bukan masalah apa & siapa yg a/n Ba'asyir 'menuntut' atw 'meneror' agr CNM menarik pendapat semua agama sama & boleh kawin beda agama dlm fiqih lintas agama, sementara alm CNM turut terlibat disana.
tapi adakah yg berpikir justru itu adlh bentuk sayang & perhatian? bgmana memahami hal itu? ketika org ingin husnul khatimah, lalu ada yg tanyakan kekeliruannya yg nyata dimasa sehat, itu adlh keniscayaan dpt bantu kurangi beban hisab kekufurannya JIKA dia mengakui & bertaubat? Allah SWT, maha penerima taubat sekalipun jelang ajal. Fir'aun, baru ngakui Allah SWT dihdpn Musa as & Harun as begitu nyawanya sdh sampe kerongkongan. setidaknya pengakuan itu memaksa dirinya agr bertauhid. siapa yg memaksa? al-Qahhar! ini bukan soal 'kesewenang-wenangan' Allah SWT dgn sifatNya, bukan juga Allah SWT butuh pengakuan tauhid mansusia akan diriNya. tapi itu adlh hukumNya, bahwa memang makhluk itu harus tunduk patuh/terpaksa padaNya, maka yg ikhlas yg dpt surga. --- dlm filosofi Islam, org yg mati sbg muslim niscaya surga jaminannya. pezina, yg rela mati dirajam semata-mata ingin ikut hukum Islam, dipahami mampu mengurangi beban siksaan akhirat oleh sebab perbuatan zinanya, tapi bukan dosa yg lain. pengutang, yg matinya melepas beban piutang lewat ahli waris, beban hisab akibat hutang pun bisa hilang kalau wasiatnya terlunasi ATW yg dihutangi merelakan, tapi tidak lepas hisab dosa yg lain. maling & koruptor dan sejenisnya yg ketika matinya beri wasiat agr dikembalikan brg colongannya bisa jadi terkurangi dosa korupsinya. namun dosa bandel sejak diingatkan perbuatannya adlh kesalahan besar, itu yg nggak bisa ditebus dan harus dibayar di neraka. itulah hakikat taubat, yaitu keampunan dosa yg tidak harus ditempuh menjelang ajal, saat ini pun kalau tahu kejahilan & diri mau tinggalkan saat ini juga. saya setuju dgn ucapan Buya, > Cak Nur telah wafat. Saya dan keluarga menyampaikan > belasungkawa yang > sangat dalam dan dalam sekali. Semoga khusnul > khatimah. > (Ahmad Syafii Maarif ) salam, Fahru --- "Dwi W. Soegardi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > "Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di > atas 70 tahun adalah > agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif > dalam menyikapi > keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang > sebangun dengan > nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan > mulia." (Buya Syafii) > > http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=211544&kat_id=19 > > Selasa, 30 Agustus 2005 > > Cak Nur > > Cak Nur (Prof Dr Nurcholish Madjid) adalah > cendekiawan dan penulis > Indonesia yang sangat produktif sebelum mengalami > pencangkokan hati di > Cina, kemudian dirawat di Singapura dan di Jakarta > selama beberapa > bulan. Kondisi kesehatannya memburuk dan ia akhirnya > wafat kemarin. > > Sewaktu dirawat di Singapura dan di RS Pondok Indah, > sudah banyak sekali > orang penting dan para sahabat menjenguknya demi > menunjukkan simpati dan > empati yang amat dalam terhadap Cak Nur. Sewaktu > saya dan istri > mengunjunginya di RS NUH (National University > Hospital), Singapura, > beberapa bulan yang lalu, Cak Nur baru saja keluar > dari ICU dalam > keadaan lemah sekali, tetapi dapat berkomunikasi > melalui tulisan > Arab-Melayu yang tidak mudah saya baca. Kami hanya > trenyuh dan tertunduk > hormat sambil berdoa untuk kesembuhannya. > > Sebagai sahabat yang pernah bergaul selama lebih > empat tahun di Chicago > dan mengaji Alquran pada Fazlur Rahman di > kediamannya, sekitar 45 mil > dari kota itu, saya sampai batas-batas yang agak > jauh telah mengenal Cak > Nur dari jarak yang dekat. Ketika berbicara, > pembawaannya lembut, sopan, > serta mengeluarkan pendapat melalui argumen yang > kuat