*********** REPLY SEPARATOR  ***********
On 30/08/2005 at 20:53 Dwi W. Soegardi wrote:
>http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=211544&kat_id=19
>
>Rombongan itu 'kan menyaksikan sendiri keadaan Cak Nur dari jarak yang
>sangat dekat. Mengapa sampai hati ''meneror''-nya dengan berlindung di
>balik amanah Ba'asyir? Saya sungguh gagal memahami cara orang membawakan
>pesan agama demikian kasar. Sepengetahuan saya, Ba'asyir bukanlah tipe
>manusia garang yang suka memaksa-maksa orang lain. Sewaktu saya dan
>istri menjenguknya di RS PKU Solo pada waktu yang lalu, dia memeluk saya
>dan mohon doa. Tetapi, mengapa mereka yang menyebut diri pengikutnya
>seperti tak terkendali, khususnya sewaktu mengunjungi Cak Nur?

Pertanyaan yang sama juga bisa ditujukan kepada para "pengikut" Cak Nur, yang 
kadang perilakunya jauh dari contoh gurunya. Malah bukan cuma di forum 
tertutup, kini juga sudah dilakukan di forum-forum terbuka / di depan umum.

Anyway, ini ada satu artikel bagus dari arsip Isnet, wawancara dengan Emha 
Ainun Najib tentang topik "Islam Yes, Partai Islam Yes" berjudul "Rileks 
sajalah melihat peci saya".
Beliau adalah salah seorang tokoh Islam yang tidak cuma banyak berkata atau 
menulis, namun juga banyak berbuat/berkontribusi nyata bagi ummat.

Selamat membaca.


Wassalam,
Harry

-----------------
http://isnet.org/archive-milis/archive96/feb96/0116.html

 RILEKS SAJALAH MELIHAT PECI SAYA
(Ummat, no 17, 19 Februari 1996)

Setelah ditendang oleh banyak kaki, bola "Islam Yes, Partai Islam Yes", 
dikembalikan ke penendang pertamanya. Inilah jawaban tertulis atas beberapa 
pertanyaan UMMAT. Dia mengirimkan jawaban ini dari Surabaya, Jum'at malam pekan 
lalu.

UMMAT :
Menanggapi "Deklarasi Syahid", sebagian orang mempertanyakan apakah PPP bisa 
disebut partai Islam. Karena sejak berlakunya asas tunggal Pancasila, yang 
disebut partai Islam itu tidak ada lagi.

MH :
Saya tidak pernah berpkir tentang barang jadi. PPP boleh berubah, lha wong Orde 
Baru dan Indonesia saja boleh berubah. Rupanya Anda menganggap asas tunggal itu 
se-maqam dengan Kalimah Syahadat. Rupanya kita memenjarakan diri di dalam 
sel-sel yang bernama Negara, Indonesia, Orba dan lain lain. Kita semua khalifah 
dari semua itu, di sisi kita
ada Pak Harto, tapi di hadapan kita ada Allah SWT.

Jadi memang saya mendorong PPP untuk tak usah ragu-ragu memakai karakter atau 
kalau perlu wajah Islam. toh PPP ini memakai prinsip akhlakul karimah dan amar 
ma'ruf nahi munkar. Manusia boleh jadi 'Muslim', restoran boleh jadi 'restoran 
Muslim', partai boleh Islam juga. Toh kenyataan kultural PPP memang tumbuh 
bersama dengan kaum Muslimin, meskipun tidak berarti kaum Muslimin identik 
dengan PPP. Baju itu kain, meskipun tidak setiap kain itu baju.
Bahwa tinggi kemungkinan eksploitasi dan manipulasi partai politik atas nilai 
Islam, itu juga terjadi pada apa saja: Pancasila, asas tunggal, demokrasi dan 
lain-lain.
Tapi itu semua tergantung PPP sendiri. Tahap sekarang saya sedang menilai 
tingkat kepahaman dan kecerdasan PPP terhadap yang saya maksudkan.

Lemparan bola saya ke PPP memang tidak saya maksudkan untuk berhenti pada PPP, 
melainkan agar terus memantul dan merasuk ke umat Islam, bangsa Indonesia, ke 
cara berpikir politik kita, ke situasi dewasa tidaknya pendidikan politik kita.

UMMAT :
Nurcholis Madjid dan beberapa pengamat lain mengatakan, kita tak perlu 
mendorong-dorong PPP agar menjadi "partai Islam". Sebab kalau itu terjadi akan 
merupakan setback. Bahkan bukan tak mungkin mengganggu hubungan Islam dan 
negara yang sudah membaik. Tegasnya, pernyataan Anda itu dinilai 
kontraproduktif.

MH :
"Islam yes, Partai Islam No"-nya Cak Nur itu benar dan relevan untuk Indonesia 
tahun 70-an. Ketika itu Orba menangani sakit pasca G.30.S dan berbagai trauma 
terhadap "politik Islam". Jargonnya Cak Nur diperlukan untuk memberi rasa aman 
nasional behwa orang Islam bukan ingin ngamuk dan berkuasa kok. Maka Umat Islam 
ngalah dan bilang "Okeylah,
saya copot peci dulu, supaya nggak pada miris."

Lha sekarang ini era 90-an. Di satu pihak Islam sudah membuktikan iktikad baik 
nasionalistiknya, di lain pihak banyak orang Islam ketelanjuran percaya bahwa 
'Partai Islam No' itu prinsip dan bukan sekedar kontekstual-situasional.

Saya tidak setuju yang terakhir ini. Katakan sekarang: "Saya boleh pakai peci 
lagi, ya? Wong yang penting kerja nasionalistik saya kok, bukan peci saya. Peci 
ini hanya saya perlukan agar bisa menjaring ukhuwah politik Islam untuk diajak 
bareng-bareng membangun Indonesia". Tolong rileks sajalah menatap peci saya.

Hubungan baik antara Islam dan Negara? Saya menjawab ini dengan metafor kasus 
yang saya alami. Suatu saat saya diminta khotbah Idul Fitri di Yogya. Menjelang 
saatnya, panitia membatalkan, alasannya "demi menjaga hubungan baik dengan 
birokrasi", saya balik tanya: "Yang mana hubungan baiknya ?" Mungkin tidak 
persis betul metafor itu, tapi to-
long dipertanyakan kembali soal yang disebut hubungan baik itu. Hubungan baik 
Islam dengan Negara adalah kalau Islam manut sama Negara, begitu kira-kira?

UMMAT :
Anda dikritik oleh beberapa pengamat karena pernyataan "Islam Yes,Partai Islam 
Yes" itu tidak punya kerangka konseptual teologis yang jelas dan lebih bersifat 
spontan saja. Tanggapan Anda?

MH :
Konsep teologi Islam itu sederhana: mau berbuat baik atau tidak, mau adil atau 
tidak, mau berbagi atau tidak. Ada ratusan ayat untuk itu. Soal Negara, sistem 
politik dan lain-lain itu teknis.

Mau ngomong soal kerangka konseptual teologis Islam tentang politik,
bisa kita pakai Asmaul Husna, bisa pakai teori tujuh langit, bisa pa-
kai ayat yang mana saja, atau cukup Al Fatihah saja -sama dengan ke-
rangka konseptual sepakbola model Alquran. Atau bagaimana kerangka
konseptual teologis jualan jagung bakar- Insya Allah saya upayakan un
tuk saya jelaskan berdasarkan paham awam saya terhadap Alquran dan
dua jenis "wahyu" Allah lainnya.

_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke