Sejarah penyebaran agama Islam (maupun agama agama lainnya), menurut yang saya pelajari di sekolah maupun kemudian di universitas, adalah penyebaran secara "Peneteration Pacifique. Penyebaran secara damai, tidak dengan paksa, tidak dengan perang. Buah dari penyebaran secara damai itu dapat kita lihat dan temui agama yang disebarkan itu kemudian ber-adaptasi dengan agama-agama setempat lainnya, dengan kepercayayaan-kepercayaan lokal hingga dengan kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat setempat. Adaptasi inipun berlangsung secara damai dan alamiah. Umpamanya Islam yang kita kenal sekarang (dan juga agama-agama lainnya) lalu bercampur(dengan kadar yang berbeda) dengan animisme, dinamisme, kepercayaan tahayul lainnya, mistik dll. Semua itu berlangsung dengan sendirinya dan praktis kita telah membiarkannya , mentoleransikannya dan kita seperti tak pernah terpikir untuk memurnikannya, mempertahankan keasliannya atau kembali pada akar mulanya yang tak pernah kita bisa kita pastikan hingga kedalaman yang tak bisa kita duga. Dan niat untuk memurnikan selalu akan menimbulkan kegoncangan karna sebuah kepercayaan atau agama atau keyakinan yang telah berdaptasi telah merupakan akar baru, akar tambahan yang membuat agama atau kepercayaan yang sudah beradaptasi itu bahkan manjadi kuat, kokoh dan terus terpelihara. Memurnikan berarti memotong atau memusnahkan akar-akar baru yang akan membuat pokok akan goyah karena telah terbiasa dengan topangan-topangan yang tumbuh atau berakar secara alamiah. Di segi lain penyebaran agama Islam dan juga agama-gama lainya bukan termasuk kategori agama import. Karena Import berarti didatangkan atau permintaan atau paksaan atau kebutuhan dari dalam (lokal, dari sesuatu wilayah tertentu) seperti juga barang import "Made in China" umpamnya. Karena itu mempersoalkan masaalah "pemurnian" dan pengkategorian barang "Import" bisa menimbukan kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat. Karena kata "Import", tentu akan mempersoalkan "keaslian" atau produkt yang bukan produk lokal. Sedangkan agama yang sudah beradaptasi dengan peradaban lokal, dia sudah menjadi milik masyarakat dan bukan barang import dan juga bukan "asli" atau "murni"dari luar negeri. Kenyataan ini yang juga yang menunjukkan bahwa Islam di Indonesia bisa menjadi meluas dan berakar di kalangan rakyat karena kemampuannya menerima adaptasi dan peradaban Indonesia.
Dalam politik kita kenal kata "revisi"dan juga kita mengenal kata "revisionisme" yang pada suatu periode sejarah tertentu menjadi batas antara yang "asli" dengan yang sudah "ditukangi". Sesungguhnya revisi adalah juga adaptasi. Dalam perjalanan sejarah kata "revisionisme" menjadi semakin kurang berbisa atau semakin tawar bisanya karena kita semakin mengerti hukum perkembangan. Revisi adalah juga perkembangan itu sendiri. Semua yang pada mulanya kita anggap "asli" tidak mungkin bertahan terus karena dia harus menyesuaikan diri dengan hukum perkembangan. Dan bila kita paksakan juga maka "keaslian" itu akan rusak dengan sendirinya dan juga merusak manusia karena juga manusia turut berobah menurut hukum perobahan. Saya sangat mengerti akan kecemasan Pak Frans Magnis Suseno dan turut keberatan dengan kategori Sdr. Teddy Sunardi dengan istilah "import"nya yang berkenaan dengan penyebaran agama di Indonesi. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Achmad Sucipto, Admiral ; halim perdanakusuma ; Institut Peradaban ; Djoko Rahardjo ; [email protected] ; [email protected] ; Ahmad Syafii Maarif ; [email protected] ; hamid awaludin ; [email protected] ; Emil Salim ; [email protected] ; Priyo Haryono ; [email protected] ; [email protected] ; Bahtiar Effendy ; Effendi Ghazali ; [email protected] ; Faisal Basri ; Anwar Nasution,Prof. ; Nazaruddin Nasution, MA. ; Syafiuddin Makka ; Liddle Bill ; Muhammad Basri ; [email protected] ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Chan ; dinsyamsuddin ; Djoko Suyanto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Endriartono Sutarto ; Sinansari Ecip ; Fadli Zon ; Fahmi Idris ; ferry baldan ; Farid Prawiranegara ; Amris F. Hassan ; Donny Gahral Adian Dr. ; Ganjar Pranowo ; Ichsan Loulembah ; Jayadi Hanan ; B.J Habibie ; Jaya Suprana ; [email protected] ; Mangadang Napitupulu ; Mar.Norman ; mohtar Mas'oed ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; [email protected] ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; François RAILLON ; [email protected] ; Abdillah Toha ; Dr. Taufik Abdullah ; A. Rahman Tolleng ; [email protected] ; Ahmad Zen Umar Purba ; Zul fikar ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Yohanes Sulaiman ; Sofyan Hasdam ; Wiryono Sastrohandoyo ; Saiful Mujani Sent: Saturday, June 07, 2014 10:13 AM Subject: Fwd: Mohon Tanggapan dari yang sempat membaca kekhawatiran Romo Magnis ini. ---------- Forwarded message ---------- From: F. Magnis-Suseno <[email protected]> Date: 2014-06-07 10:22 GMT+07:00 Subject: RE: To: [email protected] Bung Salim, Bersama ini saya lampirkan sebuah kekhawatiran yang barangkali baik kalau ditanggapi. Payback Day? Dengan ini saya ingin sharing sedikit. Demikian karena saya berpendapat bahwa sesudah 10 tahun pemerintahan SBY tahun ini memulai tahap baru dalam sejarah Indonesia pasca-Suharto. Saya mau membagi kecemasan saya terhadap kemungkinan kehidupan negara kita akan dipengaruhi, kalau tidak dikuasi, oleh kelompok-kelompok ekstremis yang sebenarnya paling-paling didukung oleh 10% masyarakat. Begini. Dua capres memang tidak mendukung ekstremisme dan tidak ada ucapan maupun alasan ke arah itu (satu kekecualian: Meskipun Hashim adik Prabowo beberapa kali mengatakan "sudah dicabut", namun kalimat gawat dalam Manifesto Perjuangan Gerindra: "negara dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui… dari segala bentuk … penyelewengan…." sampai kemarin [tgl. 6 malam] belum dicabut juga. Itu membuktikan juga bahwa Hashim, kecuali ikut membiayai kampanye kakaknya, serta dipakai untuk menarik pemilih Kristen, tidak punya pengaruh nyata atas apa yang menjadi policy Gerindra dan bosnya). Begitu juga mainstream agama-agama di Indonesia tetap tidak berpihak. Kedua capres didukung oleh partai-partai berhaluan agama. Tak masalah. Nah yang bagi saya mengkhawatirkan: Kok Prabowo mendapat dukungan begitu keras eksklusif-fanatik dari pihak-pihak garis keras Islam. (Lha Amien Rais bahkan menempatkan Prabowo dalam posisi perang suci, perang Badar; barangkali Pak Amien hanya stress, mbok cuti dua minggu, misalnya ke bagian psikologi UGM). Kartu agama dimainkan dengan keras - sebenarnya tanpa dasar dalam platform maupun latar belakang dua capres itu. Di dunia maya kita mendapat kesan seakan-akan memilih Prabowo adalah memilih Islam dan memilih Jokowi adalah memilih kafir. Seakan-akan orang beragama baik mesti memilih Prabowo (Beliau sendiri sejauh saya tahu tak pernah mengklaim demikian). Kartu perasaan identitas agama dimainkan sepenuhnya untuk memenangkan satu dari dua capres. Kalau capres itu kemudian jadi menang, apa dia tidak mau tak mau akan harus bayar kembali hutangnya kepada para pendukung itu? Apa mungkin ia kemudian masih menjalankan kepemimpinan yang pluralis yang tak memberi ruang kepada para ekstremis (sebagaimana sekian kali Beliau tekankan sendiri di hadapan publik non-Muslim)? Mohon tanggapan. Franz Magnis-Suseno. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
