Di usianya yang sekarang, Pak Maarif maju dengan pikirannya yang berani dan jujur. Juga menurut saya bila semua pemerintah Indonesia terbukti tidak mampu mengurus Papua, maka lebih baik membiarkan Papua bebas dari Indonesia dan berdiri sendiri. Tidak penting siapa di belakang gerakan mereka yang penting hentikan mencekik Papua yang semakin merana di bawah kekuasaan Indonesia. Pak Maarif benar bila mengatakan nasionalisme Indonesia adalah nasionalis Imperialis bila terus saja menjajah Papua. Papua adalah tetangga kita dan bukan jajahan Indonesia, biarkan mereka bebas dan selanjutnya Pemerintah Indonesia meminta maaf. ASAHAN.
From: Ahmad Syafii Maarif Sent: Wednesday, July 22, 2015 7:45 PM To: [email protected] Subject: Re: Perlukah Papua Merdeka? Dalam menyikapi masalah Papua, sebenarnya dulu Sukarno dan Hatta berbeda pandang. Hatta tdk begitu berambisi utk memasukkan Papua ke dalam pangkuan RI. Memang serba dilematis, di belakang gagasan Papua Merdeka ada kekuatan asing yg bermain, sementara Jakarta belum serius benar membangun kawasan itu. Juga tingkah penguasa lokalnya yg sering tinggal di Jakarta telah semakin memperburuk situasi di sana. Adapun masalah pengambilalihan Timtim oleh Jakarta yg didukung Amerika bagi saya telah mengubah nasionalisme Indonesia menjadi nasionalisme ekspansif alias imperialisme. Menghadapi masalah kebangsaan yg rumit, kita sangat merindukan hadirnya para negarawan idealis, tp di Indonesia kini yg banyak tampil adalah politisi rabun ayam yg jangkauan wawasannya hanya terpaku dan terpukau oleh kegiatan pemilu dari waktu ke waktu. Antahlah yuang! Maarif Sent from my iPhone On Jul 22, 2015, at 12:53, Salim Said <[email protected]> wrote: Ada komentar lain? ---------- Forwarded message ---------- From: Chan CT <[email protected]> Date: 2015-07-22 11:11 GMT+07:00 Subject: Re: Perlukah Papua Merdeka? To: Edy Loekmono <[email protected]>, GELORA_In <[email protected]> Bung Edy yb, Terus terang saya mempunyai pemikiran berbeda, dengan pertanyaan “Perlukah Papua Merdeka?” saja seperti ada niat dan satu perasaan kecewa berat pada Pemerintah pusat RI, yg mendesak dalam hati penduduk Papia lebih baik MERDEKA saja! Mengurus dirinya sendiri lepas dari Pemerintah RI! Perasaan kekecewaan berat, setelah RI Merdeka 70 tahun, ternyata TIDAK juga berhasil membawakan Rakyat banyak pada kehidupan sejahtera, padahal kekayaan bumi-alam nyaris sudah kering-kerontong diobral pada modal asing, khususnya AS dan Jepang! Khususnya kehidupan rakyat Papua yg bumi-alamnya kaya raya akan tambang emas, justru selama 70 tahun, tetap saja dibiarkan terbelakang dan mungkin jatuh makin papa-miskin, ... merasa dianak-tirikan, dijajah oleh Jawa! Dan oleh karena tidak aneh, sementara kelompok menghendaki “Papua Merdeka” saja! Daripada mendorong gerakan “Papua Merdeka”, saya tetap lebih cenderung mencambuk Pemerintah Pusat lebih cepat membenahi birokrasinya, sehingga bisa bekerja lebih effektif mendorong perputaran ekonomi nasional dan berkemampuan mengangkat kesejahteraan rakyat banyak, khususnya rakyat didaerah yg selama ini terabaikan, termasuk Papua! Salam, ChanCT From: Edy Loekmono Sent: Wednesday, July 22, 2015 3:31 AM To: "Chan CT" Subject: Perlukah Papua Merdeka? Bung Chan CT, Kembali saya tuliskan risalah ini yang saya kirimkan untuk jadi renungan bersama, ini kalau kita masih berbicara berarti masih peduli. Bangsa Indonesia bisa bersatu melawan penjajah yang secara historis dari luar. Namun pendekatan Pemerintah NKRI terhadap sebagian penduduknya lebih buruk dari Penjajah Luar Negeri. Kita berkaca bagaimana Timor timur lepas dari NKRI. Dan juga nyaris terjadi dengan Propinsi Aceh. Sekarang kita melihat gejala sudah di depan mata yaitu Papua. Proses integrasi Irian Barat masuk ke NKRI penuh dengan bargaining, demikian juga dengan Timor Timur. Permainan mayoritas dan minoritas di politisir, namun yang menderita tetap minoritas dan yang terpinggirkan. Fakta telah banyak berbicara: Presiden, MPR, DPR, TNI dan Polisi telah menggadaikan bangsanya sendiri. Apa yang dibuat Soeharto setelah mengkudeta Soekarno. Apa yang terjadi dengan tambang-tambang baik seluruh Indonesia dan Irian Barat (diganti Papua). Kita masih ingat apa yang dibuat SBY ketika kerusuhan Ambon dan Poso? Saya kira dokumen-dokumen walau membisu bisa berbicara dengan terang. Apa yang dilakukan Pemerintah dengan program Transmigrasi adalah politik tersembunyi yaitu mengontrol daerah untuk tunduk kepada pusat. Atau sering saya dengar yaitu dominasi Jawa. Ketika saya masuk daerah Transmigrasi di beberapa tempat yaitu proses Islamisasi kantong-kantong Kristen. Demikian juga Timor Timur dan Papua menjadi target. Mengapa Papua tidak pernah tidak gejolak? Inilah yang disebut politik penjajah yaitu devide et impera. Kalau barusan peristiwa terjadi di penghujung Lebaran umat Islam di Tolikara, seharusnya para tokoh Nasional di Senayan dan Jalan Merdeka sudah tahu itu. Ini adalah bagian dari skenario besar yang sistimatis. Coba baca laporan dibawah ini: http://www.id.papua.us/2013/05/islamisasi-papua-fokus-pencucian-otak.html?m=1 Coba kalau kita jujur sebetulnya Papua itu mau diapakan? Bukankah selama ini hanya dijadikan sapi perah dan hanya object saja? Bukankah mereka yang dipasang baik jadi Gubernur maupun pejabat negara hanya boneka politik Pusat? Rasanya normal kalau orang asli Papua merasa bukan saja menjadi anak tiri, melainkan di jajah oleh Jawa dan Islam. Saya sih setuju aja kalau Papua di statuskan seperti Aceh atau bahkan seperti Timor Timur. NKRI tidak usah punya beban ngurusi Papua dan dimata International Indonesia bersih dari pelangaran HAM dan Perjanjian-perjanjian lain yang sudah dirativikasi, tentang undang-undang perlindungan anak dsb. Kalau mau jujur seharusnya silahkan wartawan asing meliput pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di Papua dan setiap yang terlibat di tindak secara hukum. Kalau memang bobrok yang harus diakui bobrok. Aceh bisa mencapai status seperti sekarang karena keterlibatan Swedia. Saya kira perlu juga Papua campur tangan pihak Netral untuk membuka mata NKRI betapa mereka telah gagal menjadikan bangsanya sendiri menjadi orang yang setara. Kiranya tulisan ini menjadi bahan renungan banyak orang. Kalau intensitas kekerasan dan perlakuan militer dan polisi seperti sekarang ini tidak berapa lama lagi Papua akan terpisah dari NKRI. Karena kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, termasuk bangsa Papua. Salam Merdeka -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Grup Independen" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. To post to this group, send email to [email protected]. To view this discussion on the web visit https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/CAJKLYGbDQH9pPp-OkUeNWzn2U7%3D4PqakEG18JC%2B%2B7QBj-8UJiQ%40mail.gmail.com. For more options, visit https://groups.google.com/d/optout. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Grup Independen" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. To post to this group, send email to [email protected]. To view this discussion on the web visit https://groups.google.com/d/msgid/group-independen/8DE673BD-5563-48E3-BE8B-D4B0BD6886DF%40gmail.com. For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
