FEMINISME BUKAN BERARTI MINTA HAK LEBIH. YANG DIPERJUANGKAN PEREMPUAN ADALAH HAK SAMA. MEMUSUHI LAKI-LAKI SAMA DENGAN MEMBENTUKAN KEPALA KE TEMBOK.
ASAHAN. From: mailto:[email protected] Sent: Saturday, April 25, 2015 10:31 AM To: Sastra Pembebasan ; Temu Eropa ; DISKUSI FORUM HLD Subject: #sastra-pembebasan# Perempuan dan Lingkungan Perempuan dan Lingkungan Oleh: Adita Widya Pangestika (Mahasiswi Komunikasi 2014 dan Anggota Divisi Perempuan Front Mahasiswa Nasional Ranting Unsoed) Dimana-mana kini, Dimana-mana kini bumi menua berubah Dimana-mana kini sawah menjelma gedung-gedung megah Dimana-mana kini warna hutan tak lagi hijau Dimana-mana kini matahari tampak terik panas mengkilau Dimana-mana kini gunung-gunung meletus Dimana-mana kini sungai-sungai meluap menggerus Dimana-mana kini asap-asap cerbong pabrik menguap Dimana-mana kini langit menghitam gelap Dimana-mana kini bumi berlinang air mata Dimana-mana kini seisi bumi meronta-ronta Dimana-mana kini manusia lupa asalnya Dimana-mana kini manusia rasakan keserakahannya Dimana-mana kini kita berserah di doa yang terapal Dimana-mana kini kita diam di samping kubur menunggu ajal -Masroer, 25 April '14 ~(20:24). < !--[if !supportLineBreakNewLine]--> Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber dayaalam yangmelimpah. Potensi-potensi alam yang ada di darat maupun di perairan, sejatinya harus mampu untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia, mulaidarikebutuhan sandang, pangan maupun papan. Namun hal itu tidak terjadi karena negara sebagai pihak yang menguasai sumber daya alam belum mampu mengelola dari hulu ke hiliruntukkemakmuran rakyatnya,seperti yang diamanatkan dalamUUD 1945 pasal 33 ayat (3) yang berbunyi “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Seluruh kekayaan Indonesia dieksploitasi dengan dalihpembangunan perekonomian negara.Tetapi pengeksploitasian yang besar-besaran itu melihat dampak yang panjangkondisi lingkungan hidup. Berbagai kerusakan lingkungan hidup yang terjadi kian sulit ditangani, karena kebutuhan manusia harus terus adauntukmemenuhi kebutuhan hidupnya. Akibat dari eksploitasi alam yang besar-besaran membuat semakin parah rusaknya lingkungan hidup, misal kebakaran hutan di Kalimantan Baratyang ternyata sengaja dilakukan oleh negara melalui PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dalam rangka alih fungsi hutan tropis menjadi lahan perkebunan industri khususnya kelapa sawit. Dampak negatifnya yang terjadi adalah musnahnya keanekaragaman hayati yang ada di hutan Kalimantan Barat.Imbasnyaterjadi banjir di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Begitupun dengan penghancuran hutan rimba (virgin forest) di Merauke, yang dilakukan oleh perusahaan Medco melalui skema Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) untuk membangun Food Estate untuk keperluan pasar internasional. Di Rembang pengeksploitasian besar-besaran yang dilakukan oleh PT. Semen Indonesia dengan cara penambangan pabrik semen yang nantinya dapat merusak lingkungan di sekitar cekungan Watuputih sebagai sumber air rakyatdi daerahRembang. Dari permasalahan lingkungan yang semakin parah, beberapa feminis beranggapan bahwa terjadinya kerusakan lingkungan dilakukan oleh laki-laki sebagai akibat dari tindakan eksploitasi dan pembangunan (baca: Eco-feminisme), dengan kata lain feminis ini menyalahkan kaum laki-laki sebagai penyebab dari semuanya kerusakan alam. Pandangan ini jelaskeliru karena wewenang dalammenentukan ataupun membuat suatukebijakan yangberhubungan olehlingkungan bukan hanya dipegang oleh laki-laki, tetapi seluruhnya baik itu laki-laki dan perempuan dalam bentuk negara sebagai penanggung jawab. Meskipun memang karena masih berlangsungnya relasi yang patriarkis dalam masyarakat, banyak laki-laki yang mendominasi hubungan kerja ekonomi. Namun tidak lantas hubungan patriarkal sajayang mempengaruhi kerusakanlingkungan. Medco Energy yang terlibat atas MIFEE adalah perusahaan dipimpin oleh laki-laki maupun perempuan, yakni Lukman Mahfoedz, Lany Wong, Firla Berlini, dan Akira Mituza. BahkanMenteri BUMN, Menteri Kelautan dan Perikanan, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanandiisi nama-nama perempuanyaitu Rini M. Soemarno, Susi Pudjiastuti, dan Siti Nurbaya yang semuanya adalah perempuan. Sebagai Menteri-menteri tadi yang bertanggung jawab sesuai dengan jobdesknya. Penyebab utama dari kerusakan lingkungan erat kaitannya dengan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh klas yang berkuasa, borjuasi besar komprador sebagai investor melalui korporasinya bersama negara sebagai alat legitimasi untuk menguasai kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Dalam kasus pembakaran dan alih fungsi hutan di Kalimantan Barat misalnya, kebijakan tersebut untuk alih fungsi hutan berada di tangan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2005 pemerintah mencanangkan pembukaan lahan sawit baru seluas 1,5 juta hektar. Namun kenyataannyadi lapangan menunjukan lebih dari 3 juta hektar lahan sawit baru telah dibuka dengan perizinan yang sangat mudah. Begitupun dengan kasus MIFEE di Merauke dan Tambang Semen di Rembang. Segala kerusakan lingkungan selalu ada pihak dari negara dan borjuasi besar komprador sebagai investornya. Oleh karena itu persoalan kerusakan alam tidak semata-matahanyadisebabkan oleh laki-laki, melainkan juga dikarenakan adanya relasi kerja ekonomi yang memang tidak dapat dipungkiri masih melanggengkan budaya patriarkal. Pada dasarnya laki-laki dan perempuan harus bekerjasama untuk mengubah persepsi ketimpangan gender yang sudah terlanjur menyebar luas di masyarakat. Serta terus berusaha bersama untuk memperbaiki kerusakan alam. Karena alam tidak bisa lagi dimaknai sebagai warisan untuk anak cucu kita, melainkan titipan dari anak cucu kita. Kaum perempuan harus berhenti menyalahkan laki-laki atas segala bentuk kerusakan lingkungan yang terjadi, karena perilaku tersebut justru semakin mempertegas gambaran bahwa perempuan adalah kaum yangmasih tersubordinasi oleh kaum laki-laki. Perempuan harus turut berpartisipasi dalam usaha menjaga lingkungan hidup serta menjaga kelestariannya. Sehingga laki-laki dan perempuan harus diorganisasikan dalam sebuah organisasi dalam satu garis politik yang memiliki cita-cita mulia, yaitu Demokrasi Nasional. Karena dalam organisasi bergaris politik Demokrasi Nasional laki-laki dan perempuan berjuang bersama-sama untuk melepaskan Indonesia dari belenggu setengah jajahan setengah feodal yang telah merusak lingkungan hidup kita. Perempuan Bangkit Melawan Penindasan!!!
