Breaking News: Operasi Rahasia Kopassus dan BIN Untuk Mempengaruhi Hasil Pemilu 

by Allan Nairn

Kopassus dan Badan Intelijen Nasional (BIN) terlibat dalam operasi rahasia guna 
mempengaruhi pemilihan presiden.

Menurut laporan-laporan yang terdokumentasikan tentang pertemuan-pertemuan di 
markas Kopassus belakangan ini, operasi tersebut dirancang untuk menjamin 
kemenangan Jenderal Prabowo pada 9 Juli. Prabowo Subianto sempat lama menjadi 
orang binaan Pentagon dan intelijen AS.

Survey-survey menunjukkan, Prabowo kini bersaing ketat dengan lawannya yang 
sipil, gubernur Jakarta Joko "Jokowi" Widodo.

Prabowo dan Jokowi dijadwalkan berdebat di televisi untuk terakhir kalinya 
sebelum hari pencoblosan.

Pemilihan umum di negara kepulauan ini, dan di tengah diaspora global 
masyarakat indonesia, diperkirakan merupakan kedua yang paling besar di tahun 
ini. Nomor satu ditempati oleh pemilu India yang diselenggarakan Mei lalu.

Prabowo terlibat dalam kasus-kasus pembunuhan warga sipil dan penyiksaan. 
Meskipun kini memasang pose nasionalis tulen, karirnya di militer dihabiskan 
untuk bekerjasama dengan DIA (Badan Intelijen Pertahanan AS) dan 
pejabat-pejabat tingkat tinggi Amerika. Ia pun pernah membawa masuk Pasukan 
Khusus AS bersenjata lengkap ke wilayah Indonesia. 

Prabowo telah menyerukan agar hak rakyat Indonesia untuk memilih dalam 
pemilihan langsung (direct vote) dicabut. Ia menjelaskan bahwa hal ini akan 
dilakukan setelah musyawarah dengan "elit-elit politik." 

Dalam dua obrolan off-the-record bersama saya, Prabowo mengatakan Indonesia 
"belum siap untuk demokrasi." Ia katakan bahwa presiden waktu itu, Gus Dur, 
seorang ulama populer dari kalangan sipil, "bikin malu" Indonesia karena buta. 
Prabowo menyesalkan angkatan bersenjata yang tunduk pada Gus Dur dan bicara 
panjang lebar tentang masa depan politik dirinya. "Apa saya cukup punya nyali," 
tanya Prabowo, "Apa saya punya nyali untuk disebut diktator fasis?"

Rangkaian laporan dan komentar saya tentang Jenderal Prabowo telah menjadi isu 
dalam pemilu kali ini. 

[Tim] Kampanye Prabowo menuding saya "musuh bangsa" dan menghimbau agar militer 
menangkap saya. Angkatan bersenjata telah menyatakan bahwa saya telah "menjadi 
target operasional." Kamis pekan ini Prabowo berpidato, memohon agar rakyat 
Indonesia mengabaikan laporan-laporan saya tentang dirinya hanya karena saya 
orang asing. 

Laporan-laporan di bawah ini datang dari orang-orang yang terlibat dalam 
operasi BIN/Kopassus. Mereka berbicara kepada saya secara anonim.

Laporan mengenai rapat-rapat di markas Kopassus di Cijantung datang dari 
sumber-sumber yang hadir dalam rapat-rapat tersebut.

Panggilan telepon dari saya pada tanggal 4 Juli untuk meminta komentar Jenderal 
Prabowo tidak dijawab. Saya menelpon ke nomor telepon genggam yang pernah saya 
kontak saat menghubungi Prabowo sebelumnya.

----

Markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur, adalah sebuah tempat yang terkenal 
di Indonesia. 

Di tempat inilah para aktivis pro-demokrasi diculik oleh Kopassus (yang saat 
itu dimimpin Prabowo), disiksa, dan rupanya-rupanya dieksekusi pada tahun 
1997-98. Ketika itu terjadi perlawanan besar-besaran terhadap mertua Jenderal 
Prabowo, yakni Suharto, seorang diktator yang dibekingi AS. 

Tiga belas dari keseluruhan korban penculikan hingga kini masih hilang dan 
diduga telah meninggal. Salah satu pimpinan tim kampanye Prabowo, Jenderal 
Kivlan Zen, menyatakan bahwa dirnya mengetahui di mana mayat mereka dikuburkan. 

Cijantung juga merupakan situs pelatihan Kopassus yang diselenggarakan AS. Ke 
tempat ini pula para pejabat AS sering berkunjung. Selama Prabowo masih 
menjabat, sejumlah nama jenderal, Panglima Pasifik (CINCPAC) dan Sekretaris 
Pertahanan, tertulis dalam buku tamu. 

Pada suatu hari dalam pekan ini (sumber-sumber terlibat minta agar saya tidak 
menyebut tanggalnya), para agen senior Kopassus mengadakan rapat di Cijantung 
pada malam hari. 

Topik pembicaraannya adalah operasi rahasia untuk menjadikan Prabowo Presiden. 

Diantara hadirin adalah sejumlah veteran operasi-operasi rahasia di Aceh dan 
Papua Barat. 

Sang komandan-pimpinan memulai rapat dengan mengatakan "Kamu nyantai aja, kita 
udah kerja, teman-teman udah kerja semua dan kita menang — Kopassus dan 
orangnya Prabowo, kita menang."

Mereka menyebutnya "operasi khusus" yang dilakukan oleh "pasukan khusus ini."

Kendati sifatnya luar biasa--mencurangi pemilu sipil untuk memenangkan salah 
satu kandidat--sang komandan menyebut operasi tersebut sebagai perpanjangan 
(extension) dari taktik lumrah "operasi a la Kopassus".

Menurut seorang peserta rapat, operasi ini dimulai setelah pemilu legislatif 
April lalu, ketika Prabowo dan Jokowi keluar sebagai dua kandidat presiden. 

Menurut aturan hukum Indonesia, angkatan bersenjata dan badan-badan intelijen 
harus mengambil sikap netral. 

Anggota aktif TNI bahkan tidak punya hak untuk memilih.

Presiden Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah seorang jenderal 
pensiunan. Susilo juga bekas atasan Prabowo.

Susilo secara teknis netral dalam pemilihan ini, walaupun baru-baru ini dia 
memberi sinyal bekingan ke Prabowo. 

Menurut bahasan rapat tersebut dan rapat-rapat lainnya, dan menurut pihak-pihak 
yang terlibat, operasi rahasia ini akan melibatkan kecurangan di bilik suara 
(ballot tampering), aksi kekerasan jalanan, ancaman terhadap pendukung Jokowi, 
dan jika perlu "menghabisi orang."

Operasi tersebut juga melibatkan tindakan-tindakan berskala lebih kecil, 
termasuk oleh pihak-pihak yang terpancing--dalam pandangan mereka--fakta bahwa 
artikel saya yang mengutip cercaan Prabowo terhadap Gus Dur telah menjadi isu 
di akar rumput. 

Minggu lalu ketika saya mengeluarkan artikel tersebut, muncul spanduk-spanduk 
di jalanan yang menampilkan foto Gus Dur berjejer dengan kutipan Prabowo yang 
berbunyi: 

"Militer pun bahkan tunduk pada presiden buta! Bayangkan! Coba lihat dia, bikin 
malu saja!" 

Menurut seorang agen, "soal spanduk itu sangat ditakuti di dalam [pimpinan tim 
Kopassus/BIN], sangat merugikan." 

Akibatnya, orang-orang berkendaraan sepeda motor Kopasus diperintahan untuk 
melepas spanduk-spanduk tersebut.

Namun demikian, bahwa Prabowo melecehkan Gus Dur masih dibahas hingga kini.

Kamis kemarin, sesuai permintaan mereka, saya bertemu dengan keluarga Gus Dur 
di Jakarta. (lihat "Regarding the Late Gus Dur," "Terkait Almarhum Gus Dur").

-----

Operasi Kopassus/BIN untuk mencurangi bilik suara--setidaknya menurut yang 
diketahui sumber-sumber saya--tidak menyasar tabulasi suara di pusat, melainkan 
penghitungan suara pada TPS-TPS yang terletak di unit-unit kecil pemerintahan 
setempat, dari kabupaten ke bawah (local precincts).

Operasi ini akan melibatkan pendistribusian uang terselubung (covert money) 
yang kini tengah berlangsung, "uang itu tidak kelihatan, uang di pinggir jalan."

Uang tersebut (sebagian besar dalam bentuk uang kontan) digunakan untuk "main 
dengan kertas suara", dengan menempatkan agen di dalam ruang-ruang penghitungan 
suara atau membayar pegawai negeri yang akan mengawal kotak suara. 

Upaya ini khususnya difokuskan di Jawa Tengah, Bawat dan Timur, namun katanya 
akan berlangsung pula di sejumlah tempat di seluruh provinsi.

Menurut para peserta rapat, uang ini didistribusikan lewat Kopassus dan BIN, 
namun sumber utama dari dana ini masih rahasia, "sangat tertutup sumbernya dari 
mana".

Menurut pihak-pihak yang terlibat, operasi rahasia ini dijalankan oleh para 
komandan senior. Untuk Kopassus sendiri, mereka sebetulnya belum yakin akan 
peranan komandan Kopassus, Jenderal Agus Sutomo. Namun, seperti yang diklaim 
dalam salah satu rapat di Cijantung, persetujuan tersebut datang dari Presiden, 
Jenderal Susilo, sebagai "perintah langsung" yang turun dalam minggu-minggu 
terakhir ini, dan bahwa koordinasi operasi--di luar rantai komando--berasal 
dari Prabowo.

(Prabowo sebenarnya dipecat dari militer setelah kalah dari perebutan kekuasaan 
pada tahun 1998. Jenderal Susilo adalah salah satu dari para jenderal yang 
menandatangani perintah pemecatan tersebut).

Meski demikian, dalam kasus BIN, kepala BIN saat ini, Marciano Norman, 
dikatakan terlibat penuh (fully on board) dalam operasi tersebut. Marciano 
dekat dengan Aburizal Bakrie, seorang oligark dan pendukung Prabowo. 

BIN memiliki hubungan dengan CIA. Namun masih belum jelas--sama 
sekali--bagaimana CIA berhubungan dengan operasi ini.

----

Banyak orang Indonesia menyatakan kekhawatiran mereka bahwa pemilu kali ini 
akan berlangsung dengan kekerasan.

Operasi Kopassus/BIN diam-diam telah melakukan kekerasan atas nama kubu Prabowo.

Diantara mereka yang berada di ruang rapat Cijantung itu adalah para organizer 
berlatar belakang agen sipil yang mendapat tugas dari Kopassus untuk membuat 
"ribut di bawah."

Beberapa peserta rapat mengaku telah memancing massa bayaran untuk menyerang 
pertemuan-pertemuan pro-Jokowi dan lainnya. Mereka bekerjasama dengan 
milisi-milisi jalanan milik Prabowo yang telah mendapat pelatihan di Bogor. 
Beberapa unit serupa digambarkan "..sudah berlatih, [dan] sering merampok di 
mana mana."

Taktik yang sering dipakai Kopassus/BIN ini ditambah lagi dengan pendekatan 
baku lainnya: telepon dan sms anonim yang mengancam sasaran yang dituju atau 
orang-orang terdekat mereka dengan kematian, atau hal yang lebih buruk dari 
itu. 

Pada kenyataannya, sebuah buku panduan lama Kopassus yang bocor ke publik telah 
secara resmi menyebutkan keberadaan taktik ini. Panduan itu menyatakan: anggota 
Kopassus harus terlatih menggunakan "taktik dan teknik teror."

Terkait pelaksanaan ancaman-ancaman tersebut, pembunuhan politik yang dilakukan 
Kopassus memiliki sejarah yang panjang. BIN dikenal dengan teknik-tekniknya 
yang rumit, misalnya arsenik yang digunakan untuk membunuh Munir. 

Namun, pembunuhan politik dalam pemilihan tingkat nasional adalah urusan 
sensitif. Dalam salah satu rapat di Cijantung, dinyatakan bahwa dulu jika 
situasi bertambah buruk, mereka akan "ambil orang, habisi orang", seperti yang 
dilakukan Kopassus di bawah pimpinan Prabowo selama krisis tahun 1997-98.

Namun sekarang keadaannya berbeda. Pelaku operasi senyap harus memiliki 
sensitivitas politik. Seorang peserta rapat berkomentar terkait sejumlah 
target, "[orang] bisa melukai", tapi mungkin tidak membunuh mereka. 

Lebih ke pokok persoalan, dalam sebuah rapat muncul satu pernyataan menyangkut 
pembunuhan: "Paling tidak, dalam kondisi ini, [orang-orang top] dari kubu 
[Jokowi], jangan." Namun buat "karyawan kecil [Jokowi], entah--nggak apa-apa."

Kebijakan ini nyaris paralel dengan apa yang dikatakan Prabowo kepada saya di 
tahun 2001 tentang pembantaian massal: jangan lakukan [pembantaian] di ibukota, 
di depan para saksi, "tapi di desa-desa di mana tak seorang pun tahu."(Lihat: 
"Do I have the guts," Prabowo asked, "am I ready to be called a fascist 
dictator?").

Mengacu pada perencanaan kemungkinan pembunuhan/penganiayaan dalam waktu dekat 
ini, salah seorang komandan Kopassus di Cijantung mengatakan: "Orang sipil 
tidak bisa, hanya kopasus yang bisa."

Pernyataan ini mengacu pada fakta bahwa banyak dari kerja-kerja operasi di 
lapangan dilakukan oleh orang-orang sipil yang secara rahasia bekerja sebagai 
agen Kopassus paruh waktu/tetap. 

Pada tanggal 9 November 2010, saya mengeluarkan dokumen-dokumen Kopassus yang 
diantaranya meliputi daftar aktivis yang ditarget Kopassus di Papua. 
Dokumen-dokumen tersebut juga merinci jaringan agen sipil Kopassus di tempat 
yang sama. 

Menurut data-data personil Kopassus yang saya laporkan saat itu, jejaring agen 
sipil Kopassus meliputi "reporter suratkabar lokal dan stasiun-stasiun televisi 
nasional, mahasiswa, staf hotel, seorang pegawai pengadilan, seorang pegawai 
negeri sipil yang bekerja di bidang seni dan budaya, seorang anak usia 14 tahun 
... petani [lebih dari satu]. buruh [lebih dari satu] ... sopir ojek, [dan] 
seorang penjaga kios pula yang mengawasi orang-orang yang membeli SIM card, 
serta seorang sopir yang bekerja pada sebuah perusahaan rental mobil..."

Dengan jejaring seperti ini, Kopassus memiliki posisi yang nyaman untuk 
mengintai--dan bertindak melawan--orang-orang yang menarik perhatian mereka 
dalam pemilihan yang akan berlangsung pekan depan dan di waktu-waktu 
pasca-pilpres.

LINK : 
http://www.allannairn.org/2014/07/breaking-news-operasi-rahasia-kopassus.html?m=1

Kirim email ke