Satu hal kita bisa cepat setuju dengan Fareed Zakaria bahwa Islam bukan : "ibu(sumber) segala ide jahat"). Tapi juga sebagian dari kenyataan memperlihatkan seolah demikian dan bahkan yang "seolah" itu tidak bisa kita menolaknya dengan pejaman mata. Indonesia punya sejarahnya sendiri dengan Islam. Dan sebagai sebagian dari sejarah, punya sedikit banyak berhubungan dengan apa yang disimpulkan Maher dan Harris yang dikoreksi oleh Fareed Zakaria dalam tulisan di bawah ini. Kita pernah punya DI/TII. Mereka ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Indonesia yang sejak lama mempunyai pendududuk mayoritas terbesar adalah Islam membuat gagasan mereka mendirikan negara Islam, juga mempunyai latar belakang dasar sejarahnya juga. Namun mereka gagal. Rakyat Indonesia memang pemeluk agama Islam yang terbanyak, namun mereka tidak bermaksud menjadikan agama dan Islam mereka menjadi alat politik untuk mendirikan sebuah negara Islam. Dan di sinilah letak INTI persoalannya. Islam masuk Politik dan tidak sekedar itu. Agama akan dijadikan bagian terbesar dari politik dan bahkan hingga agama(Islam) itu luruh menjadi politik seluruhnya. Sedangkan dunia saja berpendapat agama harus dipisahkan dari politik. Hal itu wajar saja. Politik mengurusi organisasi manusia dan materi dan HANYA untuk di dunia fana ini saja. Politik mengenal waktu, agama tidak dan urusan agama adalah persiapan menghadapi mati, menemui ahirat dan Tuhan,menantikan pengadilanTuhan dan bukan Mahkamah Agung, Namun politik dan agama bisa saling hidup berdampingan. Namun juga bila agama ingin menguasai politik, dan menggantikan politik untuk mengurusi organisasi manusia dan materi maka agama (termasik Islam) akan kehilangan sifat toleransinya karna dalam politik kekuasaan adalah inti terpokok dengan alat satu-satunya: PEMAKSAAN. Agama plus kekuasaan dan pemaksaan sebagai campuran resep politik, pasti akan melahirkan dogmatisme, fanatisme dan selalu akan berujung TERRORISME agama+negara. Dan itulah yang dikatakan Maher dan Harris sebagai "the mother lode of bad ideas"bila telah mempunyai tujuan untuk berpolitik dan menjadikan negara agama. Kekurangan Maher dan Harris dalam menyimpulkan kriteriumnya adalah karna dia tidak melihat TUJUAN POLITIK yang telah merasuki sesuatu agama (Islam).Dan kedua orang ini menyama ratakan saja antara agama yang dianaut secara murni dan agama yang bertujuan menguasai politik dan dan mendirikan negara agama. Intoleransi dan terorisme yang disebut Maher dan Harris sebagai "the mother lode of bad ideas", tidak lain hanyalah ide yang ingin mendirikan negara agama dengan politik sebagai kendaraan dan memang hanya kendaraan politiklah satu satunya yang bisa mencapai untuk tujuan pendirian sebuah negara agama. Kesimpulan Maher dan Harri itu hanya berlaku bila agama dan politik telah menjadi satu dan punya tujuan untuk mendirikan negara Agama (Islam). Tapi faktor tingkat peradaban seperti yang dikatakan Prof.Dr. Salim Said, sudah pasti punya peran dalam lahirnya bad ideas seperti yang disinyalir Maher dan Harris, karena memang tingkat peradaban bangsa kita belum(meskipun pernah) tinggi,maka faktor politik menjadi lebih parah lagi yang membuat nasib Islam di negeri kita dalam keadaan "Sudah jatuh ditimpa tangga".Politik jelek, peradaban rendah. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Sukardi Rinakit ; Christianto Wibisono ; Ichsan Loulembah ; Makmur Makka ; alfan alfian ; [email protected] ; [email protected] ; Institut Peradaban ; Mangadang Napitupulu ; [email protected] ; Nanan Soekarna ; AM Fatwa ; [email protected] Sent: Sunday, October 12, 2014 3:36 AM Subject: Fwd: Farid Zakaria di WaPo Soal Tingkat Peradaban, Bukan Karena Ajaran. Fareed Zakaria (Wahington Post, 9 Oktober 2014) jelas tidak salah ketika menunjukkan bahwa Islam punya problem sekarang ini. Kalau kita secara saksama membaca sejarah Islam, sesungguhnya Islam punya sejumlah persoalan sejak lama, bahkan bermula tidak berselang lama setelah Nabi dan Rasullah Muhammad wafat. Konflik Syiah -Sunni hampir sama tuanya dengan sejarah Islam itu sendiri. Ini cuma salah satu satu contoh dari persoalan yang kini menyebabkan pertumpahan darah di sebagian besar penjuru jazirah Arab. Kita memerlukan sejumlah buku untuk membahas rentetan konflik --sebagian berdarah-- dalam perjalanan sejarah Islam. Tapi sejarah Islam bukan cuma cerita tentang kekerasan. Lewat renaissans (kelahiran kembali) dan pencerahan, peradaban Barat moderen mendapat kesempatan memasuki sejarah. Pemikiran-pemikiran lama yang menjadi dasar renaissans yang memungkinkan Eropa memasuki abad pencerahan, hampir semuanya bersumber pada naskah-naskah kuno yang "diselamatkan" oleh peradaban Islam. Pada zaman kejayaan Islam, naskah-naskah kuno para pemikir Yunani dan klasik diterjemahkan dan dipelajari pada "akademi" Islam setelah diterjemahkan ke bahasa Arab dan bahasa Parsi. Dari bahasa-bahasa Arab dan Parsi itulah Barat mengambil alih pemikiran-pemikiran Yunani dan Latin yang menjadi landasan renaissans dan pencerahan Eropa. Ketika peradaban Islam sedang tinggi-tingginya, Eropa berada dalam abad kegelapan.Tatkala orang-orang Islam sudah mandi dan memaki sabun, di Barat orang umumnya belum mengenal kebiasaan membersihan tubuh mereka. Mandi dengan sabun adalah bagian dari kebiasan Barat yang mereka peroleh dari Perang Salib. Para tentara Salib melihat tentara Islam pimpinan Salahuddin Al Ayyubi secara teratur mandi dengan menggunakan sabun. Makal lalu mereka menirunya dan membawa kebiasaan mandi bersabun ke Eropa. Ini sama sejarahnya dengan makanan Italia,spagetti, yang merupakan tiruan dari mie makanan China yang dibawah ke Italia oleh Marco Polo Sejarah dan peradaban berjalan tidak linear melainkan secara dialektis. Barat yang belajar dari peradaban Islam (ingat kemajuan di Andalusiia, bagian dari Sepanyol sekarang) akhirnya mengungguli peradaban Islam. Akibat peradaban yang lebih tinggi itu, dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme, Eropa menjajah seluruh wilayah dunia Islam. Perjuangan kemerdekaan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme Barat sejak abad ke 19 lahir dalam berbagai bentuk mengikut berbagai tafsiran terhadap Islam.Setuju atau tidak, suka atau tidak, sejumlah tafsiran menghalalkan jalan kekerasan dalam perang melawan para penindas, terutama yang dipandang sebagai tergolong kafir. Kita berada dalam keadaan seperti itu sekarang. Dalam menutup tanggapan saya kepada tulisan Fareed Zakaria, saya ingin berbagi kesimpulan: persoalan utama Islam dewasa ini adalah soal tingkat peradaban.Ketika dulu dunia Islam berperadaban tinggi, mereka sangat toleran, melindungi Yahudi dan Kristen, dan terbiasa dalam perbedaan penafsiran Islam. Persoalan dunia yang kita saksikan dan alami sekarang-- tidak toleran, menghalalkan kekerasan, dan bahkan tidak percaya sesama ummat Islam -- adalah akibat rendahnya peradaban di dunia Islam sejak bangkitnya peradaban Barat. Fareed Zakaria: Let’s be honest, Islam has a problem right now By Fareed Zakaria Opinion writer October 9 at 8:04 PM When television host Bill Maher declares on his weekly show that “the Muslim world . . . has too much in common with ISIS ” and guest Sam Harris says that Islam is “the mother lode of bad ideas,” I understand why people are upset. Maher and Harris, an author, made crude simplifications and exaggerations. And yet, they were also talking about something real. I know the arguments against speaking of Islam as violent and reactionary. It has a following of 1.6 billion people. Places such as Indonesia and India have hundreds of millions of Muslims who don’t fit these caricatures. That’s why Maher and Harris are guilty of gross generalizations. But let’s be honest. Islam has a problem today. The places that have