|
Assalammu'alaikum wr wb,
Judul tulisan "Penundukan Ajaran Agama di bawah
Kendali Akal" yang dimuat dalam milis [EMAIL PROTECTED]
yang dinisbatkan kepada pemikiran cak Nur apakah tidak terlalu politis daripada ilmiah? Sebab apabila kita ikuti perkembangan pemikiran cak
Nur semenjak di Gontor, IAIN Jakarta dan McGill Univ hingga ke Paramadina, pada
hemat saya tidak demikian kenyataannya.
Jalur pemikiran cak Nur sejak mula adalah usaha
dalam menembus "kamar dingin" pondok pesantren yang mengambil model pendidikan
Timur-Tengah sebagai blue print di Indonesia. Betapa dinginnya kamar tsb dapat
kita lihat dalam kejumudan pemikiran ummat Islam Indonesia dan keterbelakangan
budaya serta ekonomi yang menjadi kerangka bangunan masyarakat Muslim Indonesia.
Kedinginan yang cenderung membeku tsb telah dipasang di kepala ummat Muslim Indonesia bagaikan topeng baja sehingga ummat Muslim Indonesia tampak seperti saudara kembar Louise IVX yang dipenjarakan dalam sebuah penjara bawah tanah menurut dongeng seorang penulis Perancis yang terkenal. Cak Nur dan teman-teman lainnya yang pada waktu awal Orba aktif dalam HMI dan "Lingkaran Diskusi Limited Group" yang dipimpin oleh Dr. Mukti Ali TIDAK BERTUJUAN menundukkan Al-Dinu Al-Islam di bawah kendali Akal, bahkan sesungguhnya adalah hendak MEMPERGUNAKAN AKAL SEHAT dan bukan fanatisme yang mengandalkan "take it for granted" sebagai peralatan memahami Al-Dinu Al-Islam atas dasar firman-firman Allah swt yang telah diwahyukan (Cobalah kaji dengan baik-baik semua pemikiran teman-teman tadi). Al-Quranu Al-Karim dengan tegas MEWAJIBKAN manusia
mempergunakan akal-fikiran, hati dan peralatan penginderaan untuk digunakan
memahami ayatullah, tanda kemahakuasaan Allah swt yang tersebar di alam semesta
seisinya. Ini berarti manusia harus melakukan penyelidikan terhadap bagaimana unta dilahirkan, manusia diciptakan, angin dihembuskan, gunung-gunung dipancangkan dsb dsb. Dan apabila telah faham maka akan dapat secara sadar dan sukarela BERISLAM kepada Allah swt saja. Dapatkah kita mengerti ini semua hanya dengan mempergunakan FANATISME terhadap Al-Dinu Al-Islam sebagai satu-satunya Al-Din yang diridzhoi Allah swt sebagaimana yang telah terjadi selama hampir limabelas abad ini? Rasulullah Muhammad saw semasa kanak-kanaknya tidak dapat mengerti mengapa para kakek, paman, saudara-saudara sepupunya mengabdi berhala-berhala yang digantungkan di dinding Ka'bah atau ditaruh di sekitarnya. Apa sebabnya? Karena beliau sekalipun masih dalam masa kanak-kanak sudah mampu mempergunakan akal-fikiran dan seluruh perlengkapan penginderaan serta hati sucinya untuk dengan sadar dan sukarela mengenal kepalsuan ilah-ilah yang diabdi itu dan MENCARI ilah yang pantas diabdinya. Beliau TIDAK menyandarkan diri kepada fanatisme tradisi sukunya yang sudah berabad-abad melaksanakan pengabdian kepada berhala. Dan penyelewengan dari TRADISI nenek-moyang bagi masyarakat nomad Timur-Tengah pada waktu itu tidak dapat ditolerer. Jadi resiko yang beliau ambil sungguh tak terbayangkan bagi seorang bocah, ini berkat beliau berfikir dan mempergunakan akalnya. Cak Nur dalam menempuh karier keilmuan dalam
hidupnya memang mengetengahkan beberapa pemikiran yang pada hemat saya cenderung
menerima beberapa gagasan teologis dan sosial-politik kebudayaan Barat (yang
dicerminkan di dalam pandangan filsafat Yunani), sebagaimana yang menjadi
kontroversi pemikiran di Indonesia dewasa ini. Kebudayaan Barat dan realisasinya
dalam masyarakat Barat telah menyebabkan beberapa pemikir Muslimin seperti cak
Nur menyangka bahwa idea-idea Al-Quranu Al-Kariim tentang masyarakat Muslim
telah DILAKSANAKAN di Barat. Sangkaan demikian ini hanya sebagian dari kenyataan
yang dapat kita tanggap yang ada di Barat (Allah swt berfirman agar kita
meyakini adanya realitas GHOIB atau bahasa modernnya "ketiadaan informasi").
Sebab bimbingan pokok ideologi pembangunan masyarakat Barat BUKAN ideologi Al-Dinu Al-Islam dan BUKAN Al-Quranu Al-Kariim. Dan IDEOLOGI pembimbing inilah yang akan menentukan AHIRAT (hari depan) dari realitas DUNYA (saat ini) yang telah dicapai (ingat do'a yang selalu kita ucapkan Robbana aatina fii DUNYA hasanatan wa fii al-AHIROTI hasanatan wa qiina 'adzabanaar). Gejala munculnya ISLIB dan pemikir Muslimin seperti cak Nur dll serta kecenderungan dalam tubuh masyarakat Muslimin Indonesia dewasa ini adalah pengulangan kejadian sejarah semasa kesadaran nasional Indonsia yang baru tumbuh bergulat melawan belenggu kolonialisme Belanda di mana beberapa tokoh Muslimin Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu menyangka bahwa Sosialisme dan Komunisme merupakan usaha realisasi ide-idea Al-Dinu Al-Islam dalam jajaran keadilan sosial dan kesetaraan politik. Sehingga banyak anggota Syarekat Islam (SI) bergabung ke dalam Partai Komunis Hindia (PKI) dan ISDV (Indiesche Sociaal Democratische Vereneging). Usaha penyegaran kembali pemikiran kaum Muslimin
untuk mengembangkan wawasannya menerobos lembaran-lembaran buku-buku pelajaran
yang disusun di
abad-abad lalu bagi masyarakat yang jauh letaknya secara geografis dengan kepulauan Indonesia sebagai suatu fakta sejarah (KEHENDAK ALLAH SWT) adalah urgen dan penting demi kemaslahatan masyarakat dan ummat Muslimin Indonesia dan usaha ini telah menghasilkan pemikir-pemikir sekaliber cak Nurcholis Majid PhD, Dr Mukti Ali, Prof Dawam Raharjo dll (maafkan yang tak tersebutkan saking banyaknya). Marilah kita semua bersyukur kepada Allah swt yang telah berkehendak MENGUBAH pemahaman kaum Muslimin Indonesia terhadap Al-Din yang dipeluknya kearah yang DIKEHENDAKINYA dalam firman-firman Al-Quranu Al-Kariim. Kesadaran untuk mempergunakan AKAL, FIKIRAN, HATI dan SELURUH PERALATAN PENGINDERAAN guna memahami ayat-ayat Allah swt yang telah diwahyukan kepada langit dan bumi serta seluruh isinya merupakan permulaan dari perjalanan demi merealisasi idaman kaum Muslimin Indonesia membangun Masyarakat Adil dan Makmur, Aman dan Sentausa di bumi Indonesia yang dirizhoi Allah swt, TUHAN YANG MAHA ESA. Wassalam,
A.M |
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
