KEBUDAYAAN

Puluhan Muda-mudi Peluk Cium di Jalanan Umum

DENPASAR--MIOL: Adegan yang berbau asmara atau yang ada kaitannya dengan masalah seksual, umumnya dilakukan orang secara sembunyi-sembunyi, bahkan mungkin di tempat yang cukup terpencil dan gelap.

Namun, berbeda halnya dengan puluhan muda-mudi penduduk Dusun Kaja, Sesetan, Denpasar, justru mereka saling rangkul dan peluk cium dengan lawan jenis di jalanan umum dan disaksikan orang banyak, Sabtu sore.

Sedikitnya 80 perjaka dan perawan warga Dusun Kaja, tampak ambil bagian dalam tradisi peluk cium yang diberi nama "Med-medan", di bagian ruas Jalan Raya Sesetan tersebut.

Tradisi yang digelar setiap tahun, yakni sehari setelah umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi, tidak saja dibanjiri ratusan penonton dari sejumlah daerah Pulau Dewata, tetapi juga para turis mancanegara.

Dengan kamera atau foto tustel yang dibawa, beberapa bule tampak berusaha mengambil gambar atas adegan yang cukup langka dan unik tersebut, meski mereka harus turut berdesakan dan sesekali kecipratan air yang disiramkan pihak penyelenggara.

Atraksi yang hanya boleh dilakukan pria dan wanita yang masih berstatus perjaka dan perawan, serta khusus bagi warga dari Dusun Kaja tersebut, dimulai dengan pengelompokan para peserta.

Peserta pria berkelompok dan berbaris di bagian utara jalan, sedang kelompok wanita berderet di selatan jalan, dengan jarak antara atau daerah renggang sekitar 25 meter.

Dari dua arah tersebut, masing-masing kelompok yang sudah mengenakan kaos warna putih berlengan merah (pria) dan hitam (wanita) bertuliskan 'Med-medan', mulai saling bergerak dan bertemu di tengah arena, yang di pinggir kiri kanannya dipadati penonton. Saat kedua kelompok saling bertemu itulah, mereka kemudian melakukan adegan peluk cium antarpasangan berlawanan jenis.

Adegan mesra tersebut baru terhenti setelah pihak penyelenggara menyiramkan air ke arena 'Med-medan'. Namun demikian, tampak pula ada sejumlah peserta yang bandel, mereka tetap lengket meski telah dua sampai tiga ember air disiramkan tepat di atas kepala kedua pasangan.

Tokoh adat dari Dusun Kaja, Nyoman Adnyana mengatakan, tradisi yang sudah dimulai sejak ratusan tahun silan itu, setiap tahun harus digelar oleh warga di daerahnya.

Pernah acara itu dilarang untuk dilakukan, yakni pada masa jaya-jayanya Orde Baru, ternyata sempat membawa bencana bagi warga di dusun tersebut, baik berupa sakit-sakitan atau musibah lainnya.

"Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan muncul kembali di lingkungan warga kami itulah, 'Med-medan' tetap harus diadakan setiap tahun, yakni sehari setelah Hari Suci Nyepi," ucapnya. (Ant/O-1)

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke