#MelawanLupa : Beginilah Cara SPBU Menipu Anda 
Berdasarkan temuan Tim Terpadu (Timdu) Penyalah – gunaan Bahan Bakar Minyak 
(BBM), terdapat 228 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia 
melakukan kecurangan.
Umumnya kecurangan dilakukan dengan cara mengurangi volume pengisian BBM dengan 
menggunakan kawat logam pada meteran. Bahkan ada SPBU yang mencurangi takaran 
hingga satu liter lebih untuk setiap 10 liternya.
Praktek licik ini tidak hanya dilakukan pengelola SPBU. Hasil investigasi Tim 
Sigi menyebutkan, mata rantai bisnis kotor ini dimulai dari depo milik 
Pertamina sendiri.
Menurut Ketua Tim Terpadu BBM, Slamet Singgih, sejak Maret 2005 hingga Juli 
2014, tim telah memeriksa secara acak ratusan pom bensin. Hasilnya sungguh 
mencengangkan. Lebih dari separuh pom bensin pernah melakukan kecurangan. Mulai 
dari mengurangi takaran, melayani pembelian dengan jerigen dan drum, mencampur 
dengan air, hingga mencuri takaran dengan merekayasa mesin dispenser.
“Terakhir sekitar Juli silam kita menemukan kecurangan yang dilakukan dengan 
menggunakan remote control,” kata Singgih.
Akibat praktik curang yang dilakukan para pengelola pom bensin nakal, tim 
mencatat setidaknya nilai kerugian mencapai 1,35 juta liter BBM dari berbagai 
jenis atau jika diuangkan mencapai Rp 47 miliar.
Kecurangan dengan memakai alat canggih yang dikontrol dari jarak jauh itu 
memang baru kali ini terbongkar. Alat itu diduga telah banyak beredar dan 
dipakai di sejumlah pom bensin di Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi 
(Jabotabek).
Menurut pengakuan salah satu manajer SPBU, alat canggih seharga Rp 2,5 juta ini 
terbuat dari sebuah rangkaian elektronik yang dimodifikasi sedemikian rupa 
sehingga mampu mengecoh mesin dispenser digital sekalipun.
Benda elektronik ini terdiri dari relay, serangkaian pembangkit pulsa, dan 
bagian IC memory. Tujuannya untuk mengecoh proses digitalisasi dispenser dan 
memutus kerja mesin dispenser secara periodik. Dengan begitu jumlah BBM yang 
dikeluarkan tidak sama atau terkurangi dari takaran semestinya.
Sebelum ada alat canggih ini, sejumlah SPBU mencurangi takaran dengan memasang 
kawat pengait pada roda atau gigi yang ada pada mesin dispenser. Dengan cara 
ini gigi atau roda pada pompa bensin berjalan lebih lambat. Berarti jumlah BBM 
yang dikeluarkan lebih sedikit dibanding angka yang berputar pada panel 
dispenser.
Aksi Curang Pengusaha Nakal BBM
Aktivitas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) tak pernah sepi dari 
kendaraan bermotor. Mobil, motor maupun angkutan umum silih berganti masuk 
mengisi kendaraan dengan berbagai jenis bahan bakar. Bahan bakar menjadi kunci 
mesin kendaraan dapat terus bekerja mengantarkan si pemilik kendaraan.
Tak heran, SPBU selalu ramai pembeli alias diburu pemilik kendaraan. Begitu 
berarti BBM bagi masyarakat, membuat setiap kali ada rencana kenaikan harga 
khususnya BBM bersubsidi selalu menuai protes, bahkan digelar unjuk rasa 
besar-besaran. Padahal BBM termasuk sumber energi yang tak terbarukan alias 
lama-kelamaan bukan tak mungkin keberadaannya semakin minim, bahkan habis. Itu 
sebabnya pemerintah juga mencanangkan gerakan hemat BBM.
Itu dari sisi positifnya. Tapi ada juga pengiritan BBM yang merugikan. Dari 
hasil investigasi ke beberapa sumber, sejumlah SPBU ternyata juga mengirit BBM. 
Namun, untuk tujuan mencari keuntungan yang berlipat-lipat. Modusnya, mengakali 
meteran mesin BBM. Jumlah BBM yang meluncur dari selang mesin ini menjadi lebih 
sedikit dari yang tertera di mesin. Pengakuan dari masyarakat makin memperkuat 
dugaan kecurangan ini.
Dari fakta inilah, usaha mencari tahu lebih jauh modus kecurangan sejumlah SPBU 
nakal dilakukan. Penelusuran diawali dengan mendatangi salah satu SPBU di Pulau 
Sumatra yang kami tempuh puluhan kilometer dari sebuah kota. Ini adalah hari 
keberuntungan Tim Sigi karena pemilik SPBU bersedia membeberkan modus para 
pengusaha SPBU lain untuk mengeruk keuntungan.
Pengusaha ini pun menunjukkan cara beberapa SPBU nakal yang biasanya mengubah 
takaran BBM yang keluar dari selang pompa. Informasi mengkhawatirkan kami dapat 
karena menyangkut masalah keakuratan meteran BBM. Parahnya lagi, modus 
mengurangi takaran BBM ini tak dilakukan sendirian oleh pengusaha SPBU yang 
nakal, namun juga hasil kongkalikong dengan oknum petugas sebuah instansi.
Rasa penasaran semakin menggelegak dengan informasi yang didapat dari sang 
pemilik SPBU. Kami coba konfirmasi dengan mendatangi SPBU lain. Pengelola SPBU 
ini diajak bicara untuk menyerap informasi lebih jauh. Ternyata, yang 
mengagetkan tawaran mengurangi takaran BBM justru datang dari oknum sebuah 
departemen.
Menurut sang pengusaha kongkalikong terjadi saat dilakukan uji tera atau uji 
keakuratan meteran sebuah mesin pompa BBM yang rutin dilakukan setahun sekali. 
Kesepakatan antara pemilik SPBU dengan oknum dinas pemerintahan ini untuk 
memainkan takaran mesin pompa. Tentu saja kongkalikong ini tidak gratis. Sang 
pemilik SPBU harus membayar sejumlah oknum yang diajak kerjasama. 
Buat mengukur keakuratan sebuah mesin pompa BBM, dinas Metrologi dan SPBU 
menggunakan Bejana Tera. Bejana diisi dengan 20 liter BBM untuk kemudian dapat 
diketahui akurat tidaknya sebuah pompa bbm dengan membaca skala yang tertera di 
bejana. Tapi, tak sembarang orang memiliki ketrampilan membaca bejana tera ini.
Sang pemilik SPBU pun mengajak pergi Tim Sigi untuk mempelajari Bejana Tera di 
Dinas Metrologi, tentunya menggunakan kamera tersembunyi. Kesempatan ini tak 
disia-siakan. Beberapa hal krusial seputar penggunaan Bejana Tera kami pelajari 
untuk bisa mengukur keakuratan sebuah mesin pompa di SPBU.
Selain keakuratan ternyata pengurangan volume BBM yang keluar dari mesin pompa 
masih diperbolehkan. Asalkan tak melebihi batas yang ditentukan. Bermodal 
pengetahuan mengukur keakuratan sebuah mesin pompa BBM, kami mulai menyelidiki 
volume BBM yang dikeluarkan suatu SPBU, masuk dalam kategori batas normal atau 
tidak.
Sebuah SPBU lalu disambangi tentunya sambil menenteng Bejana Tera. Kami minta 
petugas mengisi Bejana ini dengan 20 liter BBM.  Volume di bejana ini kami 
ukur. Sesuai aturan, dasar bejana dipastikan berada di permukaan yang rata. 
Hasilnya, takaran yang sangat kurang dari batas yang ditentukan mulai membuat 
tim curiga.
Hasil yang terlihat berkurang 100 mililiter lebih. Padahal batas maksimal 
terendah yang diperbolehkan hanya sebesar 60 mililiter per 20 liter. Indikasi 
kecurangan pengusaha SPBU nakal mulai ditemukan.
Pengujian tak kami lakukan hanya di satu SPBU. Lebih memastikan, Tim Sigi 
mendatangi lagi SPBU lain. Kali ini, kami mencoba datangi salah satu SPBU yang 
mengklaim takaran volume BBM-nya pas alias akurat. Seperti halnya tadi, kami 
juga meminta petugas mengisikan Bejana Tera sebanyak 20 liter.
Kami kemudian membawanya untuk diukur tentu dengan ketentuan-ketentuan standar 
pengukuran. Hasilnya, sangat mengagetkan. Volume BBM yang ada di bejana ini 
sangat jauh berkurang dari standar batas yang ditetapkan. Saking rendahnya 
permukaan BBM di bejana ini, bahkan membuat kami kesulitan untuk mengukur.
Tapi secara kasat mata dan skala ini ada pengurangan berkali-kali lipat dari 
batas yang seharusnya. Meski mengklaim takarannya akurat, ternyata SPBU ini 
justru lebih banyak mengurangi takaran. Terkait hal ini, pihak Pertamina 
mengancam akan mencabut slogan pasti pas yang ditempel di SPBU nakal.
Sayangnya, konsumen awam tak bisa tahu persis indikasi kecurangan yang 
dilakukan beberapa SPBU. Yang lebih sulit diendus adalah transaksi kecurangan 
antara pengusaha dan oknum Dinas Metrologi. Tapi adanya transaksi ini dibantah 
keras instansi bersangkutan.
Namun adanya aksi mengurangi takaran ini bukan tanpa sebab. Yayasan Lembaga 
Konsumen Indonesia menduga hal ini dilakuakn terkait tipisnya margin keuntungan.
Namun, tak perlu khawatir berlebihan karena tak semua SPBU menjalankan modus 
mengurangi takaran BBM. Seperti halnya SPBU yang kami datangi bertepatan sedang 
disidak Dinas Metrologi untuk melakukan uji tera mesin pompa BBM. Hasilnya, 
memuaskan. Di mesin pompa BBM yang lainnya justru takarannya berlebih.
Catatan:
Beberapa bulan kemarin, Kejati Jatim telah memeriksa dugaan PUNGLI atas TERA 
SPBU, menurut saya penyidikan Kejati Jatim semakin lama semakin melambat, 
hingga sampai dengan sekarang belum tampak ujungnya, pada hal ada saat yang 
sama DAMPAK dari dugaan KECURANGAN ATAS TERA NOZZLE SPBU yang diduga mendasari 
dugaan timbulnya PUNGLI atas TERA sama sekali tidak pernah ada perintah untuk 
dihentikan, artinya Produk Tera Nozzle SPBU hasil Pungli tetaplah berjalan, 
artinya juga KERUGIAN KONSUMEN atas Pembelian BBM dari Nozzle SPBU yang ditera 
secara abal-abal pun pun masih berjalan dengan Aman, ada apa ini ?  
Kejati Jatim Usut Pungli Tera & Proses Peneraan SPBU di Seluruh Jatim ==> 
http://jaringanantikorupsi.blogspot.com/2014/11/medianusantara-kejati-jatim-usut-pungli.html

Kirim email ke