From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, June 12, 2015 10:15 AM
To: [email protected] ; Dr. Irawan ; Tionghoa-Net 
Subject: Re: #sastra-pembebasan# Re: [t-net] RE: [GELORA45] Apakah Paus 
Fransiskus Seorang Komunis?

  

EX. KOMUNIS YANG MENJADI PEMBELA GIGIH DAN PENGAGUM KAPITALISME. SALAH SATU 
KORBAN KEGONCANGAN IDEOLOGI YANG DAHSYAT.
ASAHAN

From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, June 12, 2015 6:34 AM
To: Dr. Irawan ; Tionghoa-Net 
Subject: #sastra-pembebasan# Re: [t-net] RE: [GELORA45] Apakah Paus Fransiskus 
Seorang Komunis?

  

Bung Irawan yb,

Ooouuh, rupanya keluarga bung juga termasuk korban masa Revolusi Sosialis yang 
mulai dilancarkan tahun 56 di Tiongkok, dimana kapitalis-kapitalis dicabut hak 
hidupnya sebagai sasaran dan musuh revolusi, kemudian dimasa “Maju Melompat” 
untuk mengejar produksi baja, semua besi pagar dicabut untuk dicor kembali, ... 
didesa-desa juga dibangun tanur pengecoran besi-baja. Dikira dengan demikian 
maju melompat bisa tercapai. Tidak tahunya, kemauan subjektive yang betapapun 
baik dan indahnya, juga bisa berakibat buruk, tidak mencapai apa yang 
diharapkan bahkan sebaliknya.

TUJUAN KOMUNIS adalah membebaskan umat manusia dari penindasan manusia, 
menghapuskan sistem penghisapan manusia oleh manusia, menciptakan satu 
kehidupan masyarakat yang adil, dimana tiada lagi klas-klas, meniadakan klas 
kapitalis yang dibilang penindas/penghisap klas buruh. Jadi hendak menciptakan 
satu masyarakat yang seadil-adilnya, tidak lagi ada penghisapan manusia atas 
manusia! Dimana, dijalankan pemilikan bersama dan semua orang bisa menikmati 
secukupnya! Sangat sulit bisa dibayangkan kapan bisa dicapai tujuan membantuk 
masyarakat komunis yang dicita-citanya begitu idealnya, tanpa ada perbedaan, 
dan semua umat manusia bisa hidup setara dengan penuh keadilan dan kemakmuran 
berlimpah, ... 

Namun boleh-boleh saja seseorang berangan-angan begitu tinggi dan idealnya, 
sedang untuk mencapai kesitu, tentu perlu satu proses panjang yang sesuai 
dengan HUKUM perkembangan masyarakat. Karena menurut saya, itu dibutuhkan 
mengubah mental manusia umumnya, harus menciptakan manusia-manusia yang berjiwa 
komunis, yang tidak lagi mementingkan diri sendiri, tidak serakah dan selalu 
hidup dengan mendahulukan kepentingan umum, kepentingan rakyat banyak. Dan 
ternyata Agama didunia ini yang sudah ribuan tahun juga berusaha mengubah 
umatnya menjadi manusia-manusia yang tidak egoistis, bisa memperhatikan dan 
peduli pada sesama umat manusia yg juga ciptaan Tuhan! Kenyataannya bagaiamna? 
Sampai sekarang sudah diusahakan ribuan tahun juga belum berhasil baik! Didunia 
ini masih saja terjadi cakar-mencakar, perebutan untuk mengangkangi kekayaan 
sebesar-besarnya untuk diri sendiri! Dan juga juga oleh umat Agama sendiri! 
Yang namanya KOMUNIS juga terdiri dari manusia-manusia normal yang bisa lakukan 
KESALAHAN! Sama halnya dengan yang terjadi pada setiap Agama, yang salah-salah 
itu tidak identik dengan Agama, karena yang salah adalah orangnya, bukan 
Agamanya!  

Sebelum masyarakat komunis dicapai, tentu ada saja orang-orang komunis yang 
idealis, berkeinginan cepat-cepat mewujudkan dalam kenyataan, tanpa 
memperhatikan hukum perkembangan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Akibatnya 
terjadilah kesalahan-kesalahan disana-sini, kebablasan dalam melaksanakan ide 
komunis dan dirasakan serampangan yang sangat tidak manusiawi. Lha, kalau 
TUJUAN nya membebaskan umat manusia dari penindasan manusia, kenapa jadi lebih 
dahulu harus menindas manusia-manusia yang dibilang kapitalis, bahkan 
orang-orang yang hanya beda pendapat dalam barisan komunis? Kalau begitu, kapan 
habisnya perjuangan balas-berbalas untuk meniadakan kelompok manusia yang 
dianggap musuh, bahkan sasaran revolusi itu? Teori dari satu revolusi ke 
revolusi lebih lanjut, tiada akhirnya, ...? Apakah begitu proses perkembangan 
masyarakat yang seharusnya? Patut direnungkan lebih lanjut, khususnya oleh 
ahli-ahli teori, ...

Tapi, ... saya melihat dari proses perkembangan masyarakat selama berabad-abad 
ini, kesadaran manusia makin lama makin beradab, makin demokratis, makin 
sosial, ... sadar atau tidak kesanalah arah perkembangannya. Satu persatu 
kekuasaan otoriter akan jatuh dan berganti deengan pemerintah yang demokratis 
dan lebih demokratis lagi. Pemikiran dan tindak kekejaman manusia akan dikutuk 
oleh rakyat, dan pelanggaran-pelanggaran HAM oleh siapapun tidak akan dibiarkan 
lewat begitu saja, ... dan semua ada jalannya sendiri. Tidak bisa dipaksakan, 
apalagi berusaha dengan kekerasan untuk mewujudkan lebih cepat.

Jadi perbuatan radikalis, ekstrimis yang berusaha dengan kekerasan memaksakan 
pihak lain menjalankan apa yang dikehendaki, makin lama makin dikutuk orang 
lebih banyak. Segalanya akan kembali kejalan sesuai dengan proses perkembangan 
masyarakat itu sendiri, sesuai dengan tingkat kesadaran rakyat setempat. TIDAK 
BISA DIPAKSAKAN!


Salam,
ChanCT



From: Dr. Irawan 
Sent: Thursday, June 11, 2015 4:00 PM
To: [email protected] ; Chan CT 
Subject: Re: [t-net] RE: [GELORA45] Apakah Paus Fransiskus Seorang Komunis?

Kalau hak milik orang diambil begitu saja , dan itu namanya asas komunis . Itu 
pernah terjadi dirumah saya , ketika itu ada revolusi baja , orang2 yang 
menamakan dirinya dari PKT datang ke rumah saya dan mau mencabuti pagar besi 
dirumah saya untuk dilebur bikin baja katanya. Diakui atau tidak nyatanya 
mereka adalah orang komunis yang ambil barang milik orang dengan 
sewenang-wenang.  

Dengan menggunakan dalil persamaan bisa dianalogikan ABRI itu juga komunis, 
karena mengambil properti milik sekolah Tionghoa di tahun 1965. Mungkin sampai 
hari ini urusan sengketa properti nya masih belum beres. Lalu ada ormas yang 
katanya mengadakan operasi miras , mengambil dagangan miras orang dengan alasan 
untuk meredakan keresahan orang banyak,  juga komunis dong.  
Gimana tanggapannya. Semoga nggak jadi debat kusir nih. hahahah

Kalau urusan Paus itu , memang seyogyanya Paus meneladani kepeduliannya kepada 
kaum yang lemah, karena di kitab suci juga ada perumpamaan Anak Domba Yang 
Hilang , sang gembala mencari anak domba itu sampai ketemu, bukannya dia nggak 
peduli dengan domba2 lainnya, tapi yang lemah itu yang harus ditolong duluan. 

Saya juga bingung hari gini masih bicarain bahaya laten sih. Yang kudu di 
pikirin adalah bahaya Radikal dong, itu sudah didepan mata dan dampaknya nyata 
man.

Salam,
Dr.Irawan. 

2015-06-10 21:32 GMT-07:00 'Chan CT' [email protected] [tionghoa-net] 
<[email protected]>:

    
  Sangat menarik apa yang diuraikan bung Nesare, dan pada pokoknya saya 
sependapat, hanya ada beberapa masalah yang patut kita diskusikan lebih lanjut.



  1.     Beda “KOMUNISME” dan “SOSIALISME”, mungkin lebih tepat dinyatakan 
“KOMUNISME” sebagai teori kelanjutan dari “SOSIALISME”, sebagaimana dinyatakan 
Marx, masyarakat sosialis kelanjutan dari masyarakat kapitalis, sedang 
masyarakat komunis adalah kelanjutan dari masyarakat sosialis.

  2.    Beda “ISME” dan “AGAMA”. “ISME” sebagai teori yang saya maksudkan 
disini khususnya “Marxisme”, “Leninisme” sampai “Fikiran Mao Tsetung” sudah 
seharusnya terus berubah dan berkembang sesuai perkembangan jaman dan 
masyarakat dimana kita hidup. Tidak statis dan mandeg tanpa 
perubahan/perkembangan seperti “AGAMA” yg merupakan dogma, yang dipatok mati 
dan tidak boleh berubah sebagaimana ditetapkan Injil, Bible, Al Qur’an dst., …

  3.    Oleh karena itu, ada ketentuan-ketentuan “Marxisme” yang patut 
direnungkan kembali “KEBENARANNYA” untuk melanjutkan perjuangan mencapai 
masyarakat Sosialisme.

    a..    “Hakmilik-Perseorangan” yg dikatakan akan hilang, tiada didalam 
masyarakat “komunis”, karena semua menjadi “Milik-umum”. Menurut saya 
pernyataan ini kebablasan, adalah sesuatu yg TIDAK MUNGKIN terjadi. Dan TIDAK 
SEHARUSNYA “Hakmilik-Perseorangan” itu dicabut atau ditiadakan! Dilihat dari 
sudut filsafat juga SALAH! Menyalahi filsafat MDH, bahwa segala hal-ihwal 
didunia ini adalah kesatuan dari segi-segi yang bertentangan. Kalau 
hakmilik-perseorangan ditiadakan, dimana lagi ada hakmilik-umum? Bukankah 
hakmilik-umum itu merupakan kumpulan/gabungan dari hakmilik-perseorangan! 
Bagaimanapun juga yang dikatakan “Hakmilik-perseorang” harus tetap ADA bahkan 
haknya dalam batas-batas tertentu tetap harus dilindungi. Seseorang berhak 
mempertahankan sesuatu untuk dimiliki sendiri, termasuk harta, 
pengetahuan-ilmu, termasuk hak-cipta hasil penemuannya dsb., …Semua itu, selama 
tidak merugikan orang lain harus tetap dilindungi, tidak boleh dicabut atau 
dihilangkan atas nama menjadi hakmilik negara! Apalagi tanpa 
persetujuan/kehendak orang bersangkutan dan tanpa ada ganti kerugian.
    b..      Juga “Hakmilik atas alat-produksi” yang dikatakan dasar kapitalis, 
jadi dalam pengertian “sosialisme” TIDAK diperbolehkan menjadi 
milik-perseorangan. Ternyata, justru setelah hakmilik atas alat produksi begitu 
dilepas, boleh menjadi milik-perseorangan, itulah mendorong pertumbuhan ekonomi 
nasional di Tiongkok melonjak dengan dahsyat dalam 30 tahun terakhir ini! 
Sementara orang bilang, itu sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat, dimana 
masyarakat masih sangat miskin, kapitalis baru tumbuh dan sangat lemah, harus 
diberi kesempatan hidup tumbuh-berkembang. Bigitulah 3 bentuk hak milik, 
milik-negara, milik-kolektif dan milik-perseorangan itu dibiarkan tumbuh 
berkembang, dimasa reformasi dan keterbukaan di Tiongkok sejak tahun 1980. 
Dimana masyarakat masih sangat miskin, Kapitalis perseorangan jangan dicabut 
hak hidupnya! Hanya saja, Pemerintah yang berkuasa cukup mencegah, memberi 
batasan jangan biarkan kapitalis-perseorangan tumbuh/berkembang menjadi 
monopoli yang menentukan perputaran ekonomi nasional. Tali kendali ekonomi 
nasional harus tetap ditangan Pemerintah! Itulah yang dikatakan Deng, 
“Memperkenankan sementara orang kaya lebih dahulu”. Baru setelah mancapai 
kemakmuran tertentu, sekarang mulai masuk tahap menitik beratkan “KEADILAN”, 
meratakan KEMAKMURAN! Jadi, menitik beratkan TUGAS mengangkat kesejahteraan 
didesa-desa terbelakang, membangkitkan usaha PETANI dengan menghilangkan segala 
bentuk pajak didesa, memberi kemudahan petani-petani dapatkan pinjaman kredit 
untuk membeli alat-produksi, pupuk, bibit, bahkan dikeluarkan ketentuan 
sewa-menyewa hakguna tanah garapan yang adil dan saling menguntungkan, … lebih 
memperhatikan pendidikan dan kesehatan didesa-desa! 
    c..      Nampaknya juga ada kesalahan pengertian ekonomi “sosialisme” 
dahulu, dengan terlalu menekankan perencanaan/pengaturan secara terpusat. 
Segalanya ditentukan oleh Sentral, tanpa atau kurang memperhatikan kondisi dan 
kebutuhan daerah secara konkrit. Ternyata, setelah Deng mendobrak kesalahan 
ini, dengan memadukan ekonomi “sosialisme” dengan ekonomi pasar, dengan tidak 
melepaskan tali kendali dipegang Negara, sekalipun Pemerintah pusat tetap 
membuat target/rencana atau Plan 5 tahun, tapi sekarang dipadu dengan hukum 
pasar, disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan kondisi daerah. Setiap daerah 
tidak dicabut haknya untuk menentukan sendiri apa dan bagaimana yang mereka 
hendak lakukan untuk mengembangkan produksi pertanian diwilayahnya sendiri. 
Bahkan inisiatif dan kreatifitas perseorangan diberi kesempatan untuk tumbuh 
berkembang lebih bebas! Tidak lagi dicabut seperti dahulu. Tentu Pemerintah 
harus cekatan membuat kebijakan/ketentuan untuk membatasi dan mencegah 
inisiatif/kreatif seseorang yang serong, merusak dan mencelakakan orang lain. 
usaha Saya perhatikan beberapa DESA-Makmur di Tiongkok bisa dicapai karena 
adanya pelepasan kebebasan daerah menentukan sendiri apa dan bagaimana pdouksi 
setempat.
     
  4.      Hubungan “komunis” atau seorang yang berpahamkan ajaran Marxisme dan 
Agama yang dianut. Banyak orang bilang, orang komunis karena atheis jadi 
ANTI-Agama. Tapi, dalam kenyataan perjuangan rakyat didunia ini, khususnya di 
Indonesia justru ada kesamaan TUJUAN hidup komunis dan banyak ajaran Agama 
didunia ini, yaitu saling kasih-cinta sesama umat manusia, sama-sama berjiwa 
manusiawi, berjiwa sosial dan kerakyatan! Singkat kata berjiwa SOSIAL dan 
merakyat! Itulah sebab, seperti diuraikan bung Nesare, PKI dibentuk dari 
pecahan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh Islam yang saleh itulah yang tampil 
membentuk Partai Komunis Indonesia. Dan, … apakah tokoh-tokoh Islam, Kristen, … 
itu bisa dengan mudah melepaskan Agama yang dianutnya untuk menjadi komunis? 
Tidak perlu dipersoalkan, karena bagaimana isi hati seseorang sesungguhnya 
tidak ada yang bisa melihat. Dilihat saja tindak tanduk perjuangan hidup yang 
nyata dijalankan saja. Masih sejalan atau bertentangan dengan kerakyatan. Kalau 
bung Nesare memberikan contoh Haji Misbach, ulama yg dihormati bisa menjadi 
tokoh komunis. Saya menambahkan tokoh Kristen yang juga menjadi komunis dan 
tetap dihormati sebagai umat Kristen! Ingat, perjalanan sejarah bangsa 
Indonesia mengenal seorang tokoh KOMUNIS bernama Amir Syarifuddin. Tidak 
seorangpun bisa dan berani menyangkal bahwa Amir adalah salah seorang tokoh 
pimpinan PKI ketika itu, dimana beliau justru meninggal, dibunuh tanpa proses 
pengadilan oleh Pemerintah Hatta. Konkritnya dieksekusi oleh pasukan kol. Gatot 
Subroto, hanya dengan tuduhan PKI melakukan makar yang dikenal “Peristiwa 
Madiun” Sept. 1948. Dan, … kenyataan yang terjadi, saat Amir Syarifuddin 
dieksekusi mati menyanyikan lagu “INTERNASIONALE” dengan tetap memegang injil 
ditangan. Boleh-boleh saja dan TIDAK BISA DISALAHKAN! Itulah sikap komunis yang 
telah ditampilkan Amir Syarifuddin, TETAP TEGAR dalam menghadapi maut kematian 
demi membela RAKYAT dan BANGSA Indonesia!



  Tentu, apakah Paus Fransiskus berpahamkan “Marxisme” bahkan adalah orang 
selundupan Partai Komunis Argentina, saya juga tidak jelas, ... tapi nampaknya 
agak beda dengan Paus-Paus sebelumnya, Fransiskus ini lebih berjiwa sosial dan 
merakyat. Itu saja.



  Salam,

  ChanCT






  From: 'nesare' [email protected] [GELORA45] 

  Sent: Thursday, June 11, 2015 4:06 AM

  To: [email protected] 

  Subject: RE: [GELORA45] Apakah Paus Fransiskus Seorang Komunis?





  Teorinya ada dan bisa dibaca beda antara komunisme dan sosialisme. Begitu 
juga kaitannya dengan agama. Gampangnya teorinya bilang komunisme adalah bentuk 
ekstrim dari sosialisme.



  Teori nya dikomunisme gak boleh ada kepemilikan individu. Di sosialisme 
kepemilikan pribadi boleh seperti rumah, baju itu boleh tetapi kalau 
kepemilikan public seperti pabrik dll itu dimiliki negara dan dikontrol rakyat. 
Pemerintahan sentral dengan dictator proletariat dalam komunis. Di sosialisme 
factor ekonomi produksi dikomandoi oleh negara buat kesejahteraan rakyat. Agama 
ditolak dalam komunisme. Disosialisme agama diperbolehkan hanya lebih fokus 
kesekularisme.



  Semua 'isme' itu harus dipahami dalam konteksnya. Isme itu bukan agama yang 
ajarannya langsung dari 'sono' dan berlakunya setiap waktu. Kalau Marx  atau 
murid-muridnya bilang begini, begitu, itu harus dipahami konteksnya apa? Di 
mana? Untuk masyarakat yang mana? 

  Kedua, yang belajar Marxisme juga bukan orang-orang bodoh yang mengikuti 
semua ajaran dengan membabi buta. Marxisme itu bukan agama. Itu ilmu yang 
mempelajari masyarakat. Dasarnya itu nalar, bukan wahyu dan bukan iman. Jadi 
kalau orang baca pikiran Marx, atau mereka yang sangat diilhami Marx seperti 
Lenin, Mao, Chou, Ho, Fidel, dll itu tidak berarti mereka harus ikuti atau 
terima begitu saja pemikiran yang lahir dalam konteks masyarakat dan sejarah 
yang berbeda. 

  Bung Karno itu salah satu orang yang belajar dari Marx, tapi dia belajar 
dengan selektif. Pidatonya yang paling beken, "Indonesia Menggugat," itu 
diilhami cara berpikir Marx. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional seperti Cokro, 
Cipto, Misbach, Semaun, Tan Malaka, Ki Hajar, itu semuanya belajar dari Marx. 
Tapi secara selektif. Salah satu sila dalam Panca Sila, "keadilan sosial" itu 
diilhami oleh gerakan kiri di Indonesia yang mulai berjuang sejak kebangkitan 
nasional. Mau dikorek sampai manapun sejarah kita, ide keadilan sosial itu baru 
muncul dan diperjuangkan setelah gerakan kiri muncul di Indonesia.

  jadi kalau ada yang bilang komunis itu tidak percaya Tuhan (at least yang 
komunis sejati)......, " atau ngelindur," mottonya komunis, “agamaku negaraku”, 
itu mesti dibangunin dari alam tidur. Dalam konteks Indonesia hampir semuanya 
beragama. Ini realitas di Indonesia dimana agama sudah menjadi darah daging 
rakyat Indonesia. Ini tercermin dalam nasakomnya bung Karno. Karena mereka 
lahir dalam konteks sejarah dan masyarakat Indonesia. Mereka nggak lahir di 
Paris lalu tiap hari debat dengan Bertrand Russel, lalu jadi atheis. Mau 
belajar ilmu apa juga, tetap nggak gampang membuat orang Indonesia jadi atheis.



  Komunisme itu ilmu sosial yang mempelajari perobahan masyarakat. Dan yang 
namanya 'isme' apapun, itu memang nggak ber Tuhan. Kapitalisme atau feodalisme, 
itu kan nggak ber Tuhan, Yang bisa ber Tuhan atau tidak ber Tuhan itu orangnya. 
Bukan isme nya. Dan yang mempelajari komunisme itu macam-macam. Yang di India 
pasti mayoritasnya Hindhu. Di Asia timur termasuk RRT itu mayoritasnya Budha. 
Di amerika Latin, komunisnya orang Katolik. Tentu ada dan mungkin banyak yang 
nggak beragama atau nggak ber Tuhan. 

  Pimpinan PKI generasi pertama - jaman kebangkitan nasional -  itu hampir 
semuanya tokoh agama. Mereka kan pecahan Serikat Islam. Tokoh PKI Solo yang 
paling beken dalam kebangkitan nasional, haji Misbach, itu tokoh agama yang 
dihormati di Lawean, kawasan kaum santri di Solo. Yang dibuang ke Digul itu 
banyak sekali ulama dari banten dan sumatra barat. Muridnya H.Misbach, KH 
Achmad Dasuki Siradj, itu juga ulama yang menjadi salah satu wakil PKI di 
konstituante. Tapi pimpinan PKI generasi Aidit waktu diangkat jadi menteri atau 
pimpinan DPR/MPR memang menolak disumpah menurut agama. Mereka mengucapkan 
janji. Bagi mereka agama dan politik itu dua hal yang tidak boleh 
dicampur-adukan.



  Jadi perkara paus fransiskan itu komunis atau sosialis itu 
idealismenya/teorinya tidak ada yang tahu. Seperti juga banyak orang 
sosialisme/kiri yang tidak bisa diketahui apakah mereka2 ini juga setuju dengan 
paham komunisme. Praktisnya Paus Fransiskan bukan karena dia tidak bergabung 
dalam organisasi komunis.



  Salam

  Nesare





  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
  Sent: Wednesday, June 10, 2015 1:25 PM
  To: [email protected]; ajeg; Lusi D.
  Subject: Re: [GELORA45] Apakah Paus Fransiskus Seorang Komunis?



  Bung Lusi dan bung Ajeg yb.

  Seperti bug Lusi kemukakan dan tanyakan kalau Paus Fransiskus seorang komunis 
sesuai dengan ilmu komunis lalu mau diapakan. Jika kita mengakui bahwa 
komunisme itu ilmu maka dengan sendirinya setiap orang bisa dan tidak dilarang 
mempelajarinya dan menguasainya untuk diterapkan. Artinya tidak ada larangan 
untuk mempelajarinya, mempraktekkanya kecuali di Indonesia oleh ORBA dan 
penerusnya.


  Pertanyaan lebih kongkrit ialah apa yang dimaksudkan dengan  seorang komunis. 
Apakah mereka yang  hanya tergabung dalam suatu organisasi politik komunis 
ataukah mereka yang mempraktekkan ilmu komunis/marxis tanpa tergabung dalam 
suatu organisasi politik beraliran komunis.

  Saya rasa jawaban atas pertanyaan tersebut bisa menjawab apa yang bung Lusi 
dan bung Ajeg kemukakan.

  Salam hangat,
  AA 



  On 06/10/2015 04:28 PM, ajeg [email protected] [GELORA45] wrote:

    

  Disuruh memimpin komunitas Katolik..



  --- lusi_d@... wrote:

    

  Kalau tokh Paus Fransiskus seorang komunis sesuai dengan ilmu komunisme, lalu 
mau diapakan?

  Am Tue, 09 Jun 2015 00:29:16 +0200 schrieb Awind:
   
*http://news.detik.com/read/2015/06/08/125144/2936216/934/apakah-paus-fransiskus-seorang-komunis?881101934**
    *
    Senin, 08/06/2015 13:20 WIB
   
    Apakah Paus Fransiskus Seorang Komunis?




Kirim email ke