KALAU MEMANG BETUL PROTOKOLER ISTANA MENGHARUSKAN PRESIDEN JOKOWI MENGENAKAN 
SERAGAM MILITER DAN PRESIDEN MENURUT SAJA, MAKA KESAN  “PRESIDEN BONEKA” AKAN 
SEMAKIN DIYAKINI ORANG.
ASAHAN. 

From: fahri hamzah 
Sent: Saturday, June 20, 2015 10:26 AM
To: [email protected] 
Cc: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; [email protected] 
Subject: Re: [alumnas-OOT] Fwd: Ini Alasan Jokowi Kenakan Seragam Militer Saat 
Bertemu Din Syamsuddin

Prof jaya, 
Saya sangat mengapresiasi keinginan bapak untuk menegaskan bangsa kita sebagai 
bangsa yang keliru. Dan kekeliruan sebagai modal dasar bagi survival kita. 
Hanya dengan keliru kita bisa menghadapi kompleksitas dunia yg keliru ini.

Selamat keliru,
Fahri Hamzah.
dewan pengeliruan rakyat.



On 20 Jun 2015, at 08.56, Jaya Suprana <[email protected]> wrote:


  Niat Prof. Salim Said menasehati presiden Jokowi agar jangan mengenakan 
busana seragam militer jelas bagus karena pada hakikatnya warga sipil berbusana 
seragam militer memang bisa menimbulkan berbagai tafsir kurang bagus seperti 
halnya seorang lelaki berbusana perempuan. Nasihat Prof. Salim Said juga 
dilandasi pemikiran-pemikiran kelirumologis yang sangat relevan sebab beliau 
memang seorang mahakelirumolog bidang politik-militer yang memperoleh anugerah 
MURI sebagai doktor dan mahaguru pertama dalam bidang politik-militer 
Indonesia. Namun memang kekeliruan yang sudah terlanjur mengaprah akhirnya 
tidak lagi dianggap sebab tidak disadari sebagai keliru. Bahkan kekeliruan yang 
sudah mengaprah seperti istilah air-putih, ulang-tahun, fasisme, makna 
konsumerisme, sejarah G-30-S versi Orba, tafsir mashab Machiavelli, dll niscaya 
memiliki mekanisme defensif apabila akan dikoreksi. Alih-alih mengoreksi diri 
mereka yang sudah terbiasa dengan kekeliruan secara naluriah akan mati-matian 
mempertahankan kekeliruannya jangan sampai dikoreksi menjadi benar. Salam 
hormat dari jaya suprana

  jaya suprana


  Pada 18 Juni 2015 17.32, Salim Said <[email protected]> menulis:


    ---------- Forwarded message ----------
    From: andreas raharso [email protected] [alumnas-OOT] 
<[email protected]>
    Date: 2015-06-18 13:25 GMT+07:00
    Subject: Re: [alumnas-OOT] Fwd: Ini Alasan Jokowi Kenakan Seragam Militer 
Saat Bertemu Din Syamsuddin
    To: "'Melinda N. Wiria' [email protected] [alumnas-OOT]" 
<[email protected]>



      
    Masalah ini rasanya protokoler istana yang bertanggung jawab.
    Pak Jokowi mungkin tidak terpikir bahwa ini akan membuat dirinya dianggap 
gemar berpakaian militer.

    Salam,
    AR


    Sent from Windows Mail

    From: mailto:[email protected]
    Sent: ‎Wednesday‎, ‎17‎ ‎June‎ ‎2015 ‎10‎:‎02‎ ‎PM
    To: mailto:[email protected]

    Agak lebay alasannya. Waktu tempuh penerbangan dari Lampung ke Jakarta kan 
lebih dari cukup untuk sekedar ganti pakaian.

    Salam,
    AS


    ------Original Message------
    From: Salim Said [email protected] [alumnas-OOT]
    Sender: [email protected]
    To: Group Diskusi Kita
    To: alumnas-oot
    To: [email protected]
    To: [email protected]
    To: [email protected]
    ReplyTo: [email protected]
    Subject: [alumnas-OOT] Fwd: Ini Alasan Jokowi Kenakan Seragam Militer Saat 
Bertemu Din Syamsuddin
    Sent: Jun 17, 2015 17:08

      ---------- Forwarded message ---------- From: sukojo midjan 
<[email protected]> Date: 2015-06-17 10:17 GMT+07:00 Subject: Ini Alasan Jokowi 
Kenakan Seragam Militer Saat Bertemu Din Syamsuddin To: Salim Said 
<[email protected]> Ini Alasan Jokowi Kenakan Seragam Militer Saat Bertemu 
Din Syamsuddin Rabu, 17 Juni 2015 | 07:14 WIB KOMPAS.com/Sabrina Asril Presiden 
Joko Widodo menemui petinggg PP Muhammadiyah di Istana Merdeka,Selasa 
(16/6/2015). JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Tim Komunikasi Kepresidenan, Teten 
Masduki, mengatakan alasan Presiden Joko Widodo terpaksa mengenakan seragam 
militer ketika menemui pimpinan Pengurus Pusat Muhammadiyah, yang dipimpin Din 
Syamsuddin, di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (16/6/2015). Menurut Teten, hal 
itu untuk efisiensi waktu. Teten menjelaskan, Presiden mengenakan seragam 
militer saat menyaksikan latihan perang TNI AD di Baturaja, Sumatera Selatan, 
Selasa siang. Selain sebuah kewajiban, kata Teten, Jokowi mengenakan baju 
militer untuk menunjukkan kebanggaannya pada prajurit yang sedang berlatih. 
"Setelah memberi arahan, Presiden dengan tetap naik (tank) Anoa diantar ke 
mobil. Presiden langsung menuju Lanud Gatot Subroto di Lampung dan berangkat ke 
Jakarta," kata Teten dalam pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa 
malam. Setibanya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jokowi langsung masuk 
ke dalam mobil dan meluncur ke Istana Merdeka tanpa sempat berganti pakaian. 
Jokowi mengejar waktu bertemu dengan Din Syamsuddin dan rombongan yang telah 
menunggu cukup lama di Istana. Semula, agenda pertemuan Presiden dengan 
pengurus pusat Muhammadiyah dijadwalkan digelar pukul 16.00 WIB. Agenda 
tersebut kemudian diundur secara mendadak menjadi pukul 17.00 WIB. "Itulah 
mengapa Presiden masih memakai baju militer. Jadi tidak ada maksud apa-apa 
kecuali ingin segera menemui para tokoh Muhammadiyah itu," kata Teten. Presiden 
Jokowi mengenakan seragam militer warna hijau yang biasa dikenakan pasukan 
Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) lengkap dengan baret 
hijau di kepalanya, saat menerima kedatangan pengurus pusat Muhammadiyah. 
Penampilan Jokowi ketika menyambut kedatangan rombongan Muhammadiyah, yang 
semuanya memakai baju batik, itu mengundang perhatian wartawan yang meliput. 
Hal itu karena sangat jarang seorang Presiden mengenakan seragam tentara di 
Istana, apalagi dalam pertemuan tidak formal seperti audiensi dengan PP 
Muhammadiyah. Baru kali ini Jokowi mengenakan seragam militer di lingkungan 
Istana. Jokowi pernah mengenakan seragam yang sama saat meresmikan RS Muhammad 
Ridwan Meuraksa Kodam Jaya di Pinang Ranti, Jakarta Timur, pada 13 Mei lalu. 
Jokowi juga sempat mengenakan seragam militer TNI saat diangkat sebagai warga 
kehormatan TNI pada 16 April silam. Ketika itu, Jokowi mengenakan seragam hitam 
dan baret dengan warna yang sama. Dikritik Kebiasaan Jokowi mengenakan seragam 
militer itu juga mengundang kritik dari pengamat militer Universitas 
Pertahanan, Salim Said. Seusai bertemu Jokowi pada 4 Juni lalu, Salim dengan 
keras mengingatkan mantan Gubernur DKI Jakarta itu bahwa dirinya berasal dari 
warga sipil. "Saya ingatkan Pak Jokowi dengan hormat dan rendah hati, jangan 
membiasakan menggunakan pakaian militer. Beliau (Jokowi) itu kan sipil," kata 
Salim. Penulis : Indra Akuntono Editor : Laksono Hari Wiwoho                    
      
    Sent from IU AluMail

    ------------------------------------

    ------------------------------------


    ------------------------------------

    Yahoo Groups Links




    


    -- 
    You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Grup Independen" group.
    To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an 
email to [email protected].
    To post to this group, send email to [email protected].
    To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CAJKLYGasygwh-CQZpP5uqp80q5zY163O4vhbzGbuP%2Bm8wqBs1A%40mail.gmail.com.
    For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.


  -- 
  You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"Grup Independen" group.
  To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an 
email to [email protected].
  To post to this group, send email to [email protected].
  To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CALcuTPTO2rJbHUn0d74xGHnVBDDCSrOcizsusmZwfJ779t_jPA%40mail.gmail.com.
  For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

-- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Grup 
Independen" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
To view this discussion on the web visit 
https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/F16EA154-D1CF-40B0-A6B9-8631B4F74A93%40fahrihamzah.com.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke