Supersemar, Rekayasa Sejarah?
Sabtu, 12 Maret 2005
 
Kemarin baru saja kita melewati tanggal 11 Maret 2005. Selain bertepatan dengan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu, juga ada sekelumit sejarah penting negeri ini yang seolah terlupakan. Surat perintah sebelas maret (Supersemar) seolah menjadi misteri tentang apa yang terjadi di baliknya. Semua saksi kunci Supersemar pun telah tiada. Kecuali penerima Supersemar itu yakni Jend (purn) Soeharto masih hidup.
 
Setelah dikeluarkan 39 tahun silam, tidak banyak yang baru mengenai Supersemar (Surat Perintah 11 Maret) 1966. Naskah aslinya belum ditemukan. Entah siapa yang menyembunyikannya, meski orang tentu bisa menduga-duga. Walaupun ada beberapa versi yang satu sama lain sedikit berbeda di Arsip Nasional RI, bisa disimpulkan bahwa Soeharto melampaui kewenangan yang diberikan dalam surat perintah itu.
 
Apalagi, dalam pidato Bung Karno antara 1965-1967 yang baru bisa terbit setelah 1998, ditegaskan bahwa Supersemar tersebut bukan transfer of authority. Yang menjadi persoalan di luar dokumen itu adalah cara mendapatkannya atau suasana sebelum surat perintah tersebut diberikan.
 
Dua tahun lalu, seorang mantan KKO, Letnan Soejono (kini 63 tahun, Sekjen sebuah LSM), menyatakan bahwa dirinya mengawal rombongan Presiden Soekarno pada 10 Maret 1966 tengah malam dan mengantarkannya sampai di Istana Bogor dini hari 11 Maret. Dia juga menjelaskan bahwa tidak mungkin Soekarno berada di Jakarta pada 11 Maret 1966 mulai pagi sampai siang.
 
Alasannya, rombongan presiden yang terdiri atas lima sedan itu baru sampai di Istana Bogor pukul 04.00 pada 11 Maret 1966. Menurut Soejono, Soekarno sampai di markas Cilandak pukul 23.00, istirahat sampai pukul 01.00, lalu minta diantar ke Bogor.

Selain Soejono, yang mengawal ke sana adalah Mayor Pirngadie dan empat prajurit KKO yang diperlengkapi dengan senjata mitraliur ringan buatan Uni Soviet. Rombongan bergerak di bawah hujan rintik menyusuri jalan tanah berlumpur, bahkan banyak bagaikan kubangan (Kompas, 13 Maret 2003).

Kesaksian Soejono tersebut perlu diperiksa kebenarannya. Pertama, kenyataan Soekarno memimpin sidang kabinet di Jakarta pada 11 Maret 1996 kemudian berangkat dengan tergesa-gesa ke Istana Bogor merupakan suatu peristiwa sejarah yang telah diterima. Tidak usah diragukan lagi.

Kedua, apakah Soekarno dan rombongan mengunjungi markas KKO di Cilandak ? Mungkin saja itu terjadi. Tetapi, menurut hemat saya, tidak tepat Soejono menyatakan bahwa Soekarno yang merasa tertekan meminta perlindungan ke markas KKO. Soekarno bukan tokoh semacam itu.

, apakah Soekarno dan rombongan mengunjungi markas KKO di Cilandak ? Mungkin saja itu terjadi. Tetapi, menurut hemat saya, tidak tepat Soejono menyatakan bahwa Soekarno yang merasa tertekan meminta perlindungan ke markas KKO. Soekarno bukan tokoh semacam itu.

Seandainya Bung Karno melakukan inspeksi mendadak ke Cilandak dan kemudian beberapa perwira KKO menawarkan pengawalan tambahan -mengingat situasi waktu itu kian genting-, hal tersebut masuk akal. Tetapi, sekali lagi, tanggalnya bisa 10 Maret 1966 atau barangkali pada tanggal lain.

Mengapa pada 10 Maret 1966 muncul wacana yang disampaikan seorang saksi? Perkiraan saya, itu berasal dari keterangan ajudan Bung Karno, Bambang Widjanarko, ketika diperiksa TPP (Tim Pemeriksa Pusat) Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) akhir 1970.

Hasil pemeriksaan tersebut dibukukan dalam dua bahasa (Indonesia-Inggris) oleh Antonie C.A. Dake, April 1974, berjudul The Devious Dalang: Soekarno and the so called Untung putsch. Eye-witness report by Bambang S. Widjanarko (diedit oleh Rahadi S. Karni dan diterbitkan Interdog Publishing House, Denhaag).

Buku yang menuduh keterlibatan Soekarno dalam G30S itu dilarang beredar di Indonesia karena dikhawatirkan menimbulkan kemarahan pendukung mantan presiden. Belakangan, Widjanarko yang berasal dari KKO tersebut mengaku bahwa dirinya dipaksa memberikan pengakuan demikian.

Sejak halaman awal, buku itu telah mencari-cari kesalahan Bung Karno. Pertanyaan yang pertama diajukan adalah tentang informasi yang diperoleh Sabur pada 10 Maret 1966 pukul 18.30 bahwa ada pasukan yang akan menyerbu istana. Pukul 19.00, Kombes Sumirat menyampaikan surat kepada presiden.

Anehnya, surat itu ditulis dalam bahasa Jawa dan Widjanarko diminta menerjemahkan. Isinya, pasukan Kostrad akan menyerbu. Surat tersebut ditandatangani Jenderal Suadi (Angkatan Darat).

Ketika itu, beberapa menteri telah berada di istana karena diminta Soekarno menginap di sana demi keamanan. Karena surat ancaman tersebut, Soekarno dan rombongan pergi ke Istana Bogor dengan melewati Markas KKO Cilandak.

Di situ, Soekarno sempat berbicara dengan Komandan KKO Jenderal Hartono pukul 24.00 sampai 02.00. Demikian keterangan yang tercantum dalam buku The Devious Dalang (hal 3-8) yang kiranya mengilhami kisah Soejono yang dituturkan dua tahun lalu.

Informasi Soejono mengenai kejadian pada 10-11 Maret 1966 masih diragukan. Sementara itu, buku karangan Dake, The Devious Dalang, lebih banyak merupakan hasil rekayasa aparat keamanan Orde Baru. Hasil interogasi yang dipaksakan.

Kemudian, sebagai kesatuan yang loyal kepada Soekarno, nama baik KKO dirugikan oleh rezim penguasa dengan mengarang cerita bahwa mantan komandannya, Jenderal Hartono, meninggal karena bunuh diri. Sejarah perlu ditulis kembali dan bagian yang bengkok mesti diluruskan serta nama baik tokoh yang pernah dirusak perlu direhabilitasi kembali.(jpnn)


Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new resources site!
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke