Assalamu'alaikum wr. wb. Mengenai pemahaman pribadi saya yang membedakan kata TUGAS dan KEWAJIBAN lain kali saja diskusinya.
-----Original Message----- From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED] >Mengenai Sifat-Sifat Allah, yang saya pahami Sifat Allah itu bukan aradh >(attribut). Sifat memang bukan atribut. >Kalau dalam Ilmu Kalam diungkapkan Sifat itu bukan Dzat bukan pula >selain Dzat, sedangkan Dzat Allah itu Ahad. Pasti Pak Wiz, QS 112:1 >Jadi dalam Asma Ar Rabb misalnya, >terkandung secara iltizam Sifat Al Hakim, Al Khaliq, Al Mushowwir, Al Baari', >dsb. Saya mengimaninya Pak Wiz. >Hanya manusia sesuai kapasitas yang diberikan Allah yang memandangnya >secara analitis masing-masing Sifat sesuai fungsinya (taalluq ifadah). Salah >satu Sifat Allah adalah Sifat Irodah (berkehendak). Manusia memandang ada yang >disebut Irodah Kauniyah (Kehendak ontologis) dan ada yang disebut Irodah >Syar'iyyah (Kehendak legalistis). Wujud Irodah Kauniyah Allah baru bisa dilihat >umumnya manusia setelah terwujud, seperti penciptaan peristiwa-peristiwa. Wujud >Irodah Syar'iyyah itu adalah petunjuk atau aturan Allah. Nggih, setuju/sepaham/sepakat saya pak. >Sedangkan sifat Kalam Allah ialah manusia memandang Allah menyingkapkan kepada >makhlukNya petunjuk atau aturanNya (Irodah Syar'iyyahNya). Pak Wiz, pernyataan "menyingkapkan (tabir)", ini kaitannya dengan 'penglihatan', hanya saja penglihatan ini bisa dipahami dari dua sisi, dengan INDRA(mata) atau penglihatan dengan HATI(bathin). Sementara sifat Alloh SWT al-Kalam itu dipahami tidak seperti itu Pak Wiz. Tapi terkait dengan hal-hal KALAM/PERKATAAN/UCAPAN, tapi ya jelas tidak perlu menanyakan bagaimananya(KAIFIYAH). Jadi penggunaan kata per kata dari kalimat Pak Wiz, itu yang jadi 'concern or confuse' saya. >Qur'an itu Kalam >Allah. Di dalamnya terjabarkan apa-apa yang Allah maui (masyiyyah) buat >manusia. >Begitu juga penjabaran Qur'an alias As Sunnah, sebab Wa maa yanthiqu anil hawaa >in huwa illa wahyuy-yuuha. al-Qur'an itu KALAMULLOH, penjabaran ini pernah saya tulis juga di isnet beberapa waktu yang lalu. >Contohnya misalnya ayat *Innallaaha yuhibbulladziina yuqootiluna fi sabilillaah >...* (Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Allah ...). Dalam >ayat >yang merupakan Kalam Allah tersebut terkandung Irodah MasyiyyahNya bahwa Allah >mencintai ... . Tentu *Allah mencintai* tidak sama dengan *manusia mencintai*. Pasti, "Laysa kamitslihi syaiun, wa huwa sami'ul bashir". Pak Wiz, membicarakansifat-sifat Alloh yang sudah masuk pada wilayah, IRODAH/ QUDROH/MASYIYAH, sebetulnya ini sangat riskan, saya khawatir tergelincir dengan kebodohan yang saya miliki. Pak Wiz, hanya melihat IRODAH/MASYIYAH dari satu sisi/contoh, apakah perbuatan Nabi Ibrahim a.s. menyembelih putranya Nabi Ismail a.s. termasuk IRODAH/MASYIYAH-NYA juga??, sementara KEHENDAK-NYA itu sendiri terbagi menjadi dua (paling tidak). >Jadi barangkali nggak usah rancu ya, Pak. >>Nah, mau-Nya Allah buat manusia itu >>ya wujudnya KalamNya yang dijelaskan Nabi. Apakah ini maksudnya al-Qur'an? >Mengenai peleburan diri, saya katakan mari kita meleburkan kehendak diri di >hadapan Kehendak Allah. Melebur itu meleleh, melunak, mencair, bentuk asalnya >hilang jadi menyesuaikan dengan bentuk cetakan. Melebur, melunak, mencair, tida berarti hilang kan, WUJUD nya masih tetap ada? Apakah menyesuaiakan itu MENYATU??? Cetakan itu SIAPA??? al-Mushowwir