http://www.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2014/05/18/21725/antara-jesus-dan-jokowi.html#.U5Qy-SjHuA8

“Antara Jesus dan Jokowi”
Ahad, 18 Mei 2014 - 06:23 WIB 
Menyamakan antara Jesus dan juru selamat kepada sosok Jokowi juga perlu 
dipertanyakan

 
lensaindonesia
Jokowi saat sambangi Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Paulus, 
Jakarta Pusat

(Halaman 1 dari 2)

Oleh: Dr. Adian Husaini

DUKUNGAN kalangan Kristen (Protestan dan Katolik) terhadap Jokowi untuk menjadi 
Presiden Indonesia 2014-2019 dilakukan secara terbuka,  bahkan sangat 
menggebu-gebu, sehingga terkesan melampaui batas kepatutan. Pada 29 April 2014, 
Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) yang merupakan induk gereja Protestan 
di Indonesia, bersama sejumlah LSM pengusung isu HAM, membuat pernyataan yang 
menolak pencapresan Prabowo Subianto. Dengan mengatasnamakan “Gerakan 
Kebhinekaan untuk Pemilu Berkualitas (GKPB)”, mereka mengajak masyarakat 
Indonesia untuk tidak memilih Prabowo.

Dari kalangan Katolik, sebuah dukungan terbuka terhadap Jokowi disuarakan oleh 
pastor Aloysius Budi Purnomo, melalui artikel berjudul “Jesus, Jokowi, dan 
Keselamatan Rakyat” di Harian Sinar Harapan 
(http://sinarharapan.co/news/read/140417053/Jesus-Jokowi-dan-Keselamatan-Rakyat,
 17/4/2014). Artikel Aloysius ini segera memicu kontroversi yang luas. Itu 
karena Aloysius membenarkan adanya sejumlah persamaan antara Jokowi dan Jesus, 
dengan menggunakan perspektif teologi Kristen.

Disebutkan, bahwa diantara persamaan antara Jesus dan Jokowi adalah:  (1) 
keduanya sama-sama berinisial huruf J, (2) baik Jesus maupun Jokowi sama-sama 
anak tukang kayu, (3) keduanya sama-sama mencintai rakyat kecil, tersingkir, 
dan difabel, (4) sama seperti Jesus, Jokowi suka blusukan, menjumpai rakyat 
kecil, (5) konon keduanya sama-sama berasal dari Jawa Tengah, yang dalam hal 
ini terdapat perbedaan;  Jokowi adalah orang Solo, sedangkan Jesus orang 
“Kudus”.

Meskipun persamaan itu bersumberkan pada “guyonan”, Aloysius menjelaskan:

“Guyonan itu hemat saya merupakan harapan. Kami umat Kristiani, terutama saya 
sebagai orang Katolik yang notabene juga seorang pastor, tidak merasa 
tersinggung dengan guyonan itu. Tidak masalah Jokowi disandingkan dengan Jesus. 
Itu bukan pelecehan, juga bukan penghinaan! Pastinya, Jesus akan tersenyum 
simpul membaca atau mendengar guyonan tersebut. Dipastikan pula Ia tidak marah.”

Lebih jauh ditulis oleh Aloysius: “Jangankan disamakan dengan Jokowi yang 
menjadi tokoh fenomenal dan kerinduan masyarakat kecil menjadikannya pemimpin 
masa depan, Jesus bahkan menyamakan diri dengan mereka yang lapar, haus, yang 
telanjang, terpenjara, sakit, dan orang asing (Matius 25:30). Jesus berkata, 
“Apa pun yang kamu lakukan untuk salah satu dari saudaraku yang paling hina 
itu, kamu lakukan untuk Aku!”

Sebagai seorang muslim, saya berasumsi, bahwa yang ditulis oleh teolog Katolik 
itu adalah hal yang sebenarnya, seperti yang ia pahami.; bukan untuk tujuan 
pencitraan Jokowi. Aloysius tentu memahami, bahwa munculnya Jokowi sebagai 
tokoh fenomenal sangat didukung oleh pencitraan media. Tanpa menafikan prestasi 
dan pribadinya yang sederhana, masyarakat Indonesia tidak akan mengenal Jokowi 
jika sejumlah media massa tidak mengangkat Jokowi begitu dahsyatnya, sehingga 
dicitrakan sebagai sosok “juru selamat”, termasuk apa yang dilakukan oleh 
Aloysius melalui artikelnya.

Dalam hal keberpihakan terhadap rakyat kecil ini, menyamakan antara Jesus 
dengan Jokowi juga perlu dipertanyakan. Dalam Bibel sendiri dijelaskan, bahwa 
Jesus justru melawan penguasa global dan penguasa agama (Yahudi) ketika itu. 
Fakta dan sejumlah manuver Jokowi justru menunjukkan, bagaimana kuatnya 
dukungan kaum berduit dan penguasa global saat ini.  Dalam Matius  25:30 
disebutkan: “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan 
yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Alkitab, 
versi LAI, tahun 2007).

Tentang Teologi “Blusukan”

Aloysius  menulis bahwa  ribuan tahun silam – sebelum Jokowi — Jesus memang 
punya hobi blusukan. Kehadiran-Nya di dunia sebagai “Sang Sabda yang menjadi 
manusia dan tinggal di antara kita” (Yohanes 1:14) sudah merupakan blusukan 
perdana. Blusukan itulah yang disebut penjelmaan Sang Sabda menjadi manusia. 
Itulah teologi inkarnasi.

Masih menurut Aloysius, dalam perspektif iman Kristiani, Jesus disebut “Putra 
Allah yang Mahatinggi”, yang sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dalam 
kesatuan kasih mesra. Namun karena begitu besar kasih Allah terhadap dunia, 
Allah berkenan mengutus Putra yang tunggal ke dunia agar setiap orang yang 
percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal (bandingkan Yohanes 3:16). Percaya 
kepada-Nya tentu saja tidak boleh dipahami saklek harus menjadi Kristiani dan 
dibaptis formal.

“Karl Rahner berterminologi yang disebut baptis batin, yakni semua orang yang 
menerima keberadaan-Nya dan percaya Dialah Sang Juruselamat, mewujudkan sikap 
itu dalam setiap tindakan baik, benar, dan suci. Konsili Vatikan II, melalui 
dokumen Lumen Gentium (LG) dan Nostra Aetate (NA) menegaskan, Katolik tidak 
menolak apa pun yang serba benar, baik, dan suci, yang ada dalam setiap agama 
dan kebudayaan sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Jesus Kristus 
(bandingkan LG 16 dan NA 2),” tulis Aloysius.

Begitulah opini yang dikembangkan Aloysius.

Menarik membaca tulisan Aloysius itu, bahwa pengertian percaya kepada Yesus 
sebagai Putra yang tunggal itu tidak harus menjadi Kristiani dan dibaptis 
secara formal. Ia mengenalkan istilah “baptis batin” yang katanya disebutkan 
oleh teolog Jerman Karl Rahner.  Tidak jelas benar apa yang dimaksudkan oleh 
Aloysius dengan “babtis batin”.  Sebab, Karl Rahner sendiri dikenal dengan 
gagasannya tentang “anonymous Christianity” (Kristen tanpa nama). Bahwa, 
orang-orang yang belum mengenal Jesus dapat dikategorikan sebagai “Kristen” 
tapi  “tanpa nama”, meskipun mereka sudah memeluk agama tertentu. Hanya saja, 
Rahner berpendapat, bahwa agama orang-orang itu tidak sah lagi jika misi 
Kristen sudah sampai pada mereka dan Bibel diterjemahkan ke dalam bahasa mereka.

“Once a religion really confronts the gospel – once the gospel is translated 
into the new culture and embodied in community – than that religion loses its 
validity,”  tulis Karl Rahner seperti dikutip Paul F. Knitter dalam bukunya, No 
Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes toward the World Religion 
(London: SCM Press Ltd., 1985).

Jadi, dalam perspektif  teologi inklusif model Karl Rahner, setelah agama 
Kristen disebarkan ke Indonesia, maka agama-agama selain Kristen sudah tidak 
sah lagi.

Dalam artikelnya, Aloysius juga menyebut, bahwa tokoh Hindu Mahatma Gandhi 
sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya. Ditulis oleh Aloysius: “Jesus Kristus 
itu unik sekaligus universal. Tak heran tokoh Hindu dan pemimpin India bernama 
Mahatma Gandhi sangat mengagumi Jesus dan mengasihi-Nya, terutama dengan ajaran 
ahimsa, mengasihi musuh. Tokoh politis India tersebut sangat menghayati sabda 
bahagia yang menjadi bagian dari khotbah di bukit yang disampaikan Jesus dan 
dicatat dalam Injil.”

Benarkah Mahatma Gandhi bersikap simpatik terhadap Jesus seperti yang ditulis 
Aloysius itu?   Tahun 2012, penerbit Media Hindu, menerbitkan buku berjudul 
“Dialog Gandhi dengan Missionaris tentang Kristen dan Konversi”. Buku ini 
aslinya berjudul “Gandhi on Christianity” (Maryknoll New York: Orbis Books, 
1991). Buku ini memaparkan sikap kritis Gandhi terhadap kepercayaan kaum 
Kristen pada Jesus:

“Saya menganggap Yesus sebagai seorang guru besar kemanusiaan, tapi saya tidak
menganggap dia sebagai satu-satunya anak yang dilahirkan Tuhan. Julukan itu 
dalam penafsiran materialnya tidak dapat diterima. Secara kiasan kita semua 
adalah anak-anak yang dilahirkan Tuhan, tapi untuk masing-masing kita mungkin 
ada anak-anak lain yang dilahirkan Tuhan dalam pengertian khusus… Saya percaya 
dengan kesempurnaan  untuk menjadi sempurna dari hakikat manusia. Yesus telah 
menjadi sedekat mungkin pada kesempurnaan itu. Mengatakan bahwa dia sempurna 
sama dengan menolak superioritas Tuhan atas manusia… Saya juga tidak memerlukan 
ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban untuk mengakui kebenaran Yesus sebagai 
seorang guru. Tidak ada yang lebih ajaib dari tiga tahun kependetaannya, “Tidak 
ada keajaiban dalam sejarah manusia yang dihidupi dengan segenggam roti. 
Seorang tukang sulap dapat membuat ilusi (tipuan pandang) semacam itu. Tapi 
terkutuklah hari ketika seorang pesulap dihormati sebagai penyelamat 
kemanusiaan.” (hal. 124-125).

Tentang keselamatan universal – baik bagi yang percaya atau yang tidak percaya 
kepada Ketuhanan Jesus –  Aloysius menulis: “Blusukan-Nya mendatangkan 
keselamatan universal bagi semua orang, yang mengimani Dia, maupun yang tidak 
mengimani-Nya, bahkan yang memusuhi-Nya. Itu karena Ia pun berdoa bagi 
orang-orang yang menyalibkan-Nya agar diampuni Allah, yang disebut-Nya Bapa, 
sebab mereka tidak tahu yang mereka perbuat (Lukas 23:34 dan paralelnya).”

Membaca tulisan Aloysius  tersebut, kita dapat bertanya, benarkah orang yang 
tidak mengimani Yesus juga mendapatkan keselamatan, sebagaimana digambarkan 
oleh Pastor Aloysius? Masalah keselamatan universal ini telah menyita 
perdebatan panjang dalam internal Kristen. Benarkah ada keselamatan di luar 
gereja Katolik? Jika memang ada, untuk apa Gereja Katolik memerintahkan kaum 
Katolik untuk menjalankan misinya agar percaya kepada Yesus.

Dalam artikelnya, Aloysius mengenalkan diri sebagai “rohaniwan”,  budayawan 
interreligius, dan Wakil Ketua FKUB Jawa Tengah. Sebagai rohaniwan Katolik, 
Aloysius tetunya sangat paham tentang perdebatan seputar wacana “keselamatan di 
luar gereja Katolik”.   Sebelumnya, Gereja berpegang pada doktrin “extra 
ecclesiam nulla salus” (di luar Gereja tidak ada keselamatan).  Kemudian, 
Konsili Vatikan II (1962-1965), menetapkan satu dokumen Nostra Aetate yang 
bersifat cukup simpatik terhadap agama lain, termasuk Islam. Tetapi, sejumlah 
dokumen Konsili Vatikan II juga mempertahankan sikap eksklusifitasnya dalam 
soal keselamatan.

Dekrit ‘ad gentes’ mewajibkan aktivitas misi Katolik ke seluruh umat manusia:

“Therefore, all must be converted to Him, made known by the Church’s preaching, 
and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is 
His body… And hence missionary activity today as always retains its power and 
necessity.” (Karena itu, haruslah semua orang dikonversikan kepada Dia, Yang 
dikenal lewat misi Gereja; semua manusia harus menjadi anggota Dia dan Anggota 
Gereja dengan pembaptisan, yang adalah Tubuhnya… Oleh sebab itu, aktivitas misi 
Kristen dewasa ini senantiasa tetap mempunyai kekuatannya dan tetap dibutuhkan).

Tahun 1990, induk Gereja Katolik di Indonesia, yaitu KWI (Konferensi Waligereja 
Indonesia) menerjemahkan dan menerbitkan naskah imbauan apostolik Paus Paulus 
VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern (Evangelii Nuntiandi), yang 
disampaikan 8 Desember 1975, yang menyebutkan: “Pewartaan pertama juga 
ditujukan kepada bagian besar umat manusia yang memeluk agama-agama bukan 
Kristen….Agama-agama bukan kristen semuanya penuh dengan “benih-benih Sabda” 
yang tak terbilang jumlahnya dan dapat merupakan suatu “persiapan bagi Injil” 
yang benar… Kami mau menunjukkan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini, bahwa 
baik penghormatan maupun penghargaan terhadap agama-agama tadi, demikian pula 
kompleksnya masalah-masalah yang muncul, bukan sebagai suatu alasan bagi Gereja 
untuk tidak mewartakan Yesus Kristus kepada orang-orang bukan Kristen. 
Sebaliknya Gereja berpendapat bahwa orang-orang  tadi berhak mengetahui 
kekayaan misteri Kristus.”

Dalam pidatonya pada 7 Desember 1990, yang bertajuk Redemptoris Missio (Tugas 
Perutusan Sang Penebus), yang diterbitan KWI tahun 2003, Paus Yohanes Paulus II 
mengatakan: “Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada 
Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian. Tatkala Masa Seribu Tahun Kedua 
sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, satu pandangan menyeluruh atas umat 
manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja di tahap awal, dan 
bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati…Kegiatan 
misioner yang secara khusus ditujukan “kepada para bangsa” (ad gentes) tampak 
sedang menyurut, dan kecenderungan ini tentu saja tidak sejalan dengan 
petunjuk-petunjuk Konsili dan dengan pernyataan-pernyataan Magisterium 
sesudahnya.”

Menyimak sejumlah dokumen Gereja Katolik tentang kewajiban menjalankan misi 
Kristen untuk membaptis seluruh manusia, maka patut ditanyakan, apakah dukungan 
kaum Kristen kepada Jokowi merupakan bagian dari aktivitas misi tersebut?   
Bisanya, agak berbeda dengan kaum Kristen evangelis yang menyampaikan misi 
dengan “vulgar”,  Geraja Katolik menjalankan misinya dengan halus melalui 
program akulturasi atau kemanusiaan.

Jadi, apa sebenarnya misi kaum Kristen yang secara menggebu-gebu mendorong 
Jokowi sebagai calon Presiden RI? Wallahu a’lam.

Jokowi akan dikorbankan?

Aloysius menulis:  “Jesus menjadi tokoh ideal yang berpraksis bela rasa dan 
solider kepada korban, bukan kepada penguasa dan pemilik modal. Itulah buah 
teologi blusukan dan praksis dari pastoral blusukan Jesus. Akibatnya, Jesus 
dijatuhi hukuman mati, bahkan dianggap pemberontak. Tanda-tanda mukjizat dan 
buah-buah pastoral blusukan-Nya tidak dianggap. Dia justru dituduh menggunakan 
ilmu sihir dan menyesatkan rakyat. Begitulah, para pemuka agama dan politikus 
busuk yang memusuhi-Nya kemudian bersekongkol dengan prokurator Romawi bernama 
Pontius Pilatus. Jesus dijatuhi hukuman mati.”

Bagi kaum Kristen, babak terpenting dari episode kehidupan Jesus adalah 
penyaliban  dan kebangkitan Jesus. Itulah inti agama Kristen (Christianity). 
Tidak ada agama Kristen tanpa adanya konsep penyaliban dan kebangkitan 
(crucifixion and resurrection) Jesus.  Maka, kita patut bertanya, jika Jokowi 
disamakan dengan Jesus dalam perspektif  Kristen, apakah pada akhirnya Jokowi 
juga akan “disalib” dan “dikorbankan” demi “menebus dosa kaum tertentu”?

Kaum Katolik Indonesia mengaku memiliki “syahadat” versi Katolik yang bunyinya: 
“Kami percaya pada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang 
kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra 
Allah, Putra Tunggal yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, 
Allah dari Allah, terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan 
tetapi tidak diciptakan, sehakikat dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu 
menjadi ada…” (Lihat buku, Konsili-konsili Gereja karya Norman P. Tanner, hal. 
36-37).*

okowi adalah muslim. Bahkan, sudah menunaikan ibada haji. Sebagai Muslim, ia 
sudah bersaksi, bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan 
Allah.” Jokowi pasti yakin, Allah tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Ia 
juga yakin akan kebenaran al-Quran, yang  menjelaskan bahwa Jesus (Isa a.s.) 
adalah manusia, seorang Nabi. Jesus bukan Tuhan atau anak Tuhan. Bahkan 
al-Quran dengan tegas menyatakan: “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang 
mengatakan, bahwa Allah itu sama dengan Isa Ibnu Maryam. Padahal, al-Masih Isa 
Ibnu Maryam berkata, wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan 
kalian. Sesungguhnya siapa yang menserikatkan Allah maka Allah akan 
mengharamkan sorga baginya, dan tempatnya di neraka. Dan orang-orang zalim itu 
tidak akan mendapatkan pertolongan.” (QS 5:72).

Juga, disebutkan dalam al-Quran, sungguh kafirlah orang-orang yang mengatakan 
bahwa Isa adalah salah satu dari yang tiga (QS 5:73). Allah juga murka karena 
dituduh punya anak. Orang yang menuduh Allah punya anak, sungguh telah 
melakukan kejahatan besar di mata Allah (QS 19:88-91). Al-Quran pun membantah 
bahwa Nabi Isa a.s. telah mati di tiang salib. Tidak ada bukti yang meyakinkan 
tentang itu. (QS 4:157, QS 18:4-5). Menuduh Allah punya anak atau punya sekutu 
adalah tindakan syirik, dosa terbesar dalam pandangan Islam. Karena itu syirik 
disebut sebagai “kezaliman besar”. (QS 31:13).  Nabi Muhammad saw ditugaskan 
oleh Allah untuk mengajak kaum Kristen agar mereka kembali kepada “satu kata” 
yang sama, yaitu hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan apa 
pun juga (misi Tauhid) (QS 3:64).

Dalam perspektif Islam, menyamakan antara Jesus dengan Jokowi bisa dikatakan 
“sangat keliru” dan “sangat berlebihan”.  Kaum Muslim Indonesia tentu berharap, 
Haji Jokowi tidak mau “disalib” dan “dikorbankan” untuk dinobatkan sebagai juru 
selamat kaum tertentu di Indonesia. Tapi, itu terpulang kepada Pak Haji Jokowi, 
karena beliau sendiri yang akan bertanggung jawab kepada Allah: apakah ikut 
berjuang memperkuat misi seluruh Nabi dalam menegakkan Tauhid dan Rahmatan 
lil-alamin atau mendukung dan memperkuat kesesatan dan kemusyrikan di negeri 
tercinta ini. Sebagai rakyat, kita hanya menyampaikan taushiyah, hanya sekedar 
mengingatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.*/Depok, 17 Mei 2014

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas 
Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM 
dan hidayatullah.com

Kirim email ke