Jokowi pasti kalah JK itu keladi tua Jokowi itu tauge yang baru tumbuh. ASAHAN From: Salim Said Sent: Saturday, May 9, 2015 2:22 AM To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] ; [email protected] Subject: Fwd: Pertarungan Sengit Presiden Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla ---------- Forwarded message ---------- From: Chan CT <[email protected]> Date: 2015-05-09 6:44 GMT+07:00 Subject: Pertarungan Sengit Presiden Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla To: GELORA_In <[email protected]> Pertarungan Sengit Presiden Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla Son GokuMay 8th, 2015, 8:10 amNo comment 41 views http://www.islamtoleran.com/pertarungan-sengit-presiden-jokowi-dengan-wapres-jusuf-kalla/ Pertarungan Sengit Presiden Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla,3 / 5 ( 3votes ) ISLAMTOLERAN.COM- Saat menjadi Wapres SBY 2004-2009, Jusuf Kalla didaulat sebagai ‘The Real President’. Itu karena peran Jusuf Kalla sangat menonjol dalam mengeksekusi segala kebijakan Presiden SBY. Saat itu ketenaran Jufuf Kalla membubung di awan tinggi berkat kepiawaiannya dalam beragumentasi. Jusuf Kalla saat itu dikenal sangat aktif, agresif, cepat memutuskan dan banyak menelurkan ide-ide brilian. Publik pun mengenang Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden Indonesia terbaik dalam sejarah. Kini saat Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden untuk kedua kalinya, awan suram menerpanya.Sebagai Wakil Presiden Jokowi, kekuasaan Wapres Jusuf Kalla terlihat benar-benar dibatasi. Penulis juga heran, setelah enam bulan menjadi Wakil Presiden Jokowi, penulis tak melihat kehebatan Jusuf Kalla lagi. Penulis tidak melihat lagi Jusuf Kalla yang aktif, taktis, cerdas dan cepat memutuskan dengan ide-ide hebatnya. Penulis hanya melihat pendapat-pendapat Jusuf Kalla yang kerap berseberangan dengan Presiden Jokowi. Kelihatan sekali Jusuf Kalla semakin tenggelam dalam bayang-bayang ketenaran dirinya semasa Wapres SBY. Lalu pertanyaannya adalah apa yang membuat Jusuf Kalla tidak bergigi di jaman Jokowi? Mari kita analisis hubungan Jusuf Kalla dan Jokowi sejauh ini. Dari Awal hubungan Jokowi dengan Jusuf Kalla manis di permukaan tetapi pahit di kedalaman. Jokowi-Kalla dalam Pilpres 2014 lalu adalah pasangan yang ‘dipaksakan’ oleh Megawati. Pada mulanya Jokowi tidak pernah bermimpi bahwa Jusuf Kalla bakal menjadi pendampingnya. Demikian juga Jusuf Kalla tidak pernah bermimpi menjadi wakil presiden lagi apalagi menjadi pendamping Jokowi. Itulah sebabnya Jusuf Kalla pada awal Mei 2014 pernah mengejek Jokowi dengan mengatakan bahwa bila Jokowi dicalonkan menjadi preseden, maka bisa hancur negeri ini, bisa bermasalah negeri ini. Namun begitulah politik. Hari ini kawan, besok musuh. Hari ini musuh, besok kawan. Tidak ada kawan dan musuh sejati. Yang ada adalah kepentingan sejati. Fakta kemudian, Jusuf Kalla menjadi Cawapresnya Jokowi dalam Pilpres Juli 2014 dan berhasil menang tipis atas terhadap pasangan Prabowo-Hatta. Tujuan utama Megawati memasukkan Jusuf Kalla mendampingi Jokowi dan bukan putrinya Puan Maharani adalah untuk mengawal segala kebijakan Presiden Jokowi. Dengan Jusuf Kalla yang berpengalaman dan cukup berpengaruh dalam partai Golkar, maka kepentingan strategis Megawati dan Surya Paloh terjaga. Bagi Megawati, Kalla adalah penyeimbang, pengawal dan pendamping Presiden Jokowi dan bukan hanya sekedar wakil presiden yang tugasnya hanya menghadiri seremonial belaka kayak Budiono itu. Tugas mulia dari sang Ibu itu diterima dan diemban oleh Jusuf Kalla dengan hati riang gembira. Rasa hebat bercampur euphoria mumpung aji kemudian menyelimuti Wapres Jujsuf Kalla. Dalam hati sanubari terdalam Jusuf Kalla terbersit gambaran dirinya yang lebih hebat saat menjadi Wapres SBY. Namun apa yang menjadi realita kemudian? Jokowi yang paham betul gelagat Jusuf Kalla yang ingin menjadi ‘The Most Phenomenal President’ dan bukan hanya “The Real President’ menghadang langkah Jusuf Kalla dengan salah satu strategi perang Tiongkok Kuno Sun Tzi yakni memakai teman musuh untuk melemahkan musuh. Jokowi memasukkan Andi Widjajanto, Luhut Panjaitan (Senior Golkar) dan Rini Sumarno dalam lingkarang ring 1 istana untuk menghadang dan mengurangi porsi sepak terjang Jusuf Kalla. Manufer ini dilakukan dengan sengaja oleh Presiden Jokowi untuk menunjukkan kepada publik bahwa Jokowi bisa menangkis superioritas trio maut: Mega, Kalla dan Palloh dengan ‘Trio Singa: Andi, Rini dan Luhut yang tidak kalah hebatnya. Sejak penunjukkan ‘Trio Singa’ oleh Presiden Jokowi, maka mulailah pertarungan sengit antara poros ‘Trio Maut’ Kalla-Mega-Kalla berhadapan dengan poros Jokowi dengan benteng pertahanan ‘Trio Singa’ Andi-Luhut-Rini. Melihat Jokowi mulai tak jinak, Megawati mulai melancarkan serangan pertama dengan memaksakan Jokowi mengganti Kapolri di tengah jalan yang belum pensiun dengan mencalonkan Budi Gunawan sebagai gantinya. Kabareskrim Suhadi Alius yang sangat dekat dengan KPK, diganti dengan Budi Waseso. Jokowi dan ‘trio singa’ yang belum mengkonsolidasi kekuatan saat itu diam terpaku dan mati kutu. Jokowi tidak mempunyai pilihan lain selain tunduk pada kemauan poros ‘TrioMaut’. Lalu sebagaimana kita tahu kemudian Jokowi pada tanggal 10 Januari 2015 menetapkan pencalonan Budi Gunawan tanpa meminta pendapat KPK dan Budi Waseso sebagai Kabareskrim. Skor 1-0 untuk kemenangan Trio Maut. Melihat Jokowi terhuyung mendapati serangan dari Trio Maut, maka bala bantuan datang dari KPK membela “Trio Singa’. Abraham Samad sebagai pimpinan KPK dengan tergesa-gesa pada tanggal 13 Januari 2015 dan tanpa panggilan pemeriksaan sebelumnya langsung menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka atas kasus rekening gendut. Skor 1-1 untuk ‘Trio Singa’. Untuk sementara, poros ‘trio maut’ mundur selangkah namun dengan segera melakukan serangan balik mematikan. Budi Gunawan menempuh pra-peradilan di Pengadilan Jakarta Selatan dan menang. lewat Kabareskrim Budi Waseso, trio melakukan serangan bertubi-tubi atas KPK dengan menangkap Bambang Widjajanto terkait kasus mempengaruhi saksi yang memberikan keterangan palsu. Abraham Samad kemudian ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pemalsuan dokumen. Pada tahap ini skor 2-1 untuk kemenangan trio maut. Setelah menggalang kekuatan dengan mendekati Prabowo, Jokowi akhirnya mampu membalas dengan membatalkan pelantikan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Skor kemudian 2-2 untuk kedua poros. Pertarungan sengit berikutnya Jokowi-Kalla terjadi saat penangkapan Novel Baswedan. Novel yang menyatakan ada kriminalisasi kepada dirinya langsung dibantah oleh Jusuf Kalla. Ada kesan jelas bahwa Jusuf Kalla bertindak seolah-olah menjadi pembela Polri dengan berseberangan dengan Presiden Jokowi yang justru mengeluarkan instruksi jelas untuk tidak menahan Novel dan agar Budi Gunawan tidak membuat lagi kontroversi. Kesan bahwa Jokowi terus bertarung dengan Jusuf Kalla terlihat pada perintah Jokowi kepada Kapolri agar melepas Novel Baswedan dan peringatan jelas kepada Budi Gunawan agar jangan membuat kontroversi. Skor sementara hingga pertarungan terkait kasus Novel 3-3 untuk kedua poros. Jokowi yang melihat usaha terus menerus dari trio singa untuk melemahkan KPK mulai melakukan manufer. Untuk menangkisnya Jokowi mulai mendorong KPK agar mengangkat penyidik dari TNI. Dengan adanya penyidik dari TNI, maka benturan antara KPK dan Polri dapat diminimalisir. Usaha Jokowi untuk menggalang dukungan penuh dari Moeldoko mulai berbuah hasil lewat keberanian Jokowi untuk lebih tegas kepada Budi Gunawan. Moeldoko sudah mulai digadang-gadang sebagai calon wakil presiden Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang. Usaha selanjutnya Jokowi untuk menguatkan kembali KPK adalah mendorong KPK bersama Polri dan Kejaksaan Agung membentuk tim satuan tugas (Satgas) antikorupsi untuk menyelesaikan sejumlah perkara korupsi besar. Lalu apa pertarungan berikutnya yang layak kita tunggu-tunggu? Wacana Reshuffle Kabinet yang semakin menguat. Rabu (6/5/15) Puan Maharani dan 33 anggota DPD PDIP menghadap Jokowi di istana. Ada apa? Apakah ini tekanan dari trio maut agar Jokowi segera melakukan reshuffle kabinet? Kemungkinan ya. Itu terlihat dari pernyataan-pernyataan Jusuf Kalla, ketua DPR Setia Novanto dan petinggi PDIP yang terus-menerus menghembuskan wacana perombakan kabinet. Sebaliknya ketika ditanya tentang perombakan kabinet, Jokowi hanya menjawab: ‘Kita lihat saja nantinya’. Demikian juga trio singa menegaskan bahwa tidak pernah ada pembicaraan apapun mengenai reshuffle kabinet. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya Jokowi belum mau melakukan reshuffle kabinetnya. Akankah wacana reshuffle kabinet menjadi ajang pertarungan yang lebih sengit antara trio maut dan trio singa? Siapa yang berhasil keluar sebagai pemenang? Mari kita tunggu. Penulis: Asaaro Lahagu (penulis di kompasiana) -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
[inti-net] Fw: Pertarungan Sengit Presiden Jokowi dengan Wapres Jusuf Kalla
'A.Alham' [email protected] [inti-net] Sat, 09 May 2015 04:10:17 -0700
