Kultus kalo nggak salah berasal dari bahasa Latin "cultus", artinya "perhatian" dan "pemujaan". Mengkultuskan Rasulullah maka bisa diartikan memuja Rasulullah. Apanya yang dipuja ? (apakah tubuhnya atau ajarannya). Dan sejauh mana kadar pemujaan tersebut ? Hal ini yang menjadi pembicaraan. Kalau seseorang banyak bersholawat kepada beliau karena rindu kangen kepada PRIBADI beliau sholallaahu 'alaihi wa sallam, ini termasuk mengkultuskan tidak ? Bagaimana dengan kisah sahabat yang "memperdaya" Rasulullah karena ingin mencium tubuh beliau. Apakah ini termasuk mengkultuskan atau tidak ? Apakah ini negatif ? Umat Islam dituntut menjadi umatan wasathon, umat yang paling adil, artinya paling pas, tidak terlalu ekstrim ke kiri atau ke kanan. Memang ada orang-orang yang berlebihan dalam memuja pribadi Rasulullah, entah karena kebodohan atau ketidak mengertian. Sehingga pemujaannya tersebut malah menjadi hijab dirinya dengan Allah. Di sisi lain ada yang berpendapat mengarahkan esensi Rasul pada ajarannya sebagai contoh model atau uswah, fisiknya mah kasarnya 'tidak penting". Harapannya dengan mengikuti Rasul maka manusia bisa mengejar kualitas pribadi Rasul, ini yang ditekankan sebagai esensi yang perlu diperhatikan. Tetapi jangan lupa mencintai pribadi seseorang yang bersifat fisik - asalkan proporsional - bisa menjadi penghantar untuk mencintai hal-hal yang lebih global dan prinsip. Misalnya seorang anak SD mencintai gurunya karena gurunya ramah dan lembut, maka ini bisa menjadi jalan bagi si anak untuk mencintai apa yang diajarkan gurunya. Begitu pula kecintaan seorang mukmin pada pribadi Rasul. Betapa riwayat yang menggambarkan kerinduan sahabat untuk disapa beliau, untuk menyentuh atau disentuh dan dipeluk beliau, terhadap sisa air wudhu beliau, dll. Sama seperti kecintaan terhadap orang yang sangat disayangi, misalkan terhadap ibu atau terhadap anak, betapa diri rela menghabiskan sisa makanannya, rindu untuk mengusap-usap atau mengelusnya, menciumi dan mendekap pakaiannya, dsb. Barangkali ini sangat manusiawi, dan bukan sekadar dorongan hawa nafsu karena hawa nafsu itu membawa kebencian. Emang kalau sudah jatuh cinta dan rindu bisa bikin panas dingin, gemes kangen atau rindu tak tertahankan. Bahkan cinta yang mendalam terkadang membutakan, menghilangkan pertimbangan rasional. Menjaga proporsinya (menjaga keseimbangan romantisme dengan realita) sambil menahan perasaan yang meluap, itulah penderitaan (atau kenikmatan) seorang yang jatuh cinta. Wallaahu 'alam, = Wizh = Please respond to Milis is-lam <[email protected]> To: [email protected] cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv) Subject: [is-lam] Balasan: is-lam Digest, Vol 26, Issue 91 mengkultuskan orang dalam bentuk wadaq jasad Rasulullah SAW tidak berkenan menurut paham saya mengkultuskan ajaran dan fanatik untuk menyebar luaskan da'wahnya itu patut di kembangkan. Sebab semakin luas ajaran islam semakin banyak manusia mendapatkan manfaat dari padanya. Bukankah itu rahmatan?. Sementara banyak umat fanatik kepada pendapat para mursid, sampai menutup mata pendapat mursid lainya atau orang lainnya. Padahal jelas dilarang orang fanatik kepada mursid Yang jelas mari kembali kepada persoalan, kultus pada diri Rasulullah saw Rasul melarang ( jangan seperti pengikut isa bin maryam). kultus ke uswah yang diajarkan adalah wajib. [EMAIL PROTECTED] wrote: Send is-lam mailing list submissions to [email protected] To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam or, via email, send a message with subject or body 'help' to [EMAIL PROTECTED] You can reach the person managing the list at [EMAIL PROTECTED] When replying, please edit your Subject line so it is more specific than "Re: Contents of is-lam digest..." Today's Topics: 1. Balasan: Sikap yang proporsional (was Re: [is-lam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah SAW) (Agus Safudi) ---------------------------------------------------------------------- Message: 1 Date: Sun, 28 Jan 2007 18:46:13 +0700 (ICT) From: Agus Safudi Subject: Balasan: Sikap yang proporsional (was Re: [is-lam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah SAW) To: Milis is-lam Message-ID: <[EMAIL PROTECTED]> Content-Type: text/plain; charset="utf-8" Assalamu'alaikum wr. wb. Pemaparan yang cukup bijak, semoga Allah SWT menambahkan ilmu pada anda mas. Umat Islam saat ini memang ada yang fokus cenderung hanya pada makna lahiriah saja, di sisi lain ada yang terlalu memfokuskan pada sisi batiniah yang cenderung dianggap menafikan sisi lahiriah karena sebagian menganggap terlalu ekstrem. Padahal syari'at dan hakikat itu adalah dua bagian yang tidak terpisahkan seperti dua sisi mata uang. Kalolah Hakikat itu dalamnya laut, maka Syari'at adalah berenang di laut. pada kitab futuhat makiyat, memang mungkin sangat sulit dipahami karena penuh dengan gaya bahasa methapora yang umumnya cenderung di gunakan oleh para guru-guru tasawuf. Seperti misalnya penciptaan Rasulululloh saw dari Nur-Nya. Kalolah dipahami bahwa semua ruh itu diciptakan dari cahaya-Nya maka insya Allah ini tidak menyimpang karena dalam kitab Aqidah at-Thohawiyah di jelaskan bahwa semua ruh diciptakan dari cahaya-Nya. Rasul saw memang ciptaan-Nya yang terbaik, sehingga DIA memuja nya dalam bentuk sholawat yang sering kita dengar/dengungkan. Dalam suatu kesempatan dijelaskan bahwa Ibnu Taymiyah pernah bertemu dengan Ibnu Athoilah yang mana akhirnya keluar pernyataan dari Syaikhul Islam bahwa " Kalau begitu Ibnu Arabi tidak sesat tapi pengikutnya nyalah yang sesat". Pernyataan Ibnu Taymiyah inipun bila dibahas akan panjang. Saya fikir sikap terbaik adalah ahli syari'at tidak perlu su'udzhon pada ahli hakikat/makrifat, toh yang namanya hidayah itu tidak bisa dipaksakan tapi itu merupakan hak prerogatif Allah. Yang namanya IMAN itu kan ada di 3 tempat seperti pernah dahulu saya tulis, salah satunya ada di dada (hati) jadi ya kita yang berkecimpung dalam syari'at jangan punya perasaan benci terhadap ahli tasawuf yang berlebihan, karena kebencian yang berlebihan akan mengotori hati, kalo hati terkotori, maka suara hati yang muncul pun bukan berasal dari-Nya. Dan Islam itu kan jalan tengah. itu saja ikut ninmbrung. Subhanaka la 'ilma lana ila ma 'alamtana innaka antal 'alimul hakim. Wassalam. a.s. IPD Wiska Susetio wrote: Emang sulit ya bersikap yang proporsional terhadap kanjeng Rasulullah sholallaahu 'alaihi wa sallam. Satu sisi terdapat sikap esktrim yang berlebihan dalam memuja beliau. Dan di sisi yang lain ada orang yang mengaku muslim namun bersikap acuh dan kurang menghormati / apresiasi terhadap kemuliaan beliau. Bagi yang memuja, yang rindu remuk karena kecintaan yang sangat terhadap beliau, terkadang kerinduannya tersebut diekspresikan dalam karya-karya sastra, karena simbol-simbol dianggap lebih bisa menampung suasana yang tak terlukiskan dengan rangkaian kata-kata biasa. Dalam sastra dan puisi, kata-kata tidak bisa dipahami secara denotatif polos begitu saja. Sebab terdapat beragam gaya bahasa, seperti hiperbolisme, ironi, sarkasme, dll, yang bisa menimbulkan kesalah pahaman bila dipahami polos begitu saja sesuai makna kamus. Maka dalam sastra terdapat kaidah-kaidah, terdapat rumus-rumus, yang merupakan kunci untuk memahami simbol-simbol yang diungkapkan. Tapi kenyataan sejarah yang barangkali tak terelakkan, karya-karya sastra tersebut memang akhirnya disalah pahami, baik oleh orang-orang bodoh yang tidak punya kunci, maupun orang-orang yang tidak kenal mereka. Namun di sisi lain, kadang kita terlalu kasar terhadap beliau. Saya pernah mendengar ceramah yang membawakan suatu hadits, oleh penceramah hadits tersebut barangkali dicoba "dibumikan" agar lebih akrab bagi pendengar. Maka dibawakanlah riwayat tersebut dengan setting kekinian pakai bahasa gaul "Eloe", "Gue", dsb. Tapi akibatnya gambaran Rasul yang muncul adalah seperti orang kebanyakan, kayak ke teman sejawat saja. Padahal Rasulullah meskipun fisiknya adalah manusia biasa yang bahannya dari tanah, tapi kualitas ruhaninya adalah bagai cahaya (Al Qur'an menggambarkannya Siroojan Muniiro) yang menyilaukan yang membuat orang yang bisa memandangnya akan tertunduk takzim. Bukankah bahan dasar penciptaan manusia bukan hanya tanah. Sholawat dan salam bagi Rasulullah, serta bagi para syuhada yang tidak pernah mati. "Innal anbiya ahyaanan fii qubuurihim yushollun" (Para Nabi itu hidup di qubur mereka dalam keadaan sholat - hadits shohih, dishohihkan Syaikh Al Albani rohimahullah dalam Irwa'ul Ghalil). Eh ... hadits ini bertentangan dengan Qur'an nggak ya (QS. Az Zumar : 30) , atau kelihatannya bertentangan tapi sebenarnya tidak bila kita bisa mendudukkannya ? Wallaahul musta'an, = Wizh = Please respond to Milis is-lam To: is-lam cc: (bcc: IPD Wiska Susetio/QA/domino_srv) Subject: [is-lam] Tasawuf dan Pengkultusan Rasulullah SAW http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=394 TASAWUF DAN PENGKULTUSAN RASULULLAH Shalallahu?alaihi Wassallam Selasa, 10 Oktober 2006 - 01:28 PM, Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426 Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam adalah sebaik-baik manusia, tidak ada yang melebihi beliau dalam hal kemuliaan dan kehormatan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta?ala menjadikan beliau sebagai suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Allah berfirman (artinya): ?Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam itu suri tauladan bagi kalian.? (Al Ahzab: 21) Beliaulah yang harus kita cintai melebihi kecintaan terhadap diri kita sendiri, orang tua, anak, istri dan seluruh umat manusia. Namun Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam melarang umatnya dari sikap berlebihan, terkhusus sikap pengkultusan terhadap diri beliau Shalallahu?alaihi Wassallam. Sebagaimana beliau bersabda: ?????
Ä ???
Å???????
Å???????????? ???
Ä???
Ä?? ???
Ä???????
Ä???? ?????????
Ä???
Ä?????
Ä?? ?????????
Ä ???????????
Ä???
Ä ?? ?????????
Ä???
Ä?? ???
Ä???
Ä?? ???
Ä???????? ?? ???
Ä???
Å???????
Å???? ???
Ä???????
Å ?????????? ???
Ä???
Ä???
Å???????
Å???
Å ?Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: ?(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.? (H.R Al Bukhari) Sangatlah disayangkan ternyata kaum Sufi merupakan kaum yang paling gencar melanggar perintah Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam tersebut. Sekian banyak bukti pengkultusan mereka terhadap Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam terdapat dalam karya tulis tokoh-tokoh tersohor mereka. Sampai-sampai pengkultusan tersebut menjerumuskan mereka ke dalam jurang kesyirikan, baik dalam hal rububiyah, uluhiyah, ataupun asma? wa sifat. DIANTARA BUKTI PENGKULTUSAN KAUM SUFI TERHADAP RASUL Shalallahu?alaihi Wassallam Gambaran pengkultusan kaum Sufi terhadap Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam sangatlah beraneka ragam, yang kesemuanya bermuara dari kedustaan, khayalan atau kebodohan. Dapatlah kita simak gambaran-gambaran tersebut melalui bukti-bukti berikut ini : 1. Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam Diciptakan Dari Nur (Cahaya) Allah Subhanahu Wa Ta?ala Diantara tokoh Sufi yang berpendapat demikian adalah Ibnu Arabi di dalam Al Futuhat Al Makkiyyah 1/119, Abdul Karim Al Jaili di dalam Al Insaanul Kaamil 2/46 dan beberapa yang lainnya. Demi memudahkan penyebaran aqidah sesat ini, mereka memunculkan hadits yang tidak diketahui asal usulnya yang didustakan atas nama Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam yaitu: ???
