Sebuah ide yang sangat baik . Kita tunjukkan solidaritas dengan perbuatan dan 
hati nurani.INDONESIA MEMILIKI LEBIH DARI TUJUH BELAS RIBU PULAU.

ASAHAN.

From: Salim Said 
Sent: Wednesday, May 20, 2015 4:56 AM
To: Group Diskusi Kita ; [email protected] ; alumnas-oot ; 
[email protected] 
Subject: Fwd: [alumnas-OOT] Rohingya'> petisi di Change.org yang sudah 
ditandatangani oleh lebih dari 12.000 orang.





Kita punya banyak pulau yang masih belum kita manfaatkan. Bagaimana kalau 
sebuah pulau kita "sedekahkan" bagi pengungsi Rohingya? Biaya pembangunan 
prasarana di pulau tersebut diusahakan agar menjadi tanggung jawab masyarakat 
internasional.

Bung Salim.






---------- Forwarded message ----------
From: Tommy tamtomo [email protected] [alumnas-OOT] 
<[email protected]>
Date: 2015-05-20 6:39 GMT+07:00
Subject: Re: [alumnas-OOT] Rohingya'> petisi di Change.org yang sudah 
ditandatangani oleh lebih dari 12.000 orang.
To: "[email protected]" <[email protected]>, Tommy Tamtomo' 
via SelamatkanRTH <[email protected]>



  
Bisakah Indonesia sediakan satu pulau untuk pengungsi Rohingya?
Reporter : Faiq Hidayat | Rabu, 20 Mei 2015 05:49
41 
Share
8 
Tweet



 

Imigran Rohingya di Aceh. ©AFP PHOTO/Januar 
Merdeka.com - Ratusan pengungsi Rohingya dari Bangladesh dan Myanmar mendarat 
di pantai Langsa bagian timur Provinsi Aceh pada Minggu (10/5) kemarin. 
Kedatangan ratusan etnies Rohingya ini disusul pengungsi lainnya.

Namun, persoalan Rohingya masih menjadi pertimbangan pemerintah untuk 
menyelesaikannya. Sebab, saat ini belum ada komitmen dari Myanmar untuk 
bertanggung jawab atas persoalan Rohingya.

Lalu, bisakah Indonesia sediakan satu pulau untuk pengungsi Rohingya?

Pengamat hubungan internasional Zein Latuconsina mengatakan, Indonesia bisa 
menampung pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh. Sebab, Indonesia masih 
mempunyai pulau-pulau yang tak dihuni penduduknya.

"Ada ribuan pulau yang tak berpenghuni yang tersebar di nusantara yang dapat 
dijadikan tempat penampungan pengungsi Rohingya. Dengan berperan aktif 
memberikan bantuan seperti dahulu ketika membuat penampungan bagi pengungsi 
Vietnam di Kepulauan Riau," kata Zein saat berbincang dengan merdeka,com, 
Selasa (19/5) malam.

Kendati demikian, menurut dosen hubungan internasional IISIP Jakarta ini, 
Indonesia mempunyai pengalaman yang sama dalam menampung penduduk asing asal 
Vietnam. Namun, dalam persoalan Rohingya tergantung kebijakan pemerintah untuk 
menyelesaikannya. 

"Ini sebenarnya peluang buat Indonesia untuk membuktikan pada dunia 
internasional bahwa Indonesia mampu mengelola problem pengungsi asal Myanmar 
(Rohingya)," ujarnya.

Bahkan, kata dia, sikap pemerintah dalam menangani persoalan Rohingya ikut 
berperan aktif memberikan bantuan masalah kemanusiaan, karena Malaysia dan 
Vietnam enggan menampung pengungsi tersebut. 

"Sambil kemudian melakukan konsolidasi kepada para anggota ASEAN untuk lebih 
tanggap dalam merespon kejadian kemanusiaan ini. Keinginan negara-negara ASEAN 
untuk melakukan komunikasi dalam membahas bencana kemanusiaan ini sudah ditolak 
oleh pemerintah Myanmar. Ini menjadi bukti bahwa memang tidak ada itikad baik 
dari Myanmar," katanya. 


"ASEAN perlu mengambil tindakan tegas dalam merespon keengganan Myanmar ini, 
dunia internasional bahkan harus terlibat dan menginvestigasi apakah kasus ini 
dapat dikategorikan sebagai pembersihan etnis," pungkas di




On Wednesday, May 20, 2015 6:32 AM, "Tommy tamtomo [email protected] 
[alumnas-OOT]" <[email protected]> wrote:




  
Kita mencapai 14,000

     
           
      Kita mencapai 14,000 
      Bukan 12,000. Presiden mulai memberikan pengarahan yang sesuai dengan 
tuntutan kemanusiaan. http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/i... 
     
      View on www.change.org Preview by Yahoo 
     
     


'Presiden Jokowi, terimalah pengungsi Rohingya'

     
           
      'Presiden Jokowi, terimalah pengungsi Rohingya' 
      Jokowi akan lakukan pendekatan kemanusiaan terhadap pengungsi Rohingya. 
     
      View on www.rappler.com Preview by Yahoo 
     
     


'Presiden Jokowi, terimalah pengungsi Rohingya'
Jokowi akan lakukan pendekatan kemanusiaan terhadap pengungsi Rohingya.
Rappler.com 
Published 2:04 PM, May 19, 2015 
Updated 4:09 PM, May 19, 2015 

Dus Mamath (kiri) dan Muhammad Toyyub (kanan) saat diwawancara di halaman 
tempat penampungan sementara imigran asal Myanmar dan Bangladesh di Gedung 
Olahraga (GOR) Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Selasa, 12 Mei 2015. Foto 
Nurdin Hasan/Rappler 


JAKARTA, Indonesia — Desakan kepada pemerintah Indonesia untuk menampung 
pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar semakin menguat.


Hal tersebut didukung oleh petisi di Change.org yang sudah ditandatangani oleh 
lebih dari 12.000 orang.


"Pengungsi Rohingya tidak akan selamat jika tidak segera diizinkan mendarat di 
wilayah Indonesia, apalagi saat negara-negara lain menolak mereka,” tulis 
inisiator petisi Marco Kusumawijaya.
Pekan lalu, ribuan warga Bangladesh dan Myanmar terdampar di Aceh Utara. 
Kebanyakan dari mereka adalah warga Rohingya yang mencari suaka ke Malaysia 
akibat mendapat perlakuan tak manusiawi di negara asal.
“Lebih baik kami mati di pangkuan saudara kami Muslim Aceh (di sini), dari pada 
harus menerima siksaan setiap hari dari militer dan aparat pemerintah Burma,” 
begitulah untaian kalimat dalam bahasa Inggris terbata-bata yang diucapkan 
salah seorang pencari suaka Rohingya, seperti dikutip Tribunnews.com.
Kebanyakan pengungsi Rohingya adalah wanita dan anak-anak yang ingin menemui 
suami mereka yang sudah terlebih dulu mendapat pekerjaan di Malaysia.
(BACA: Potret pilu anak Rohingya di Aceh)
Namun, perahu kayu yang membawa mereka sempat terombang-ambing di lautan selama 
kurang lebih 3 bulan tanpa persediaan makanan dan minuman.
Saat ini, Komite Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan Internasional 
Organization of Migration (IOM) dalam proses meregistrasi dan mendata para 
pengungsi di kamp pengungsian di Kuala Langsa dan Kuala Cangkoi, Aceh.
Marco mengingatkan Jokowi bahwa Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan 
Asia Tenggara (ASEAN), harus menunjukkan kepemimpinan dalam kemanusiaan dan 
kedermawanan. Apalagi, 2015 adalah tahun dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN 
(MEA), di mana negara-negara yang tergabung dalam ASEAN terintegrasi satu sama 
lain. 
Ia juga mengingatkan Jokowi atas sila kedua dalam Pancasila: Kemanusiaan yang 
adil dan beradab.
Didesak tokoh politik

Pengungsi Rohingya di kamp Kuala Langsa, Aceh Utara, Sabtu, 16 Mei 2015, 
didominasi oleh perempuan dan anak-anak. Dari kiri ke kanan: Nurul Jannah (13 
tahun), Sahinur Begom (20), Nurhabbah (16), Shahakkara Bibi (14). Foto oleh 
Febriana Firdaus/Rappler 
Pemerintah Indonesia juga mendapat desakan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat 
(DPR) RI perihal masalah ini.
“Saya menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil inisiatif 
kerjasama dengan Malaysia dan Thailand, dua negara lain yang juga menampung 
banyak pengungsi. Ini sudah menjadi isu ASEAN, bukan lagi semata masalah 
internal dalam negeri Myanmar,” ujar Irine Roba, anggota Komisi I DPR RI yang 
meliputi bidang luar negeri.
“Awal April lalu saya berkunjung ke Myanmar sebagai bagian dari misi ASEAN 
Parliamentarians for Human Rights (APHR) dan melihat bahwa arus pengungsi masih 
akan terus bertambah, mengingat ketidakadilan terhadap Muslim Rohinguya masih 
terus terjadi hingga sekarang,” ucap politis PDI-Perjuangan ini.
(BACA: Pengungsi Rohingya dan impian bertemu keluarga di Malaysia)
Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga mendorong Jokowi agar memperhatikan nasib 
pengungsi Rohingya. Menurutnya, hal terpenting yang harus dilakukan adalah 
penyelamatan, bukan menolak perahu yang terdampar.
"Harus menyelamatkan dulu nyawa manusia termasuk pengungsi Rohingya di 
Indonesia diperlakukan dengan baik. Proses selanjutnya nanti kita atur sesuai 
dengan mekanisme yang ada. Kita harus bantu secara kemanusiaan," ujar Fadli, 
yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Senin.
Dukungan untuk menerima pengungsi Rohingya juga disampaikan oleh Ketua Umum PP 
Muhammadiyah Din Syamsuddin. 
"Ada ketentuannya memang, tapi saya pribadi senang sekali etnik Rohingya 
Myanmar bisa diterima di Indonesia karena kebetulan mereka tak berwarga negara 
dan mereka juga Muslim. Indonesia akan berbesar hati karena masih banyak pulau 
yang belum dihuni," kata Din, Senin, 18 Mei. 
Tak izinkan pengungsi masuk wilayah Indonesia, Panglima TNI dikecam

Somida Hatul (kedua dari kiri) dan Thoyyiba (tengah) bersama para pengungsi di 
kamp Kuala Langsa, Aceh Utara, 16 Mei 2015. Somida berencana ke Malaysia 
bersama anaknya yang masih berumur 4 bulan demi berkumpul dengan suaminya di 
Malaysia. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler 
Sebelumnya diberitakan bahwa Tentara Nasional Indonesia menolak perahu-perahu 
yang mengangkut pengungsi untuk memasuki wilayah Indonesia.
“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada 
kesulitan di laut, maka wajib dibantu. Kalau ada sulit air atau makanan kami 
bantu, karena ini terkait human. Tapi kalau mereka masuki wilayah kita, maka 
tugas TNI untuk menjaga kedaulatan," ucap Panglima TNI Jenderal Moeldoko, pada 
15 Mei.
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dalam siaran 
persnya mengecam pernyataan sikap Moeldoko yang tidak mengizinkan masuknya 
pengungsi dan pencari suaka ke wilayah Indonesia. 
“KontraS menyesalkan kemunduran atas penghormatan pemerintah Indonesia terhadap 
HAM dan Kemanusiaan melalui pernyataan dan sikap dari TNI yang tidak 
mengindahkan dan tidak tunduk terhadap prinsip non-refoulment sebagai hukum 
kebiasaan Internasional,” tulis Koordinator KontraS Haris Azhar dalam siaran 
persnya. 
KontraS pun mendesak pemerintah Indonesia untuk “melakukan koordinasi antar 
kementerian dan institusi dalam rangka memastikan pemenuhan HAM pengungsi dan 
pencari suaka terpenuhi dengan layak sesuai dengan standar minimum yang 
terdapat pada Konvensi 1951 dan Protokol 1967 mengenai penanganan pengungsi dan 
pencari suaka”.
Jokowi: Diselesaikan dengan kemanusiaan

Para imigran asal Rohingya Myanmar dan Bangladesh sedang tertidur pulas di 
tempat penampungan sementara di Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, Kabupaten Aceh 
Utara, Selasa, 12 Mei 2015. Foto Nurdin Hasan/Rappler 
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Andi Widjojanto mengatakan Presiden Jokowi 
sudah memberikan arahan terkait penanganan pengungsi Rohingya, yakni dengan 
pendekatan kemanusiaan. 
"Mengutamakan kemanusiaan. Pakai prinsip-prinsip yang ada di global untuk 
masalah-masalah pengungsi, utamakan kemanusiaan dalam menangani masalah 
Rohingya," kata Andi, Senin.
Andi mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada komunikasi bilateral yang terjalin 
antara pemerintah Indonesia dan Myanmar. Indonesia juga tengah mengupayakan 
komunikasi dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. —Dengan 
laporan dari Haryo Wisanggeni/Rappler.com







-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Grup 
Independen" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CAJKLYGY4kE-_FCkFOY_mHb1N4U_xEUVFTO7Df_YumZSmB_9fgg%40mail.gmail.com.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke