Pak Magnis Yth.

Di seluruh negara Eropah hingga Amerika, Partai Komunis tidak dilarang dan di 
dalam negeri mereka yang demokratis, anti komunis dan pro Komunis mempunyai hak 
hidup yang sama yang hal ini  pasti saja Pak Magnis tahu persis. Saya sendiri 
diselamatkan  dan hidup di sebuah negeri anti Komunis: BELANDA. Saya sendiri 
terusir dari sebuah negeri Sosialis yang penguasanya tidak menyenangi pandangan 
politik saya yang ahirnya saya terdampar di negeri anti Komunis dan saya sudah 
biasa hidup di sini, menjadi warga negaranya dengan sebuah paspor yang sama 
nilai administratipnya dan juga saya mempunyai hak-hak demokrasi seperti 
penduduk pribumi. Kalau lebih ingin terus terang lagi, dalam kehidupan, 
teman-teman saya banyak yang dari golongan anti komunis.Sebut saja umpamanya 
Ajip Rosidi yang tentunya bapak mengenal namanya .Prof.Dr.A.Teeuw, juga tokoh 
ahli sastra Indonesia berkebangsaan Belanda, justru orang yang memberikan 
komentar sangat positif terhadap novel-novel saya. Saya juga mempunyai hubungan 
baik dengan Prof.Dr. Salim Said secara apribadi maupun dalam hubungan tulis 
menulis. Singkat kata saya tidak a priory terhadap mereka yang anti Komunis dan 
bahkan secara hubungan pribadi bisa sangat baik dan normal berhubungan dengan 
saya dan ideologi yang saya anut tetap terpelihara secara baik dan wajar.

Memang rekonsiliasi biasanya, pengambil inisiatifnya adalah oleh mereka yang 
memenangkan kekuasaan terhadap bekas musuhnya untuk kepentingan seluruh bangsa 
dan perdamaian. Jadi tentu saja para korban peristiwa 65 yang masih kalah dan 
tidak punya kekuasaan  tidak mungkin sebagai pengambil inisiatif untuk 
melakukan rekonsiliasi. Sayangnya(atau wajar saja),penguasa penerus Orba 
sekarang ini tidak mau dan tidak pernah punya maksud melaksankan rekonsialiasi 
bagi bekas korban-korban merkeka. Alasannya disamping Orba itu anti Komunis 
tapi yang lebih maha penting lagi  adalah karna anti kemanusiaan dan selalu 
berpihak kepada kekuasaan mutlak, anti demokrasi( meskipun terkadang dengan 
topeng munafik) dan mungkin mereka menunggu hingga kekuasaan rakyat menang dan 
berkuasa dan mereka sebagai pihak yang dikalahkan di masa depan akan menerima 
rekonsiliasi. Ini tentu sangat cerdik dari mereka karna menunggu hingga 
kekuatan rakyat mengalahkan mereka tentu masih memakan waktu yang amat lama 
(tapi tentu tidak mutlak musti begitu). Jadi sebaiknya di pihak korban, tidak 
seharusnya menanam ilusi mendapatkan rekonsiliasi dari penguasa penerus Orba 
tapi terus berjuang hingga kekuatan rakyat memenangkan perjuangan mereka. 
Vietnam, Afrika Selatan adalah contoh yang baik untuk melihat bagaimana 
rekonsialiasi bisa terjadi dan berhasil.Syarat rekonsiliasi adalah kekuasaan di 
tangan pemenang dan mereka punya niat baik untuk kepentingan seluruih bangsa 
dan perdamaian serta kemakmuran selanjutnya. Ha itu tidak dipunyai oleh para 
penguasa penerus Orba suhartO: mereka ingin perang seumur hidup dan bahkan di 
dalam intern mereka sendiripun selalu terjadi perang berebut dan berebut 
kekuasaan tak henti-hentinya demi kepentingan diri sendiri masing masing.Mereka 
akan hancur meskipun kita tidak tahu, kapan.
Salam hormat,
ASAHAN.





