Bung Salim.
Saya punya pikiran sedikit lain. Saya kira Jokowi hanya memilih jalan 
menyelamatkan mukanya sendiri sambil membiarkan  api tetap menyala di dalam 
sekam. Strategi Mega adalah menggolkan Budi Gunawan dengan harga seberapapun 
yang itu sementara ditunda oleh Jokowi. Mega adalah Mega. Dia bukannya tidak 
tahu skenario Jokowi yang licin tapi tidak sulit ditebak. Ditunda atau tidak, 
KPK sudah tidak mungkin mundur karna juga soal penyelamatan muka.Semua 
memelihara api dalam sekam termasuk DPR. Jokowi tetap sasaran tembak dari semua 
yang memberikan kompromi. Meskipun Jokowi hanya memakan sebagaian dari buah 
simalakama,namun dia sudah tidak bisa melepaskan diri dari kutukan buah fatal 
itu. "King Maker"tidak akan pernah memaafkan  raja bikinannya  lancang begitu 
saja meski sesopan apapun.
ASAHAN.


  ----- Original Message ----- 
  From: Salim Said 
  To: Group Diskusi Kita 
  Sent: Saturday, January 17, 2015 2:06 AM
  Subject: Re: Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam


  Jokowi memang cerdas. Dan kecerdasan itu akan diuji terus oleh berbagai 
tantangan yang  pasti akan dihadapinya sebagai Presiden yang tidak menguasai 
partai politik manapun.

  "Penundaan" pelantikan Komjen Budi Gunawan saya pandang suatu keberhasilan 
Jokowi berdiplomasi  terutama dengan Ibu Megawati. Hasil diplomasi: semua tidak 
perlu kehilangan muka. Mega tetap terlihat terhormat, KPK merasa keputusannya 
dihormati , DPR tidak punya alasan meradang dan Budi tidak dihinakan (tetap 
calon Kapolri).

  So far  Jokowi is a great politician.


  Bung Salim.



  2015-01-17 2:21 GMT+07:00 <[email protected]>:

    Bung Salim,Menurut saya akhirnya keputusan Jokowi‎ cukup cerdas. Tidak 
memvonis BG, tidak menolak keputusan DPR, tapi juga tidak melantik BG sampai 
proses hukum selesai. Anda setuju? Sayangnya jatuh satu korban dengan 
melehamnaskan kepala Bareskrim yang katanya orang baik.AT

    Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
          From: Salim Said
          Sent: Jumat, 16 Januari 2015 14.47
          To: Group Diskusi Kita; alumnas-oot; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
          Reply To: [email protected]
          Subject: Fwd: Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam 







    Hanya Allah dan Ibu Megawati yang Bisa  Menyelamatkan Jokowi.



    MENURUT analisis saya (mengikut gaya Sentilan-Sentilun)  bagi masyarakat 
politik Indonesia yang rajin baca koran, melihat sejumlah talk show di Metro 
TV, Berita Satu dan TV One (Apalagi kalau aktf mengikuti di media sosial), 
pertanyaan-pertanyaan Pak Abdillah Toha  itu sangat menarik, relevan dan juga  
tidak sulit  di Jawab.

    Pertanyaan pertama, Mengapa Presiden Jokowi tidak berkonsultasi dengan KPK 
dan PPATK? Jawabannya, sudah sejak menjelang pembentukan kabinet nama Komjen 
Pol  Budi Gunawan, sebagai calon menteri (Mensekab atau Mensesneg?) sudah 
diteliti di KPK dan PPATK. Hasilnya, nama Budi mendapat garis merah oleh KPK. 
Penjelesannya, sedang diteliti kemungkinannya terlibat tindak pidana korupsi. 
Akibatnya, Budi (yang kabarnya dicalonkan  Ibu Mega menjadi salah satu anggota 
kabinet Jokowi)  gagal.. Yang menarik, kendati mendapat garis merah, atas saran 
Ibu Mega, Budi kemudian  dicalonkan lagi. Kali ini  menjadi calon  Kapolri. 
Tentu Jokowi yang jadi Presiden karena dukungan Ibu Mega, tidak tega menolak 
saran sang Ibu. Apa lagi beliau itu orang Solo yang terkenal sangat halus yang 
konon tidak mengenal kata "tidak."


    Jadi jawaban  kepada pertanyaan pertama Pak Abdillah adalah, tidak betul 
Jokowi lalai untuk mendapatkan informasi latar belakang Budi dari PPATK dan 
KPK. 

    Secara legal, pencalonan Budi dilakukan Jokowi berdasarkan rekomendasi 
KOMPOLNAS yang mendasarkan rekomendasinya  pada dokumen dari Bareskrim Polri 
yang mnyebut persoalan Budi sudah beres.. Ini melahirkan pertanyaan baru karena 
 Ketua  KOMPOLNAS adalah Menko Polkam, Laksamana  (Purn) Tejo. Apakah yang 
telah dilakukan sang mantan Laksamana dalam usaha menghindarkan (mengamankan) 
Presiden-nya agar tidak terprosok ke jurang kesalahan  mengambil keputusan 
dengan dasar informasi yang kurang akurat? Mengapa informasi dari Bareskrim 
tidak diteliti lebih jauh akurasinya? 


    Pertanyaan berikut ttg DPR yang cepat mengambil keputusan. Menurut analisis 
saya gerak cepat DPR dan keputusan  aklamasi pada rapat  Komisi, kerja sama 
antara Kelompok Merah Putih dan Indonesia Hebat, bukan karena mereka bersimpati 
dan menganggap Budi Gunawan polisi yang hebat dan bersih. Yang mempersatukan 
orang-orang DPR itu adalah musuh bersama mereka, KPK. Orang-orang DPR itu 
menggunakan kasus  Budi sebagai jalan untuk mempreteli KPK yang menjadi ancaman 
bagi mereka sejak lama. Mereka menuduh KPK mempersulit pemerintah dengan 
mengumumkan posisi tersangka korupsi kepada Komjen Budi pada saat-saat DPR 
melangkah melakukan fit and proper test. Bahkan seorang politisi PDIP serta 
sejumlah politisi lainnya menuduh KPK mempunyai agenda politik di balik 
keputusan terhadap  Komjen Budi tersebut.


    Pertanyaan berikutnya menyangkut soal bolak-balik ke jalan Tengku Umar. 
Masyarakat politik Indonesia semua tahu rumah yang paling penting pada 
percaturan politik Indonesia sekarang adalah kediaman Ibu Mega di jalan Tengku 
Umar. Di zaman Orde Baru orang berkunjung  ke jalan Cendana karena di sana 
Presiden Soeharto dan keluarganya bersemayam. Soeharto sangat penting, sangat 
berkuasa dan amat karena itu amat menentukan  waktu itu. Nah, meski tidak 
sehebat dan sekuasa Soeharto, dalam perpolitikan Indonesia sekarang adalah Ibu 
Mega yang sangat menentukan. Beliau adalah Ketua partai terbesar, beliau 
jugalah yang mencalonkan Jokowi-JK untuk mengelola negeri ini. Maka logis saja 
kalau para pemain politik perlu sowan (berkunjung atau menghadap) ke Ibu yang 
diam di jalan Tengku Umar. Di sana mereka mengadu,meminta petunjuk atau sekedar 
wejangan-wejangan. Dan karena kabarnya  Ibu yang mencalonkan Budi, maka dalam 
kasus Budi, ibu harus diajak bicara, apa kerso Beliau.Hampir bisa dipastikan 
Jokowi akan sowan ke Ibu Mega sebelum menentukan akan bertindak bagaimana dalam 
menhadapi kasus Budi yang amat serius ini.


    Yang menarik untuk diamati, bagaimana nantinya  cara Ibu Mega menyelamatkan 
Jokowi. Sang Presiden sekarang sangat berada dalam posisi yang betul-betul 
sulit. sebagai Presiden yang tidak menguasai partai, Jokowi sangat tergantung 
pada Ketua partai terbesar di DPR. Tapi dukungan Ibu Mega kepadanya selama 
ini--semua kita tahu--  bukanlah gratis. "Sampeyan saya jadikan Presiden, 
sekarang saya perlu bantuan  sampeyan menjadikan mantan ajudan saya jadi 
Presiden." 

    Permintaan tersebut tidak sulit bagi Jokowi karena dia punya hak 
prerogatif.Tapi ketika KPK menemukan paling sedikit dua bukti (Alasan 
menjadikan Budi tersangka korupsi) maka hak prerogatif tidak seampuh lazimnya 
dalam keadaan normal. Sekarang Jokowi menghadapi dilemma: mengangkat Budi dia 
akan berhadapan dengan KPK dan opini publik. Tidak melantik Budi Jokowi 
berhadapan dengan DPR dan Ibu mega.  Maka saking rumit dan pekanya soal ini, 
rasanya  selain Allah Subhanu Wataala, hanya Ibu Mega pada hari-hari mendatang 
ini yang bisa menyelamatkan Jokowi.


    Seandainya Ibu Mega masih sayang kadernya yang krempeng tapi berhasil 
memenangkan pilpres dan karena itu menjadi Presiden Republik Indonesia, 
nampaknya jalan termudah bagi Beliau adalah membujuk Budi untuk berinisiatif 
mengundurkan diri.



    Bung Salim.









    ------- Forwarded message ----------
    From: <[email protected]>
    Date: 2015-01-16 12:50 GMT+07:00
    Subject: Re: Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam
    To: [email protected]



    Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan pencalonan Komjen Budi Gunawan? 
Banyak pertanyaan yang perlu direspon. Mengapa presiden‎ tidak berkonsultasi 
dengan KPK dan PPATK padahal hal itu dilakukannya pada saat membentuk kabinet? 
Mengapa Kapolri di bypass saat mengambil keputusan? Mengapa Kompolnas tidak 
memanggil PPATK sebelum menyampaikan rekomendasi kepada Presiden, padahal hal 
ini dilakukan pada waktu lalu ketika merekomendasi calon Kapolri sebelum ini? 
Mengapa DPR begitu cepat mengambil keputusan tanpa mengundang pendapat KPK dan 
PPATK, padahal sebelum ini selalu dilakukannya? Mengapa petinggi-petinggi 
partai yang tergabung dalam KIH mengumbar pernyataan mendukung pencalonan 
setelah bolak balik ke Teuku Umar? Mengapa partai-partai ini dan yang di DPR 
mengambil jalan bertentangan dengan opini publik yang luas? Dimana pusat 
pemerintahan sekarang? Di Merdeka Utara atau di Teuku Umar?AT

    Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.
          From: Salim Said
          Sent: Jumat, 16 Januari 2015 11.07
          To: Group Diskusi Kita; alumnas-oot; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
          Reply To: [email protected]
          Subject: Fwd: Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam 





    ---------- Forwarded message ----------
    From: Chan CT <[email protected]>
    Date: 2015-01-16 10:45 GMT+07:00
    Subject: Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam
    To: GELORA_In <[email protected]>



    Jum'at, 16 Januari 2015 | 10:10 WIB
    Budi Gunawan Tersangka, PDIP Anggap KPK Dendam  
     Advertisement
    Politikus PDIP, Hasto Kristiyanto, seusai bertemu Presiden Joko Widodo di 
Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, 23 Oktober 2014. 
TEMPO/Subekti



    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDIP Hasto 
Kristiyanto menganggap Komisi Pemberantasan Korupsi bekerja secara bias dalam 
penetapan Komisaris Jenderal Budi Gunawan sebagai tersangka. Ia yakin lembaga 
antirasuah itu sedang meluncurkan serangan karena tak dimintai rekomendasi 
dalam keputusan pencalonan Kepala Kepolisian RI.

    "Tapi, kan, tak ada ketentuan presiden harus memilih Kapolri harus 
berdasarkan pertimbangan KPK. Menurut Undang-undang itu, ya, pertimbangan 
Komite Kepolisian Nasional," kata Hasto kepada wartawan di kediaman Megawati 
Soekarnoputri, Jumat, 16 Januari 2015 (baca juga: Jawaban Jokowi Soal Pilih 
Budi Gunawan tanpa KPK).

    Selain itu, Hasto juga mencurigai langkah KPK itu disetir oleh orang yang 
dendam karena tidak diajak dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Serta oleh 
orang yang mungkin dendam karena tidak jadi diajak menjadi wakil presiden 
pasangan Jokowi dalam pemilihan presiden lalu.

    "Ada pihak yang sedang memancing di air keruh. Tapi yang jelas, itu bukan 
dari partai. Karena seluruh partai, kan, kompak mendukung Kapolri terpilih," 
kata Hasto menolak menyebutkan nama yang ditudingnya itu. "Coba pikirkan 
sendiri. Yang jelas bukan saya."

    Hingga saat ini, belum ada pernyataan dari Jokowi mengenai status Komisaris 
Jenderal Budi Gunawan. Kepala Lembaga Pendidikan Polri jadi Kapolri idaman 
Jokwoi walau KPK telah menetapkannya sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi 
(baca juga: Reaksi KPK Ketika DPR Setujui Komjen Budi Gunawan).


    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.



    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.


    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.




    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.



    -- 
    Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
    Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, 
kirim email ke [email protected].
    Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.




  -- 
  Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google 
Grup.
  Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
  Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke