Bung Nurman yang baik,
Menurut saya bung tidak perlu meladeni bebek-bebek yang di Jerman maupun bebek 
Peking yang di Hongkong. Bung tentu tahu sejak Teng siauw Ping berhasil 
mendongkel Mao dan berkuasa rasa bebek Peking sudah sangat merosot: apek dan 
berbau walang sangit dan kokinya sekarang adalah wakil kecil yang jadi bebek 
Peking yang tingal di Hongkong . Sedangkan bebek Jerman, cumalah imitasi bebek 
Peking yang rasanya lebih parah lagi: bikin muntah semua orang.
Soal gaya bung menulis, saya kira normal saja, saya bisa mengerti dengan  
mudah. Jadi bung juga tidak perlu merasa rendah diri, apalagi di depan seekor  
bebek yang ber –kowek,kowek tapi merasa tinggi dan benar morfologi dan  
semantika-nya. Bung tak perlu merasa tergertak dengan istilah-istilah 
linguistik yang dilontarkan oleh seekor bebek Jerman karna bahasa bebek cumalah 
kwek, kwek saja sepanjang  hari. Bung teruskan menulis dengan cara bung dan  
biarkan itu bebek Jerman ber-kwek kwek sepuasnya.Dengan demikian bung bisa 
menghindari bau apek walang sangit dan muntah-muntah oleh rasa dua ekor bebek 
yang di Jerman maupun yang di Hongkong.
Salam,
ASAHAN,






From: mailto:[email protected] 
Sent: Wednesday, August 5, 2015 5:06 PM
To: sastra-pembebasan 
Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para 
super dogmatiker, ultra demagog.........!!!

  

Bung Asahan yb. Saya cuma minta pendapat atau tanggapan atas pandangan saya. 
Saya baru saja mendapat vonis sebagai salah satu dari kaum demagog. Padahal, 
saya hanya menyampaikan pandangan tentang materi masyarakat Indonesia dengan 
pemerintah/penguasanya sekarang ini. Terus terang, memang saya hampir sangat 
jarang sekali membaca buku-buku teori, apalagi yang berbahasa asing, karena 
saya hanyalah seorang petani pinggiran kota ketika Jakarta masih jadi kampung 
dulu di tahun 60-an. Saya bukanlah seorang tokoh politik, meskipun saya pernah 
dipenjara dari RTC Salemba sampai ke Cipinang. Di Cipinang, saya pernah kumpul 
dengan Bg. Katno (PR), Bg Munir, Bg Rewang, Bg Ruslan, Pono, Bono dan 
lain-lainnya. Tapi saya tidak pernah ke P. Buru, jadi saya kurang mengerti 
tentang hal itu. 
Kadang-kadang bahasa Indonesia saya-pun tidak tersusun rapi sebagaimana kaum 
intelektual lainnya. Hal ini bukanlah kepura-puraan atau menyampaikan 
kebohongan. Hal ini sangat bisa diselidiki. 
Inilah tulisan saya terdahulu :
Maaf, jadi pengen nimbrung neh. Kalau saya berpendapat sih, yang anti terhadap 
sesuatu itu tidak berlebihan dan yang pro juga tidak secara otomatis menjadi 
fanatik buta.Baik yang ke kiri-kirian adalah oportunis (membawa penyakit ke 
kanak-kanakan) dan yang kekanan-kananan juga oportunis (membawa penyakit 
kapitulasi). Sebaiknya memang berpegang teguh pada prinsip dan mengenal setiap 
materi itu sebagaimana adanya, tidak menurut keinginan atay yang hanya enak 
dipandang dan dirasakan oleh keinginan seseorang. Orang-orang yang pandai 
mengumpat, tentu punya pegangan dasar menurut teori yang mereka miliki. 
Sedangkan mereka yang memuji-muji setengah mati, juga merasa punya kepuasan dan 
kecocokan dengan keinginannya. Persoalan pokoknya, apakah obyek yang dijadikan 
materi sebagai pandangan materialis itu sudah sesuai dengan kenyataan atau 
tidak. Misalnya untuk memandang kekuasaan sekarang sebagai ANTI-IMPERIALIS atau 
ANTEK-IMPERIALIS. Tentunya terlebih dulu disamakan persepsinya mengenai 
"imperialis" itu sendiri, baik batasan maupun ciri-cirinya dengan berpedoman 
pada teori/referensi yang sama.Begitu juga dengan cap yang dilontarkan kepada 
fihak lain sebagai kaum demagogis dan dogmatis. Tentunya pengertian demagog dan 
dogma itu sendiri harus ada pengertian yang sama. kaum dogmatis, biasanya di 
dalam praktek selalu begitu-begitu saja, sekalipun waktu dan keadaan sudah 
berkembang ratusan bahkan ribuan tahun. Tetapi, jika mereka yang berpegang 
teguh pada prinsip dasar sesuai dengan definisi teori, dengan praktek yang 
sesuai dengan perkembangan keadaan. Menurut hemat saya, hal yang  saya 
maksudkan itu tidak termasuk sebagai dogmatis.Maaf jika pendapat saya ini 
salah..
Salam,nurman



Pada atulisan saya selanjutnya, saya katakan : Terima kasih atas tanggapannya. 
Sebenarnya pertanyaan saya sangat sederhana dalam memandang materi kekuasaan 
sekarang. Saya tidak melihat perorangannya, baik pribadi Jokowi maupun Prabowo 
atau siapapun juga. Pertanyaan saya adalah "Apakah pemerintah/penguasa negara 
sekarang ANTI-IMPERIALIS ataukah ANTEK-IMPERIALIS? Memang, Jokowi adalah simbol 
negara sekarang, tetapi ketika bicara tentang negara, tentunya menyangkut 
seluruh lembaganya, baik eksekutif maupun legislatif dan lembaga-lembaga 
pemerintah lainnya.
Kemenagnan Jokowi menjadi presiden adalah melalui pemilihan umum melanjutkan 
sistim ordebaru yang kapitalistik.
Saya setuju kalau kesalahan Aidit dan kawan-kawan (jadi tidak menyalahkan 
kepada Aidit pribadi) dalam memimpin PKI, tidak mengenal keadaan. Itu tidak 
berarti ucapan "tahu Marxis dan kenal keadaan" itu yang salah. Kesalahan pokok 
pada pimpinan PKI di masa itu adalah sejak pembangunan partai, memang tidak 
dipersiapkan untuk revolusi dengan kekuatan bersenjata sendiri, melainkan 
mengandalkan kekuatan bersenjata borjuasi. Padahal, dalam sepanjang sejarah, 
tidak pernah ada kemenangan dan kekuasaan yang didapat dari hasil kekuatan 
fihak lain. Begitupun dalam memandang kekuasaan sekarang, banyak orang-orang 
yang merasa dirinya sebagai orang Marxis, tapi berharap dari kebaikan penguasa 
sekarang untuk mendapatkan rekonsiliasi dan rehabilitasi dari penguasa 
sekarang, sehingga tidak bisa membedakan antara harapan/keinginan dengan 
pembelejetan. Apakah bisa penguasa sekarang mengusir kaum penjajah/imperialis 
yang sedang dan akan terus mengeruk kekayaan alam milik Rakyat Indonesia? 
Apakah ini termasuk orang-orang yang mengenal keadaan? Sudah berapa belas atau 
puluh tahun "perjuangan" itu mereka dan kemudian kawan-kawan kita yang penuh 
"harapan" itu, mati satu persatu, tanpa medapatkan hasil secuilpun. Sekarang 
muncul harapan baru, yang mengharap Jokowi selaku presiden akan mampu 
menciptakan harapan itu. Kalau saya berprinsip, bahwa keberhasilan itu sasngat 
ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun kekuatan massa dengan berbasiskan 
massa pekerja.
Orang-orang yang belum bisa memahami adanya hukum gerak atau yang tampaknya 
diam itu sendiri adalah wujud dari adanya gerak dalam dan gerak dalam itu 
sendiri adalah menentukan perubahan, saya belum bisa memvonis mereka sebagai 
demagog dan dogmatiker. Saya juga tidak bisa memvonis kesalahan teori Marxisme 
dengan adanya Diktatur Proletariat. Saya masih harus belajar mengerti 
sepenuhnya apa yang dimaksud dengan Diktatur Proletariat. Jadi, kalau Rakyat 
Indonesia ingin adanya perubahan mendasar dalam kehidupan mereka, maka massa 
Rakyat itulah yang harus dipersatukan/diorganisasi sebagai kekuatan perubahan. 
Bukan mengandalkan seseorang dari luar, sekaliber MALAIKAT sekalipun dia.
Adapun anjuran bung mengenai argumentasi dalam diskusi yang bung katakan 
melalui nasional list dan temu eropa, saya akan berusaha menemukan dan 
mengikutinya. Dan saya akan terus mempelajari pendapat siapapun.
Tapi maaf sebelumnya, mungkin saya tidak bisa secara rutin dan teratur dalam 
mengikuti diskusi ini, karena saya sering bepergian ke daerah-daerah/desa-desa. 
Dan pada umumunya di tempat tersebut tidak ada internet.


Salam,
nurman


Tapi, setelah saya menyampaikan tulisan tersebut, tiba-tiba saja saya terima 
balasan dituduh sebagai sala seorang dari kelompok demagog. Lha, saya 
bertanya-tanya, siapa yang dimaksud dengan kelompok. Sebab, saya merasa tidak 
berkelompok kepada siapapun. Kalau di antara kita ada yang terjadi kesamaan 
atau perbedaan pandangan, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Kemudian saya juga 
dituduh berpura-pura dan ganti nama. Saya jadi tambah bingung. Padahal saya 
membenci kepura-puraan di antara kawan. Tapi, tak apalah.


Terima kasih, jika bung punya waktu untuk menanggapi pandangan saya.


Salam,
nurman.
Pada 5 Agustus 2015 19.26, 'A.Alham' [email protected] [sastra-pembebasan] 
<[email protected]> menulis:

    
  Saya sepakat dengan pemikiran bung Nurman. Para pemalas yang merasa Marxis 
itu menuduh lawan pikirannya dengan “kekiri-kirian” atau menuntut dengan nada 
sinis pada bekas teman-teman sebarisannya di masa lalu yang masih tidak bisa 
pulang ke tanah air dengan seruan klassik”: “pulang dong ke tanah air, pimpin 
langsung  revolusi jangan cuma omong doang sambil enak-enak makan keju”.Padahal 
mereka-mereka ini yang selalu tinggal di Indonesia, sempat dijebloskan suhartO 
ke penjara-penjara hingga buangan pulau Buru, toh juga tidak bisa berbuat 
apa-apa sesudah meninggalkan penjara-penjara dan buangan pulau Buru. Bahkan 
sebagian lagi dari mereka, di kalangan para “sastrawan ternama” cuma menulis 
buku yang isinya penuh penderitaan, sedu sedan, mengemis balas kasihan, 
rekonsiliasi sambil meneriakkan PERDAMAIAN,pasifisme dengan para oenyiksa 
mereka dan menukar ideologi Komunis mereka menjadi idelogi Sosial Demokrat 
(Sosdem) dan ujung-ujungnya menjadi anti Komunis dan memilih hidup mapan 
menjadi borjuis dan kembali ke asal klas semula: borjuis kecil dengan watak 
bimbang dan ahirnya mengkhianat. Dan memang itulah yang mereka bisa wariskan 
dari penjara-penjara dan buangan pulau Buru-nya suhartO: didikan suhartO telah 
menghasilkan buah: dari komunis menjadi anti Komunis, anti revolusi dan 
pengagum kapitalisme lebih dari para kapitalis itu sendiri seperti juga yang 
dilakukan seorang tokoh bekas Komunis lantas menjadi Sosdem yang tinggal di 
Hongkong  sekarang ini. Kefanatikannya sebagai pengagum dan penyembah kapitalis 
tidak tanggung-tanggung degan seruannya yang super genial: “kebangkan dan 
hidupkan kapitalisme semaksimal mungkin untuk melahirkan proletariat. Semakin 
banyak  pabrik kapitalis semakin banyak proletariat yang akan lahir”. Dan kita 
yang melawan kapitalisme di cap sebagai dogmatis, tidak kritis,  tidak mau 
mengoreksi kesalahan Lenin dan Mao. Kita dianggap bodoh dan dogmatis karna 
tidak bisa menghargai kapitalisme dan penindasnnya, tidak bisa menghargai 
penghisapan kapitalisme yang memakmurkan negara, tidak bisa meninggalkan mimpi 
dan ilusi revolusi pembebesan rakyat. Kita diajak meninggalkan semua yang 
bersifat menyelamatkan dan membebaskan rakyat apalagi hingga menyokong  rakyat 
menjadi hakim. Orang-orang ini yang dulu pernah sebarisan denga kita, yang 
pernah bersimpati pada perjuangan kita, mengagumi kebesaran Partai kita, dan 
juga yang telah menjadi besar dan terkenal dan terpandang oleh imbas 
“kehebatan” Partai kita, tapi sekarang telah menjadi pendurhaka, pengkhianat, 
kaki tangan kapitalisme Neo Liberal, penjilat semua penguasa negara yang sedang 
memerintah,  kaki tangan penguasa munafik tapi juga sambil berkicau dengan 
kata-kata yang berbau”kiri” dari sarang-sarang mereka yang sudah amat netjes, 
berkecukupan, tak kurang suatu apa lagi.
  Para munafikun sinis dan khianat ini perlu kita telanjangi terus hingga bulat 
sampai terlihat semua orang meskipun harus melakukan perjuangan yang pahit 
sekalipun seperti pepatah Belanda: “Tot de bittere einde”. Namun kita yakin: 
semua pengkhianat tidak akan berahir dengan baik dan selamat. 
  Sejarah selalu menunjukkan: yang baru menang selalu menghukum para 
pengkhianat terlebih  dahulu, baru kemudian musuh yang telah ditaklukkan. Bila  
tiba giliran kita, kita juga akan melakukan hal itu.
  Salam,
  ASAHAN.  
  From: mailto:[email protected] 
  Sent: Wednesday, August 5, 2015 2:13 AM
  To: sastra-pembebasan 
  Subject: Re: Fw: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi 
para super dogmatiker, ultra demagog.........!!!

    
  Saya setuju bahwa Marxis yang malas selalu menunggu perubahan itu terjadi, 
sama halnya dengan dalih yang mengatakan bahwa revolusi itu keharusan sejarah, 
maka mereka berpendapat bahwa dengan menunggu sambil tidur saja pun revolusi 
akan terjadi. Itulah sikap kaum oportunis kanan. Sedangkan ide untuk melakukan 
perubahan materi (masyarakat baru) itu, harus secara aktif menciptakan 
syarat-syarat yang sesuai dengan perubahan itu sendiri. Bukannya dengan 
tertidur lelap sambil memimpikan lahirnya masyarakat baru. Yang berpandangan 
demikian itu bukanlah dalam kategori sebagai kaum revolsuioner, melainkan 
sebaliknya sebagai kontra-revolusioner. 
  Hanya ada satu jalan menuju perubahan mendasar dari negeri jajahan menjadi 
negeri merdeka penuh dan berdaulat. Kontradiksi antara kaum penjajah dengan 
yang dijajah bersifat antagonis (tidak terdamaikan), sehingga harus mengambil 
jualan revolusi. Bukan perubahan dengan meminta-minta atau mendorong kekuasaan 
antek imperialis yang akan melakukannya. Kaum revolusioner harus punya 
kemampuan membangun kekuatan sendiri, dengan bersandar pada massa rakyat yang 
luas.Bukanlah jadi kaum Marxis yang pemalas dan tertidur sambil memimpikan 
terciptanya syarat-syara perubahan yang turun dari langit.
  Hanya apabila kaumj revolusioner mempunyai kekuatan yang mampu mengungguli 
kemampuan kaum penjajah bersama antek-anteknyalah negeri dan masyarakat ini 
bisa dibebaskan. Oleh karena itu, penyakit kekiri-kirian (oportunis kiri dan 
kekanak-kanakan) pun harus dikikis habis. Dari mana kekuatan itu muncul jika 
tidak dikerjakan? Kekuatan itu tidak datang dari langit, karena kekuatan itu 
ada ditengah-tengah massa rakyat. Itu sebabnya orang-orang yang merasa dirinya 
revolusioner, harus berada di tengah-tengah massa rakyat, belajar dari massa 
rakyat dan kemudian mendidik dan membangkitkan kesadaran massa rakyat, (buykan 
membebek) dan selanjutnya mengorganisir massa rakyat di setiap sektor. Jadi 
bukan hanya berkoar-kora melalui medsos. Orang-orang demikian jeumlahnya 
sekarang memang masih sangat kecil. Tapi saya percaya bahwa mereka terus 
bekerja tanpa membanggakan diri di arena medsos.
  Salam,
  Nurman

  Pada 5 Agustus 2015 02.50, 'A.Alham' [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]> menulis:

      
        Marxis yang malas selalu menunggu syarat-syarat perubahan datang dengan 
sendirinya(dari langit?).Kemalasan demikian juga dipunyai oleh kaum Trotskist. 
Mereka berpangku tangan sambil menunggu agar syarat-syarat perubahan muncul 
dengan sendirinya. Dalam kenyataan mereka tidak peka merasakan lahirnya 
syarat-syarat untuk perubahan dan masih tertidur lelap dalam penungguan dengan 
mata tertutup sambil bermimpi negara Utopis sedang lahir.kata “menciptakan 
sysarat-syarat” tidak ada dalam kamus mereka dan mereka hanya menunggu 
datangnya syarat-syarat perubahan.  Sebaliknya Marxist yang kesusu suka 
berteriak: revolusi sekarang juga atau perjuangan bersenjata sekarang juga 
tanpa persiapan, tanpa organisasi, tanpa perencanaan dan tanpa memiliki garis 
politik yang benar dan kepemimpinan yang tunggal. Yang kita maksudkan di sini 
bukan untuk memilih salah satu dari yang kesusu maupun yang malas. Revolusi 
adalah urusan yang luar biasa seriusnya dan langkah pertama yang juga luar 
biasa pentingnyanya adalah persiapan yang menyangkut bidang-bidang besar 
seperti: organisasi, idiologi,politik ditambah dengan kesiapan mental dan 
fisik. Kesiapan yang demikianlah yang punya sifat: SEKARANG JUGA, bukan besok, 
bukan lusa, bukan tahun depan.

        Cukup banyak kaum Marxist punya penafsiran yang salah terhadap hubungan 
antara materi dan ide. Bila kita katakan materi yang menentukan tapi itu sama 
sekali bukan berarti ide tidak penting, tidak punya fungsi dan harus 
diabaikan.Ini sama sekali salah. ide tetap penting dan bahkan bisa menjadi 
teramat penting . Dalam ide termasuk perencanaan, politik, ideologi hingga 
taktik dan strategi yang tanpa semua itu gerak materi tidak akan menghasilkan 
apa yang dicita-citakan oleh rakyat  dan mudah tergelincir ke 
anarkisme.Marxisme menolak idealisme dalam pengertian bahwa idealisme tidak 
bertolak dari materi yang kongkrit, tidak berdasar realitas yang ada dan semata 
atas dasar fantasi dan tidak sesuai dengan kenyataan dan semuanya dikemudikan 
oleh subyektivisme. Dalam politik Marxis, idealisme tidak mendapat tempat dan 
juga berbahaya terutama dalam gerakan revolusioner rakyat.
        ASAHAN.









          
        From: mailto:[email protected] 
    Sent: Tuesday, August 4, 2015 2:01 PM
    To: sastra-pembebasan 
    Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para 
super dogmatiker, ultra demagog.........!!!

      
    Dalam pandangan materialis, orang tidak hanya mengenal materi, tetapi juga 
mengubah materi. Meskipun keinginan mengubah itu sebagai ide yang lahir dari 
materi, tetapi ide perubahan kekualitas materi itu bukanb karena ide yang 
menentukan. Perubahan itu sendiri terjadi manakala syarat-syarat bagi perubahan 
itu dapat dipenuhi, sesuai kebutuhan perubahan kualitas itu sendiri. 

    Misalnya secara kongkret dalam memandang materi masyarakat Indonesia 
sekarang ini. Apakah penguasa di negeri ini ANTI-IMPERIALIS ataukah ANTEK - 
IMPERIALIS. 
    Ada yang memandang kekuasaan sekarang ini hanya berdasarkan penilaian 
perorangan, bahwa Jokowi itu orang baik, dicintai oleh Rakyat, menggaungkan 
Trisakti ketika menjelang pemilihan Presiden.
    Nah, ada pula yang melakukan penilaian, bukan memandangnya dari kebaikan 
satu orang, melainkan dari sistim kenegaraan yang dipimpinnya. Melihat 
kekuasaan yang dihasilkan melalui pemilu model ordebaru, tentu dipandang 
sebagai penguasa penerus ordebaru pula, yang menjadi ANTEK IMPERIALIS, yang 
menjadikan Indonesia sebagai negeri dan masyarakat Jajahan Model Baru (JMB 
alias Nekolim). Apakah sikap ini dianggap sebagai dogmatis atau demagogis, 
dimana letaknya? Apa yang salah dari pandangan itu?
    Saya tidak tahu, apakah mereka yang memuja-muji Jokowi itu berdasarkan 
pandangan atau berteori dua aspek di dalam kekuasaan atau teori yang mana? 
Ataukah menyamakan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan Sukarno? 
    Yang pasti, kalau Bung Karno dengan Trisaktinya bersikap tegas : "Go to 
hell with your aid" terhadap bantuan (utang dari imperialis), sedangkan Jokowi 
dengan jelas bilang "saya tunggu kedatangan Tuan bersama modalnya untuk 
diivestasikan di negeri kami"

    Ketika berada di Jawa Timur, saya ketemu dengan seorang kawan pendukung 
Jokowi, yang mengatakan bersikap melaksanakan garis massa. Beliau bilang, kalau 
massa rakyat mendukung Jokowi, masa kita tidak mendukungnya? Itu, kan, berarti 
kita tidak melaksanakan garis massa.
    Dalam hal itu saya bilang: "Massa Rakyat itu tidak pernah salah. Yang salah 
itu adalah pemimpinnya. Tetapi pendapat massa rakyat tidak sepenuhnya benar. 
Kebenaran mereka baru sepotong-sepotong. Makanya kita tidak boleh mengekor pada 
massa, atau kalau begitu kita jadi "bebek" saja, karena kita senang dmembebek. 
Tetapi kalau ingin menjadi pemimpin massa, maka setelah mendengarkan suara dan 
keinginan massa, dia harus meluruskan dan membangkitkan kesadaran massa.
    Maaf, saya tidak/belum faham mana yang ddemagogis dan dogmatis dan mana 
pula yang oportunis, baik kanan maupun kiri sekaligus.


    Pada 4 Agustus 2015 18.11, 'A.Alham' [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]> menulis:

        
      BERPENDIRIAN MODERAT TENTU BELUM OTOMATIS SALAH. BERPANDANGAN MARXIS 
ADALAH PANDANGAN YANG MENGUBAH DUNIA DAN BUKAN TAKLUK DAN MEMBIARKAN REALITAS 
YANG ADA KALAU REALITAS ITU TIDAK MENGUNTUNGKAN RAKYAT. PRO DAN KONTRA DALAM 
PANDANGAN POLITIK SELALU MENCERMINKAN PENDIRIAN KLAS DAN TIDAK ADA REMPAT UNTUK 
BERPENDIRIAN MODERAT.
      ASAHAN. 
      From: mailto:[email protected] 
      Sent: Tuesday, August 4, 2015 3:48 AM
      To: sastra-pembebasan 
      Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi 
para super dogmatiker, ultra demagog.........!!!

        
      Maaf, jadi pengen nimbrung neh. Kalau saya berpendapat sih, yang anti 
terhadap sesuatu itu tidak berlebihan dan yang pro juga tidak secara otomatis 
menjadi fanatik buta.Baik yang ke kiri-kirian adalah oportunis (membawa 
penyakit ke kanak-kanakan) dan yang kekanan-kananan juga oportunis (membawa 
penyakit kapitulasi). Sebaiknya memang berpegang teguh pada prinsip dan 
mengenal setiap materi itu sebagaimana adanya, tidak menurut keinginan atay 
yang hanya enak dipandang dan dirasakan oleh keinginan seseorang. Orang-orang 
yang pandai mengumpat, tentu punya pegangan dasar menurut teori yang mereka 
miliki. Sedangkan mereka yang memuji-muji setengah mati, juga merasa punya 
kepuasan dan kecocokan dengan keinginannya. Persoalan pokoknya, apakah obyek 
yang dijadikan materi sebagai pandangan materialis itu sudah sesuai dengan 
kenyataan atau tidak. Misalnya untuk memandang kekuasaan sekarang sebagai 
ANTI-IMPERIALIS atau ANTEK-IMPERIALIS. Tentunya terlebih dulu disamakan 
persepsinya mengenai "imperialis" itu sendiri, baik batasan maupun ciri-cirinya 
dengan berpedoman pada teori/referensi yang sama. 
      Begitu juga dengan cap yang dilontarkan kepada fihak lain sebagai kaum 
demagogis dan dogmatis. Tentunya pengertian demagog dan dogma itu sendiri harus 
ada pengertian yang sama. kaum dogmatis, biasanya di dalam praktek selalu 
begitu-begitu saja, sekalipun waktu dan keadaan sudah berkembang ratusan bahkan 
ribuan tahun. Tetapi, jika mereka yang berpegang teguh pada prinsip dasar 
sesuai dengan definisi teori, dengan praktek yang sesuai dengan perkembangan 
keadaan. Menurut hemat saya, hal yang  saya maksudkan itu tidak termasuk 
sebagai dogmatis.
      Maaf jika pendapat saya ini salah..

      Salam,
      nurman

      2015-08-04 0:55 GMT+07:00 Chalik Hamid [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]>:

          



        Pada Senin, 3 Agustus 2015 14:10, "iwamardi [email protected] 
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:




          

        Spesial dipersembahkan bagi para super ultra dogmatiker dan demagog 
kelongsong ketupat kosong, yang pakar dalam pengumpatan Jokowi sebagai 
"neoliberal","goblok", "komprador"  :
        Usul : jika kalian tidak bisa membacanya, pakailah teropong pembesar 
atau mikroskop !
        Ah, kalian betul, benar2 Jokowi itu "neoliberal","goblok", "komprador" 
!!
        Tapi orang Jawa  akan bilang kpd. kalian : "Gundulmu apêk !"

        ( gundul = kepala ; apêk = bau sengab ; "ê" dibaca spt dlm kata "adêm, 
"kagêt" ,"bêsar").


        **  Perang Cerdas Ala Jokowi

             
                   
              Perang Cerdas Ala Jokowi 
              JAKARTA, Arrahmahnews.com - Semua orang berkata menang di medan 
tempur itu baik, padahal tidak. Mengalahkan lawan tanpa bertempur Itulah puncak 
kem... 
             
              View on arrahmahnews.com Preview by Yahoo 
             
             

        **  Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton

             
                   
              Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton 
              Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan secara nasional 
ekspor jagung Indonesia mencapai 400 ribu ton dan diharapkan mampu mencapai 700 
ribu to... 
             
              View on www.antaranews.com Preview by Yahoo 
             
             

        ** Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan

             
                   
              Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan 
              Setelah melalui analisis dan evaluasi (Anev) yang dilakukan Susi 
dan Tim Satgas Illegal Fishing, ada 4 perusahaan yang dicabut izin usahanya. 
             
              View on finance.detik.com Preview by Yahoo 
             
             










Kirim email ke