Waalaikum Salam wr wb
Itu memang fenomena yang sedang terjadi di indonesia saat ini.
Apalagi buat orang2 awam & pemula yang belajar Islam, bahkan itu terjadi
di partai Islam ( dibaca pks ) yang di isi oleh orang2 yang pemahaman keIslamannya relatif lebih mumpuni, merasa tidak percaya diri membawa label keIslaman dipartainya dan mengubah menjadi "partai terbuka"berteman dengan orang2 non-Islam dalam "berdakwah" katanya.
Aneh bin ajaib


A Nizami さんは書きました:
Assalamu'alaikum wr wb,





http://syiarislam.wordpress.com



Saat ini banyak orang-orang
Islam, baik alumni pesantren mau pun alumni UIN/IAIN (Institut Agama Islam
Negeri) yang belajar agama Islam ke orientalis/orang-orang kafir di negeri AS,
Kanada, Australia, dan sebagainya.







Aneh bukan? Belajar Islam
bukannya kepada para ulama yang beriman kepada Allah dan rasulnya justru
belajar kepada orang-orang yang sama sekali tidak beriman dan meragukan
kebenaran Islam. Tak heran bukannya jadi ulama yang lurus, murid-murid orang
kafir ini menjadi kafir/munafik sebagaimana gurunya dan menyesatkan ummat.







Mereka meragukan kebenaran
Islam. Mereka meragukan keaslian Al Qur’an. Mereka bahkan meragukan Allah
dengan mengubah-ubah hukum Allah seperti hukum waris, hukum Islam, dan
sebagainya sesuai dengan nafsu mereka sendiri.







Padahal Allah telah berfirman,
jangankan mengambil orang kafir sebagai guru agama ISLAM, sebagai teman pun
tidak boleh. Apa sudah tidak ada lagi ulama Islam yang bisa jadi guru mereka
untuk mengajar agama Islam?







”Janganlah orang-orang mukmin
mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang
mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan
Allah” [QS Ali Imran:28]







”Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali[368] dengan meninggalkan 
orang-orang
mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)
? [An Nisaa’:144]







Orang-orang Kristen, Yahudi,
Budha, dan Hindu cukup waras untuk tidak belajar agama mereka kepada
orang-orang yang bukan seagama dengan mereka. Namun orang-orang Islam karena
didera kemiskinan dengan iming-iming uang dan beasiswa akhirnya menggadaikan
keimanan mereka dengan belajar agama Islam kepada orang yang tidak mau memeluk
Islam.







Orang-orang kafir memberi
beasiswa dan uang saku kepada santri pesantren atau alumnus IAIN untuk belajar
agama Islam versi mereka justru untuk menyesatkan orang dari jalan Allah:







”Sesungguhnya orang-orang yang
kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. 
Mereka
akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka
akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu
dikumpulkan” [Al Anfaal:36]







Tak heran jika saat ini banyak
posisi penting di Departemen Agama dan UIN yang dikuasai oleh orang-orang Islam
Liberal yang pro Amerika. Banyak ormas-ormas Islam yang disusupi oleh
orang-orang JIL yang memang didanai khusus oleh AS untuk itu.







http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6221&Itemid=84




Awas, Virus Liberal Masuk Pesantren!



Senin, 21 Januari 2008







Tiap tahun, ratusan santri di pesantren ”diboyong” ke luar
negeri. Dengan dana besar dari Barat, penyebaran liberalisme ke
pesantren terus gencar. [bagian pertama]







ImageHidayatullah.com--Suatu
hari, salah seorang utusan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) mendatangi KH
Kholil Ridwan, ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren (BKSPPI) se-Indonesia. 
Utusan
ini menyampaikan ajakan kepada Kholil untuk “bertamasya” ke Negeri Paman Bush
tersebut. Semua fasilitas dijamin, termasuk uang saku yang tak sedikit. Sungguh
tawaran yang menggiurkan!







Tentu saja Kholil tak mau
memenuhi undangan tersebut. Ia tahu ada niat tersembunyi di balik ajakan itu.







Namun, belum sempat penolakan
disampaikan, undangan tersebut buru-buru dicabut. ”Mereka tahu saya ini anti
Amerika,” ujar Kholil kepada Suara Hidayatullah.







Kholil tak sendiri menerima
ajakan tersebut. Sejumlah kiai juga menerima ajakan serupa. Bedanya, mereka mau
memenuhinya, Kholil tidak.







Maka, setelah itu, silih
berganti kiai-kiai mendapat jatah terbang gratis ke negara AS. Selama di sana, 
mereka
dilayani bagai tamu istimewa. Mereka diajak melihat ”realitas” masyarakat AS.







Hasilnya sungguh fantastis. Mereka
yang sejak awal bersuara lantang terhadap kekejaman AS di Irak, Afghanistan, dan
negeri Islam lainnya, mulai bersuara parau, jika tak ingin dikatakan lembek. 
Kata
mereka, rakyat AS itu tidak sejahat pemerintahnya.







Menurut Kholil, inilah tanda
keberhasilan AS mengubah cara pandang negatif masyarakat Muslim terhadap negaranya. Ini pula awal penyusupan paham
liberal ke pesantren.







Meski begitu, tak berarti
pesantren yang kiainya terkena bujuk rayu AS langsung dicap sebagai liberal. 
Mereka
hanya perlu diwaspadai. Sebab, upaya AS tentu tak akan berhenti sampai di sini.
Mereka akan terus berupaya menyusupkan pemikiran liberalnya ke dalam pesantren
tersebut. Sekali kena jaring, boleh jadi selanjutnya kembali terperosok.







Menurut pemerhati pemikiran-pemikiran
Barat, Adian Husaini, program Barat sekarang ini ingin membuat ”Islam yang
lain” menurut versi mereka. ”Tentu yang menjadi sasaran utama adalah pesantren
dan perguruan tinggi Islam sebagai tempat strategis pembinaan umat,” tandasnya.







Muncullah pertanyaan di benak
kita, mengapa pesantren begitu mudah disusupi mereka? Apa yang salah? Bagaimana
pula pemikiran liberal itu bisa menyusup ke ruang-ruang mengaji di pesantren?







Setidaknya, kupasan Suara
Hidayatullah dalam Laporan Utama kali ini bisa menambah khazanah pengetahuan
bagi jutaan orangtua yang ingin memasukan anaknya ke pesantren. Selamat membaca.






***







Santri Dirayu, Kiai Digoda







Beberapa tahun lalu, Laskar
Santri menggelar unjuk rasa menentang sikap Amerika Serikat (AS) yang represif
terhadap umat Islam. Para santri Surakarta ini dengan lantang meneriakan yel-yel
anti Yahudi dan AS.







Salah seorang di antara mereka
ada yang bernama David Adam Al-Rasyid. Dialah santri paling lantang berteriak
di antara demonstran lainnya. Di hadapan massa dia berkata,  ”Hancurkan Yahudi! 
Hancurkan Amerika!”







Kenangan itu kini tinggal
rekaman peristiwa masa lalu. Sejak David diundang mengikuti pertukaran pelajar
ke Amerika selama satu tahun, ada yang berbeda dari dirinya.







”Kalau dulu waktu jadi Laskar
Santri saya mengatakan, ’Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!’ Tapi sekarang, 
siapa
yang mau dihancurkan? Tidak semua orang Amerika jelek,” ujar David saat ditemui
Suara Hidayatullah di Pesantren As-Salam, Surakarta, beberapa waktu lalu.







Saat David hendak berangkat ke
AS, ia sempat meminta masukan kepada salah seorang kakak kelasnya di pesantren
yang sama. Sang kakak kelas memberi wejangan, ”Ternyata Amerika tidak memusuhi
Islam.”







Lalu, berangkatlah David ke
Negara Paman Sam. Selama di sana, David dititipkan pada keluarga Katolik di
Corvallis, Oregon. Menurutnya, keluarga yang ia diami amat toleran. Buktinya, ia
bisa melaksanakan shalat dan membaca al-Qur’an secara rutin.







“Mereka juga bertanya-tanya
tentang Islam, mengapa harus shalat? Mengapa harus puasa? Bahkan kadang-kadang
mereka menegur saya jika terlambat shalat. Rupanya tidak semua orang Amerika
jahat ” kenang David.







Santri asal Yogyakarta ini juga
menceritakan kehidupan bebas remaja di sana. Pernah suatu hari, David
dikejutkan oleh tangan yang sekonyong-konyong melingkar di pinggangnya. Saat
menoleh ke belakang, ternyata tangan itu milik seorang perempuan. Menurut David,
di Amerika, hal seperti itu biasa-biasa saja.






David cuma satu dari sekian
banyak pelajar Indonesia yang mengikuti program Youth Exchange Study (YES). 
Program
ini diselenggarakan oleh AFS (American Field Service) bekerjasama dengan
Yayasan Bina Antara Budaya.







Program ini dirancang setelah
peristiwa 11 September 2001, dirancang khusus untuk negara yang mayoritas
berpenduduk Muslim. Setiap bulan para peserta dibekali uang saku sebesar 125
dollar AS, atau sekitar Rp 1,2 juta.







Tahun 2007, dari 97 orang
pelajar Indonesia yang diberangkatkan, 30 di antaranya dari pesantren seperti
Darunnajah, Darul Falah, Insan Cendekia, dan IMMIM Makassar, Sulawesi Selatan.







Suara Hidayatullah sempat
menyambangi kantor Yayasan Bina
Antara Budaya yang terletak di Jakarta Selatan. Menurut Ketty Darmadjaya, humas yayasan, program ini didesain untuk
meningkatkan wawasan santri serta mengubah pandangan masyarakat terhadap
pesantren yang selama ini dianggap terbelakang.







ImageKetty tak menapik kemungkinan
tertularnya para santri tersebut dengan paham liberal. “Makanya, sebelum
berangkat, kita memberikan orientasi kepada mereka tentang AS. Sepulangnya dari
AS, mereka juga kita orientasi kembali. Kita katakan kepada mereka bahwa
pengalaman satu tahun di AS bukanlah segalanya. Kita tidak ingin mengubah
pandangan mereka terhadap Islam mejadi liberal,” jelasnya.







Bahaya Mengancam







Ternyata, tak hanya santri yang
mendapat jatah ’terbang’ ke Amerika. Kiai pimpinan pondok pesantren juga
menjadi sasaran untuk diperkenalkan dengan ’wajah manis’ Amerika.




Melalui Institute for Training
and Development (ITD), sebuah lembaga milik Amerika, mulai pertengahan
September 2002, para kiai bergantian bertandang ke negeri itu. Di awal program,
lembaga itu mengundang 13 utusan pesantren ’pilihan’ yang berasal dari Jawa, 
Madura,
Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.







Menurut KH Kholil Ridwan, Ketua
Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI), program ini terbukti
efektif mengubah pandangan para kiai terhadap Amerika. Banyak  kiai yang 
setelah pulang ke tanah air
mengatakan, “ Rakyat Amerika tidak sejahat pemerintahnya. Mereka sangat baik.”







Kholil, yang juga Ketua MUI, menolak
keras pernyataan para kiai itu. “Di mana sikap baiknya rakyat Amerika? Amerika
menyerang Irak atas persetujuan kongres, lalu kongres itu kan wakil rakyat. 
Jadi,
artinya, rakyat Amerika sama jahatnya dengan pemerintahnya,” ungkap pengasuh
Ponpes al-Husnayain ini.







Apabila sikap kiai-kiai itu
melunak kepada Amerika, kata Kholil lagi, maka liberalisasi akan sangat mudah
masuk ke pesantren. Kalau pesantren sudah terjangkit virus liberalisasi, maka
akan berdampak pula terhadap pola pikir santrinya.







Nah, santri-santrinya ini pada
akhirnya akan menjadi guru madrasah. Kalau gurunya liberal, bisa dipastikan 
murid-muridnya
juga liberal. Generasi muda kita menjadi liberal semua. Perjuangan umat Islam
pun melemah. “Ini sangat berbahaya!” Kholil memperingatkan.







Hal yang sama juga diungkap
Adian Husaini, salah seorang ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).  
”Salah satu kelemahan pesantren adalah tidak
bisa memberikan framework (bingkai) yang jelas kepada para santrinya,” jelas
Adian.







Santri hanya ditekankan pada
satu aspek saja, misalnya, fiqih atau lughah (bahasa). Tapi, framework 
menghadapi tantangan
berfikir kadang kurang.







Salah satu pesantren yang telah membekali santrinya untuk
menghadapi tantangan berfikir, kata Adian, adalah Gontor. ”Di Gontor, santri
yang akan lulus diberi bekal agar bisa menyiapkan diri menghadapi pemikiran
Barat. Kalau tidak, ya, dia akan menganggap itu sebagai hal yang benar,”
jelasnya. . [diambil dari Majalah Suara Hidayatullah, edisi Januari 
2008/www.hidayatullah.com]
berlanjut...




=== Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo.com/r/hs
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke