|
Waalaikum salam
P' Hendro
Bukankah Masjid itu juga termasuk fasilitas sosial dan umum, meskipun
untuk kalangan terbatas, jadi kita jangan terkooptasi dengan
pemikiran, bahwa yang namanya fasilitas umum atau sosial itu hanya sebatas
untuk taman, lapangan olah raga atau lainnya yang tidak ada berbau kepentingan
agama.
P' Hendro, keadaan seperti itu pernah juga saya alami, berupa penolakan
dari beberapa kaum muslim meskipun hanya sebatas bisik-bisik dari mereka yang
merasa akan terganggu dengan keberadaan itu Masjid. Karena ada diantara
mereka yang punya pengalaman kurang nyaman tinggal didekat masjid akibat
aktifitas yang dilakukan di masjid tsb. semisal penggunaan pengeras suara yang
berlebihan dalam aktifitasnya.
Sedangkan dari pihak non-muslim penolakan itu tidak terjadi, hal itu
bukan dikarenakan minor ataupun mayoritas tapi lebih disebabkan kekompakan yang
ada pada kaum muslim saat itu yang sudah sepakat untuk mendirikan masjid. Soal
prosentase muslim dan non-muslim dilingkungan saya relatif sama seperti yang P'
Hendro kemukakan.
Jadi saran saya galang dulu persatuan diantara umat dan samakan pemahaman
betapa pentingnya keberadaan masjid dalam rangka pembinaan.
Karena biasanya kalangan diluar Islam akan berani menolak manakala dia
melihat soliditas diantara kita lemah disamping memang mereka tidak akan pernah
senang dengan keberadaan masjid itu.
Jadi saran saya, galang dulu persatuan/kekompakan intern kita (meskipun
realitanya tidak selalu mudah). Kalau kita sudah kompak Insya Allah keinginan
memiliki masjid itu akan dapat terwujud.
Ingat filosofi sapu lidi, dia hanya akan dapat berfungsi dengan baik
manakala dia disatukan satu dengan lainnya.
wassalam
Hamami
|
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
