Prinsip dibalik penembakan ialah makin banyak orang Papua dibunuh makin baik, 
supaya banyak kesempatan untuk transmigrasi dilaksanakan.

From: mailto:[email protected] 
Sent: Thursday, December 25, 2014 2:39 PM
To: INTI-NET ; [email protected] ; AKSARA SASTRA ; Artculture 
Indonesia ; PEMBEBASAN PAPUA ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] 
Subject: [inti-net] Re: Kolom IBRAHIM ISA,Menjelang Natal 2014 – Menyambut 
Tahun Baru 2015

  
 

Pengiriman kekuatan militer tambahan ke Papua dan juga peristiwa penembakan 5 
orang serta melukai puluhan orang lainnyan di Paniai-Papua yang dilakukan oleh 
Pemerintah Jokowi bukanlah suatu peristiwa kebetulan dan tanpa latar belakang 
politik yang serius. Pencitraan  militeris dan berdarah ini dipersembahkan dan 
dialamatkan Jokowi pada raksasa modal asing yang sedang bergelimang keuntungan 
dari kekayaan melimpah sumber alam Papua yang dikuasi oleh Free Port yang 
berhasil memperpanjang kontraknya selama 40 tahun ke depan dan juga pada 
penanam modal asing yang baru lainnya..Jokowi memberikan jaminan keamanan yang 
ditopang  dengan militerisme dan darah demi rasa keamanan dan kepastian bagi 
raksasa modal asing di Papua.Jokowi telah melepaskan seluruh misi politiknya 
yang pernah dia poles sebagai politik kerakyatan dan secara drastis 
menggantinya dengan pengkapitalisan Indonesia dengan skala raksasa dengan modal 
asing sebagai dasar dan penopangnya yang  terpenting.Jokowi akan melakukan 
semua saja termasuk jalan fasisme suhartO di masa lalu demi "INDONESIA 
HEBAT"nya yang dia serahkan sepenuhnya pada modal asing.Tanpa disedarinya 
Jokowi sedang meniup percikan api revolusi pertama  yang selama ini padam di 
bumi Indonesia yang sedang lembab.Jokowi masih belum tergugah untuk 
memperhatikan perimbangan kekuataan di sekitar Pemerintahannya sekarang ini. 
Dia sedang pongah dan lengah seperti juga para pengagumnya.
ASAHAN.



  ----- Original Message ----- 
  From: Franz Magnis-Suseno SJ 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, December 25, 2014 4:35 AM
  Subject: RE: Kolom IBRAHIM ISA,Menjelang Natal 2014 – Menyambut Tahun Baru 
2015

  Perkenankan saya paparkan di sini surat pembaca saya yang Selasa kemarin 
dimuat, dengan perbaikan bahassa, oleh The Jakarta Post:


  “President Joko Widodo should have the decency not to force his attendance at 
the celebration of Christmas by Christian Churches in Papua. They made it clear 
that many Papuans - he got 90% of their vote in the last elections (!) - now do 
no longer welcome him. With very good reasons. By ignoring the killing of five 
unarmed civilians and the wounding of 21 more in Paniai by security personal 
ten days ago President Joko Widodo demonstrated that he gives a damn for Papuan 
life. It would have been a chance to prove that Jakarta really regards Papuans 
as Indonesians and human beings of not less dignity than other Indonesians. But 
no, with President Joko Widodo it's business as usual. Like his predecessors he 
will not initiate any serious investigation into brutality by the security 
apparatus. It fits that he already gave clear signs that under his 
presidentship the terrible killings of hundreds of thousand innocent 
Indonesians 49 years ago will again go un-investigated. The same is true 
regarding the murder of Munir (and others, like Marsinah). The assumption of 
the "Jokowi-volunteers" that their idol had some special moral credibility has 
- sad to say - been misplaced. It took the new president less than two months 
in office to show that he is just another power-politician. Maybe this return 
to realism has its advantage too. 

  Franz Magnis-Suseno”



  From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of ASAHAN
  Sent: 25 Desember 2014 03:17
  To: [email protected]; [email protected]; AKSARA 
SASTRA; Artculture Indonesia; INTI-NET; PEMBEBASAN PAPUA; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]
  Subject: Re: Kolom IBRAHIM ISA,Menjelang Natal 2014 – Menyambut Tahun Baru 
2015



  Presiden JOKO WIDODO telah dengan jelas, tegas serta terang-terangan menolak 
untuk menyelesaikan masaalah pelanggaran berat HAM termasuk pelanggaran HAM 
super berat kasus 65 dan juga tegas menolak untuk minta maaf pada para korban 
65. Sikap Jokowi dan Pemerintahan Joko Widodo ini sudah tidak bisa ditukangi, 
tidak bisa direvisi, tadak bisa ditafsirkan lain  dari maksud Jokowi yang 
sebenarnya dan kita tidak punya nafsu sedikitpun untuk mendorong-dorongnya agar 
beliau berpikir kembali. Itu adalah keputusan final beliau, sikap politik 
beliau dan juga pandangan klas beliau: JELAS TERANG BENDERANG dihadapan seluruh 
rakyat Indonesia yang beliau pimpin.

    Sebagian besar rakyat Indonesia merasa tertipu dan bahkan tidak penah 
menduga sebelumnya bahwa seorang Jokowi yang terkesan begitu dekat dengan 
rakyat, begitu akrab bersama rakyat, begitu merakyat dalam semua program pro 
rakyat yang diumumkan dan dijanjikannya pada rakyat. Tapi apa lacur, baru satu 
bulan usia Pemerintahan beliau, tiba-tiba pecah menggelegar bagaikan guntur 
membelah bumi lahir penyataan beliau yang berpaling dan melupakan  sejarah 
berdarah pemerkosaan HAM yang mengakibatkan jutaan rakyat tersembelih tanpa 
dosa. Presiden Jokowi telah terbius dengan euforia investasi modal asing, 
antusiasme para kapitalis Internasional dan begara-negara Imperialis yang 
beliau undang dan berikan izin istimewa untuk mengembangkan secara 
besar-besaran kapitalisme di Indonesia dengan melupakan janji-janji beliau 
terhadap rakyat, melupakan sejarah kelam bangsanya sendiri, melupakan semua 
simbol-simbol politik yang beliau kibarkan seperti "TRISAKTI". "REVOLUSI 
MENTAL" dan hanya akan membangun "INDONESIA HEBAT" menurut rencana kapitalisme 
asing, penanam modal asing dan kemudi asing. Beliau telah lupa daratan dan 
tidak lagi berpijak di bumi Indonesia sambil mengembangkan lebih lanjut, lebih 
ekstrim budaya PENCITRAAN yang sebelumnya juga dianut oleh Presiden sebelumnya 
yang baru saja beliau gantikan. Di berbagai tempat, rakyat disogok dengan uang 
kontan yang lebih menunjukkan Jokowi sebagai filantrop dan bukan sebagai 
pemimpin, kenaikan harga-harga  barang keperluan sehari-hari dari rakyat tidak 
beliau hiraukan, kemerosotan nilai mata uang rupiah yang sudah dramatis tidak 
mendapatkan perbaikan dan penyelesaian.Singkat kata Presiden Joko Widodo 
bersama kabinetnya yang berisikan musuh-musuh rakyat yang beliu masukkan 
sendiri sedang berjalan sendiri sambil dari belakang diikuti barisan raksasa 
kapitalisme modal asing yang siap menguras kekayaan Indonesia dan tenaga kerja 
Indonesia yang akan luar biasa murahanya untuk meraih keuntungan 
sebesar-besarnya sedangkan nasib rakyat hanya akan semakin buruk, semakin 
terhisap dan terhina.Dengan perspektif muram dan juga realitas kelam yang sudah 
di ambang pintu sekarang ini apakah masih perlu mendorong-dorong Pemerintah 
Joko-Jeka agar sudi kembali berpaling pada nasib dan tuntutan rakyat? Yang 
lebih benar adalah kalau mungkin, secepatnya mendorong Pemerintah yang begini 
ke jurang pembuangan sampah sebelum terlambat.

  ASAHAN. 



    ----- Original Message ----- 

    From: isa 

    To: DISKUSI KITA GOOGLE- GROUP 

    Sent: Wednesday, December 24, 2014 12:54 PM

    Subject: Kolom IBRAHIM ISA,Menjelang Natal 2014 – Menyambut Tahun Baru 2015


    Kolom IBRAHIM ISA

    Menjelang Natal 2014 – Menyambut Tahun Baru 2015
    ----------------------------------------------------------------------- 


    MARI AGUNGKAN “HARI NATAL 2014” . . . 

    Dengan MENJEBOL “TEROBOSAN” Penyelesaian “HAM MASA LALU“


    * * *


    Mari agungkan dan rayakan Hari Natal 2014 dan Menyambut Tahun Baru 2015, 
dengan memberikan dorongan dan dukungan kuat kepada pemerintah Presiden Jokowi, 
untuk membuat langkah awalan kongkrit ke arah penyelesain masalah “HAM MASA 
LALU'.


    Politikus dan tokoh mantan pendiri parpol PAN, Abdillah Toha, dalam pesan 
singkatnya untuk Hari Natal dan menyambut Tahun Baru 2015, menulis singkat: 


    “Selamat Natal bagi yang merayakan dan Selamat Tahun Baru bagi kita semua. 
Semoga tahun mendatang jadi tahun yang penuh kedamaian, kemajuan, dan 
kebahagiaan bagi nusa, bangsa, dan umat manusia.“


    * * *


    Yang diungkap AbdillahToha tsb, juga adalah harapan murni yang diidamkan 
oleh seluruh bangsa yang sejak Mei 1998, melangkah ke periode Reformasi dan 
Demokrasi.


    Mengisi harapan mulya itu, amat diperlukan tindakan dan langkah yang 
berani, mantap dan jelas arah tujuannya. 


    SURAT TERBUKA SEJARAWAN ASVI WARMAN ADAM tertuju kepada Presiden Joko 
Widodo, dengan padat dan cekak-aos, jelas dan mantap memberikan jalan yang 
harus ditempuh Presiden Jokowi dan pemerintahnya.


    Jalan awal itu adalah: --- TINDAKAN TEROBOSAN --- dalam menjelesaikan masa 
lalu berkenaan dengan pelanggaran HAM berat.


    * * *


    Asvi menunjuk pada langkah-langkah penting yang harus diambil Presiden 
Jokowi, a.l 


    Pertama, Presiden Indonesia perlu meminta maaf kepada ribuan patriot 
Indonesia yang dicabut kewarganegaraannya setelah Gerakan 30 September (G30S) 
1965 


    Kedua, presiden Indonesia seyogianya menyatakan kekeliruan pemerintah pada 
masa lalu dalam membuang lebih dari 10.000 orang ke Pulau Buru selama 10 tahun 
(1969-1979).meletus.


    Ketiga, presiden sebaiknya meminta maaf kepada anak-anak korban peristiwa 
1965 yang tidak boleh menjadi PNS dan ABRI sejak Instruksi Menteri Dalam Negeri 
dikeluarkan pada 1981. 


    Keempat, presiden tentu perlu menanggapi petitum Mahkamah Agung tahun 2011. 


    Membuat terobosan 

    Pengganti undang-undang itu sudah selesai digodok oleh Kementerian Hukum 
dan HAM, tetapi tidak kunjung diserahkan pemerintah kepada DPR. Selain 
Pengadilan HAM ad hoc, KKR diperlukan untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa 
lalu secara komprehensif. 


    Sebagai terobosan, sebaiknya pembentukan komisi ini tidak lagi dengan 
undang-undang yang akan memakan waktu lama, tetapi cukup dengan keputusan 
presiden. 


    * * *


    Lampiran: 

    Lengkapnya SURAT TERBUKA ASVI KEPADA PRESIDEN JOkOWI.


    Surat Terbuka untuk Presiden

    <Asvi Warman Adam, Rabu, 10 Desember 2014>


     SEBELUM menjadi presiden, Joko Widodo telah mencanangkan visi-misinya yang 
disebut Nawacita. Pada program keempat tentang penegakan hukum disebutkan 
antara lain "menghormati HAM dan penyelesaian berkeadilan terhadap kasus-kasus 
pelanggaran HAM pada masa lalu". Jadi, kalau ada menteri yang kurang peduli 
terhadap penyelesaian masa lalu, tentu ia tidak membaca dan memahami Nawacita. 
Dari kasus pelanggaran HAM masa lalu sejak 1945 sampai 2000, salah satunya dan 
yang paling menonjol adalah kasus 1965 yang merupakan pembunuhan massal 
terbesar dalam sejarah Indonesia: 500.000 orang. Belanda yang berada di 
Nusantara selama 350 tahun menewaskan 125.000 orang Indonesia, 75.000 di 
antaranya di Aceh. Jadi, jauh lebih banyak korban pembunuhan sesama bangsa 
sendiri. Komisi Nasional HAM telah menghasilkan laporan penyidikan pro-justicia 
tentang kejahatan kemanusiaan 1965, seyogianya Kejaksaan Agung tidak 
bermain-main untuk menindaklanjutinya dalam rangka melaksanakan Nawacita. 
Peristiwa 1965 telah berlangsung selama hampir 50 tahun tanpa penyelesaian yang 
komprehensif dan berkeadilan. Dalam waktu dekat ada beberapa hal yang dapat 
dilakukan presiden, meminta maaf atas kekeliruan negara dan menanggapi petitum 
Mahkamah Agung. 


    Meminta maaf 

     Pertama, presiden Indonesia perlu meminta maaf kepada ribuan patriot 
Indonesia yang dicabut kewarganegaraannya setelah Gerakan 30 September (G30S) 
1965 meletus. Tahun 1960-an Presiden Soekarno mengirim ribuan "mahid" 
(mahasiswa ikatan dinas) ke luar negeri untuk mempersiapkan pembangunan dalam 
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena dianggap sebagai pendukung 
Soekarno, paspor mereka dicabut dan mereka kehilangan kewarganegaraan. Hampir 
semuanya telah menjadi warga negara asing walau mereka tetap bersemangat 
mengikuti peringatan proklamasi kemerdekaan di KBRI setempat, termasuk 
membacakan teks Pancasila. Rata-rata berusia 75 tahun atau lebih dan sebagian 
besar telah meninggal. 


    Kedua, presiden Indonesia seyogianya menyatakan kekeliruan pemerintah pada 
masa lalu dalam membuang lebih dari 10.000 orang ke Pulau Buru selama 10 tahun 
(1969-1979). Tanpa proses pengadilan, mereka dipekerjakan secara paksa dalam 
suatu kamp konsentrasi tanpa tahu kapan akan dibebaskan. Protes lembaga 
internasional yang menyebabkan Pemerintah Indonesia mengakhiri kejahatan 
kemanusiaan ini 


    Ketiga, presiden sebaiknya meminta maaf kepada anak-anak korban peristiwa 
1965 yang tidak boleh menjadi PNS dan ABRI sejak Instruksi Menteri Dalam Negeri 
dikeluarkan pada 1981. Terlepas dari orangtuanya bersalah atau tidak, anak-anak 
mereka sama sekali tidak boleh didiskriminasikan dalam memilih lapangan 
pekerjaan seperti dijamin dalam UUD 1945. 


    Keempat, presiden tentu perlu menanggapi petitum Mahkamah Agung tahun 2011. 
Dalam memeriksa dan mengadili perkara permohonan keberatan hak uji materiil 
terhadap Keputusan Presiden RI Nomor 28 Tahun 1975 tanggal 25 Juni 1975 tentang 
Perlakuan terhadap Mereka yang Terlibat G30S/PKI Golongan C, Mahkamah Agung 
mengeluarkan putusan Nomor 33 P/HUM/2011 yang menyatakan keputusan presiden 
tersebut beserta seluruh peraturan di bawahnya bertentangan dengan peraturan 
perundang-undangan yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, Mahkamah Agung 
"memerintahkan kepada Presiden RI untuk mencabut Keputusan Presiden No 28 Tahun 
1975 tentang Perlakuan terhadap Mereka yang Terlibat G30S/PKI Golongan C 
tanggal 25 Juni 1975 tersebut". 


    Pada era Reformasi dengan bersusah payah dilahirkan Undang-Undang Komisi 
Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) tahun 2004. Namun, Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono bersikap setengah hati dengan tidak kunjung menetapkan nama-nama 
anggota KKR yang diberikan panitia seleksi untuk selanjutnya dipilih DPR. 
Selanjutnya, Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Jimly Asshiddiqie secara 
ultrapetita merobohkan UU itu. 


    Membuat terobosan 

    Pengganti undang-undang itu sudah selesai digodok oleh Kementerian Hukum 
dan HAM, tetapi tidak kunjung diserahkan pemerintah kepada DPR. Selain 
Pengadilan HAM ad hoc, KKR diperlukan untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa 
lalu secara komprehensif. Sebagai terobosan, sebaiknya pembentukan komisi ini 
tidak lagi dengan undang-undang yang akan memakan waktu lama, tetapi cukup 
dengan keputusan presiden. Jadi, merupakan komisi negara yang dibentuk presiden 
dengan personel yang ramping dan bertugas dalam tempo yang tidak terlalu lama, 
misalnya dua tahun. Semoga surat ini dapat membantu Presiden Joko Widodo dalam 
membuat terobosan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu yang termasuk program 
Nawacita. Dengan demikian, bangsa ini dapat melangkah ke depan tanpa beban. 


    * * *


    <Asvi Warman Adam, Visiting Research Scholar pada CSEAS Kyoto University. 




    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke