Bung Nurman yang baik, Menurut saya bung tidak perlu meladeni bebek-bebek yang di Jerman maupun bebek Peking yang di Hongkong. Bung tentu tahu sejak Teng siauw Ping berhasil mendongkel Mao dan berkuasa rasa bebek Peking sudah sangat merosot: apek dan berbau walang sangit dan kokinya sekarang adalah wakil kecil yang jadi bebek Peking yang tingal di Hongkong . Sedangkan bebek Jerman, cumalah imitasi bebek Peking yang rasanya lebih parah lagi: bikin muntah semua orang. Soal gaya bung menulis, saya kira normal saja, saya bisa mengerti dengan mudah. Jadi bung juga tidak perlu merasa rendah diri, apalagi di depan seekor bebek yang ber –kowek,kowek tapi merasa tinggi dan benar morfologi dan semantika-nya. Bung tak perlu merasa tergertak dengan istilah-istilah linguistik yang dilontarkan oleh seekor bebek Jerman karna bahasa bebek cumalah kwek, kwek saja sepanjang hari. Bung teruskan menulis dengan cara bung dan biarkan itu bebek Jerman ber-kwek kwek sepuasnya.Dengan demikian bung bisa menghindari bau apek walang sangit dan muntah-muntah oleh rasa dua ekor bebek yang di Jerman maupun yang di Hongkong. Salam, ASAHAN,
From: mailto:[email protected] Sent: Wednesday, August 5, 2015 5:06 PM To: sastra-pembebasan Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para super dogmatiker, ultra demagog.........!!! Bung Asahan yb. Saya cuma minta pendapat atau tanggapan atas pandangan saya. Saya baru saja mendapat vonis sebagai salah satu dari kaum demagog. Padahal, saya hanya menyampaikan pandangan tentang materi masyarakat Indonesia dengan pemerintah/penguasanya sekarang ini. Terus terang, memang saya hampir sangat jarang sekali membaca buku-buku teori, apalagi yang berbahasa asing, karena saya hanyalah seorang petani pinggiran kota ketika Jakarta masih jadi kampung dulu di tahun 60-an. Saya bukanlah seorang tokoh politik, meskipun saya pernah dipenjara dari RTC Salemba sampai ke Cipinang. Di Cipinang, saya pernah kumpul dengan Bg. Katno (PR), Bg Munir, Bg Rewang, Bg Ruslan, Pono, Bono dan lain-lainnya. Tapi saya tidak pernah ke P. Buru, jadi saya kurang mengerti tentang hal itu. Kadang-kadang bahasa Indonesia saya-pun tidak tersusun rapi sebagaimana kaum intelektual lainnya. Hal ini bukanlah kepura-puraan atau menyampaikan kebohongan. Hal ini sangat bisa diselidiki. Inilah tulisan saya terdahulu : Maaf, jadi pengen nimbrung neh. Kalau saya berpendapat sih, yang anti terhadap sesuatu itu tidak berlebihan dan yang pro juga tidak secara otomatis menjadi fanatik buta.Baik yang ke kiri-kirian adalah oportunis (membawa penyakit ke kanak-kanakan) dan yang kekanan-kananan juga oportunis (membawa penyakit kapitulasi). Sebaiknya memang berpegang teguh pada prinsip dan mengenal setiap materi itu sebagaimana adanya, tidak menurut keinginan atay yang hanya enak dipandang dan dirasakan oleh keinginan seseorang. Orang-orang yang pandai mengumpat, tentu punya pegangan dasar menurut teori yang mereka miliki. Sedangkan mereka yang memuji-muji setengah mati, juga merasa punya kepuasan dan kecocokan dengan keinginannya. Persoalan pokoknya, apakah obyek yang dijadikan materi sebagai pandangan materialis itu sudah sesuai dengan kenyataan atau tidak. Misalnya untuk memandang kekuasaan sekarang sebagai ANTI-IMPERIALIS atau ANTEK-IMPERIALIS. Tentunya terlebih dulu disamakan persepsinya mengenai "imperialis" itu sendiri, baik batasan maupun ciri-cirinya dengan berpedoman pada teori/referensi yang sama.Begitu juga dengan cap yang dilontarkan kepada fihak lain sebagai kaum demagogis dan dogmatis. Tentunya pengertian demagog dan dogma itu sendiri harus ada pengertian yang sama. kaum dogmatis, biasanya di dalam praktek selalu begitu-begitu saja, sekalipun waktu dan keadaan sudah berkembang ratusan bahkan ribuan tahun. Tetapi, jika mereka yang berpegang teguh pada prinsip dasar sesuai dengan definisi teori, dengan praktek yang sesuai dengan perkembangan keadaan. Menurut hemat saya, hal yang saya maksudkan itu tidak termasuk sebagai dogmatis.Maaf jika pendapat saya ini salah.. Salam,nurman Pada atulisan saya selanjutnya, saya katakan : Terima kasih atas tanggapannya. Sebenarnya pertanyaan saya sangat sederhana dalam memandang materi kekuasaan sekarang. Saya tidak melihat perorangannya, baik pribadi Jokowi maupun Prabowo atau siapapun juga. Pertanyaan saya adalah "Apakah pemerintah/penguasa negara sekarang ANTI-IMPERIALIS ataukah ANTEK-IMPERIALIS? Memang, Jokowi adalah simbol negara sekarang, tetapi ketika bicara tentang negara, tentunya menyangkut seluruh lembaganya, baik eksekutif maupun legislatif dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Kemenagnan Jokowi menjadi presiden adalah melalui pemilihan umum melanjutkan sistim ordebaru yang kapitalistik. Saya setuju kalau kesalahan Aidit dan kawan-kawan (jadi tidak menyalahkan kepada Aidit pribadi) dalam memimpin PKI, tidak mengenal keadaan. Itu tidak berarti ucapan "tahu Marxis dan kenal keadaan" itu yang salah. Kesalahan pokok pada pimpinan PKI di masa itu adalah sejak pembangunan partai, memang tidak dipersiapkan untuk revolusi dengan kekuatan bersenjata sendiri, melainkan mengandalkan kekuatan bersenjata borjuasi. Padahal, dalam sepanjang sejarah, tidak pernah ada kemenangan dan kekuasaan yang didapat dari hasil kekuatan fihak lain. Begitupun dalam memandang kekuasaan sekarang, banyak orang-orang yang merasa dirinya sebagai orang Marxis, tapi berharap dari kebaikan penguasa sekarang untuk mendapatkan rekonsiliasi dan rehabilitasi dari penguasa sekarang, sehingga tidak bisa membedakan antara harapan/keinginan dengan pembelejetan. Apakah bisa penguasa sekarang mengusir kaum penjajah/imperialis yang sedang dan akan terus mengeruk kekayaan alam milik Rakyat Indonesia? Apakah ini termasuk orang-orang yang mengenal keadaan? Sudah berapa belas atau puluh tahun "perjuangan" itu mereka dan kemudian kawan-kawan kita yang penuh "harapan" itu, mati satu persatu, tanpa medapatkan hasil secuilpun. Sekarang muncul harapan baru, yang mengharap Jokowi selaku presiden akan mampu menciptakan harapan itu. Kalau saya berprinsip, bahwa keberhasilan itu sasngat ditentukan oleh keberhasilan dalam membangun kekuatan massa dengan berbasiskan massa pekerja. Orang-orang yang belum bisa memahami adanya hukum gerak atau yang tampaknya diam itu sendiri adalah wujud dari adanya gerak dalam dan gerak dalam itu sendiri adalah menentukan perubahan, saya belum bisa memvonis mereka sebagai demagog dan dogmatiker. Saya juga tidak bisa memvonis kesalahan teori Marxisme dengan adanya Diktatur Proletariat. Saya masih harus belajar mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud dengan Diktatur Proletariat. Jadi, kalau Rakyat Indonesia ingin adanya perubahan mendasar dalam kehidupan mereka, maka massa Rakyat itulah yang harus dipersatukan/diorganisasi sebagai kekuatan perubahan. Bukan mengandalkan seseorang dari luar, sekaliber MALAIKAT sekalipun dia. Adapun anjuran bung mengenai argumentasi dalam diskusi yang bung katakan melalui nasional list dan temu eropa, saya akan berusaha menemukan dan mengikutinya. Dan saya akan terus mempelajari pendapat siapapun. Tapi maaf sebelumnya, mungkin saya tidak bisa secara rutin dan teratur dalam mengikuti diskusi ini, karena saya sering bepergian ke daerah-daerah/desa-desa. Dan pada umumunya di tempat tersebut tidak ada internet. Salam, nurman Tapi, setelah saya menyampaikan tulisan tersebut, tiba-tiba saja saya terima balasan dituduh sebagai sala seorang dari kelompok demagog. Lha, saya bertanya-tanya, siapa yang dimaksud dengan kelompok. Sebab, saya merasa tidak berkelompok kepada siapapun. Kalau di antara kita ada yang terjadi kesamaan atau perbedaan pandangan, hal itu adalah sesuatu yang biasa. Kemudian saya juga dituduh berpura-pura dan ganti nama. Saya jadi tambah bingung. Padahal saya membenci kepura-puraan di antara kawan. Tapi, tak apalah. Terima kasih, jika bung punya waktu untuk menanggapi pandangan saya. Salam, nurman. Pada 5 Agustus 2015 19.26, 'A.Alham' [email protected] [sastra-pembebasan] <[email protected]> menulis: Saya sepakat dengan pemikiran bung Nurman. Para pemalas yang merasa Marxis itu menuduh lawan pikirannya dengan “kekiri-kirian” atau menuntut dengan nada sinis pada bekas teman-teman sebarisannya di masa lalu yang masih tidak bisa pulang ke tanah air dengan seruan klassik”: “pulang dong ke tanah air, pimpin langsung revolusi jangan cuma omong doang sambil enak-enak makan keju”.Padahal mereka-mereka ini yang selalu tinggal di Indonesia, sempat dijebloskan suhartO ke penjara-penjara hingga buangan pulau Buru, toh juga tidak bisa berbuat apa-apa sesudah meninggalkan penjara-penjara dan buangan pulau Buru. Bahkan sebagian lagi dari mereka, di kalangan para “sastrawan ternama” cuma menulis buku yang isinya penuh penderitaan, sedu sedan, mengemis balas kasihan, rekonsiliasi sambil meneriakkan PERDAMAIAN,pasifisme dengan para oenyiksa mereka dan menukar ideologi Komunis mereka menjadi idelogi Sosial Demokrat (Sosdem) dan ujung-ujungnya menjadi anti Komunis dan memilih hidup mapan menjadi borjuis dan kembali ke asal klas semula: borjuis kecil dengan watak bimbang dan ahirnya mengkhianat. Dan memang itulah yang mereka bisa wariskan dari penjara-penjara dan buangan pulau Buru-nya suhartO: didikan suhartO telah menghasilkan buah: dari komunis menjadi anti Komunis, anti revolusi dan pengagum kapitalisme lebih dari para kapitalis itu sendiri seperti juga yang dilakukan seorang tokoh bekas Komunis lantas menjadi Sosdem yang tinggal di Hongkong sekarang ini. Kefanatikannya sebagai pengagum dan penyembah kapitalis tidak tanggung-tanggung degan seruannya yang super genial: “kebangkan dan hidupkan kapitalisme semaksimal mungkin untuk melahirkan proletariat. Semakin banyak pabrik kapitalis semakin banyak proletariat yang akan lahir”. Dan kita yang melawan kapitalisme di cap sebagai dogmatis, tidak kritis, tidak mau mengoreksi kesalahan Lenin dan Mao. Kita dianggap bodoh dan dogmatis karna tidak bisa menghargai kapitalisme dan penindasnnya, tidak bisa menghargai penghisapan kapitalisme yang memakmurkan negara, tidak bisa meninggalkan mimpi dan ilusi revolusi pembebesan rakyat. Kita diajak meninggalkan semua yang bersifat menyelamatkan dan membebaskan rakyat apalagi hingga menyokong rakyat menjadi hakim. Orang-orang ini yang dulu pernah sebarisan denga kita, yang pernah bersimpati pada perjuangan kita, mengagumi kebesaran Partai kita, dan juga yang telah menjadi besar dan terkenal dan terpandang oleh imbas “kehebatan” Partai kita, tapi sekarang telah menjadi pendurhaka, pengkhianat, kaki tangan kapitalisme Neo Liberal, penjilat semua penguasa negara yang sedang memerintah, kaki tangan penguasa munafik tapi juga sambil berkicau dengan kata-kata yang berbau”kiri” dari sarang-sarang mereka yang sudah amat netjes, berkecukupan, tak kurang suatu apa lagi. Para munafikun sinis dan khianat ini perlu kita telanjangi terus hingga bulat sampai terlihat semua orang meskipun harus melakukan perjuangan yang pahit sekalipun seperti pepatah Belanda: “Tot de bittere einde”. Namun kita yakin: semua pengkhianat tidak akan berahir dengan baik dan selamat. Sejarah selalu menunjukkan: yang baru menang selalu menghukum para pengkhianat terlebih dahulu, baru kemudian musuh yang telah ditaklukkan. Bila tiba giliran kita, kita juga akan melakukan hal itu. Salam, ASAHAN. From: mailto:[email protected] Sent: Wednesday, August 5, 2015 2:13 AM To: sastra-pembebasan Subject: Re: Fw: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para super dogmatiker, ultra demagog.........!!! Saya setuju bahwa Marxis yang malas selalu menunggu perubahan itu terjadi, sama halnya dengan dalih yang mengatakan bahwa revolusi itu keharusan sejarah, maka mereka berpendapat bahwa dengan menunggu sambil tidur saja pun revolusi akan terjadi. Itulah sikap kaum oportunis kanan. Sedangkan ide untuk melakukan perubahan materi (masyarakat baru) itu, harus secara aktif menciptakan syarat-syarat yang sesuai dengan perubahan itu sendiri. Bukannya dengan tertidur lelap sambil memimpikan lahirnya masyarakat baru. Yang berpandangan demikian itu bukanlah dalam kategori sebagai kaum revolsuioner, melainkan sebaliknya sebagai kontra-revolusioner. Hanya ada satu jalan menuju perubahan mendasar dari negeri jajahan menjadi negeri merdeka penuh dan berdaulat. Kontradiksi antara kaum penjajah dengan yang dijajah bersifat antagonis (tidak terdamaikan), sehingga harus mengambil jualan revolusi. Bukan perubahan dengan meminta-minta atau mendorong kekuasaan antek imperialis yang akan melakukannya. Kaum revolusioner harus punya kemampuan membangun kekuatan sendiri, dengan bersandar pada massa rakyat yang luas.Bukanlah jadi kaum Marxis yang pemalas dan tertidur sambil memimpikan terciptanya syarat-syara perubahan yang turun dari langit. Hanya apabila kaumj revolusioner mempunyai kekuatan yang mampu mengungguli kemampuan kaum penjajah bersama antek-anteknyalah negeri dan masyarakat ini bisa dibebaskan. Oleh karena itu, penyakit kekiri-kirian (oportunis kiri dan kekanak-kanakan) pun harus dikikis habis. Dari mana kekuatan itu muncul jika tidak dikerjakan? Kekuatan itu tidak datang dari langit, karena kekuatan itu ada ditengah-tengah massa rakyat. Itu sebabnya orang-orang yang merasa dirinya revolusioner, harus berada di tengah-tengah massa rakyat, belajar dari massa rakyat dan kemudian mendidik dan membangkitkan kesadaran massa rakyat, (buykan membebek) dan selanjutnya mengorganisir massa rakyat di setiap sektor. Jadi bukan hanya berkoar-kora melalui medsos. Orang-orang demikian jeumlahnya sekarang memang masih sangat kecil. Tapi saya percaya bahwa mereka terus bekerja tanpa membanggakan diri di arena medsos. Salam, Nurman Pada 5 Agustus 2015 02.50, 'A.Alham' [email protected] [sastra-pembebasan] <[email protected]> menulis: Marxis yang malas selalu menunggu syarat-syarat perubahan datang dengan sendirinya(dari langit?).Kemalasan demikian juga dipunyai oleh kaum Trotskist. Mereka berpangku tangan sambil menunggu agar syarat-syarat perubahan muncul dengan sendirinya. Dalam kenyataan mereka tidak peka merasakan lahirnya syarat-syarat untuk perubahan dan masih tertidur lelap dalam penungguan dengan mata tertutup sambil bermimpi negara Utopis sedang lahir.kata “menciptakan sysarat-syarat” tidak ada dalam kamus mereka dan mereka hanya menunggu datangnya syarat-syarat perubahan. Sebaliknya Marxist yang kesusu suka berteriak: revolusi sekarang juga atau perjuangan bersenjata sekarang juga tanpa persiapan, tanpa organisasi, tanpa perencanaan dan tanpa memiliki garis politik yang benar dan kepemimpinan yang tunggal. Yang kita maksudkan di sini bukan untuk memilih salah satu dari yang kesusu maupun yang malas. Revolusi adalah urusan yang luar biasa seriusnya dan langkah pertama yang juga luar biasa pentingnyanya adalah persiapan yang menyangkut bidang-bidang besar seperti: organisasi, idiologi,politik ditambah dengan kesiapan mental dan fisik. Kesiapan yang demikianlah yang punya sifat: SEKARANG JUGA, bukan besok, bukan lusa, bukan tahun depan. Cukup banyak kaum Marxist punya penafsiran yang salah terhadap hubungan antara materi dan ide. Bila kita katakan materi yang menentukan tapi itu sama sekali bukan berarti ide tidak penting, tidak punya fungsi dan harus diabaikan.Ini sama sekali salah. ide tetap penting dan bahkan bisa menjadi teramat penting . Dalam ide termasuk perencanaan, politik, ideologi hingga taktik dan strategi yang tanpa semua itu gerak materi tidak akan menghasilkan apa yang dicita-citakan oleh rakyat dan mudah tergelincir ke anarkisme.Marxisme menolak idealisme dalam pengertian bahwa idealisme tidak bertolak dari materi yang kongkrit, tidak berdasar realitas yang ada dan semata atas dasar fantasi dan tidak sesuai dengan kenyataan dan semuanya dikemudikan oleh subyektivisme. Dalam politik Marxis, idealisme tidak mendapat tempat dan juga berbahaya terutama dalam gerakan revolusioner rakyat. ASAHAN. From: mailto:[email protected] Sent: Tuesday, August 4, 2015 2:01 PM To: sastra-pembebasan Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para super dogmatiker, ultra demagog.........!!! Dalam pandangan materialis, orang tidak hanya mengenal materi, tetapi juga mengubah materi. Meskipun keinginan mengubah itu sebagai ide yang lahir dari materi, tetapi ide perubahan kekualitas materi itu bukanb karena ide yang menentukan. Perubahan itu sendiri terjadi manakala syarat-syarat bagi perubahan itu dapat dipenuhi, sesuai kebutuhan perubahan kualitas itu sendiri. Misalnya secara kongkret dalam memandang materi masyarakat Indonesia sekarang ini. Apakah penguasa di negeri ini ANTI-IMPERIALIS ataukah ANTEK - IMPERIALIS. Ada yang memandang kekuasaan sekarang ini hanya berdasarkan penilaian perorangan, bahwa Jokowi itu orang baik, dicintai oleh Rakyat, menggaungkan Trisakti ketika menjelang pemilihan Presiden. Nah, ada pula yang melakukan penilaian, bukan memandangnya dari kebaikan satu orang, melainkan dari sistim kenegaraan yang dipimpinnya. Melihat kekuasaan yang dihasilkan melalui pemilu model ordebaru, tentu dipandang sebagai penguasa penerus ordebaru pula, yang menjadi ANTEK IMPERIALIS, yang menjadikan Indonesia sebagai negeri dan masyarakat Jajahan Model Baru (JMB alias Nekolim). Apakah sikap ini dianggap sebagai dogmatis atau demagogis, dimana letaknya? Apa yang salah dari pandangan itu? Saya tidak tahu, apakah mereka yang memuja-muji Jokowi itu berdasarkan pandangan atau berteori dua aspek di dalam kekuasaan atau teori yang mana? Ataukah menyamakan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan Sukarno? Yang pasti, kalau Bung Karno dengan Trisaktinya bersikap tegas : "Go to hell with your aid" terhadap bantuan (utang dari imperialis), sedangkan Jokowi dengan jelas bilang "saya tunggu kedatangan Tuan bersama modalnya untuk diivestasikan di negeri kami" Ketika berada di Jawa Timur, saya ketemu dengan seorang kawan pendukung Jokowi, yang mengatakan bersikap melaksanakan garis massa. Beliau bilang, kalau massa rakyat mendukung Jokowi, masa kita tidak mendukungnya? Itu, kan, berarti kita tidak melaksanakan garis massa. Dalam hal itu saya bilang: "Massa Rakyat itu tidak pernah salah. Yang salah itu adalah pemimpinnya. Tetapi pendapat massa rakyat tidak sepenuhnya benar. Kebenaran mereka baru sepotong-sepotong. Makanya kita tidak boleh mengekor pada massa, atau kalau begitu kita jadi "bebek" saja, karena kita senang dmembebek. Tetapi kalau ingin menjadi pemimpin massa, maka setelah mendengarkan suara dan keinginan massa, dia harus meluruskan dan membangkitkan kesadaran massa. Maaf, saya tidak/belum faham mana yang ddemagogis dan dogmatis dan mana pula yang oportunis, baik kanan maupun kiri sekaligus. Pada 4 Agustus 2015 18.11, 'A.Alham' [email protected] [sastra-pembebasan] <[email protected]> menulis: BERPENDIRIAN MODERAT TENTU BELUM OTOMATIS SALAH. BERPANDANGAN MARXIS ADALAH PANDANGAN YANG MENGUBAH DUNIA DAN BUKAN TAKLUK DAN MEMBIARKAN REALITAS YANG ADA KALAU REALITAS ITU TIDAK MENGUNTUNGKAN RAKYAT. PRO DAN KONTRA DALAM PANDANGAN POLITIK SELALU MENCERMINKAN PENDIRIAN KLAS DAN TIDAK ADA REMPAT UNTUK BERPENDIRIAN MODERAT. ASAHAN. From: mailto:[email protected] Sent: Tuesday, August 4, 2015 3:48 AM To: sastra-pembebasan Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para super dogmatiker, ultra demagog.........!!! Maaf, jadi pengen nimbrung neh. Kalau saya berpendapat sih, yang anti terhadap sesuatu itu tidak berlebihan dan yang pro juga tidak secara otomatis menjadi fanatik buta.Baik yang ke kiri-kirian adalah oportunis (membawa penyakit ke kanak-kanakan) dan yang kekanan-kananan juga oportunis (membawa penyakit kapitulasi). Sebaiknya memang berpegang teguh pada prinsip dan mengenal setiap materi itu sebagaimana adanya, tidak menurut keinginan atay yang hanya enak dipandang dan dirasakan oleh keinginan seseorang. Orang-orang yang pandai mengumpat, tentu punya pegangan dasar menurut teori yang mereka miliki. Sedangkan mereka yang memuji-muji setengah mati, juga merasa punya kepuasan dan kecocokan dengan keinginannya. Persoalan pokoknya, apakah obyek yang dijadikan materi sebagai pandangan materialis itu sudah sesuai dengan kenyataan atau tidak. Misalnya untuk memandang kekuasaan sekarang sebagai ANTI-IMPERIALIS atau ANTEK-IMPERIALIS. Tentunya terlebih dulu disamakan persepsinya mengenai "imperialis" itu sendiri, baik batasan maupun ciri-cirinya dengan berpedoman pada teori/referensi yang sama. Begitu juga dengan cap yang dilontarkan kepada fihak lain sebagai kaum demagogis dan dogmatis. Tentunya pengertian demagog dan dogma itu sendiri harus ada pengertian yang sama. kaum dogmatis, biasanya di dalam praktek selalu begitu-begitu saja, sekalipun waktu dan keadaan sudah berkembang ratusan bahkan ribuan tahun. Tetapi, jika mereka yang berpegang teguh pada prinsip dasar sesuai dengan definisi teori, dengan praktek yang sesuai dengan perkembangan keadaan. Menurut hemat saya, hal yang saya maksudkan itu tidak termasuk sebagai dogmatis. Maaf jika pendapat saya ini salah.. Salam, nurman 2015-08-04 0:55 GMT+07:00 Chalik Hamid [email protected] [sastra-pembebasan] <[email protected]>: Pada Senin, 3 Agustus 2015 14:10, "iwamardi [email protected] [nasional-list]" <[email protected]> menulis: Spesial dipersembahkan bagi para super ultra dogmatiker dan demagog kelongsong ketupat kosong, yang pakar dalam pengumpatan Jokowi sebagai "neoliberal","goblok", "komprador" : Usul : jika kalian tidak bisa membacanya, pakailah teropong pembesar atau mikroskop ! Ah, kalian betul, benar2 Jokowi itu "neoliberal","goblok", "komprador" !! Tapi orang Jawa akan bilang kpd. kalian : "Gundulmu apêk !" ( gundul = kepala ; apêk = bau sengab ; "ê" dibaca spt dlm kata "adêm, "kagêt" ,"bêsar"). ** Perang Cerdas Ala Jokowi Perang Cerdas Ala Jokowi JAKARTA, Arrahmahnews.com - Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik, padahal tidak. Mengalahkan lawan tanpa bertempur Itulah puncak kem... View on arrahmahnews.com Preview by Yahoo ** Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan secara nasional ekspor jagung Indonesia mencapai 400 ribu ton dan diharapkan mampu mencapai 700 ribu to... View on www.antaranews.com Preview by Yahoo ** Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan Setelah melalui analisis dan evaluasi (Anev) yang dilakukan Susi dan Tim Satgas Illegal Fishing, ada 4 perusahaan yang dicabut izin usahanya. View on finance.detik.com Preview by Yahoo