kah??? >Begitu pula sifat asalnya >berubah menjadi sifat paduan. Ini ibarat saja. Begitu pula meleburkan kehendak >diri, maksudnya mengendalikan keinginan-keinginan yang berasal dari ego karena >dibentuk dan diisi oleh Kehendak Allah sehingga keinginan diri yang asal lenyap >dan diri menjadi apa yang diinginkan Allah. Kalo keingianan DIRI ASAL ini bukan dari Alloh, maka keingian DIRI ASAL itu dari MANA??, bagaimanakah Pak Wiz memahami al-Kholik itu sebenarnya??? Bukankah manusia itu "Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha". >Shibgotallah. Kata diatas itu bisa dipahami dengan bermacam makna(setiap orang bisa beda). >Biar lebih jelas >agaknya bisa dibaca tulisan para ulama yang lebih mumpuni saja ya, yang >biasanya >lebih jelas, lebih jentre, dan lebih mencakup. Berikut saya kutipkan penjelasan >Syaikh Abdul Qodir Jaelani rohimahullah dalam kitab beliau Futuhul Ghaib (versi >lengkap bisa dibaca di pesantren virtual). Kitab-kitab seperti Futuhul Ghaib, Fushush al-Hikam, Futuhat al-Makiyat, adalah kitab-kitab yang penuh dengan gaya bahasa metafora, sangat sulit untuk dipahami (antara penulis dan pembaca sangat mungkin bisa berbeda maksud/makna yang hakiki dari tulisan itu). Bahkan ada yang mengatakan Syaikh Siti Jenar tidak salah (baca sesat) yang salah adalah para pengikutnya (wallohu a'lam):-). >Perlu dipahami dalam tulisan beliau di bawah ini yang dimaksud dengan >kehendakNya barangkali lebih kena dipahami sebagai Irodah Syar'iyyahNya. Kalau >diartikan Irodah KauniyyahNya maka yang lahir adalah pemahaman jabbariyah >(pasifisme fatalistis). Simpelnya yang saya pahami, Irodah Syar'iyyah adalah berupa PERINTAH dan LARANGAN-NYA(Syari'at), atau disebut juga KAUNIY DINNI SYAR'I. Ketika bicara Irodah/Masyiyah Syar'iyyah, maka manusia adalah OBJEK, terkena hukum/aturan, tapi ketika bicara Irodah Kauniyah, maka MANUSIA BERGERAK, ALLOH YANG MEMPERGERAKKAN, itulah selintas mengenai TAUHID RUBUBIYAH. Wassalam. a.s. Semoga bermanfaat. = Wizh = Risalah keenam Mutiara karya Syeikh Abdul Qadir Jailani -------------------------------------------------------------------------------- Ia bertutur: Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmuNya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui. Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu. Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah. Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita dan shalat - yang pada mereka tersejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku." Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah (nafilah) yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak dir agukan lagi, beginilah keadaan fana. Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa. Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka. [] Please respond to Milis is-lam <[email protected]> To: "Milis is-lam" <[email protected]> Subject: RE: [is-lam] Re: is-lam Digest, Vol 13, Issue 7 Assalamu'alaikum wr. wb. -----Original Message----- From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED] >Begini lho Pak, tujuan kita kan sebenarnya Allah. Kepada Allah lah kita pulang >dan kepada Allah lah dikembalikan semua urusan. Hal ini perlu dihayati dulu >suasananya. Ya Pak Wiz, betul ada di QS 2: 156. >Maka secara hakiki tugas kita hanyalah bersujud, pasrah di hadirat Allah Ta'ala. >Biarkan Allah yang mengarahkan jalan-jalan yang mesti kita lalui. Walladzinna >jaahadu fiina lanahdiyannahum subulana. Kita tinggal mengarahkan memusatkan >mengkonsentrasikan kepasrahan batin kepada Allah dengan sebenar-benarnya >semurni-murninya. Wa jaahidu fillahi haqqo jihaadih. Pak Wiz, bersujud itu sebenarnya TUGAS apa KEWAJIBAN, saya kok melihatnya TUGAS itu adalah horizontal(hablu min-annas), dan KEWAJIBAN adalah vertical (hablu min-Alloh), bukan begitu pak?. >Kemudian apabila suasana kepasrahan sudah benar-benar diserap dan dihayati, maka >kita tinggal tunduk pada mau-Nya Allah saja Nggih Pak Wiz. >Nah, mau-Nya Allah buat manusia itu >ya wujudnya KalamNya yang dijelaskan Nabi. Pak Wiz, apakah KEHENDAK itu sama dengan PERKATAAN, apakah IRODAH/MASYIYAH ILAHIYAH itu adalah QAULIYAH itu sendiri,kayaknya kok jadi agak rancu gini Pak Wiz? >Maka kita tinggal meluruhkan >meleburkan kehendak dan keinginan diri di hadapan Kehendak Allah (Irodah >Syar'iyyahNya) tersebut. Semakin MURNI kita meleburkan diri, maka semakin KAFFAH >kita berislam (berpasrah). Jadi Islam yang kaffah itu begitu toh Pak Wiz, yang bisa MELEBURKAN kehendak MAKHLUK dengan kehendak KHOLIK???. Gimana caranya meleburkan kehendak MAKHLUK dengan kehendak KHOLIK itu pak? >Maa ashoba min mushibatin fa bi maa kasabat aidiikum. Haqqul Yaqin. > - seorang mukmin itu akan >sibuk menghisab dirinya sampai nggak sempat mikirin kesalahan orang lain. Nah kalo sudah sampai pada titik ini, maka 'saya kira ' disitulah 'keberagamaan' kita sudah mulai mengarah/menuju pada kebenaran, kayaknya sedikit lagi udah mau sampe nih Pak Wiz, silahkan pak, terutama masalah peleburan di atas. >Kalau kata Aa Gym, mulai dari diri sendiri. Tapi ya prinsipnya tazkiyatun nafs itulah. Mungkin yang lebih tepat " Qu anfusakum wa ahlikum naaron" Pak Wiz. >Kalau sudah begini barangkali otak-nya nggak perlu gundah lagi ya, Pak. Hehehe... cuman triger aja kok pak. Wassalamu'alaikum wr. wb. a.s. Wallaahu 'alam, = Wizh = Please respond to Milis is-lam <[email protected]> To: "Milis is-lam" <[email protected]> Subject: RE: [is-lam] Re: is-lam Digest, Vol 13, Issue 7 Wa'alaikumussalam wr. wb. -----Original Message----- From: A. Marconi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Assalammu'alaikum wr wb, >Para bapak yang sedang berdiskusi, mau nanya permasalahan apa yang hendak >didiskusikan dan tujuannya untuk apa diskusi? Mohon maaf Pak Marconi, mungkin penyebab masalahnya adalah saya, kenapa saya harus melontarkan issue ini kalo ternyata membuat jengkel para isnetters lainnya, permasalahannya adalah berangkat dari kegundahan yang ada di OTAK dan DADA saya pak. Tujuannya adalah saya ingin belajar atau mengetahui melalui diskusi barangkali ada yang memiliki POTRET Islam yang lengkap/kaffah/'benar' sesuai dengan yang dicontohkan Rasululloh SAW 14 abad yang lalu. Yang bapak katakan benar, kalo mau melakukan sesuatu harus ada tujuannya, supaya jelas/sistematis, setuju saya pak. kalolah TUJUAN itu identik dengan TARGET atau HASIL, yang kalo di kulon sono mah ada ilmu yang udah populer disebut dengan Management By Objectives (MBO). Tapi berdasarkan yang saya baca dan dengar (bisa saja salah) terkesan kita (baca:Islam) 'seolah-seolah' bukan hanya tujuan lho Pak Marconi yang dikejar, tapi perintah bahwa kita harus berusaha/kerja, masalah HASIL mah ada yang menentukan, bukankah itu yang disebut TAWAKAL. >Jika berdiskusi demi >meningkatkan pemahaman kearah yang lebih mendekat kepada Al-Dinu al-Islam >yang disampaikan oleh rasulullah Muhammad saw 1450 tahun yang lalu, maka >saya mau ikut berdiskusi. Maunya saya sih begitu Pak Marconi, kan katanya Islam itu YA'LU WALA YU'LA 'ALAIH, mungkin dalam tataran KONSEP seperti itu, kalo ternyata dalam implementasinya menghasilkan OUTPUT-OUTPUT yang tidak sesuai dengan kaidah itu kira-kira gimana? bagaimana cara meluruskannya agar sesuai dengan POTRET Islam jaman Rasul SAW dan para Sahabat begitu kan maksud bapak?, tapikan bukan berarti harus detail melakukan seperti apa yang dilakukan jaman Rasul dan para Sahabat kan Pak Marconi?-), Jika memang ada yang merasa 'TAHU' bagaiamanakah Dien yang disampaikan Rasul SAW itu, ya silahkan share PENGETAHUAN-nya tersebut. Wassalam. a.s. ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Tuesday, December 06, 2005 7:00 PM Subject: is-lam Digest, Vol 13, Issue 7 > Send is-lam mailing list submissions to > [email protected] > > To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > or, via email, send a message with subject or body 'help' to > [EMAIL PROTECTED] > > You can reach the person managing the list at > [EMAIL PROTECTED] > > When replying, please edit your Subject line so it is more specific > than "Re: Contents of is-lam digest..." > > > Today's Topics: > > 1. RE: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Agus Safudi - HRD) > 2. Re: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Harry Sufehmi) > 3. RE: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Agus Safudi - HRD) > > > ---------------------------------------------------------------------- > > Message: 1 > Date: Tue, 6 Dec 2005 08:25:04 +0700 > From: "Agus Safudi - HRD" <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... > To: "Milis is-lam" <[email protected]> > Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]> > Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1 > > Assalamu'alaikum wr. wb. > > Gimana Pak Wiz, sudah sarapan, kemaren saya tidak sempat bales karena > keburu pulang. > Well, hihihi...jadinya malah saya sendiri yang terperangkap pada diskusi > Teosentris ini, ..tapi gak apalah..layar sudah terkembang maka perahu > harus melaju. > > Oke pak, paling tidak saya jadi tahu persepsi bapak mengenai PENGHAYATAN > dan PENGAMALAN, dan sah-sah saja setiap orang untuk meyakini sesuatu > yang dianggap nya benar dengan mengandalkan INDRA, AKAL, dan HATI nya. > > Iman memang tidak hanya meyakini, IMAN itu kan ada di 3 tempat, di HATI, > di MULUT, dan di ANGGOTA BADAN. > > Dalam al-Quran IMAN itu ya IMAN, dan Iman itu bisa dipahami setelah > ada hadits yang menjelaskannya (diriwayatkan ada seorang berpakaian > serba putih(Jibris a.s.) yang menanyakan ttg. IMAN, ISLAM, dan IHSAN) > > Iman memang bukan sekedar YAQIN, tapi yaqin itu adalah bagian dari IMAN, > kata siapa.., kata Ibnu Qayyim juga dalan 'MADARIJUS SALIKIN'. > > Itulah kenapa pernah saya tulis Ulama dan qualnya itu bagaikan BINTANG > DI LANGIT. > > Dan saya juga meyakini IMAN itu naik turun, salah satu penunjang yang > menyebabkan > Iman itu naik turun ya itu, karena ada di anggota badan. Dan Yaqin adalah > bagian dari Iman karena 'menurut saya' YAQIN itu bersemayam di HATI. > > Umat Islam yang meyakini Isra' dan Mi'raj adalah umat Islam yang meyakini > kenabian Rasululloh SAW. > > Saya kira, boleh-boleh saja umat Islam sekarang mengambil > pendapat Ulama Salaf (terdahulu),ya memang tidak ada larangan khok, > dan umat Islam itu memang terbagi-bagi paling tidak dalam 3 Tipologi, > 1.Ada yang 'senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu. > 2.Ada yang 'tidak senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu. > 3.Ada yang mengambil diantara keduanya ( 1 dan 2). > > Saya kira untuk bisa memaksimalkan/optimalkan mengambil manfaat dari > tafsir- > tafsir (terdahulu) tsb. yang harus dikedepankan adalah INDRA dan AKAL, > karena > yang namanya mencari manfaat dan menolak mafsadat itu harus dengan > PENGETAHUAN, > dan didalam (baca bagian) PENGETAHUAN itu ada ILMU, dan pengetahuan dan > ilmu itu di topang oleh indra dan akal, bukan dengan Iman. Dan hasil > elsplorasi > indra dan akal itulah yang bisa dinikmati oleh manusia, dan disamping > manfaat > yang diperoleh ternyata terkandung 'hikmah yang tersembunyi' itu karena > manusia memiliki HATI, dan di hati itulah sejatinya Iman berada, bukan di > AKAL > atau di INDRA, tetapi ini semua merupakan SATU KESATUAN sehingga bisa > 'mengarah' > menuju KESEMPURNAAN.Inilah pendapat saya. > > Tapi yang jelas Islam itu harus hidup sampai akhir jaman nanti, nah supaya > Islam itu langgeng sampe akhir jaman nanti, umat Islam sekarang harus > bagaimana?, ya tentu saja umat Islam harus 'struggle/survive', dan ini > tidak > harus dengan berlebihan masalah ukhrowi, atau berlebihan masalah duniawai, > jadi harus ada ditengah-tengah, karena Islam itu kan JALAN TENGAH katanya. > > Wallohu a'lam bishowab. > Wasalamu'alaiakum wr. wb. > > a.s. > > > > -----Original Message----- > From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh. > > Sambil nunggu jam pulang ... Kayaknya sambil ngopi enak nih, Pak. > > Penghayatan berbeda dengan pengamalan, wong di kamusnya saja sudah beda > :-) > Kalau di gathuk-gathuk atau kirata basa sundana, penghayatan berasal dari > kata > hayat, jadi arahnya barangkali bagaimana seluruh aspek hayat, hidup (hati, > lisan, amal) selaras dalam nafas ajaran. Pengamalan hanya satu aspek saja > dari > penghayatan. > > Kira-kira maksud saya semakin murni penghayatan berarti semakin tinggi > keimanan. > Iman itu kan barangkali nggak hanya meyakini thok, Pak, tapi ada > gradasinya. > Dalam Qur'an gradasinya secara garis besarnya kira-kira ialah Iman taqlid, > Iman > Ilmu, dan Iman Ainal Yaqin. Mengenai makna ainal yaqin barangkali bisa > dibaca > penjelasan para ulama misalnya Allamah Ibnu Qayyim rohimahullah dalam > kitab Al > Fawa'id bab-bab awal. > > Ketika dikatakan umat Islam meyakini Isra' Mi'raj, maka bisa ditilik lagi > : umat > Islam yang mana yang keyakinannya (tingkat keimanannya) seperti apa ? > > Nah beda tingkat keimanan kan berarti beda input, Pak. Meskipun prosesnya > sama > ya jelas outputnya bakal beda juga. Penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab Al > Fawa'id tersebut ketika membedah tafsir surah Qof ayat 37 itu sangat > menarik. > > Maksud saya, ketika kita belum optimal mengambil manfaat dari kitab-kitab > tafsir > yang ada, yang sebenarnya mengandung lautan ilmu, karena tingkat keimanan > yang > masih biasa-biasa saja, kenapa tidak dicoba dulu membaca ulang setelah > ditingkatkan keimanannya. Biasanya akan muncul *rahasia-rahasia* yang > belum > terungkap pada pembacaan sebelumnya. Sebelum buru-buru *loncat* menerjuni > samudra tafsir yang baru, belum tentu juga didapat solusi yang segar > karena > *rahasia-rahasia*nya belum terungkap secara utuh. > > Wallahu'alam, > > = Wizh = > _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
