KAMPANYE HITAM: DARI AMERIKA, KE MEKSIKO, LALU KE INDONESIA

Oleh Goenawan Mohamad.

Sudah beberapa lama diketahui bahwa seorang konsultan Amerika, Rob Allyn, 
bekerja untuk Prabowo. Ia membuat film, trilogi "Merah Putih", yang 
disutradarai anaknya sendiri, dan dibeayai Hasyim Djojohadikusumo -- yang bisa 
dilihat sebagai awal promosi citra keluarga jauh-jauh hari sebelum masuk ke 
dalam kompetisi jabatan presiden. 

Tak ada salahnya membuat film seperti itu. Bagaimanapun kalau itu dianggap 
kampanye, itu contoh kampanye positif. 

Yang belum secara detail diketahui ialah bagaimana Allyn berpengalaman dalam 
hal "kampanye negatif" untuk menjatuhkan lawan politik.

Allyn pernah bekerja untuk Partai Republik negara bagian Texas. Di tahun 2000 
ia membantu kampanye George Bush untuk mengalahkan John McCain dalam 
pertarungan memenangi posisi sebagai calon presiden Partai Republik. Untuk itu, 
sebuah "kampanye negatif" diluncurkan -- sesuatu yang agaknya baru dalam 
politik Amerika, setidaknya dalam ukuran dana dan intensitasnya.

Salah satu "kampanye negatif" itu adalah memburuk-burukkan kebijakan McCain 
dalam masalah lingkungan. Pada suatu hari, tiba-tiba muncul sebuah iklan: wajah 
McCain dipasang, tapi dengan ditimpa gambar asap tebal polusi. Disebutkan: 
McCain menolak penggunaan energi surya dan energi terbarukan, sementara Bush 
adalah yang pemimpin yang menutup pabrik-pabrik yang menyebabkan polusi.

Padahal, sebaliknya yang terjadi. Di masa Bush sebagai gubernur Negara Bagian 
Texas, orang Republiken yang dekat dengan bisnis minyak bumi itulah yang 
menyebabkan ibukota Texas, tertinggi polusinya di AS -- dalam catatan The 
Environmental Protection Agency.

Dikatakan iklan itu dipasang oleh grup yang menyebut diri "Republicans for 
Clean Air". Setelah ditelusuri, grup itu tidak ada. Yang diketahui kemudian: 
Allyn dapat bayaran $ 46 ribu untuk adpertensi yang banyak dikecam sebagai 
kampanye curang tu. 

Kampanye hitam terhadap McCain selanjutnya bisa lebih kotor. Wartawan Richard 
Gooding, yang sudah 30 tahun bekerja sebagai editor di New York, melaukan 
investigasi dengan melacak kembali kampanye menghantam McCain itu dalam Majalah 
terkenal Vanity Fair, November 2004. Tulisannya, "The Trashing of John McCain" 
menceritakan betapa keji dan cerdiknya kampanye yang berlangsung di tahun 2000 
itu di Carolina Selatan.

Salah satunya: sejumlah besar selebaran dibagikan dan dipasang oleh anak-anak 
yang mengaku dibayar 50 dollar untuk kerja itu. Selebaran itu menyebut McCain 
"punya anak Negro". Ada juga foto dipasang: keluarga McCain bersama seorang 
anak berkulit hitam. Dikesankan bahwa anak itu berasal dari perhubungan di luar 
nikah McCain -- anak yang kemudian dipungut sebagai bagian keluarga. Setidaknya 
dikesankan kepada masyarakat yang mengandung kebencian kepada kulit hitam bahwa 
McCain membiarkan keluarganya "cemar" oleh adanya ras hitam di dalamnya.

Bagaimana kenyataannya? Gadis hitam itu adalah Bridget. Di tahun 1991, Cindy 
McCain, putri politikus itu, pergi ke Bangladesh untuk serta dalam misi 
pemberian pertolongan kepada rakyat setempat. Bunda Teresa, biarawati yang 
bekerja untuk orang miskin di India itu, memintanya menolong seorang bocah yang 
menderita cacat rongga mulut. Cindy menerbangkannya ke Amerika untuk dioperasi. 
Putri Senator McCain itu tak sampai hati melepaskannya setelah itu. Bersama 
suaminya memutuskan mengadopsi si anak, yang mereka beri nama Bridget.

Tak banyak orang mengetahui fakta ini. Fitnah itu pun berjalan dan berhasil. 
Citra McCan rusak di wilayah yang konservatif itu. Tak cuma itu: disebarkan 
pula McCain meniduri pelacur dan kena sifilis yang ditularkannya kepada 
isterinya. Disebarkan pula cerita palsu bahwa McCain, yang sebagai pilot tempur 
di Vietnam ditangkap musuh dan dipenjarakan, telah berkhianat selama dalam 
tahanan, atau bahwa jiwanya terganggu karena penyekapan di Hanoi itu. 

Desas-desus dusta itu disebarkan melalui apa yang disebut "push polls". Semacam 
pengumpulan pendapat diselenggarakan. Caranya: menelepon orang banyak buat 
menyatakan opini mereka tentang sesuatu -- tetapi "sesuatu" itu sebenarnya 
berita bohong. Misalnya si penelepon bertanya: "Akanlah anda memilih McCain 
bila anda tahu bahwa ia punya anak di luar nikah?"

Ada juga e-mail yang dikirim ke pelbagai alamat, dilakukan oleh Richard Hand, 
tokoh Kristen fundamentalis dari Bon Jones University: "McCain memilih untuk 
melahirkan anak tanpa menikah". Disiarkan seorang tokoh Kristen, e-mail itu 
punya dampak yang luas.

Akhirnya, Bush, yang suaranya mula-mula ketinggalan, menang. Apalagi ia punya 
dana $ 8 juta, dibandingkan dengan McCain yang cuma punya $ 3 juta. 

Tidak semua kampanye hitam terhadap McCain dilakukan Allyn. Tetapi Allyn pasti 
melihat bagaimana efektifnya kampanye macam itu. Ada sebuah tulisan yang 
mencatat, ia salah satu dari dua konsultan politik Amerika yang memperkenalkan 
"teknik" itu dalam pemilihan presiden di Meksiko. 

Itu di tahun 2006, yang akan dimenangkan adalah calon sayap kanan Felipe 
Calderón. Di sana Allyn bekerja bersama seorang Amerika lain, Dick Morris. 
Keduanya jadi penasihat partai PAN yang sedang menyiapkan pengganti Presiden 
Fox, Calderón.

Calderón mula-mula melakukan kampanye yang sopan dan positif. Tapi peran Dick 
Morris and Rob Allyn tampaknya mengubah itu. Armand Peschard-Sverdrup, direktur 
the Mexico Project pada Center for Strategic and International Studies di 
Washington, sebagaimana dikutip The Mex Files, (http: // the mexfiles.net) 
mengatakan: “Ada sidik jari para pakar strategis politik Amerika elektoral di 
sana, satu hal yang dalam tradisi pemilihan Meksiko tak pernah dilakukan."

Atau kata Daniel Lund, penyenggara pol pendapat yang mendukung López Obrador, 
lawan Calderón. "Kampanye negatif Calderón memperlihatkan tulisan tangan 
Morris, yang merupakan pakar dalam urusan mengancurkan suara harapan dengan 
membangkitkan suara ketakutan."

Terbukti, López Obrador, yang mula-mula unggul dalam pol pendapat, pelan-pelan 
runtuh.

Di Indonesia, di tahun 2014, teknik yang mirip dengan yang dilakukan terhadap 
McCain (dan Obrador) kini dilakukan. Jokowi mula-mula disiarkan sebagai orang 
Kristen yang akan meng-kristen-kan Indonesia -- meskipun dalam kenyataan ia 
seorang dengan tradisi muslim yang lebih kuat ketimbang Prabowo. 

Ketika ini mulai tak meyakinkan, disebarkan bahwa Jokowi seorang PKI atau 
keturunan PKI -- bahkan PDI-P dikaitkan dengan Partai terlarang itu. Dikatakan 
bahwa semboyan Jokowi "Rolusi mental" berasal dari Marxisme. Ini suatu kampanye 
yang membodohkan, karena Marxisme justru tidak yakin akan ada revolusi mental; 
yang jadi program Marxisme adalah revolusi sosial: kondisi sosial, sebagai 
basis, harus diubah agar kondisi mental berubah.

Tapi selebaran, khotbah, twitter, dan bahkan siaran TV menyebutkan hal yang 
menyesatkan itu.

Jika teknik kampanye hitam berhasil, Indonesia akan memulai era persaingan 
kotor dalam politik, yang dibeayai dengan uang bermilyar-milyar. Bekasnya -- 
berupa kebencian -- akan berlanjut sampai bertahun-tahun mendatang. Racun itu 
akan bisa mengganggu sampai ke dalam kehidupan anak cucu kita.



catatan 

Konsultan politik ini sdh 8 bln tinggal di Apartemen Dharmawangsa.

Wednesday, 17 May 2006, 12:37 am

Opinion: narconews.com

Giordano: U.S. Political Consultants Dick Morris and Rob Allyn Are the Virtual 
Rapists of Atenco
Giordano: Konsultan Politik AS Dick Morris dan Rob Allyn Pelaku di Balik 
Pemerkosaan di Atenco

16 Mei 2006

Berbagai gambaran yang hidup dan terperinci tentang kekerasan 4 Mei di Atenco, 
Meksiko, muncul dari kesaksian lima orang asing yang terjaring dalam razia 
polisi di kota itu. Dideportasi hanya sehari setelah mereka ditangkap, kelima 
orang ini, yang terdiri dari mahasiswa, wartawan dan aktivis HAM dari Cile, 
Spanyol dan Jerman, harus hengkang dari Meksiko berdasarkan hukum negara itu 
yang melarang orang asing terlibat dalam “urusan politik”.

Namun, sebagaimana dilaporkan Al Giordano hari ini, dua tokoh berpengaruh di 
balik aksi keji yang dilakukan oleh pemerintah Meksiko belakangan ini ternyata 
adalah konsultan politik bayaran asal Amerika Serikat, orang asing yang 
terlibat secara lebih nyata dalam politik pemilihan umum di Meksiko selama enam 
tahun terakhir:

“Yang bersembunyi di balik tirai politik saat perempuan-perempuan itu diperkosa 
dan disiksa,” tulis Giordano, “adalah dua konsultan politik asal Amerika 
Serikat: Dick Morris dan Rob Allyn. Mereka menjadi penasihat Presiden Vicente 
Fox dan calon presiden yang ia dukung, Felipe Calderon, dari Partai Aksi 
Nasional (PAN dalam singkatan bahasa Spanyol) yang dipimpin Fox, tentang 
bagaimana memanipulasi media massa dan seni ‘manajemen krisis’. 

“Kesaksian mengenai penyiksaan seksual yang dikisahkan oleh para wartawan yang 
diusir itu sangat mengejutkan dan mengguncang perasaan. Setelah penangkapan di 
Atenco, kebuasan yang sama kembali dilakukan terhadap orang Meksiko, perempuan 
dan laki-laki, termasuk seorang anak muda yang duburnya disodoki tongkat 
polisi, namun orang-orang asing tersebut – yang sudah diusir sebelum sebagian 
besar korban perkosaan itu menceritakan kisah mereka agar didengar dunia luar – 
hanyalah suara-suara awal tentang horor yang telah diperbuat rezim Fox kepada 
mereka. Pekan-pekan mendatang akan penuh dengan cerita-cerita seram yang 
serupa. Kami akan menerjemahkan beberapa kesaksian yang telah diberikan di sini.

“Tetapi, pertama-tama, kami ajak anda melewati jalan kenangan yang sudah 
dilupakan ini: Sebab salah satu konsultan politik asal AS ini, Rob Allyn, 
sebagaimana pernah kami laporkan di sini enam tahun lalu, adalah seorang tokoh 
pengacau pemilihan umum di Meksiko, yang tentunya telah melanggar hukum yang 
sama yang di bulan ini digunakan secara ilegal oleh pemerintah Meksiko untuk 
mengusir kelima orang asing tadi.

“Orang Amerika yang satu lagi adalah Dick Morris, konsultan politik yang ketika 
menangani kampanye Presiden AS Bill Clinton pada tahun 1986, harus mengundurkan 
diri secara tidak terhormat ketika diketahui bahwa ia – seorang pria berstatus 
menikah – membayar seorang perempuan yang bukan istrinya $200 sejam untuk 
berhubungan seks.

Maka ketika Fox – atas nasihat pemain politik bayaran asal AS, Dick Morris dan 
Rob Allyn – mengirim pasukan polisi ke Atenco awal bulan ini untuk melakukan 
perburuan ilegal (tanpa surat perintah resmi) dari rumah ke rumah untuk 
menangkap para disiden; ketika ratusan orang diringkus, dipukuli, disiksa dan 
puluhan orang dicabuli, beberapa dengan menggunakan zakar, yang lain dengan 
jari tangan, tongkat pemukul dan senjata lain; ketika, kemudian, rezim Fox 
mengusir beberapa orang asing yang terjaring bersama lebih dari 200 orang yang 
ditangkap, semua ini terjadi di bawah perintah seorang presiden yang tak akan 
bergerak tanpa bertanya kepada pelatih bayarannya yang berasal dari AS itu. 
Pada saat-saat krisis, Fox akan mengikuti saran dan arahan dua gringo itu, 
Morris dan Allyn, yang pernah menjadi konsultan bagi beberapa presiden AS, 
yakni George W. Bush, George Herbert Walker Bush, dan Bill Clinton.

“Tak ada cara manis untuk mengatakannya: Peran mereka sebagai penasihat Fox 
dalam krisis Atenco membuat Dick Morris dan Rob Allyn sebagai pelaku di balik 
pemerkosaan atas sedikitnya 30 perempuan oleh polisi yang dikirim oleh klien 
mereka berdua pada bulan ini.”

Kirim email ke