#MelawanLupa : Ini Dia Daftar Skandal Korupsi Pertamina

Naiknya harga gas elpiji telah membuat rakyat menjerit. Awal tahun baru yang 
buruk sekali dari SBY (dan Ibu Negara). Rakyat mengamuk semua meski dalam hati 
, belum aksi di jalanan. Namun rakyat menjerit, dan mungkin akan mengamuk di 
jalanan kalau harga Sembako naik pula. Dalam media sosial pertengahan tahun 
lalu, dituliskan, Direktur Eksekutif Petromine Watch Indonesia, Urai Zulhendri, 
mengaku mendapat kabar dari salah seorang sumber di Pertamina, yang 
mengungkapkan bahwa istilah subsidi ternyata hanya kebohongan pemerintah dan 
Pertamina.

“Saya sendiri juga perih menyaksikan kerakusan para pejabat di Pertamina. Harga 
premium & solar dari Russian oil itu cuma US$ 425 per metrik ton atau sekitar 
kurang dari Rp 4.300,- per liter.”

Melalui Petral angka US$ 425 tsb di-mark up lagi US$ 300 sehingga menjadi US$ 
725, dan oleh Pertamina disempurnakan mark up-nya menjadi US$ 950. Angka inilah 
yang kemudian disebut sebagai harga pasar yang mengharuskan adanya istilah 
subsidi tersebut.

“Tidak hanya itu, bahkan ada dugaan kuat juga mark up yang dilakukan PT 
Pertamina (Persero) sebesar US$ 125, dicurigai sebagai bentuk upeti/Commitment 
Fee dari Karen Agustiawan (Dirut Pertamina) yang diduga diberikan kepada Ani 
Yudhoyono, untuk mempertahankan posisinya sebagai Dirut Pertamina,” ungkap 
sumber tersebut seperti dikutip Zulhendri yang diforward ke pesatnews.com, 
Kamis (13/6/2013).

Berita seperti ini dengan sangat cepat beredar di publik, yang pada akhirnya 
berhasil membentuk opini publik bahwa pemerintah memang bohong.

Mafia Migas

Satu lagi pemberitaan di media sosial yang secara kasat mata menelanjangi 
pemerintah terkait BBM. Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli mengajak rakyat 
untuk menolak rencana pemerintah menaikkan harga (BBM).

Menurut dia, masih banyak cara yang bisa ditempuh pemerintah untuk 
menyelamatkan APBN tanpa harus menaikkan harga BBM.

“Kok salah kebijakan atau langkah dalam bidang listrik dan energi rakyat yang 
harus tanggung? Tolong belajar kepemimpinan dari DanJen Kopasus. Mari kita 
tolak kenaikan BBM kecuali SBY berani sikat mafia migas yg suka setor ke Istana 
Hitam dan bangun Kilang BBM dalam 2 tahun,” tulis Rizal dalam dalam kultwit 
beralamat @chirpstory, Selasa (9/4).

Menurutnya lagi, salah satu langkah yang harus dilakukan pemerintah sebelum 
menaikkan harga BBM adalah menyikat mafia migas yang selama ini membuat biaya 
BBM tinggi.

Para mafia migas ini memperoleh banyak sekali keuntungan dari bisnis migas yang 
tidak transparan. Jangan lupa, lanjut Rizal Ramli, 63 juta pengguna sepeda 
motor yang jelas-jelas rakyat menengah bawah memakai BBM. Ini alasan kuat untuk 
menyikat mafia migas yang suka menyetor ke Istana Hitam.

“Di kalangan bisnis migas, dikenal Mr two dollar. Mereka memperoleh fee 
sedikitnya US$ 2/barel dari minyak mentah (400.000 barel/hari) dan minyak jadi 
yang diimpor (500.000 barrel). Fee US$2/barel ini ketika harga minyak masih 
sekitar USD60/barel. Kini, setelah harganya di atas USD 90/barel, keuntungannya 
lebih besar. Mereka bisa mengantongi keuntungan nyaris Rp 10 trilliun dari 
impor BBM. Jadi, sikat dulu mafia migas, sebelum bicara kenaikan harga BBM,” 
papar Rizal yang juga Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini.

Sejatinya soal mafia migas ini sudah jadi bisik-bisik nasional. Selain DR. 
Rizal Ramli, sejumlah tokoh lain juga sering menyinggung soal ini.

Pakar perminyakan DR. Kurtubi, misalnya. Dia juga mengecam dominasi mafia migas 
yang membuat harga BBM di dalam negeri jadi tinggi.

Bahkan Tempo.co pernah menulis mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin 
menyerahkan US$5 juta kepada Ani Yudhoyono yang disebutnya sebagai setoran dari 
Pertamina.

Terkait soal ini, Rizal Ramli mempertanyakan moralitas mereka yang berencana 
menaikkan harga BBM, tapi diam-diam menerima setoran dari mafia migas.

Masalah utama lainnya seputar migas adalah produksi yang terus-menerus turun. 
Di sisi lain, cost recovery-nya justru naik terus. Padahal, dulu lifting minyak 
Indonesia pernah mencapai 1,5 juta barel per hari. Kini, produksi itu hanya 
berkisar di 900.000 barel per hari.

Tentu ada yang tidak beres di sini. Kurtubi bahkan menyebut kebijakan 
perminyakan Indonesia sebagai yang terburuk di Asia Pasifik. Padahal cadangan 
minyak kita yang terbukti masih besar. Jika produksi bisa dinaikkan, tentu 
impor akan bisa ditekan hingga tingkat minimal.

Suap DPR Rp 5 T

Ada lagi berita lain berjudul “Ada Dana ‘Suap’ 5 T ke DPR Untuk Amankan BBM 
Naik?” Dana itu disediakan untuk amankan politisi Senayan dan parpol oleh 
petinggi Istana Negara.

Berita ini dikirimkan melalui BlackBerry Massenger (BBM) kepada Koordinator 
Petisi 50 Haris Rusly Moti atasnama Reza, yang diforward ke berbagai media 
online.

Dugaan ini, menurutnya, merupakan berita yang membuat hati dan perasaan kita 
teriris-iris serta tersayat-tersayat, karena pengkhianatan lagi-lagi terjadi di 
lembaga negara, yang harusnya membela rakyat karena sebagai wakilnya.

“Tapi ternyata politisi Senayan, yang nyaman dengan sebutan dewan terhormat, 
malah berkhianat kepada rakyatnya, majikannya dengan menjadi pembunuh bayaran 
rakyat. Keadaan ini sama dengan proyek pembunuhan missal,” paparnya.

“KPK harus segera turun tangan awasi fraksi parpol di DPR yang menerima sogokan 
untuk mendukung kenaikan harga BBM!” seru mantan ketua umum Partai Rakyat 
Demokratik (PRD) ini.

Ia pun mempertanyakan, subsidi BBM yang katanya dikurangi dengan kebijakan 
menaikan harga BBM dari Rp 4.500 menjadi Rp6.500 per liter. “Harusnya alokasi 
subsidi BBM di RAPBN menurun atau berkurang. Tapi kok aneh, subsidi BBM di 
RAPBN-P juga meningkat dari Rp194 triliun menjadi Rp210 triliun,” bebernya.

Dana Misterius IMF

Ada lagi judul lain, “Pemerintah SBY Setor Dana Misterius ke IMF Rp 25,8 
Triliun.”

Penyetoran ini masuk dalam item penyertaan modal laporan keuangan pemerintah 
pusat (LKPP) semester I tahun 2012. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran 
(Fitra) mempertanyakan tujuan penyetoran tersebut.

“Ini misterius, untuk apa setorannya, belum ketahuan,” kata Direktur Riset 
Fitra, Yenny Sucipto, dalam jumpa pers di Sekretariat Fitra di Jakarta, Minggu 
(16/12/2012).

Menurutnya, tujuan penyetoran dana ini belum jelas. Dalam LKPP semester I tahun 
2012 hanya tertulis bahwa dana triliunan rupiah itu disetorkan Pemerintah ke 
IMF pada 2011 sebagai kewajiban keanggotaan di organisasi atau kembaga keuangan 
internasional maupun regional.

Setoran yang cukup besar ini, menurut Yenny, jelas merugikan keuangan negara 
karena belum diketahui apa keuntungan balik yang didapat Pemerintah dari 
penyetoran tersebut.

“Seharusnya merugikan negara. Kita buktikan nanti dalam laporan LKPP di tahun 
berikutnya, di semester II tahun 2012 atau di semester I 2013,” ujarnya.

Yenny juga menduga kalau penyertaan modal kepada IMF ini merupakan awal dari 
kerja sama pemerintah dengan lembaga pendanaan asing tersebut.

Dia juga mengatakan, penyetoran dana ke IMF ini misterius karena tidak 
ditemukan dalam LKPP tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Yenny, setoran triliunan rupiah ini bukanlah pembayaran cicilan uang 
Pemerintah kepada IMF. “Kalau pembayaran utang kan item-nya ditulis berbeda di 
LKPP. Kalau utang itu akan tertulis di item pembayaran utang atau belanja,” 
katanya.

Selain ke IMF, pemerintah menyetorkan dana miliaran rupiah ke empat lembaga 
asing lainnya, yakni International Bank for Reconstruction Development sekitar 
Rp 39 miliar, International Development Association sekitar Rp 5 miliar, 
Multilateral Investment Guarantee Agency sekitar Rp 10 miliar, dan Common Fund 
for Commodities senilai Rp 2,6 miliar.

Adapun total penyertaan modal untuk lima lembaga asing tersebut sekitar Rp 25,9 
triliun.

Bohongi DPR

Berita lain lagi berjudul “Mau Bohongi DPR Masalah BBM, Pemerintahan 
SBY-Boediono Malah Ketahuan.”

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyesalkan sikap pemerintahan SBY-Boediono 
yang berupaya mengecoh DPR terkait dengan kompensasi kenaikan harga bahan bakar 
minyak (BBM) untuk sektor infrastruktur.

Meski menjanjikan tambahan anggaran infrastruktur sebesar Rp 6 triliun dalam 
APBN-P 2013, namun sebenarnya anggaran untuk pembangunan infrastruktur 
dipangkas hampir Rp 9 triliun.

“Pemerintah benar-benar berupaya mengecoh kami dengan menyebutkan kompensasi 
kenaikan harga BBM akan dialokasi untuk penambahan anggaran untuk pemenuhan 
infrastruktur dasar. Tapi, dalam prakteknya, anggaran belanja modal dipangkas 
hampir Rp 9 triliun. Jadi, sebenarnya tidak ada penambahan anggaran untuk 
infrastruktur. Yang ada justru pemangkasan belanja modal. Karena pemangkasannya 
lebih besar dari dana yang dikembalikan,” kata anggota Komisi V DPR dari Fraksi 
PKS, Yudi Widiana Adia, beberapa saat lalu (Rabu, 12/6).

Sesuai dengan surat Menkeu No. S-339/MK.02/2013, kementerian dan lembaga 
diminta melakukan penghematan anggaran untuk mendukung pengamanan pelaksanaan 
APBN tahun 2013.

Kementerian PU memangkas anggaran belanja terbesar dari seluruh kementerian dan 
lembaga, yakni sebesar Rp 6,1 triliun. Selain Kemneterian PU, Kementerian 
Perhubungan juga terpaksa memangkas belanja modalnya sebesar Rp 2,7 triliun.

Sementara Kemenpera dan kemneterian PDT memangkas belanja modalnya 
masing-masing Rp 443 miliar dan Rp179 miliar. Pemangkasan belanja modal 
khususnya di Kemneterian PU, kata Yudi, otomatis target pembangunan 
infrastruktur untuk berbagai proyek menjadi terhambat. Seperti pembangunan 
jalan, jembatan, air bersih dan prasarana permukiman.

“Untuk peningkatan kapasitas jalan, pencapaian kinerjanya masih dibawah 50 
persen. Sekarang anggarannya dipangkas lagi. Bagaimana bisa memberikan rakyat 
jalan yang mulus? Anggarannya saja tidak ada,” kata Yudi.

Untuk menutupi defisit anggaran, kata Yudi, pemerintah tidak perlu mengorbankan 
pembangunan infrastruktur untuk rakyat. Kekurangan dana dalam RAPBNP 2013, 
dapat dilakukan dengan pemanfaatan Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Alternatif untuk menutup kekurangan dana adalah dengan sedikit mengubah postur 
APBNP 2013, diantaranya dengan memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) secara 
optimal. SAL tahun 2012 mencapai Rp 69,77 triliun yang merupakan penjumlahan 
dari SAL 2011 sebesar Rp 35,76 triliun dan SILPA tahun 2012 sebesar Rp3 4 
triliun.

“Tentu saja SAL dapat dialokasikan untuk cadangan fiskal tetapi mengingat 
pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana penyerapan anggaran tidak optimal maka 
cadangan fiskal tidak harus terlalu besar, karena akan terdapat SILPA di tahun 
2013,” lata Yudi.

Di sisi lain, kata Yudi, pemerintah harus meningkatkan penerimaan pajak. Hal 
ini masih memungkinkan mengingat kondisi tax ratio yang masih potensial untuk 
bisa ditingkatkan.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga masih potensial untuk ditingkatkan. 
Penerimaan royalti dan bagi hasil migas dan pertambangan memungkinkan 
dioptimalisasi.

Kementerian terkait juga perlu melakukan upaya serius untuk mengolah minyak 
bagian pemerintah di kilang-kilang dalam negeri, sehingga nilai tambah sektor 
migas dapat optimal bagi perekonomian domestik.

Semua cerita di atas adalah informasi yang beredar di publik, yang sukses 
mempengaruhi pikiran rakyat bahwa kebijakan pemerintah menaikkan BBM adalah 
bohong.

Kebohongan adalah awal dari sebuah ketidakpercayaan, dan itu sangat berbahaya 
karena akan berimbas pada berbagai kebijakan pemerintah ke depannya.

Pemerintah punya otoritas menaikkan BBM saat ini dan rakyat akan pasrah 
menerimanya. Tetapi rakyat punya kesempatan besar untuk tidak mempercayai 
pemerintah dan partai koalisi yang mendukung kenaikkan BBM, dengan tidak 
memilih partai-partai tersebut lagi pada Pemilu 2014.

Jika itu yang terjadi, maka logika komunikasi politik pemerintah harus diubah, 
tidak lagi dengan menebarkan dalili-dalil membohongi publik, tetapi dengan 
langkah persuasif dan jujur.

Kirim email ke