Demi menghindari pertumpahan darah yang lebih banyak lagi dalam bayangan ahirnya tumpas 3 juta nyawa dalam kenyataan dan kaum Nekolim menyerbu Indonnesia dengan pasukan ekonomi sebagai senjata penjajahannya terhadap Indonesia.Sungguh pemimpin yang bijaksana dan berperikemanusiaan universil. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: 'K. Prawira' [email protected] [wahana-news] To: NASIONAL-LIST YAHOOGROUPS ; GELORA_In ; Perhimpunan Persaudaraan ; Jaringan Kerja Indonesia ; LISI ; DISKUSI FORUM HLD ; Wahana News ; Ib Gerpindo ; Lembaga-Pembela Korban-1965 Sent: Thursday, November 06, 2014 1:41 AM Subject: [wahana-news] Re: Marinir Siap Sikat Pasukan Mayjen Soeharto, Tapi Bung Karno Melarang USIL: "Bung Karno tegas-tegas menolak permintaan Hartono. Alasannya, jika terjadi perang antar sesama anak bangsa, maka akan dengan sangat mudah pihak asing masuk ke Indonesia." Maka Indonesia akan hancur lebur seperti Irak, Afganistan dll, Sedang pembunuhan akan terjadi lebih masif lagi, sesuai tujuan mereka menghancurkan dan membasmi komunis/komunisme dalam perang dingin. "Di sinilah sikap kenegarawanan Bung Karno jelas terasa sekali." adalah kesimpulan yang benar dan tepat. Di samping itu, pada saat dalam posisi terpojok karena peristiwa G30S, Bung Karno berusaha mencari jalan untuk menghadapi Suharto, baik dengan jalan penyelesaian politik mau pun dengan pembentukan Barisan Soekarno. Marinir Siap Sikat Pasukan Mayjen Soeharto, Tapi Bung Karno Melarang http://suaraagraria.com/detail-21080-marinir-siap-sikat-pasukan-mayjen-soeharto-tapi-bung-karno-melarang.html#.VFsusfnF98F Kategori: Berita Hukum - Dibaca: 12784 kali Jumat, 03 Oktober 2014 - 09:03:11 WIB Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on printMore Sharing Services92 Terimakasih, Saat Ini Anda Sedang Berada Dalam Halaman: HOME » Berita Hukum » Marinir Siap Sikat Pasukan Mayjen Soeharto, Tapi Bung Karno Melarang Letjen. KKO HartonoJAKARTA, SACOM - Salah satu alasan Bung Karno diam dan tak hentikan operasi Pasukan Soeharto adalah demi keutuhan NKRI. Padahal Jenderal-jenderal loyalisnya sudah siap tempur. Ini versi lain dari peralihan kepemimpinan Indonesia dari Ir. Soekarno ke Mayjen Soeharto, berikut pelaksanaan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang diduga kuat diselewengkan yang bersangkutan. Menurut Jenderal-jenderal loyalis Bung Karno, Soeharto jelas-jelas telah menyelewengkan isi Supersemar. Kabarnya mereka adalah Panglima Kodam Jaya, Amir Machmud, Panglima Kodam Siliwangi Ibrahim Adji, dan beberapa Panglima kodam lainnya. Namun salah satu yang terang-terangan menentang dan gerah dengan kiprah Mayjen Soeharto adalah Letjen (KKO-AL atau Korps Komando Angkatan Laut, sekarang Marinir) Hartono. Adalah Hartono juga yang mensponsori demonstrasi besar-besaran anggota KKO yang pro–Soekarno pada 1966. Mereka meneriakkan "Pejah Gesang Melu Bung Karno" yang artinya "Hidup Mati Ikut Bung Karno". Dikabarkan pada bulan Maret 1966, sang Jenderal menghadap langsung Bung Karno di Istana Negara dan meminta izin untuk menumpas Pasukan Mayjen Soeharto. Tapi apa dinyana, Bung Karno tegas-tegas menolak permintaan Hartono. Alasannya, jika terjadi perang antar sesama anak bangsa, maka akan dengan sangat mudah pihak asing masuk ke Indonesia. Di sinilah sikap kenegarawanan Bung Karno jelas terasa sekali. Hartono manut saja. Ia sadar bahwa perintah Bung Karno adalah titah yang tak boleh disanggah. Ia juga sadar Bung Karno adalah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Suatu sikap terpuji, yang tidak diikuti oleh kolega-koleganya yang memilih ikut “berpesta pora” dalam rezim Orde Baru. Dari situ juga terkenal pernyataan Hartono: "Hitam kata Bung Karno, Hitam Kata KKO, Putih kata Bung Karno, Putih Kata KKO", "KKO selalu kompak dibelakang Bung Karno". Siapakah Letjen (KKO-AL) R. Hartono? Di era Bung Karno dia adalah Komandan Marinir sekaligus menjabat sebagai Menteri/Wakil Panglima Angkatan Laut. Saat Bung Karno jatuh, karir Hartono juga selesai. Dia dicopot dari jabatannya sebagai Komandan KKO-AL ke -3. Ia lalu dijadikan Duta Besar untuk Korea Utara pada tahun 1968. Meninggal di usia muda, 43 tahun, pada tanggal 7 Januari 1971. Menurut pernyataan resmi rezim Orde Baru, Hartono meninggal bunuh diri dengan cara menembakkan senjatanya ke kepalanya sendiri di kediamannya di Jl. Prof. Dr. Soepomo, Menteng, Jakarta Pusat pada pagi hari pukul 05.30. Kisah tragis itu terjadi saat dia dipanggil oleh Soeharto ke Jakarta dari Korea Utara. Cerita bunuh diri tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. Pertama, jenazah Hartono harus divisum di RSPAD Gatot Subroto. Ini sangat aneh, mengingat Hartono adalah anggota Angkatan Laut, kenapa pula mesti divisum di rumah sakit milik Angkatan Darat. Kedua, ada kabar saat Hartono berada di kediaman, ada dua orang yang menemuinya. Istri Hartono curiga orang inilah yang membunuh suaminya. Ketiga, tidak terdengar letusan peluru di pagi dimana dinyatakan Hartono bunuh diri. Tentu sangat aneh kalau orang bunuh diri dengan menggunakan peredam senjata. Keanehan keempat, Menlu Adam Malik berjanji akan memberikan penjelasan detail tentang kematian suaminya. Namun hal itu tak pernah dilakukan pemerintah. Hartono dimakamkan di TMP Kalibata. Kalau pemerintah punya keinginan baik, dengan teknologi yang canggih saat ini, bisa saja pembuktian ulang dilakukan. Minimal untuk meluruskan sejarah bahwa Letjen Hartono tidak meninggal dengan cara bunuh diri. Dengan persetujuan keluarga tentunya. Baca berita terkait: Letnan Anwar, Pejuang Sekaligus Pengemis Yang Jadi Bahan Lelucon Sosial Media Sumber: http://jakarta45.wordpress.com/2012/10/03/sejarah-mengapa-bung-karno-tak-mau-memukul-soeharto/ "Hartono KKO", Tragedi Loyalis Bung Karno "Hartono KKO", Tragedi Loyalis Bung Karno Pertama, saya harus menulis "Hartono KKO" untuk membedakan antara Letnan Jenderal (KKO) Hartono dengan nama-nama Hartono lainnya. Dia adalah satu di anta... View on rosodaras.wordpress... Preview by Yahoo