dan teratur. > > Perkara orang belum tentu setuju dengan > hujah-hujahnya, adalah lumrah > belaka. Bukankah tafsiran menusia terhadap wahyu > yang mengandung > kebenaran mutlak tidak pernah benar mutlak semutlak > wahyu itu sendiri? > Oleh sebab itu, jika ada orang yang memonopoli > kebenaran dengan jalan > memasung hak orang lain untuk berpendapat berbeda, > sebenarnya (secara > tidak sengaja atau gegabah?) telah mengambil alih > otoritas Tuhan sebagai > Sumber Kebenaran Mutlak. Cara berpikir semacam ini > sangat berbahaya dan > dapat meluluhlantakkan persaudaraan antarmanusia. > > Dengan sedikit wacana ini, saya akan langsung > memasuki topik utama > Resonansi ini yang sumbernya dari saksi mata > langsung dan otentik. > Demikianlah pada 26 Juli 2005, antara pukul 16.30 > dan 17.30, beberapa > orang mendatangi Cak Nur di rumahnya, sementara Cak > Nur sendiri belum > pulih kesehatannya, masih lemah. Menyaksikan kondisi > fisiknya, > semestinya meluluhkan perasaan mereka yang berhati > nurani. > > Rombongan ini mengaku membawa pesan Abu Bakar > Ba'asyir untuk Cak Nur. > Sumber pertama merekamkan: ''Apakah pikiran Cak Nur > masih?'' Cak Nur > menjawab, ''Saya masih tidak bingung.'' Setelah > basa-basi, salah seorang > bilang menyampaikan salam Ustadz Ba'asyir, dan bahwa > beliau bertanya, > dalam buku Fiqh Lintas Agama ada nama Cak Nur dan > berpendapat semua > agama sama. Cak Nur menjawab, ''Saya tidak > berpendapat semua agama sama.'' > > ''Ada tertulis kawin antaragama boleh. Ustadz > Ba'asyir minta Cak Nur > menarik pendapat itu.'' Seorang lagi mengulangi > pesan Ba'asyir, ''Itu > pendapat salah, minta Cak Nur mencabut pendapat > agama sama dan boleh > kawin antaragama. Bagaimana pendapat Cak Nur?'' Cak > Nur menjawab, ''Saya > tidak dalam kondisi untuk menjawab.'' (Ini informasi > via SMS yang saya > terima pukul 22.35, pada 14 Agustus 2005). > > Hampir serupa dengan yang pertama, sumber kedua > antara lain merekamkan: > ''Yang mereka sampaikan adalah (katanya) amanat dari > Ustadz Abu Bakar > Ba'asyir dan M Thalib (dengan asumsi Cak Nur sudah > sehat) tentang tiga > hal yang ada dalam buku Fiqh Lintas Agama.'' (SMS > pukul 06.44, pada 15 > Agustus 2005). > > Saya tidak berminat mempersoalkan isi dialog itu. > Sekiranya Cak Nur > sehat, dia akan bisa menjawab berjam-jam semua > pertanyaan yang diajukan > itu. Yang menjadi keprihatinan saya adalah adab > orang menjenguk si > sakit. Apakah dalam batas kesopanan Cak Nur diguyur > dengan > pertanyaan-pertanyaan serupa itu dalam kondisi fisik > yang mengundang > rasa iba itu? > > Rombongan itu 'kan menyaksikan sendiri keadaan Cak > Nur dari jarak yang > sangat dekat. Mengapa sampai hati ''meneror''-nya > dengan berlindung di > balik amanah Ba'asyir? Saya sungguh gagal memahami > cara orang membawakan > pesan agama demikian kasar. Sepengetahuan saya, > Ba'asyir bukanlah tipe > manusia garang yang suka memaksa-maksa orang lain. > Sewaktu saya dan > istri menjenguknya di RS PKU Solo pada waktu yang > lalu, dia memeluk saya > dan mohon doa. Tetapi, mengapa mereka yang menyebut > diri pengikutnya > seperti tak terkendali, khususnya sewaktu > mengunjungi Cak Nur? > > Pesan saya sebagai orang tua yang sudah berusia di > atas 70 tahun adalah > agar orang beragama secara beradab, santun, dan arif > dalam menyikapi > keadaan. Islam yang saya pahami adalah Islam yang > sebangun dengan > nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, beradab, dan > mulia. > > Cak Nur telah wafat. Saya dan keluarga menyampaikan > belasungkawa yang > sangat dalam dan dalam sekali. Semoga khusnul > khatimah. > (Ahmad Syafii Maarif ) > > > _______________________________________________ > is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