trouble accommodating themselves to the modern world are disproportionately Muslim. In 2013, of the top 10 groups that perpetrated terrorist attacks, seven were Muslim. Of the top 10 countries where terrorist attacks took place, seven were Muslim-majority. The Pew Research Center rates countries on the level of restrictions that governments impose on the free exercise of religion. Of the 24 most restrictive countries, 19 are Muslim-majority. Of the 21 countries that have laws against apostasy, all have Muslim majorities. There is a cancer of extremism within Islam today. A small minority of Muslims celebrates violence and intolerance and harbors deeply reactionary attitudes toward women and minorities. While some confront these extremists, not enough do so, and the protests are not loud enough. How many mass rallies have been held against the Islamic State (also known as ISIS) in the Arab world today? The caveat, “Islam today,” is important. The central problem with Maher’s and Harris’s analyses are that they take a reality — extremism in Islam — and describe it in ways that suggest it is inherent in Islam. Maher says Islam is “the only religion that acts like the Mafia, that will [expletive] kill you if you say the wrong thing, draw the wrong picture or write the wrong book.” He’s right about the viciousness but wrong to link it to “Islam” — instead of “some Muslims.” Harris prides himself on being highly analytical — with a PhD, no less. I learned in graduate school that you can never explain a variable phenomenon with a fixed cause. So, if you are asserting that Islam is inherently violent and intolerant — “the mother lode of bad ideas” — then, since Islam has been around for 14 centuries, we should have seen 14 centuries of this behavior. Harris should read Zachary Karabell’s book “Peace Be Upon You: Fourteen Centuries of Muslim, Christian and Jewish Conflict and Cooperation.” What he would discover is that there have been wars but also many centuries of peace. Islam has at times been at the cutting edge of modernity, but like today, it has also been the great laggard. As Karabell explained to me, “If you exclude the last 70 years or so, in general the Islamic world was more tolerant of minorities than the Christian world. That’s why there were more than a million Jews living in the Arab world until the early 1950s — nearly 200,000 in Iraq alone.” If there were periods when the Islamic world was open, modern, tolerant and peaceful, this suggests that the problem is not in the religion’s essence and that things can change once more. So why is Maher making these comments? I understand that as a public intellectual he feels the need to speak what he sees as the unvarnished truth (though his “truth” is simplified and exaggerated). But surely there is another task for public intellectuals as well — to try to change the world for good. Does he really think that comparing Islam to the Mafia will do this? Harris says that he wants to encourage “nominal Muslims who don’t take the faith seriously” to reform the religion. So, the strategy to reform Islam is to tell 1.6 billion Muslims, most of whom are pious and devout, that their religion is evil and they should stop taking it seriously? That is not how Christianity moved from its centuries-long embrace of violence, crusades, inquisitions, witch-burning and intolerance to its modern state. On the contrary, intellectuals and theologians celebrated the elements of the religion that were tolerant, liberal and modern, and emphasized them, while giving devout Christians reasons to take pride in their faith. A similar approach — reform coupled with respect — will work with Islam over time. The stakes are high in this debate. You can try to make news or you can make a difference. I hope Maher starts doing the latter. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
