Kompas, Sosok, Minggu, 04 September 2005 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/04/Sosok/2020225.htm
ASAL USUL Wahai Jiwa yang Tenang MOHAMAD SOBARY "Dan duka maha tuan bertahta" (Chairil Anwar) Di makamnya kita menunggu. Ribuan wajah menunduk. Orang tampak berdesak-desakan di bawah terik matahari sejak menjelang pukul sebelas hingga tengah hari. Apa bedanya dengan dulu ketika di Taman Ismail Marzuki atau di hotel-hotel kita berkerumun menanti dia datang dan kemudian mendengar ceramah-ceramahnya? Bedanya, kali ini ada tembakan salvo, upacara kemiliteran, dan tembang Gugur Bunga. Kali ini kita mengantarkannya pulang. Dan sesudah ini tak akan pernah ada lagi panitia menjemputnya dan membawanya ke podium untuk didengar pemikirannya. Dan ketika di atas pusaranya orang-orang tercinta dan yang setulus hati mencintainya-juga anggota-anggota keluarga, para sahabat, teman-teman, kenalan, dan para pengagum-dengan kusuk menabur bunga, saya pun mengambil sejumput, kemudian saya taburkan di atas taburan yang sudah merata. Ini bukan taburan pertama, tetapi bukan yang terakhir. Di belakang saya antrean masih panjang. Sejenak saya termangu. Bait terakhir puisi Chairil Anwar: "Dan duka maha tuan bertahta" yang ditulis pada saat kematian neneknya menggambarkan dengan baik suasana sejak kemarin sorenya di Kampus Paramadina. Dalam hati saya sendiri, rasa bersalah besar, pengakuan dan penyesalan, berkecamuk. Rasanya seperti lorong kecil tanpa ujung. Utang sosial macam ini dengan apa dibayar? Saya terhukum. Hari Minggu-dua hari sebelumnya-ketika kesehatannya sangat menggembirakan, saya dan istri saya bermaksud menengok ke rumah sakit, tetapi gagal oleh urusan teknis lainnya dan saya menghibur diri bahwa hari lain masih ada. Kita tak pernah tahu rahasia Tuhan. Saya mendoakannya dengan hati merendah dan dengan kesadaran yang mulai utuh tetapi getir bahwa kita betul-betul kehilangan. Dan bahwa apa yang hilang itu tak mungkin kembali. Alunan tembang sahdu "mati satu tumbuh seribu" saya kira bukan janji, bukan hiburan. Mati satu tumbuh satu pun rasanya sudah merupakan kemurahan alam yang melimpah. Tetapi, siapa gerangan yang satu itu? Berkali-kali, dalam gerah ketika kita menanti rangkaian upacara itu, orang membisikkan rasa kehilangannya. Berkali-kali pula orang bertanya kepada saya siapa penggantinya, dan saya tak bisa menjawab. Cak Nur pergi bukan atas kemauannya sendiri. Saya berani bertaruh, gemuruh dalam jiwa dan semangatnya untuk mengabdi negaranya belum reda. Ia masih ingin terus memperbaiki keadaan yang tetap morat-marit. Tak sukar kita menyelami dan menyimpulkan bahwa ia sering kecewa. Ia bukan hanya orang yang bisa disebut committed citizen, tetapi ia pemimpin yang sangat peduli. Ia tak sabar membayangkan hasil kerjanya. Dialah yang gigih menciptakan ruang kebudayaan untuk memfasilitasi agar kekuatan rohaniah bernama "umat", yang sangat jauh tertinggal bisa masuk ke dalam dan menjadi bagian dari "modernitas", kiblat dunia itu. Ia "memodernisasikan" umat. Dengan syukur ia melihat meningkatnya pendidikan "umat". Ia sadar Timur-Barat itu milik Tuhan. Dan karena itu umat hendaknya jangan dihantui ketakutan dan dibebani kebencian serta dendam tiap bicara Timur-Barat. Sebagai kiblat geografis keduanya ada. Sebagai kutub pemikiran keduanya tak perlu dianggap dikotomi. "Timur-Barat" atau "Barat-Timur" itu sebuah civilization continuum. Dulu, peradaban mengalir dari Timur ke Barat dan sekarang kebalikannya, tetapi apa salahnya? Cak Nur bangga melihat proses "santrinisasi birokrasi" dan "birokratisasi santri" itu. Tetapi, ketika santrinisasi itu bergerak ke "tengah", ia kecewa karena "santrinisasi birokrasi" berubah dari gejala sosiologis biasa menjadi gejala politik yang tak ramah. "Umat" lalu menjadi kekuatan politik riil. Banyak pihak berkata: kini giliran kita. Tetapi, "kita" itu hanya sedikit orangnya. Suasana balas dendam atau kehendak dominan dilampiaskan. Dengan masygul, Cak Nur pun mundur. Sebagai pemikir, jiwa Cak Nur bergejolak. Ia liberal, lebih dari siapa pun. Tetapi, watak liberalnya tak diumumkan dan ia tak ingin dipahlawankan karena alasan itu. Ia mungkin malah tak tahu bahwa ia liberal. Secara pribadi, Cak Nur jiwa yang tenang. Sikapnya lembut. Tutur kata dan sepak terjangnya santun seperti murid teladan. "Murid? Bukankah ia guru bangsa?" Seorang guru bangsa pun hakikatnya juga murid. Sekarang terlalu banyak orang mengaku pintar dan semua berambisi menjadi pemimpin tanpa bersedia menjadi murid. Dan murid yang satu ini sudah menghadap. Di sana, semoga ia disambut ramah: "Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surga-Ku." _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