Ä?????
Ä ?????????
Ä ???
Ä???
Ä?????? ???
Ä???
Ä???
Ä ???
Å???????? ???
Ä?????????????? ???????? ???
Å???????????? ?Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta?ala menciptakan cahaya nabi-Nya dari cahaya-Nya? Allah Subhanahu Wa Ta?ala membantah keyakinan keji ini dengan menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam adalah seorang manusia sedangkan manusia itu diciptakan dari tanah bukan dari cahaya. Allah berfirman (artinya): ?Katakanlah (wahai Muhammad) :? Maha Suci Tuhanku, aku tidak lain adalah seorang manusia dan rasul.? (Al Israa?: 93) Dia juga berfirman (artinya): ?Dan Allah menciptakan kalian (manusia) dari tanah, kemudian nuthfah lalu menjadikan kalian berpasang-pasangan.? (Faathir: 11) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa Nabi Shalallahu?alaihi Wassallam diciptakan dari unsur tanah dan tidak ada satupun manusia yang diciptakan dari cahaya. Disamping itu, keutamaan sebagian makhluk dibanding makhluk lainnya bukanlah karena unsur diciptakannya. Bahkan Nabi Adam beserta anak keturunannya yang shalih itu lebih utama dari malaikat walaupun malaikat tersebut diciptakan dari cahaya. (Disarikan dari Majmu? Fatawa 11/94-95) 2. Seluruh Alam Semesta Diciptakan Dari Nur (cahaya) Muhammad (Aqidah Nur Muhammadi) Abdul Karim Al Jaili berkata: ?Dan tatkala Allah Subhanahu Wa Ta?ala menciptakan seluruh alam semesta ini dari nur Muhammad, maka hati Muhammad??? Shalallahu?alaihi Wassallam itu merupakan bagian yang malaikat Israfil diciptakan darinya ?lalu dia mengatakan? sesungguhnya Al Aqlu Al Awwal yaitu Muhammad??? Shalallahu?alaihi Wassallam, Allah ciptakan darinya Jibril sehingga Muhammad??? Shalallahu?alaihi Wassallam adalah ayah Jibril dan asal usul dari seluruh alam.? (Al Insaanul Kaamil 2/26-27). Dari dua jenis keyakinan kufur ini, dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam dari cahaya-Nya, kemudian dari cahaya tersebut terciptalah seluruh alam semesta. Sehingga tidaklah yang ada di alam semesta ini melainkan bagian dari Dzat Allah Subhanahu Wa Ta?ala. Muncullah dari sini keterkaitan kedua keyakinan itu dengan aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Sebuah skenario yang benar-benar keji. Wallahul Musta?an!! 3. Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam Memiliki Beberapa Sifat Ketuhanan (Rububiyyah) Sehingga Berhak Diibadahi Keyakinan kufur ini tidaklah terlepas dari konsekuensi yang diraih ketika mereka menyatakan tentang aqidah Manunggaling Kawula Gusti. Dan inilah yang ditegaskan sendiri oleh pujangga-pujangga syair tersohor mereka. Al Bushiri berkata di dalam syairnya yang terkenal: Maka sesungguhnya diantara kedermawananmu (Muhammad) adalah adanya dunia dan akhirat Dan diantara ilmumu adalah ilmu tentang Lauhul Mahfudh dan Al Qalam (yaitu ilmu tentang segala takdir di alam semesta ini) (Burdatul Madiih hal. 35 yang terkenal dengan Qasidah Burdah). Yusuf An Nabhani menukil perkataan Syamsuddin At Tuwaji Al Mishri: Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku ini lemah Maka sembuhkanlah aku karena sesungguhnya engkau adalah pangkal kesembuhan Wahai utusan Allah, bila engkau tidak menolongku Maka pada siapa lagi menurutmu aku akan bersandar (Syawaahidul Haq hal. 352) Betapa jauhnya penyimpangan mereka dari aqidah yang benar?!!, padahal Allah Subhanahu Wa Ta?ala berfirman (artinya): ?Katakanlah (wahai Muhammad): ?Aku tidaklah memiliki manfaat atau dapat mencegah bahaya dari diriku sendiri kecuali yang Allah kehendaki. Kalau seandainya aku mengetahui yang ghaib maka tentunya aku dapat memperbanyak kebaikan untukku dan tidak ada satupun bahaya yang menimpaku?. (Al A?raaf:188) ?Dan bila Allah menimpakan kepadamu suatu kejelekan maka tidak akan ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia saja. Dan apabila Dia mendatangkan kebaikan kepadamu maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu?. (Al An?aam:17) 4. Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam Dapat Dilihat Di Dunia Dalam Keadaan Terjaga (Setelah Beliau Meninggal Dunia) Keyakinan ini mereka ambil berdasarkan hikayat-hikayat dusta yang berasal dari tokoh-tokoh tarekat mereka. Asy Sya?rani menyatakan bahwa Abul Mawaahib Asy Syadzali berkata: ?Aku pernah melihat Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam lalu berkata kepadaku tentang diri beliau: ?Aku sebenarnya tidaklah mati. Hanyalah kematianku (sekarang ini) sebagai persembunyianku dari orang-orang yang tidak mengerti tentang Allah.? Maka akupun melihat beliau dan beliaupun melihat aku.? (Thabaqatul Kubra 2/69 karya Asy Sya?rani). Bahkan dengan tegas Abul Mawaahib membawakan sabda Nabi??? Shalallahu?alaihi Wassallam dengan dusta bahwa barangsiapa yang tidak percaya dengan pertemuan dirinya dengan beliau, kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan sebagai seorang Yahudi, Nashrani atau Majusi!! (Thabaqatul Kubra 2/67) Sebagian murid Khaujili bin Abdirrahman (seorang tokoh Sufi jaman ini) menceritakan bahwa gurunya ini pernah melihat Rasulullah??? sebanyak 24 kali dalam sehari sedangkan dia dalam keadaan sadar. (Thabaqat Ibni Dhaifillah hal. 190) Hikayat-hikayat yang mereka ceritakan ini sebenarnya mengandung beberapa perkara yang batil, diantaranya: a. Jasad Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam yang ada di kubur dapat kembali ke alam dunia. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta???ala berfirman (artinya): ?Dan di belakang mereka terdapat dinding (pemisah antara alam kubur dengan alam dunia) sampai hari mereka dibangkitkan (hari kiamat)?. (Al Mu?minuun: 100) b. Rasulullah??? sekarang ini tidak meninggal dunia. Allah Subhanahu Wa Ta???ala membantah hal ini dengan firman-Nya (artinya): ?Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan merekapun akan mati (pula).? (Az Zumar: 30) Kedua kandungan ini cukuplah sebagai bukti tentang sikap berlebihan (pengkultusan) mereka terhadap pribadi Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam. Ketika aqidah rusak mereka ini mulai terkuak, maka muncullah beragam pendapat lagi di dalam mengkaburkan maksud kalimat ?melihat Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam dalam keadaan terjaga?. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam bisa dilihat dengan menjelma sebagai seorang syaikh terekat mereka, bahwa Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam bisa dilihat dengan mata hati bukan mata kepala, Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam bisa dilihat dalam keadaan antara tidur dan terjaga ataupun yang dilihat itu adalah ruh beliau bukan jasadnya. Pendapat terakhir ini diucapkan oleh tokoh Sufi jaman sekarang yaitu Muhammad Alwi Al Maliki dalam kitab Adz Dzakhaa?ir Al Muhammadiyah hal. 259 (Khasha?ishul Musthafa hal. 217-218). Ternyata keyakinan ini ?yang sebenarnya telah terkuak kebatilannya? dijadikan kaum Sufi sebagai salah satu jembatan untuk memunculkan ajaran-ajaran baru (bid?ah) yang belum pernah diajarkan Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam di masa beliau masih bersama para sahabatnya dahulu. Satu lagi skenario jahat untuk menodai ajaran agama suci ini. Demikian pula pernyataan sesat yang dilontarkan Umar Al Fuuti bahwa Ahmad At Tijani (pendiri tarekat At Tijaniyah) pernah diijinkan Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam untuk mengajari manusia setelah bersemedi, kemudian beliau menetapkan sebuah wirid tertentu kepada dirinya, yang sebelumnya beliau mengabarkan tentang kedudukan Ahmad At Tijani yang tinggi, keutamaan wirid tersebut dan janji Allah kepada siapa saja yang mencintai Ahmad At Tijani dari kalangan pengikutnya (Rimaahu Hizbirrahiim 1/191). Muhammad As Sayyid At Tijani mengungkapkan bahwa Rasulullah Shal Khulafaur Rasyidin pernah menghadiri majelis wirid Ahmad At Tijani. Lalu beliau??? Shalallahu?alaihi Wassallam memberikan syafa?at kepada hadirin ketika itu. (Al Hidayah Ar Rabbaniyah hal. 12) WIRID-WIRID BID?AH KAUM SUFI Mereka tidak hanya menuangkan pengkultusan Rasulullah??? Shalallahu?alaihi Wassallam melalui pendapat ataupun untaian-untaian syair saja, tetapi juga melalui wirid dalam bentuk shalawat nabi. Bahkan, dengan shalawat inilah banyak sekali kaum muslimin ?walaupun tidak terikat dengan ajaran mereka? terjatuh ke dalam jeratan mereka. Hal ini disebabkan beberapa perkara, diantaranya: a. Mereka tidak jarang membawakan ayat-ayat ataupun hadits-hadits shahih yang masih bersifat umum yang menganjurkan seorang muslim untuk bershalawat atau berdzikir. b. Hikayat-hikayat dusta yang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan membaca shalawat tertentu. Di antara shalawat yang sangat terkenal di tengah kaum muslimin adalah shalawat Al Faatih yang apabila membacanya mendapatkan keutamaan seperti membaca Al Qur?an sebanyak 6000 kali, shalawat Nariyah yang apabila membacanya sebanyak 4444 kali maka hajatnya akan terpenuhi atau terlepas dari kesulitan, dan juga beberapa shalawat lainnya yang kental dengan nuansa kesyirikan di dalam kitab Dalaailul Khairaat karya Muhammad bin Sulaiman Al Jazuli yang sering dibaca sebagian kaum muslimin terutama pada hari Jum?at. (Untuk lebih rincinya, insya Allah akan diangkat topik ?Sufi dan Shalawat-shalawat Bid?ah Mereka?) HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT Hadits Ibnu Umar ??? : ???
Ä???? ???
Ä?????
Ä ???
Ä???????????? ???
Ä???
Ä???
Ä???? ???
Ä???
Å ???
Ä???
Ä?????
Ä???????? ?Barangsiapa yang menziarahi kuburku maka berhak baginya syafa?atku? Keterangan: Hadits ini mungkar karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Musa bin Hilal Al ?Abdi. Beberapa ulama ahli hadits seperti Abu Hatim, Al Bukhari, An Nasai, Al Hakim, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Hajar dan Al Baihaqi sendiri (yang meriwayatkan hadits tersebut) mengkritik perawi tersebut. Asy Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits tersebut mungkar. (Irwa?ul Ghalil no. 1128) Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas kerapkali dibawakan para tokoh Sufi didalam mengajak kaum muslimin untuk meyakini adanya keutamaan tertentu di dalam menziarahi makam beliau, sampai akhirnya mengkultuskan beliau seperti bertawasul atau berdoa kepada beliau dan mengkeramatkan makam beliau. Adapun ziarah ke kubur beliau dan juga selain beliau maka hal ini diperbolehkan selama dengan tujuan dan cara yang diajarkan Rasulullah Shalallahu?alaihi Wassallam. (Sumber : Buletin Islam Al Ilmu Edisi 49/II/III/ 1426, Jember. Dikirim via email oleh al Al Akh Hardi Ibn Harun.)
_______________________________________________ is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