----- Original Message ----- 
  From: F.Magnis-Suseno 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, October 16, 2014 8:50 AM
  Subject: RE: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK S UDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif


  Pak Asahan,

  Betul yang Anda tulis. Namun ada perbedaan antara kita dan Vietnam/Afrika 
Selatan dll. Di Vietnam, juga di Afrika Selatan, yang menang adalah pihak yang 
didzalimi, rakyat Vietnam, orang kulit berwarna, dan mereka, sesudah menang, 
menunjukkan kebesaran hati terhadap para mantan pendzalim. Di Indonesia yang 
antikomunis menang telak. Saya sendiri, meski waktu itu tidak punya kemungkinan 
pengaruh apa pun (saya calon "Romo" berkewarganegaraan Jerman di sebuah 
seminari di Yogyakarta), termasuk antikomunis dalam arti, saya mengharapkan 
pembubaran PKI dan kekalahan komunisme pada umumnya (tak perlu saya jelaskan di 
sini). Antikomunisme saya anggap sikap yang wajar. Namun para pemenang 
anti-komunis pun mestinya sekarang mempunyai kebesaran hati untuk mengakui 
bahwa pembubaran PKI dan pengaruh politiknya tidak memerlukan, dan sedikit pun 
tidak membenarkan, pembunuhan terhadap ratusan ribu rakyat tak bersalah serta 
penahanan lebih dari sepuluh tahun serta penghancuran eksistensi 
sosial-ekonomis jutaan rakyat lainnya dengan alasan "terlibat". Yang diperlukan 
bukan "rekonsilisasi". Rekonsiliasi harus datang dari para kurban (lih. 
Vietnam, Afrika Selatan), tetapi itu hanya mungkin apabila para kurban 
sebelumnya diakui sebagai kurban. Itu saja di Indonesia sekarang belum terjadi, 
dan kalau dituntut masih menimbulkan reaksi emosional gelap. Untuk ketentraman 
hati kolektif bangsa pengakuan, bahwa pembunuhan-pembunuhan, 
penahanan-penahanan, stigmatisasi dan ekskomunikasi terhadap sebagian rakyat 
merupakan kejahatan,kejahatan yang tidak pernah boleh terulang lagi, saya 
anggap sangat penting.




------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of ASAHAN
  Sent: 16 October, 2014 12:40 AM
  To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; PEMBEBASAN PAPUA; INTI-NET; Artculture 
Indonesia; AKSARA SASTRA; [email protected]
  Subject: Re: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK S UDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif


  Pak Magnis Yth.


  Ya,pak Magnis. Dendam rakyat Vietnam adalah dendam klas. Saya sudah sangat 
banyak mengajukan pertanyaan kepada mereka, mengapa mereka bisa menang melawan 
musuh yang begitu kuat dengan persenjataan ultra moderen. Jawaban mereka hanya 
satu: "Kami merasa amat dendam pada perbuatan bengis serdadu Amerika terhadap 
rakyat kami".
  Tapi setelah mereka menang dan orang-orang Amerika berkeliaran dengan bebas 
di seluruh wilayah Vietnam (a.l. sebagai turis atau pedagang) dan bahkan di 
tengah kota Ho chi Minh City(Saigon) terdapat kantor CIA yang legal( tentu 
dalam pengawasan mereka). Para pilot Amerika yang dulu membomi dan membunuhi 
rakyat Vietnam, setelah Vietnam bebas seluruh negeri, para pilot itu datang  
sebagi turis dan berkelakar dengan orang-orang di pasar tentang pengalaman 
mereka dengan bebas tanpa takut-takut. Saya bertanya pada orang-orang Vietnam 
(saya berada di Vietnam hampir selama 20 tahun) mengapa bisa begitu, apa dendam 
lama sudah pupus begitu saja?. Mereka jawab, katanya mereka tidak punya dendam 
pada Amerika karna rakyat Vietrnam sudah menang dan sekarang mereka ingin 
bersahabat dengan orang Amerika dan berdagang dengan mereka. "Kami tidak punya 
dendam pribadi, kami hanya pernah punya dendam seluruh nasion terhadap Amerika 
dan sekarang semuanya sudah usai. Tidak ada dendam".
  Dan bukan hanya itu. Semua para pengkhianat, mata-mata, gembong jahat yang 
dulu berhutang darah pada rakyat Vietnam, sudah lama  bisa datang datang dan 
tinggal di Vietnam tanpa urusan apa-apa lagi dan mempunyai hak sama dengan 
semua warga Vietnam lainnya. Bahkan Pemerintah Vietnam menyerukan pada semua 
warga  Vietnam  di luar negeri (terutama yang di Amerika dan Canada) agar 
kembali  ke Vietnam(mereka diizinkan memiliki dwi kewarga negaraan) menanam 
modal dan membangun bersama negeri Vietnam tanpa mengorek-ngorek riwayat hidup 
mereka yang tidak bersih di masa lalu terhadap bangsanya sendiri.

  Tapi di Indonesia kita punya cerita yang sama sekali berlaianan dan bertolak 
belakang.Penerus Orba bahkan masih aktif menyalakan dendam terhadap 
korban-korban mereka sendiri dan seluruh turunannya. Mereka ingin berperang 
dengan para keturuan korban mereka hingga dunia ini kiamat.Apa boleh 
buat,korban yang akan mereka perangi tentu harus menyesuaikan diri dan selalu 
waspada. Justru merekalah yang menanam dan memupuk dendam kelas pada korban 
mereka dan itu agaknya akan berlangsung terus hingga mereka hancur lebur 
dikalahkan rakyat Indonesia yang semakin muak dan jenuh, sumpek mereka cekik 
dan tindas selama ini.
  Salam pak Magnis.
  ASAHAN. 
    ----- Original Message ----- 
    From: Franz Magnis-Suseno SJ 
    To: [email protected] 
    Sent: Wednesday, October 15, 2014 4:22 PM
    Subject: RE: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif


    Pak Asahan,

    Betul, harus dibedakan antara dendam pribadi dan dendam kelas. Dan kelakuan 
pihak yang kalah dalam pilpres memang bisa dendam kelas, dendam mereka yang 
melihat kesempatan dalam kesempitan yang lama mereka nikmati, bisa tertutup 
dengan Jokowi yang muncul begitu di luar perhitungan mereka. Tetapi sikap 
rakyat Vietnam apa dendam? Bukankah itu kemarahan, pemberontakan, perlawanan 
terhadap ancamana, penindasan, penghancuran, bukan dendam, melainkan semangat 
perlawanan dan kemarahan karena ketidakadilan. Sesudah Vietnam menang, 
sepertinya tidak kelihatan dendam terhadap musuh mereka AS. Sebenarnya 
kebebasan dari dendam rakyat Vietnam itu sangat mengagumkan dan membuat mereka 
bebas untuk menjalankan pembangunan. Entah bagaimana

    Salam

    Franz Magnis-Suseno

     

     

     Indonesia; AKSARA SASTRA; Group Diskusi Kita
    Subject: Re: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif

     

     

    Tulisan pak Syarif Maarif tentang dendam  justru mengingatkaan kita betapa  
rasa dendam itu mempunyai kekuatan yang begitu dahsyat meskipun terpendam  
rapat tak tembus air. Tapi sekali timbul kesempatan untuk dilampiaskan, maka 
dendam akan memperlihatkan  kehebatannya yang tak bisa  diduga orang. Dalam 
ilmu Marxis, rasa dendam digunakan untuk perjuangan yang mereka sebut DENDAM 
KLAS. Rakyat yang tertindas dan terhisap oleh penguasa yang semula tak berdaya, 
lalu oleh kader-kader revolusioner dibangkitkan rasa dendam itu untuk melawan 
para penindas dan penghisap rakyat. Dendam klas bersifat dan bermuatan politik 
serta merupakan kekuatan yang luar biasa bila berhasil menggunakannya. Contoh 
yang paling dekat dan masih hangat adalah rasa dendam rakyat Vietnam terhadap 
kebuasan Imperialis Amerika di negeri mereka. Dengan rasa dendam klas yang 
dibangkitkan oleh para kader dan Partai revolusioner yang memimpin 
pemberontakan rakyat, rakyat Vietnam telah berhasil mengusir dan membasmi 
tentara agresor AS yang kuat dan bersenjata super moderen dari Vietnam. Vietnam 
yang ketika itu miskin,lapar, terbelakang dan tampak lemah telah menjadi 
pasukan perkasa tak terkalahkan karna dipersenjatai dengan rasa dendam terhadap 
musuh mereka. INI DENDAM KLAS dan bukan dendam pribadi tapi dendam kolektif, 
dendam seluruh nasion yang tergabung menjadi dendam klas.

     

    Apakah dendam Prabowo dan KMP-nya juga dendam klas?. YA. Dendam mereka 
adalah dendam klas sebagai yang terdasar meskipun juga terselip dendam pribadi 
yang gabungan ini justru menjadi lebih kental dan lebih pekat lagi dan kita 
tidak boleh memisahkan antara dendam klas dan dendam pribadi yang merekan 
emban.Karena bila melihatnya hanya sekedar dendam pribadi kita akan salah besar 
dan mengecilkan persoalan yang begitu teramat besar: PEREBUTAN KEKUASAAN. Dan 
bukan sekedar ngambek atau kedongkolan semata. Karenanya, menghadapi perlawanan 
Prabowo dan seluruh klik-nya tidak bisa dengan sekedar caci maki, ejekan, 
sinisme dan bahkan hingga apatisme(semua itu tentu boleh saja dan baik saja 
asalkan bukan metode satu-satunya).Prabowo dan kliknya mewakili dendam klas 
mereka: klas penghisap dan penindas,klas borjuasi reaksioner, klas kapitalis 
monopoli Neo-Liberalisme(meskipun dengan cara munafik).

    Karnanya rakyat yang belum siap dengan perjuangan menentukan keras lawan 
keras, namun kesedaran akan bahaya perlawanan kubu Prabowo bersama kliknya 
sangat patut mewaspadai semua olah klik Prabowo dan bahkan hingga bersiap diri 
menghadapi segala kemungkinan seperti yang terjadi di jaman suhartO. Mereka 
mengemban dendam yang luar biasa besarnya. Terlambat menyedari ini, berarti 
akan tidak berdaya menghadapi terror. Ini adalah juga dan semacam DANAU DENDAM 
TAK SUDAH seperti digambarkan pak Maarif dalam tulisannya yang amat menarik itu.

    ASAHAN.

     

     

      ----- Original Message ----- 

      From: Salim Said 

      To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] 

      Sent: Wednesday, October 15, 2014 1:50 AM

      Subject: Fwd: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif

       

       

      ---------- Forwarded message ----------
      From: isa <[email protected]>
      Date: 2014-10-14 23:33 GMT+07:00
      Subject: Kolom IBRAHIM ISA -- <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . 
(DDTS)>,"Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . 
. . <Syarif Maarif
      To: DISKUSI KITA GOOGLE- GROUP <[email protected]>



      Kolom IBRAHIM ISA

      Selasa Sore, 14 Oktober 2014

      --------------------------------------

       

      <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)>
      "Tiba-tiba Nalar Politik Saya Melayang Ke Sidang DPR . . Yang Brutal . . 
. <Syarif Maarif>

      * * *

       

      Komentar dan analisis yang memenuhi media cetak dan eletronik Indonesia 
belakangan ini, khususnya setelah Pilpres 2014 yang dimenangkan oleh Jokowi dan 
JK, serta mengalahkan calpres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, menunjuk pada 
gejala dan skenario berikut ini:

       

      * * *

       

      Pertama, Koalisi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, dengan sementara parpol 
lainnya yang merupakan kelompok oposisi-destruktif, tidak rela menerima 
kekalahan mereka. Usaha mereka menggugat ke Mahkamah Konstitusi agar 
membatalkan hasil Pilpres 2014, seperti yang dinyatakan oleh Komisi Pemilihan 
Umum (KPU), juga tidak berhasil.

       

      Kedua, Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, adik 
kandung Prabowo Subianto menyatakan a.l -- "Kami akan menggunakan kekuatan kami 
untuk menginvestigasi dan menghambat," (Reuters, seperti dilansir Rabu 
(8/9/2014). 
      Mereka-mereka yang kalah Pilpres 2014 dan kandas di MK, mengancam akan 
"menjegal" pemerintahan baru di bawah Presiden Terpilih Joko Widodo. Kata 
Hashim: --- Kami akan Pakai Power untuk Hambat Jokowi <Detiknews>. 
Mereka-mereka itu, berrencana akan mepersulit jalannya pemerintahan Presiden 
Jokowi yad, --- dan akhirnya . . . . . . berusaha menggulingkan Presiden Jokowi 
melalui proses 'impeachement'. Lewat mayoritas suara yang bisa mereka kuasai di 
MPR.

       

      Ketiga, Membentuk pemerintahan baru, menggantikan Pemerintahan Jokowi, 
melalui mekanisme mayoritas suara yang mereka kuasai di MPR.

       

      * * *

       

      Penulis/pemerhati-politik Indonesia terkemuka, mantan pendiri parpol PAN, 
Abdillah Toha, menyatakan, a.l : "INILAH ORANG-ORANG BAHAYA YG HARUS DIHADAPI 
RAKYAT". Ia mencanangkan bahwa, mereka yang tidak legowo dengan hasil Pilpres 
2014, sedang menempuh POLITIK BALAS DENDAM. 

      Abdillah Toha selanjutnya: " --Pengakuan dan pernyataan terbuka pertama 
kali kubu Prabowo tanpa malu-malu atas rencananya melakukan politik balas 
dendam. Walau saya tak yakin niatnya akan tercapai, namun setelah membaca ini 
terus terang saya makin yakin inilah orang-orang berbahaya yang harus dihadapi 
rakyat di era kini. Demikian Abdillah Toha.

       

      * * *

       

      "TO BE ON THE ALERT" - "WASPADA"

      Rasanya, kok, lebih mantap menggunakan ungkapan orang Inggris, bahwa jita 
harus -- "To be on the alert" -- , untuk melukiskn bagaimana seharusnya 
menghadapi situasi adanya ancaman balas dendam seperti itu. "To be on the 
alert", atau "To be wachtful and ready for any emergency". . (Waspada dan siap 
menghadapi keadaan darurat). Juga berarti "To be on one's guard, to be on the 
watch, to be on the look-out" --- Berjaga-jaga, selalu melacak.

       

      * * *

       

      Masalahnya adalah mengenai situasi politik, yang terasa tegang dan 
menggelisahkan publik. Masyarakat amat prihatin, karena ia berkaitan dengan 
nasib hari depan bangsa. Contoh yang menyolok gawatnya situasi adalah dampak 
dan follow-up dari 'jurus-jurus politik' yang dijalankankan Prabowo c.s. - di 
DPR/MPR. Untuk menenangkan masyarakat, terdoprong oleh tanggungjawabnya sebagai 
presiden terpilih, Jokowi menyatakan: 

       

      "Lihat muka saya. Kalau saya masih tersenyum. Artinya semuanya masih 
aman. Bapak dan ibu gak usah kuatir. Biasa politik seperti sekarang ini artinya 
positif," (Pada pertemuan INTI tgl 05 Oktobre y.l)

       

      Pernyataan Jokowi itu punya efek-positif. Ia memperkokoh semangat juang 
masyarakat, khususnya semangat para relawan yang tersebar di seluruh negeri, 
untuk "cancut taliwondo", menyingsingkn lengan baju. Siap meneruskan perjuangan 
mengkonsolidasi dan mengembangkan kekuatan yang memperjuangkan PERUBAHAN, untuk 
dengan tuntas mengakhiri sisa-sisa kekuatan politik dan kultur rezim otoriter 
Orde Baru.

       

      * * *

       

      Nyatanya kebangkitan kesadaran masyarakat di dalam dan luar negeri terus 
meningkat dan meluas -- mencanangkan bahaya trehadasp tumbuh dan berkembangnya 
demokrasi -- karena aksi-aksi politik kubu Prabowo Subianto. 

       

      * * *

       

      Mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof Ahmad Syafei Maarif, kemarin menulis 
artikel tajam sekali. Ia mencanangkn ditempuhnya politik balas dendam oleh kubu 
oposisi Prabowo-Hatta Rajasa.

       

      Tulis Ahmad Syafei Maarif antara lain -- :

       

      <DANAU DENDAM TAK SUDAH . . . . . (DDTS)>

      Oleh: Ahmad Syafii Maarif

      Saya sudah lama penasaran untuk suatu saat bisa mengunjungi DDTS (Danau 
Dendam Tak Sudah), sekitar enam km dari Kota Bengkulu, dikitari oleh empat 
kecamatan: Teluk Segara, Seleber, Talang Empat, dan Bengkulu Tengah. Bagi saya 
nama ini demikian puitis, jika bukan romantis, sekalipun menurut legenda rakyat 
memuat cerita tragis-dramatis. . . . 

       

      Pada 8 Okt. siang kerinduan saya untuk menyaksikan dari dekat DDTS itu 
menjadi kenyataan sudah. Angan-angan melayang jauh menyaksikan ombak danau yang 
damai bersahabat. Cantik nian danau ini, tetapi namanya tetap saja mengundang 
tanda tanya yang sarat misteri.

      Tiba-tiba nalar politik saya muncul saat menyebut DDTS, melayang ke 
Sidang DPR, pada 1-2 Okt. 2014, yang brutal dan main sapu bersih itu. Tidak 
satu pun yang tersisa kursi pimpinan DPR untuk parpol yang berseberangan, 
sesuatu yang tak elok diteruskan oleh sesama anak bangsa. Maka di sini berlaku 
pula dendam tak sudah sebagai ekor dari kekalahan dalam pilpres pada 9 Juli 
yang lalu. Berbeda dengan suasana di DPR, proses pemilihan pimpinan MPR, 
sekalipun alot selama berjam-jam, terasa lebih beradab. Bahwa siapa pemenangnya 
tidak lagi dipersoalkan, karena perdebatan relatif telah berlangsung dalam 
iklim demokrasi terbuka tanpa diselimuti dendam yang menggebu, padahal sebagian 
besar pemainnya orang yang sama juga.

      . . . . . ."Tentu saja ke depan semua kita tidak boleh membiarkan bangsa 
dan negara ini terkoyak oleh perasaan dendam berkepanjangan. Kemenangan dan 
kekalahan dalam pertandingan adalah lumrah belaka. Yang tidak lumrah dan tidak 
sehat adalah memelihara sikap dendam yang menguras energi secara sia-sia.

      Perkataan dendam tidak selalu berkonotasi buruk, tergantung kepada kata 
pendampingnya. Ungkapan rindu-dendam adalah suasana batin mereka yang sedang 
dimabuk cinta, tetapi dendam-kesumat atau balas dendam bila dikaitkan dengan 
perpolitikan Indonesia tercermin dalam Sidang DPR di atas jelas semakin merusak 
tatanan demokrasi yang memang sudah rusak. 

       

      Taruhannya adalah 250 juta rakyat Indonesia akan menderita dan tersandera 
oleh kelakuan elite yang suka balas dendam itu. Jalan ke luarnya adalah 
kesediaan membebaskan diri dari virus dendam, demi keutuhan bangsa dan negara 
yang sedang oleng ini. Dalam sistem politik demokrasi di mana pun di muka bumi, 
kekuatan oposisi sangat diperlukan agar pemerintah tidak menyimpang dari acuan 
konstitusi dan amanat rakyat. Tetapi oposisi yang ingin terus melibas lawan 
politiknya tanpa nalar bisa meruntuhkan sistem demokrasi yang dengan susah 
payah telah dibangun.

       

      * * *

       

      Ahmad Syafei Maarif mengkhiri tulisannya dengan kalimat-kalimat berikut 
ini:

      "Kembali ke DDTS. Setidak-tidaknya ada dua versi tentang asal-usul nama 
danau itu. Legenda mengatakan bahwa jauh di masa silam, entah kapan, ada dua 
sejoli yang saling jatuh cinta, tetapi terbentur karena dihalangi oleh orang 
tua pihak perempuan yang ingin punya menantu peria lain. Dua sejoli yang telah 
bersatu hati itu menempuh jalan singkat: bunuh diri dengan terjun ke dalam 
danau untuk tidak muncul lagi. Rindu-dendam yang tidak kesampaian itu 
diabadikan menjadi DDTS karena di sanalah dua sejoli yang malang itu berkubur 
dengan kedalaman sekitar 15 meter.

      "Versi lain mengatakan bahwa pemerintah kolonial pernah punya rencana 
membangun dam untuk menata aliran air danau itu. Sampai usai penjajahan, dam 
itu tidak pernah menjadi kenyataan. Entah bagaimana ceritanya sebelum kata 
'dam' diberi kata 'den', menjadi dendam. Karena dam itu tidak pernah 
disudahkan, maka muncullah ungkapan puitis DDTS. Bagi saya yang kedua ini sama 
sulitnya diterima seperti juga asal-usul nama yang pertama. Lalu?: antahlah 
yuang, kata orang Minang. 

       

      "Tetapi bagaimana pun, bagi saya DDST tetap saja menyiratkan nuansa 
puisi, sedangkan sikap dendam yang dipertontonkan di Senayan mewakili sosok 
politisi yang sedang haus kekuasaan dengan cara menyapu bersih lawan politiknya 
dari posisi pimpinan. <REPUBLIKA.CO.ID, 14-10-2014> <cetak tebal dari penulis 
Kolom ini>

       

      * * *

       





       

       

       

       

       

      -- 
      Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
      Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
      Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

       

      -- 
      Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
      Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
      Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke