( yang rasanya makin 
lama makin sulit diterima sebagai puisi). 

  Ada kesan TI berangsur kehilangan kepercayaan kepada puisi-puisi indah yang 
diciptakan di masa lalu. Dia sepertinya terdesak "mengkhotbahkan" apa yang dulu 
disampaikannya lewat puisi yang subtil.Dulu TI berhasil bicara melalui perasaan 
kita, sekarang dia ingin bicara langsung ke otak kita. GM dari awal seorang 
banyak bicara ke otak kita. Banyak yang berhasil, sebagian sulit kita mengerti. 
Persis seperti nasib Catatan Pinggir yang rutin ditulisnya tiap pekan.






  ---------- Forwarded message ----------
  From: ASAHAN <[email protected]>
  Date: 2014-06-03 1:15 GMT+07:00
  Subject: SAJAK GOENAWAN MOHAMAD TENTANG PEMILU suhartO
  To: [email protected], SASTRA PEMBEBASAN 
<[email protected]>, SANTRI KIRI <[email protected]>, 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], Group Diskusi Kita 
<[email protected]>, [email protected], AKSARA 
SASTRA <[email protected]>






                        SAJAK GOENAWAN MOHAMAD TENTANG
                             PEMILIHAN UMUM DI JAMAN suhartO



  GOENAWAN MOHAMAD: 



                             Tentang Seorang yang Terbunuh
                             di Sekitar Hari Pemilihan Umum

  "Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku"

               Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan
  mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan
  hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin pipinya  jadi aneh, di bawah
  bulan. Dan kemudian mereka pun berdatangan - senter, suluh, dan
  kunang-kunang - tapi tak seorangpun mengenalinya. Ia bukan
  orang sini, hansip itu berkata.

  "Berikanlah suara-Mu."

               Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka
  yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan
  bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak
  bertanda gambar. Ia tak ada yang menangisi, karna kita tak bisa 
   meangisi. Apa gerangan agamanya?

  "Juru peta yang agung, di manakah tanah airku?"

               Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di
  halaman pertama. Ada seorang yang menangis  entah mengapa.Ada
  seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang
  letih dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin
  kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua
  bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat-
  kawat, sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi
  lapangan yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang 
  sirna.

  "Tuhan, berikanlah, suara-Mu, kepadaku."

  1971


       Sajak yang dikemas dalam bentuk prosa ini relatif mudah 
diikuti(diresapi)  daripada umumnya sajak-sajak Goenawan  ber-klas sulit 
lainnya. Namun sebagai peristiwa dramatis dalam sajian puitis a la Goenawan, 
sajak ini juga menyajikan sebuah metafor yang super subtiel. Goenawan sulit 
dipramoedyakan dengan  tuduhan menyebarkan ajaran Marxis ("menyebar kebencian") 
karena dari tahun penulisan sajak ini (1971) kita mengetahui masih di jaman 
suhartO yang juga Pemilu-nya suhartO. Dan peristiwanya cukup jelas, seseorang 
terbunuh dan mayatnya tertelungkup "di tepi pematang"..."seperti mencari harum 
dan hangat padi". Secara explisit mayat itu dikesankan sebagai korban terror 
yang semua identitasnya sudah dilucuti dan yang tinggal hanya "liang luka yang 
lebih". rentetan tembakan peluru yang diterima dari pembunuh yang diperintahkan 
calon pemenang Pemilu. Bukanlah kebetulan kalau sajak ini dikemas dalam bentuk 
prosa yang antara berita koran dan nuansa puisi saling menyelingi dan membentuk 
kesan puitis dan berita koran sekaligus. Ini sudah tentu tidak mengenakkan bagi 
penyelenggara Pemilu yang ingin meraih semua suara secara maksimal mutlak bagi 
calon tunggal. Kita sudah tidak perlu mengusut bagaimana sampai terjadi 
"pembunuhan  dan penembakan misterius" menurut kronologis imajiner karena, itu 
sudah wakil dari semua panorama Pemilu di jaman itu.
  Goenawan Mohamad memang manusia uniek. Dia bukan saja ex penanda tangan 
Manikebu (Manifesto Kebudayaan) tapi juga kemudian mengambil jarak dengan 
Manikebu. Dia bukan saja pernah menjadi redaktur dan pemilik majalah TEMPO yang 
kemudian dibredel oleh suhartO lalu bangkit kembali  hingga hanya menjadi 
redaktur senior. GM juga bersahabat baik dengan Joesoef Isak dan memberi kata 
pengantar pada roman biografi yang ditulis oleh putri bekas Ketua PKI  
D.N.Aidit. Dalam buku Wijaya Herlambang, disebutkan GM pernah ada hubungan 
dengan CIA. Saut Situmorang berpolemik dengannya meskipun polemik satu jalur 
dan Goenawan hanya menjawabnya, katanya dia tidak meladeni "corat-coret  di 
dinding kakus". Goenawan pernah mangangkat-angkat wakil Presiden Boediono lalu 
dia dikerubuti banyak orang dan masih bermacam Goenawan yang uniek lainnya. 
Yang terahir Goenawan Mohamand keluar dari PAN yang mengusung Prabowo-Hatta 
Rajasa sebagai cawap dan capres dan Goenawan berbalik mendukung pasangan 
JOKO-JK dan mendirikan sekutu rakyat tanpa Partai.
  Siapapun dan apapun Goenawan dengan keunikannya tapi saya sendiri menganggap 
dia adalah milik Indonesia. Sama seperti Ajip Rosidi yang menyokong Pram untuk 
bisa memenangkankan hadiah Nobel meskipun di antara Pram dan Ajip tidak pernah 
saling ramah  tapi Ajip mengatakan: Pram itu milik Indonesia.
  Kembali ke sajak Goenawan dan Pemilu.
  Kita harapkan Pemilu(Pilpres) pada Juli 2014 mendatang sudah harus lain. 
Timses (Tim sukses) kedua pasangan yang berkompetisi tidak mempersenjatai 
timnya masing-masing dengan senjata tajam untuk saling menterror saingannya dan 
juga rakyat yang tidak bersalah. Berteriak bisa sekeras-kerasnya tapi kekerasan 
fisik tidak boleh digunakan. Memang sulit untuk menjadi bangsa yang beradab. 
Tapi tentu bisa dimuali dari sekarang.
  ASAHAN.
       
  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke