Marxis yang malas selalu menunggu syarat-syarat perubahan datang dengan
sendirinya(dari langit?).Kemalasan demikian juga dipunyai oleh kaum Trotskist.
Mereka berpangku tangan sambil menunggu agar syarat-syarat perubahan muncul
dengan sendirinya. Dalam kenyataan mereka tidak peka merasakan lahirnya
syarat-syarat untuk perubahan dan masih tertidur lelap dalam penungguan dengan
mata tertutup sambil bermimpi negara Utopis sedang lahir.kata “menciptakan
sysarat-syarat” tidak ada dalam kamus mereka dan mereka hanya menunggu
datangnya syarat-syarat perubahan. Sebaliknya Marxist yang kesusu suka
berteriak: revolusi sekarang juga atau perjuangan bersenjata sekarang juga
tanpa persiapan, tanpa organisasi, tanpa perencanaan dan tanpa memiliki garis
politik yang benar dan kepemimpinan yang tunggal. Yang kita maksudkan di sini
bukan untuk memilih salah satu dari yang kesusu maupun yang malas. Revolusi
adalah urusan yang luar biasa seriusnya dan langkah pertama yang juga luar
biasa pentingnyanya adalah persiapan yang menyangkut bidang-bidang besar
seperti: organisasi, idiologi,politik ditambah dengan kesiapan mental dan
fisik. Kesiapan yang demikianlah yang punya sifat: SEKARANG JUGA, bukan besok,
bukan lusa, bukan tahun depan.
Cukup banyak kaum Marxist punya penafsiran yang salah terhadap hubungan
antara materi dan ide. Bila kita katakan materi yang menentukan tapi itu sama
sekali bukan berarti ide tidak penting, tidak punya fungsi dan harus
diabaikan.Ini sama sekali salah. ide tetap penting dan bahkan bisa menjadi
teramat penting . Dalam ide termasuk perencanaan, politik, ideologi hingga
taktik dan strategi yang tanpa semua itu gerak materi tidak akan menghasilkan
apa yang dicita-citakan oleh rakyat dan mudah tergelincir ke
anarkisme.Marxisme menolak idealisme dalam pengertian bahwa idealisme tidak
bertolak dari materi yang kongkrit, tidak berdasar realitas yang ada dan semata
atas dasar fantasi dan tidak sesuai dengan kenyataan dan semuanya dikemudikan
oleh subyektivisme. Dalam politik Marxis, idealisme tidak mendapat tempat dan
juga berbahaya terutama dalam gerakan revolusioner rakyat.
ASAHAN.
From: mailto:[email protected]
Sent: Tuesday, August 4, 2015 2:01 PM
To: sastra-pembebasan
Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para
super dogmatiker, ultra demagog.........!!!
Dalam pandangan materialis, orang tidak hanya mengenal materi, tetapi juga
mengubah materi. Meskipun keinginan mengubah itu sebagai ide yang lahir dari
materi, tetapi ide perubahan kekualitas materi itu bukanb karena ide yang
menentukan. Perubahan itu sendiri terjadi manakala syarat-syarat bagi perubahan
itu dapat dipenuhi, sesuai kebutuhan perubahan kualitas itu sendiri.
Misalnya secara kongkret dalam memandang materi masyarakat Indonesia sekarang
ini. Apakah penguasa di negeri ini ANTI-IMPERIALIS ataukah ANTEK - IMPERIALIS.
Ada yang memandang kekuasaan sekarang ini hanya berdasarkan penilaian
perorangan, bahwa Jokowi itu orang baik, dicintai oleh Rakyat, menggaungkan
Trisakti ketika menjelang pemilihan Presiden.
Nah, ada pula yang melakukan penilaian, bukan memandangnya dari kebaikan satu
orang, melainkan dari sistim kenegaraan yang dipimpinnya. Melihat kekuasaan
yang dihasilkan melalui pemilu model ordebaru, tentu dipandang sebagai penguasa
penerus ordebaru pula, yang menjadi ANTEK IMPERIALIS, yang menjadikan Indonesia
sebagai negeri dan masyarakat Jajahan Model Baru (JMB alias Nekolim). Apakah
sikap ini dianggap sebagai dogmatis atau demagogis, dimana letaknya? Apa yang
salah dari pandangan itu?
Saya tidak tahu, apakah mereka yang memuja-muji Jokowi itu berdasarkan
pandangan atau berteori dua aspek di dalam kekuasaan atau teori yang mana?
Ataukah menyamakan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan Sukarno?
Yang pasti, kalau Bung Karno dengan Trisaktinya bersikap tegas : "Go to hell
with your aid" terhadap bantuan (utang dari imperialis), sedangkan Jokowi
dengan jelas bilang "saya tunggu kedatangan Tuan bersama modalnya untuk
diivestasikan di negeri kami"
Ketika berada di Jawa Timur, saya ketemu dengan seorang kawan pendukung Jokowi,
yang mengatakan bersikap melaksanakan garis massa. Beliau bilang, kalau massa
rakyat mendukung Jokowi, masa kita tidak mendukungnya? Itu, kan, berarti kita
tidak melaksanakan garis massa.
Dalam hal itu saya bilang: "Massa Rakyat itu tidak pernah salah. Yang salah itu
adalah pemimpinnya. Tetapi pendapat massa rakyat tidak sepenuhnya benar.
Kebenaran mereka baru sepotong-sepotong. Makanya kita tidak boleh mengekor pada
massa, atau kalau begitu kita jadi "bebek" saja, karena kita senang dmembebek.
Tetapi kalau ingin menjadi pemimpin massa, maka setelah mendengarkan suara dan
keinginan massa, dia harus meluruskan dan membangkitkan kesadaran massa.
Maaf, saya tidak/belum faham mana yang ddemagogis dan dogmatis dan mana pula
yang oportunis, baik kanan maupun kiri sekaligus.
Pada 4 Agustus 2015 18.11, 'A.Alham' [email protected] [sastra-pembebasan]
<[email protected]> menulis:
BERPENDIRIAN MODERAT TENTU BELUM OTOMATIS SALAH. BERPANDANGAN MARXIS ADALAH
PANDANGAN YANG MENGUBAH DUNIA DAN BUKAN TAKLUK DAN MEMBIARKAN REALITAS YANG ADA
KALAU REALITAS ITU TIDAK MENGUNTUNGKAN RAKYAT. PRO DAN KONTRA DALAM PANDANGAN
POLITIK SELALU MENCERMINKAN PENDIRIAN KLAS DAN TIDAK ADA REMPAT UNTUK
BERPENDIRIAN MODERAT.
ASAHAN.
From: mailto:[email protected]
Sent: Tuesday, August 4, 2015 3:48 AM
To: sastra-pembebasan
Subject: Re: #sastra-pembebasan# Trs: [nasional-list] Persembahan bagi para
super dogmatiker, ultra demagog.........!!!
Maaf, jadi pengen nimbrung neh. Kalau saya berpendapat sih, yang anti
terhadap sesuatu itu tidak berlebihan dan yang pro juga tidak secara otomatis
menjadi fanatik buta.Baik yang ke kiri-kirian adalah oportunis (membawa
penyakit ke kanak-kanakan) dan yang kekanan-kananan juga oportunis (membawa
penyakit kapitulasi). Sebaiknya memang berpegang teguh pada prinsip dan
mengenal setiap materi itu sebagaimana adanya, tidak menurut keinginan atay
yang hanya enak dipandang dan dirasakan oleh keinginan seseorang. Orang-orang
yang pandai mengumpat, tentu punya pegangan dasar menurut teori yang mereka
miliki. Sedangkan mereka yang memuji-muji setengah mati, juga merasa punya
kepuasan dan kecocokan dengan keinginannya. Persoalan pokoknya, apakah obyek
yang dijadikan materi sebagai pandangan materialis itu sudah sesuai dengan
kenyataan atau tidak. Misalnya untuk memandang kekuasaan sekarang sebagai
ANTI-IMPERIALIS atau ANTEK-IMPERIALIS. Tentunya terlebih dulu disamakan
persepsinya mengenai "imperialis" itu sendiri, baik batasan maupun ciri-cirinya
dengan berpedoman pada teori/referensi yang sama.
Begitu juga dengan cap yang dilontarkan kepada fihak lain sebagai kaum
demagogis dan dogmatis. Tentunya pengertian demagog dan dogma itu sendiri harus
ada pengertian yang sama. kaum dogmatis, biasanya di dalam praktek selalu
begitu-begitu saja, sekalipun waktu dan keadaan sudah berkembang ratusan bahkan
ribuan tahun. Tetapi, jika mereka yang berpegang teguh pada prinsip dasar
sesuai dengan definisi teori, dengan praktek yang sesuai dengan perkembangan
keadaan. Menurut hemat saya, hal yang saya maksudkan itu tidak termasuk
sebagai dogmatis.
Maaf jika pendapat saya ini salah..
Salam,
nurman
2015-08-04 0:55 GMT+07:00 Chalik Hamid [email protected]
[sastra-pembebasan] <[email protected]>:
Pada Senin, 3 Agustus 2015 14:10, "iwamardi [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
Spesial dipersembahkan bagi para super ultra dogmatiker dan demagog
kelongsong ketupat kosong, yang pakar dalam pengumpatan Jokowi sebagai
"neoliberal","goblok", "komprador" :
Usul : jika kalian tidak bisa membacanya, pakailah teropong pembesar atau
mikroskop !
Ah, kalian betul, benar2 Jokowi itu "neoliberal","goblok", "komprador" !!
Tapi orang Jawa akan bilang kpd. kalian : "Gundulmu apêk !"
( gundul = kepala ; apêk = bau sengab ; "ê" dibaca spt dlm kata "adêm,
"kagêt" ,"bêsar").
** Perang Cerdas Ala Jokowi
Perang Cerdas Ala Jokowi
JAKARTA, Arrahmahnews.com - Semua orang berkata menang di medan
tempur itu baik, padahal tidak. Mengalahkan lawan tanpa bertempur Itulah puncak
kem...
View on arrahmahnews.com Preview by Yahoo
** Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton
Indonesia ekspor jagung 400 ribu ton
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan secara nasional
ekspor jagung Indonesia mencapai 400 ribu ton dan diharapkan mampu mencapai 700
ribu to...
View on www.antaranews.com Preview by Yahoo
** Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan
Lagi, Menteri Susi Cabut Izin 4 Perusahaan Ikan
Setelah melalui analisis dan evaluasi (Anev) yang dilakukan Susi dan
Tim Satgas Illegal Fishing, ada 4 perusahaan yang dicabut izin usahanya.
View on finance.detik.com Preview by Yahoo