Tulisan pak Syarif Maarif tentang dendam justru mengingatkaan kita betapa rasa dendam itu mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat meskipun terpendam rapat tak tembus air. Tapi sekali timbul kesempatan untuk dilampiaskan, maka dendam akan memperlihatkan kehebatannya yang tak bisa diduga orang. Dalam ilmu Marxis, rasa dendam digunakan untuk perjuangan yang mereka sebut DENDAM KLAS. Rakyat yang tertindas dan terhisap oleh penguasa yang semula tak berdaya, lalu oleh kader-kader revolusioner dibangkitkan rasa dendam itu untuk melawan para penindas dan penghisap rakyat. Dendam klas bersifat dan bermuatan politik serta merupakan kekuatan yang luar biasa bila berhasil menggunakannya. Contoh yang paling dekat dan masih hangat adalah rasa dendam rakyat Vietnam terhadap kebuasan Imperialis Amerika di negeri mereka. Dengan rasa dendam klas yang dibangkitkan oleh para kader dan Partai revolusioner yang memimpin pemberontakan rakyat, rakyat Vietnam telah berhasil mengusir dan membasmi tentara agresor AS yang kuat dan bersenjata super moderen dari Vietnam. Vietnam yang ketika itu miskin,lapar, terbelakang dan tampak lemah telah menjadi pasukan perkasa tak terkalahkan karna dipersenjatai dengan rasa dendam terhadap musuh mereka. INI DENDAM KLAS dan bukan dendam pribadi tapi dendam kolektif, dendam seluruh nasion yang tergabung menjadi dendam klas.
Apakah dendam Prabowo dan KMP-nya juga dendam klas?. YA. Dendam mereka adalah dendam klas sebagai yang terdasar meskipun juga terselip dendam pribadi yang gabungan ini justru menjadi lebih kental dan lebih pekat lagi dan kita tidak boleh memisahkan antara dendam klas dan dendam pribadi yang merekan emban.Karena bila melihatnya hanya sekedar dendam pribadi kita akan salah besar dan mengecilkan persoalan yang begitu teramat besar: PEREBUTAN KEKUASAAN. Dan bukan sekedar ngambek atau kedongkolan semata. Karenanya, menghadapi perlawanan Prabowo dan seluruh klik-nya tidak bisa dengan sekedar caci maki, ejekan, sinisme dan bahkan hingga apatisme(semua itu tentu boleh saja dan baik saja asalkan bukan metode satu-satunya).Prabowo dan kliknya mewakili dendam klas mereka: klas penghisap dan penindas,klas borjuasi reaksioner, klas kapitalis monopoli Neo-Liberalisme(meskipun dengan cara munafik). Karnanya rakyat yang belum siap dengan perjuangan menentukan keras lawan keras, namun kesedaran akan bahaya perlawanan kubu Prabowo bersama kliknya sangat patut mewaspadai semua olah klik Prabowo dan bahkan hingga bersiap diri menghadapi segala kemungkinan seperti yang terjadi di jaman suhartO. Mereka mengemban dendam yang luar biasa besarnya. Terlambat menyedari ini, berarti akan tidak berdaya menghadapi terror. Ini adalah juga dan semacam DANAU DENDAM TAK SUDAH seperti digambarkan pak Maarif dalam tulisannya yang amat menarik itu. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Sent: Wednesday, October 15, 2014 1:50 AM Subject: Fwd: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . . . <Syarif Maarif ---------- Forwarded message ---------- From: isa <[email protected]> Date: 2014-10-14 23:33 GMT+07:00 Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . . . <Syarif Maarif To: DISKUSI KITA GOOGLE- GROUP <[email protected]> Kolom IBRAHIM ISA Selasa Sore, 14 Oktober 2014 -------------------------------------- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)> "Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . . . <Syarif Maarif> * * * Komentar dan analisis yang memenuhi media cetak dan eletronik Indonesia belakangan ini, khususnya setelah Pilpres 2014 yang dimenangkan oleh Jokowi dan JK, serta mengalahkan calpres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, menunjuk pada gejala dan skenario berikut ini: * * * Pertama, Koalisi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, dengan sementara parpol lainnya yang merupakan kelompok oposisi-destruktif, tidak rela menerima kekalahan mereka. Usaha mereka menggugat ke Mahkamah Konstitusi agar membatalkan hasil Pilpres 2014, seperti yang dinyatakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), juga tidak berhasil. Kedua, Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, adik kandung Prabowo Subianto menyatakan a.l -- "Kami akan menggunakan kekuatan kami untuk menginvestigasi dan menghambat," (Reuters, seperti dilansir Rabu (8/9/2014). Mereka-mereka yang kalah Pilpres 2014 dan kandas di MK, mengancam akan “menjegal” pemerintahan baru di bawah Presiden Terpilih Joko Widodo. Kata Hashim: --- Kami akan Pakai Power untuk Hambat Jokowi <Detiknews>. Mereka-mereka itu, berrencana akan mepersulit jalannya pemerintahan Presiden Jokowi yad, --- dan akhirnya . . . . . . berusaha menggulingkan Presiden Jokowi melalui proses 'impeachement'. Lewat mayoritas suara yang bisa mereka kuasai di MPR. Ketiga, Membentuk pemerintahan baru, menggantikan Pemerintahan Jokowi, melalui mekanisme mayoritas suara yang mereka kuasai di MPR. * * * Penulis/pemerhati-politik Indonesia terkemuka, mantan pendiri parpol PAN, Abdillah Toha, menyatakan, a.l : “INILAH ORANG-ORANG BAHAYA YG HARUS DIHADAPI RAKYAT”. Ia mencanangkan bahwa, mereka yang tidak legowo dengan hasil Pilpres 2014, sedang menempuh POLITIK BALAS DENDAM. Abdillah Toha selanjutnya: “ --Pengakuan dan pernyataan terbuka pertama kali kubu Prabowo tanpa malu-malu atas rencananya melakukan politik balas dendam. Walau saya tak yakin niatnya akan tercapai, namun setelah membaca ini terus terang saya makin yakin inilah orang-orang berbahaya yang harus dihadapi rakyat di era kini. Demikian Abdillah Toha. * * * “TO BE ON THE ALERT” – “WASPADA” Rasanya, kok, lebih mantap menggunakan ungkapan orang Inggris, bahwa jita harus -- “To be on the alert” -- , untuk melukiskn bagaimana seharusnya menghadapi situasi adanya ancaman balas dendam seperti itu. “To be on the alert”, atau “To be wachtful and ready for any emergency”. . (Waspada dan siap menghadapi keadaan darurat). Juga berarti “To be on one's guard, to be on the watch, to be on the look-out” --- Berjaga-jaga, selalu melacak. * * * Masalahnya adalah mengenai situasi politik, yang terasa tegang dan menggelisahkan publik. Masyarakat amat prihatin, karena ia berkaitan dengan nasib hari depan bangsa. Contoh yang menyolok gawatnya situasi adalah dampak dan follow-up dari 'jurus-jurus politik' yang dijalankankan Prabowo c.s. – di DPR/MPR. Untuk menenangkan masyarakat, terdoprong oleh tanggungjawabnya sebagai presiden terpilih, Jokowi menyatakan: “Lihat muka saya. Kalau saya masih tersenyum. Artinya semuanya masih aman. Bapak dan ibu gak usah kuatir. Biasa politik seperti sekarang ini artinya positif,” (Pada pertemuan INTI tgl 05 Oktobre y.l) Pernyataan Jokowi itu punya efek-positif. Ia memperkokoh semangat juang masyarakat, khususnya semangat para relawan yang tersebar di seluruh negeri, untuk “cancut taliwondo”, menyingsingkn lengan baju. Siap meneruskan perjuangan mengkonsolidasi dan mengembangkan kekuatan yang memperjuangkan PERUBAHAN, untuk dengan tuntas mengakhiri sisa-sisa kekuatan politik dan kultur rezim otoriter Orde Baru. * * * Nyatanya kebangkitan kesadaran masyarakat di dalam dan luar negeri terus meningkat dan meluas -- mencanangkan bahaya trehadasp tumbuh dan berkembangnya demokrasi -- karena aksi-aksi politik kubu Prabowo Subianto. * * * Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof Ahmad Syafei Maarif, kemarin menulis artikel tajam sekali. Ia mencanangkn ditempuhnya politik balas dendam oleh kubu oposisi Prabowo-Hatta Rajasa. Tulis Ahmad Syafei Maarif antara lain -- : <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)> Oleh: Ahmad Syafii Maarif Saya sudah lama penasaran untuk suatu saat bisa mengunjungi DDTS (Danau Dendam Tak Sudah), sekitar enam km dari Kota Bengkulu, dikitari oleh empat