Send is-lam mailing list submissions to
[email protected]
To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
or, via email, send a message with subject or body 'help' to
[EMAIL PROTECTED]
You can reach the person managing the list at
[EMAIL PROTECTED]
When replying, please edit your Subject line so it is more specific
than "Re: Contents of is-lam digest..."
Today's Topics:
1. RE: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Agus Safudi - HRD)
2. Re: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Harry Sufehmi)
3. RE: Bagaimana 'Beragama' Yang Benar.... (Agus Safudi - HRD)
----------------------------------------------------------------------
Message: 1
Date: Tue, 6 Dec 2005 08:25:04 +0700
From: "Agus Safudi - HRD" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
Assalamu'alaikum wr. wb.
Gimana Pak Wiz, sudah sarapan, kemaren saya tidak sempat bales karena
keburu pulang.
Well, hihihi...jadinya malah saya sendiri yang terperangkap pada diskusi
Teosentris ini, ..tapi gak apalah..layar sudah terkembang maka perahu
harus melaju.
Oke pak, paling tidak saya jadi tahu persepsi bapak mengenai PENGHAYATAN
dan PENGAMALAN, dan sah-sah saja setiap orang untuk meyakini sesuatu
yang dianggap nya benar dengan mengandalkan INDRA, AKAL, dan HATI nya.
Iman memang tidak hanya meyakini, IMAN itu kan ada di 3 tempat, di HATI,
di MULUT, dan di ANGGOTA BADAN.
Dalam al-Quran IMAN itu ya IMAN, dan Iman itu bisa dipahami setelah
ada hadits yang menjelaskannya (diriwayatkan ada seorang berpakaian
serba putih(Jibris a.s.) yang menanyakan ttg. IMAN, ISLAM, dan IHSAN)
Iman memang bukan sekedar YAQIN, tapi yaqin itu adalah bagian dari IMAN,
kata siapa.., kata Ibnu Qayyim juga dalan 'MADARIJUS SALIKIN'.
Itulah kenapa pernah saya tulis Ulama dan qualnya itu bagaikan BINTANG
DI LANGIT.
Dan saya juga meyakini IMAN itu naik turun, salah satu penunjang yang
menyebabkan
Iman itu naik turun ya itu, karena ada di anggota badan. Dan Yaqin adalah
bagian dari Iman karena 'menurut saya' YAQIN itu bersemayam di HATI.
Umat Islam yang meyakini Isra' dan Mi'raj adalah umat Islam yang meyakini
kenabian Rasululloh SAW.
Saya kira, boleh-boleh saja umat Islam sekarang mengambil
pendapat Ulama Salaf (terdahulu),ya memang tidak ada larangan khok,
dan umat Islam itu memang terbagi-bagi paling tidak dalam 3 Tipologi,
1.Ada yang 'senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu.
2.Ada yang 'tidak senang' mengambil pendapat-pendapat orang-orang dahulu.
3.Ada yang mengambil diantara keduanya ( 1 dan 2).
Saya kira untuk bisa memaksimalkan/optimalkan mengambil manfaat dari
tafsir-
tafsir (terdahulu) tsb. yang harus dikedepankan adalah INDRA dan AKAL,
karena
yang namanya mencari manfaat dan menolak mafsadat itu harus dengan
PENGETAHUAN,
dan didalam (baca bagian) PENGETAHUAN itu ada ILMU, dan pengetahuan dan
ilmu itu di topang oleh indra dan akal, bukan dengan Iman. Dan hasil
elsplorasi
indra dan akal itulah yang bisa dinikmati oleh manusia, dan disamping
manfaat
yang diperoleh ternyata terkandung 'hikmah yang tersembunyi' itu karena
manusia memiliki HATI, dan di hati itulah sejatinya Iman berada, bukan di
AKAL
atau di INDRA, tetapi ini semua merupakan SATU KESATUAN sehingga bisa
'mengarah'
menuju KESEMPURNAAN.Inilah pendapat saya.
Tapi yang jelas Islam itu harus hidup sampai akhir jaman nanti, nah supaya
Islam itu langgeng sampe akhir jaman nanti, umat Islam sekarang harus
bagaimana?, ya tentu saja umat Islam harus 'struggle/survive', dan ini
tidak
harus dengan berlebihan masalah ukhrowi, atau berlebihan masalah duniawai,
jadi harus ada ditengah-tengah, karena Islam itu kan JALAN TENGAH katanya.
Wallohu a'lam bishowab.
Wasalamu'alaiakum wr. wb.
a.s.
-----Original Message-----
From: IPD Wiska Susetio [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Wa'alaikum salam warohmatullaahi wabarokaatuh.
Sambil nunggu jam pulang ... Kayaknya sambil ngopi enak nih, Pak.
Penghayatan berbeda dengan pengamalan, wong di kamusnya saja sudah beda
:-)
Kalau di gathuk-gathuk atau kirata basa sundana, penghayatan berasal dari
kata
hayat, jadi arahnya barangkali bagaimana seluruh aspek hayat, hidup (hati,
lisan, amal) selaras dalam nafas ajaran. Pengamalan hanya satu aspek saja
dari
penghayatan.
Kira-kira maksud saya semakin murni penghayatan berarti semakin tinggi
keimanan.
Iman itu kan barangkali nggak hanya meyakini thok, Pak, tapi ada
gradasinya.
Dalam Qur'an gradasinya secara garis besarnya kira-kira ialah Iman taqlid,
Iman
Ilmu, dan Iman Ainal Yaqin. Mengenai makna ainal yaqin barangkali bisa
dibaca
penjelasan para ulama misalnya Allamah Ibnu Qayyim rohimahullah dalam
kitab Al
Fawa'id bab-bab awal.
Ketika dikatakan umat Islam meyakini Isra' Mi'raj, maka bisa ditilik lagi
: umat
Islam yang mana yang keyakinannya (tingkat keimanannya) seperti apa ?
Nah beda tingkat keimanan kan berarti beda input, Pak. Meskipun prosesnya
sama
ya jelas outputnya bakal beda juga. Penjelasan Ibnu Qayyim dalam kitab Al
Fawa'id tersebut ketika membedah tafsir surah Qof ayat 37 itu sangat
menarik.
Maksud saya, ketika kita belum optimal mengambil manfaat dari kitab-kitab
tafsir
yang ada, yang sebenarnya mengandung lautan ilmu, karena tingkat keimanan
yang
masih biasa-biasa saja, kenapa tidak dicoba dulu membaca ulang setelah
ditingkatkan keimanannya. Biasanya akan muncul *rahasia-rahasia* yang
belum
terungkap pada pembacaan sebelumnya. Sebelum buru-buru *loncat* menerjuni
samudra tafsir yang baru, belum tentu juga didapat solusi yang segar
karena
*rahasia-rahasia*nya belum terungkap secara utuh.
Wallahu'alam,
= Wizh =
Please respond to Milis is-lam <[email protected]>
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
Assalamu'alaikum wr. wb.
Sebelumnya terimakasih atas komentarnya.
-----Original Message-----
Wa 'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
Pak Agus, Insya Allah kalau ajaran Dien ini dijalankan dengan PENGHAYATAN
yang
murni, maka hati bisa bercahaya sehingga amal yang dilakukan ibarat buah
yang
manis rasanya - menggugah bagi siapa pun yang memandangnya. Jadi
barangkali ini
persoalan utama umat Islam kontemporer. Ajaran memang sudah mapan sejak
jaman
Nabi, tapi penghayatan itu yang berproses sampai ke liang kubur bagi
manusia
dari tiap-tiap jaman.
Supaya lebih jelas gimana pengertian PENGHAYATAN menurut Pak Wiz, apakah
PENGHAYATAN identik dengan PENGAMALAN?
Jaman sekarang ajaran Dien memang banyak dikaji dan didiskusikan, dibedah
sampai
ke hal-hal kecil. Namun apakah sudah dihayati sampai Ainul Yaqin ?
Bukankah kita umat Islam yakin dengan Isra' dan Mi'raj walaupun tidak
melihatnya??
Bukan salah kajian dan pembahasannya ketika dampak amal tidak semanis
ketika
didiskusikan, karena kurang penghayatan. Yang perlu diperbaiki ya
penghayatannya
dong !
Pertama saya tidak menyalahkan kajian lho pak, kedua kalo INPUT sudah
benar,
kenapa OUTPUT nya kurang/tidak benar?.
Bukankah dalam Teori Dasar System ada yang namanya Input Process Output?
Artinya antara Input dan Output di jembatani oleh Process, bener gak pak?
Misalnya ketika keimanan kepada Allah Ar Rozaq telah dima'rifati sampai
menghunjam, seharusnya orang tidak perlu dipaksa-paksa pakai rekayasa
aturan
seperti *zakat profesi* untuk mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Yang
perlu
ditingkatkan ya penghayatannya.
Hehehe.. sensitive yah... ya gak apa pak, kalo gak setuju..mudah-mudahan
Ibnu Umar r.a. bukan termasuk orang yang suka merekayasa, atawa memaksa.
Itu barangkali *menurut saya*,
Trimaksih untuk pendapatnya.
maka ini*menurut Allah* : (QS. Al-Ankabut)
<1> Alif laaf miim.
SAYA MENGIMANI
<2> Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami
telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
SAYA MENGIMANI
<3> Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.
SAYA MENGIMANI
<4> Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa
mereka akan
luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.
SAYA MENGIMANI
<5> Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya
waktu
(yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendegar
lagi
Maha Mengetahui.
SAYA MENGIMANI
<6> Dan barangsiapa yang berjihad (*laku* kalau bahasa Jawanya), maka
sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.
SAYA MENGIMANI
<7> Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami
hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri
mereka
balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.
SAYA MENGIMANI
Selama masih ada keimanan walaupun sedikit dalam hati, 'saya kira' semua
umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah PERKATAAN-NYA, itulah kenapa
disebut ayat-ayat Qauliyah, seperti yang pernah saya tulis di milis ini.
Yang ingin saya soroti adalah kenapa umat Islam selalu terpaku pada
tafsir-tafsir dari orang-orang salaf(terdahulu), kenapa kita takut
menafsiri ayat-ayat al-Qur'an dengan konteks KEKINIAN kalo misalnya
ILMU nya ada.
Adakah jaminan bahwa TAFSIR-TAFSIR tersebut mutlak benar??
Bukankah kita semua tahu bagaimana krisis kekinian dari umat ini?
Bukankah Pak Wiz juga meyakini kalo al-Quran itu adalah Petunjuk
bagi Manusia, hanya saja kalo menurut bapak al-Quran itu petunjuk
untuk sekarang(dunia), nanti (akhirat) atau keduanya (dunia dan akhirat)?
Mohon pencerahannya.
Mudah-mudahan kita semua mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah.
Amin.
a.s.
= Wizh =
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
------------------------------
Message: 2
Date: Tue, 06 Dec 2005 12:22:47 +0700
From: "Harry Sufehmi" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
To: [email protected]
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset="ISO-8859-1"
On 12/5/2005 at 12:26 PM Agus Safudi - HRD wrote:
Belakangan ini saya sering merenenung apakah pola-pola
'keberagamaan' kita ini sudah benar (mestinya sih cuek saja
yach..ngapain pusing-pusing) ?,
apakah tidak ada yang salah dengan 'keberagamaaan' khusus
nya muslim Indonesia ini.
Kita juga terkadang merasa sudah bahagia, senang, cukup( padahal saya
pernah nulis orang hidup gak boleh merasa cukup) kalo sudah mejalankan
hal-hal ritual (ibadah, wajib atawa sunnah), padahal disekitar kita masih
banyak orang orang kekurangan, cuman masalahnya gimana kita mo bantu lha
wong kita aja sekarang sering mengalami kesulitan, bener gak?..., nggak
juga gak apa..hehehe.
Sebelum bisa membantu (secara signifikan, dari segi materi), maka kita
perlu mapan/berlebih terlebih dahulu.
Nabi saw sudah menunjukkan caranya, yaitu dengan banyak bersilaturahmi,
karena silaturahmi memperbanyak rezeki, dll.
Juga berbagai cara lainnya.
Tapi, untuk contoh, silaturahmi yang kita lakukan banyak yang salah,
seperti:
# bersilaturahmi dengan orang jahat / fasik
# bersilaturahmi dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan tujuan
kita
# saat bersilaturahmi, malah sibuk berbual-bual / beromong kosong.
Ini sebetulnya common sense / akal sehat saja, makanya banyak non-muslim
yang jauh lebih berhasil dalam silaturahmi / networking.
Anehnya, banyak dari kita yang sudah diberitahu oleh Nabi saw, justru
gagal melakukannya. Kita berhasil menjalankan syariat agama, namun gagal
memahami maksud/tujuannya.
Disinilah saya ingin berdiskusi pada sodara-sodara
di ISNET yang TAHU mungkin bisa kasih pencerahan, beramal dengan ilmunya
seharusnya yang namanya 'IBADAH itu gimana, kapan, harus sperti apa, kalo
melaksanaknnya benar akan bagaimana, bla,bla,bla....dll.
Untuk soal syariah, saya kira sudah banyak sekali buku dan ustadz yang
bisa mengajarkan kepada kita, bagaimana cara sholat yang betul, kaifiyat
puasa, dst.
Tapi, luar biasa sedikit ustadz yang :
# mendorong silaturahmi / networking (yang produktif, bukan cuma
berbual-bual) antar sesama umat Islam :-(
# mengajarkan akhlak islami :
* buang sampah pada tempatnya
* mesjid jangan jorok WC nya
* antri dengan tertib
* ghibah / gosip : dosanya lebih besar daripada riba
* dst
# mengajarkan untuk membersihkan hati, dari:
* sombong
* riya
* iri (banyak kasus muslim sukses, justru jadi sasaran dengki, dan
kemudian dijatuhkan beramai-ramai)
* nifaq
* dst
Sehingga, banyak muslim yang mempraktekkan agama, namun tanpa ruh.
Walhasil, shalat 5x sehari di mesjid; tapi sangat kejam kepada sesama
muslim, kata-katanya menyakitkan hati, egois, dst.
Maka, Islam jadi terlihat SANGAT tidak menarik bagi non-muslim. Malah
banyak muslim awam yang kemudian jadi emoh dengan Islam, dan menjadi Islam
KTP.
CMIIW - silahkan.
Salam,
Harry
------------------------------
Message: 3
Date: Tue, 6 Dec 2005 15:56:48 +0700
From: "Agus Safudi - HRD" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [is-lam] Bagaimana 'Beragama' Yang Benar....
To: "Milis is-lam" <[email protected]>
Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]>
Content-Type: text/plain; charset=iso-8859-1
-----Original Message-----
From: Harry Sufehmi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sebelum bisa membantu (secara signifikan, dari segi materi), maka kita
perlu
mapan/berlebih terlebih dahulu.
Cuma tolok ukur mapan/berlebih itu yang sulit (relatif) ngukur nya pak,
sesuatu yang harus diukur tapi sulit ngukur nya, gimana ini.
Nabi saw sudah menunjukkan caranya, yaitu dengan banyak bersilaturahmi,
karena silaturahmi memperbanyak rezeki, dll.
Juga berbagai cara lainnya.
Tapi, untuk contoh, silaturahmi yang kita lakukan banyak yang salah,
seperti:
# bersilaturahmi dengan orang jahat / fasik
Ya Pak Harry, cuma silaturahmi dengan orang jahat/fasik itu maksudnya
gimana?
biasanya kalo kasat mata orang itu jahat, orang gak mau dekat-dekat, tapi
kalo
kejahatan/kefasikan itu dihati apa iya pak kita bisa tahu, jangan-jangan
nanti malah su'udzhon.
# bersilaturahmi dengan orang yang tidak ada hubungannya dengan tujuan
kita
Sedikit mau tanya Pak Harry, silaturahmi itu cara apa tujuan ya, kalo
silaturahmi
itu hanya salah satu cara, apakah orang untuk melakukannya harus punya
maksud/
tujun tertentu?, kalo memang harus selalu begini bisa-bisa orang gak
silaturahmi
lagi.
Ini sebetulnya common sense / akal sehat saja, makanya banyak non-muslim
yang
jauh lebih berhasil dalam silaturahmi / networking.
Anehnya, banyak dari kita yang sudah diberitahu oleh Nabi saw, justru
gagal melakukannya. Kita berhasil menjalankan syariat agama, namun gagal
memahami >maksud/tujuannya.
Maksudnya pola-pola yang dipakai dunia barat (non-Muslim) tidak semuanya
jelek
kan?, berhasilnya mereka itu apakah artinya mereka mengikuti/sesuai HUKUM
ALAM?
Wassalam.
a.s.
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
------------------------------
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
End of is-lam Digest, Vol 13, Issue 7
*************************************