kecamatan: Teluk Segara, Seleber, Talang Empat, dan Bengkulu Tengah. Bagi saya nama ini demikian puitis, jika bukan romantis, sekalipun menurut legenda rakyat memuat cerita tragis-dramatis. . . . Pada 8 Okt. siang kerinduan saya untuk menyaksikan dari dekat DDTS itu menjadi kenyataan sudah. Angan-angan melayang jauh menyaksikan ombak danau yang damai bersahabat. Cantik nian danau ini, tetapi namanya tetap saja mengundang tanda tanya yang sarat misteri. Tiba-tiba nalar politik saya muncul saat menyebut DDTS, melayang ke Sidang DPR, pada 1-2 Okt. 2014, yang brutal dan main sapu bersih itu. Tidak satu pun yang tersisa kursi pimpinan DPR untuk parpol yang berseberangan, sesuatu yang tak elok diteruskan oleh sesama anak bangsa. Maka di sini berlaku pula dendam tak sudah sebagai ekor dari kekalahan dalam pilpres pada 9 Juli yang lalu. Berbeda dengan suasana di DPR, proses pemilihan pimpinan MPR, sekalipun alot selama berjam-jam, terasa lebih beradab. Bahwa siapa pemenangnya tidak lagi dipersoalkan, karena perdebatan relatif telah berlangsung dalam iklim demokrasi terbuka tanpa diselimuti dendam yang menggebu, padahal sebagian besar pemainnya orang yang sama juga. . . . . . .”Tentu saja ke depan semua kita tidak boleh membiarkan bangsa dan negara ini terkoyak oleh perasaan dendam berkepanjangan. Kemenangan dan kekalahan dalam pertandingan adalah lumrah belaka. Yang tidak lumrah dan tidak sehat adalah memelihara sikap dendam yang menguras energi secara sia-sia. Perkataan dendam tidak selalu berkonotasi buruk, tergantung kepada kata pendampingnya. Ungkapan rindu-dendam adalah suasana batin mereka yang sedang dimabuk cinta, tetapi dendam-kesumat atau balas dendam bila dikaitkan dengan perpolitikan Indonesia tercermin dalam Sidang DPR di atas jelas semakin merusak tatanan demokrasi yang memang sudah rusak. Taruhannya adalah 250 juta rakyat Indonesia akan menderita dan tersandera oleh kelakuan elite yang suka balas dendam itu. Jalan ke luarnya adalah kesediaan membebaskan diri dari virus dendam, demi keutuhan bangsa dan negara yang sedang oleng ini. Dalam sistem politik demokrasi di mana pun di muka bumi, kekuatan oposisi sangat diperlukan agar pemerintah tidak menyimpang dari acuan konstitusi dan amanat rakyat. Tetapi oposisi yang ingin terus melibas lawan politiknya tanpa nalar bisa meruntuhkan sistem demokrasi yang dengan susah payah telah dibangun. * * * Ahmad Syafei Maarif mengkhiri tulisannya dengan kalimat-kalimat berikut ini: “Kembali ke DDTS. Setidak-tidaknya ada dua versi tentang asal-usul nama danau itu. Legenda mengatakan bahwa jauh di masa silam, entah kapan, ada dua sejoli yang saling jatuh cinta, tetapi terbentur karena dihalangi oleh orang tua pihak perempuan yang ingin punya menantu peria lain. Dua sejoli yang telah bersatu hati itu menempuh jalan singkat: bunuh diri dengan terjun ke dalam danau untuk tidak muncul lagi. Rindu-dendam yang tidak kesampaian itu diabadikan menjadi DDTS karena di sanalah dua sejoli yang malang itu berkubur dengan kedalaman sekitar 15 meter. “Versi lain mengatakan bahwa pemerintah kolonial pernah punya rencana membangun dam untuk menata aliran air danau itu. Sampai usai penjajahan, dam itu tidak pernah menjadi kenyataan. Entah bagaimana ceritanya sebelum kata ‘dam’ diberi kata ‘den’, menjadi dendam. Karena dam itu tidak pernah disudahkan, maka muncullah ungkapan puitis DDTS. Bagi saya yang kedua ini sama sulitnya diterima seperti juga asal-usul nama yang pertama. Lalu?: antahlah yuang, kata orang Minang. “Tetapi bagaimana pun, bagi saya DDST tetap saja menyiratkan nuansa puisi, sedangkan sikap dendam yang dipertontonkan di Senayan mewakili sosok politisi yang sedang haus kekuasaan dengan cara menyapu bersih lawan politiknya dari posisi pimpinan. <REPUBLIKA.CO.ID, 14-10-2014> <cetak tebal dari penulis Kolom ini> * * * -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
