Bismillah, AR-Rahmaan, AR-Rahiim.

OK Mas, itu memang kondisi kita saat. Bersyukur kita, Allah telah memberikan 
info ini kepada kita. Akan tetapi info diberikan Allah kepada kita bukanlah 
untuk diperdebatkan bahwa mereka "yang terlihat salah" harus dihujat dan kita 
menyimpan dendam kepada mereka.

Dengan info ini, Allah menghendaki kita "Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat 
untuk memperbaiki sikon ini sesuai bidang kita masing2".

Amal saleh apa yang bisa kita lakukan ?

Maafkan saya.
As-Salaamun alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,

 
-----------------------------------------------------------
Mau Langganan Pulsa Keluarga Murah, Isi Sendiri, Mudah dan Cepat: 
Klik http://www.xez-pulsa.uni.cc

----- Original Message ----
Wrom: XIMQZUIVOTQNQEMSFDULHPQQWOYIYZUNNYCGPKYLEJGDGVCJVTL
To: Milis is-lam <[email protected]>
Sent: Wednesday, February 6, 2008 9:40:36 AM
Subject: Re: [is-lam] Haram Belajar Islam Kepada Orang Kafir


Waalaikum 
Salam 
wr 
wb
Itu 
memang 
fenomena 
yang 
sedang 
terjadi 
di 
indonesia 
saat 
ini.
Apalagi 
buat 
orang2 
awam 
& 
pemula 
yang 
belajar 
Islam, 
bahkan 
itu 
terjadi
di 
partai 
Islam 
( 
dibaca 
pks 
) 
yang 
di 
isi 
oleh 
orang2 
yang 
pemahaman 
keIslamannya
relatif 
lebih 
mumpuni, 
merasa 
tidak 
percaya 
diri 
membawa 
label 
keIslaman 
dipartainya
dan 
mengubah 
menjadi 
"partai 
terbuka"berteman 
dengan 
orang2 
non-Islam 
dalam 
"berdakwah" 
katanya.
Aneh 
bin 
ajaib


A 
Nizami 
さんは書きました:
> 
Assalamu'alaikum 
wr 
wb,
>
>
>
>
>
> 
http://syiarislam.wordpress.com
>
>
>
> 
Saat 
ini 
banyak 
orang-orang
> 
Islam, 
baik 
alumni 
pesantren 
mau 
pun 
alumni 
UIN/IAIN 
(Institut 
Agama 
Islam
> 
Negeri) 
yang 
belajar 
agama 
Islam 
ke 
orientalis/orang-orang 
kafir 
di 
negeri 
AS,
> 
Kanada, 
Australia, 
dan 
sebagainya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Aneh 
bukan? 
Belajar 
Islam
> 
bukannya 
kepada 
para 
ulama 
yang 
beriman 
kepada 
Allah 
dan 
rasulnya 
justru
> 
belajar 
kepada 
orang-orang 
yang 
sama 
sekali 
tidak 
beriman 
dan 
meragukan
> 
kebenaran 
Islam. 
Tak 
heran 
bukannya 
jadi 
ulama 
yang 
lurus, 
murid-murid 
orang
> 
kafir 
ini 
menjadi 
kafir/munafik 
sebagaimana 
gurunya 
dan 
menyesatkan 
ummat.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Mereka 
meragukan 
kebenaran
> 
Islam. 
Mereka 
meragukan 
keaslian 
Al 
Qur’an. 
Mereka 
bahkan 
meragukan 
Allah
> 
dengan 
mengubah-ubah 
hukum 
Allah 
seperti 
hukum 
waris, 
hukum 
Islam, 
dan
> 
sebagainya 
sesuai 
dengan 
nafsu 
mereka 
sendiri.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Padahal 
Allah 
telah 
berfirman,
> 
jangankan 
mengambil 
orang 
kafir 
sebagai 
guru 
agama 
ISLAM, 
sebagai 
teman 
pun
> 
tidak 
boleh. 
Apa 
sudah 
tidak 
ada 
lagi 
ulama 
Islam 
yang 
bisa 
jadi 
guru 
mereka
> 
untuk 
mengajar 
agama 
Islam?
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
”Janganlah 
orang-orang 
mukmin
> 
mengambil 
orang-orang 
kafir 
menjadi 
wali 
dengan 
meninggalkan 
orang-orang
> 
mukmin. 
Barang 
siapa 
berbuat 
demikian, 
niscaya 
lepaslah 
ia 
dari 
pertolongan
> 
Allah” 
[QS 
Ali 
Imran:28]
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
”Hai 
orang-orang 
yang 
beriman, 
janganlah
> 
kamu 
mengambil 
orang-orang 
kafir 
menjadi 
wali[368] 
dengan 
meninggalkan 
orang-orang
> 
mukmin. 
Inginkah 
kamu 
mengadakan 
alasan 
yang 
nyata 
bagi 
Allah 
(untuk 
menyiksamu)
> 
? 
[An 
Nisaa’:144]
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Orang-orang 
Kristen, 
Yahudi,
> 
Budha, 
dan 
Hindu 
cukup 
waras 
untuk 
tidak 
belajar 
agama 
mereka 
kepada
> 
orang-orang 
yang 
bukan 
seagama 
dengan 
mereka. 
Namun 
orang-orang 
Islam 
karena
> 
didera 
kemiskinan 
dengan 
iming-iming 
uang 
dan 
beasiswa 
akhirnya 
menggadaikan
> 
keimanan 
mereka 
dengan 
belajar 
agama 
Islam 
kepada 
orang 
yang 
tidak 
mau 
memeluk
> 
Islam.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Orang-orang 
kafir 
memberi
> 
beasiswa 
dan 
uang 
saku 
kepada 
santri 
pesantren 
atau 
alumnus 
IAIN 
untuk 
belajar
> 
agama 
Islam 
versi 
mereka 
justru 
untuk 
menyesatkan 
orang 
dari 
jalan 
Allah:
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
”Sesungguhnya 
orang-orang 
yang
> 
kafir 
menafkahkan 
harta 
mereka 
untuk 
menghalangi 
(orang) 
dari 
jalan 
Allah. 
Mereka
> 
akan 
menafkahkan 
harta 
itu, 
kemudian 
menjadi 
sesalan 
bagi 
mereka, 
dan 
mereka
> 
akan 
dikalahkan. 
Dan 
ke 
dalam 
Jahannamlah 
orang-orang 
yang 
kafir 
itu
> 
dikumpulkan” 
[Al 
Anfaal:36]
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Tak 
heran 
jika 
saat 
ini 
banyak
> 
posisi 
penting 
di 
Departemen 
Agama 
dan 
UIN 
yang 
dikuasai 
oleh 
orang-orang 
Islam
> 
Liberal 
yang 
pro 
Amerika. 
Banyak 
ormas-ormas 
Islam 
yang 
disusupi 
oleh
> 
orang-orang 
JIL 
yang 
memang 
didanai 
khusus 
oleh 
AS 
untuk 
itu.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6221&Itemid=84
>
>
>
>
> 
Awas, 
Virus 
Liberal 
Masuk 
Pesantren!  
  
  
  
  
  
>
>
>
>
> 
Senin, 
21 
Januari 
2008
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Tiap 
tahun, 
ratusan 
santri 
di 
pesantren 
”diboyong” 
ke 
luar
> 
negeri. 
Dengan 
dana 
besar 
dari 
Barat, 
penyebaran 
liberalisme 
ke
> 
pesantren 
terus 
gencar. 
[bagian 
pertama]
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
ImageHidayatullah.com--Suatu
> 
hari, 
salah 
seorang 
utusan 
Kedutaan 
Besar 
Amerika 
Serikat 
(AS) 
mendatangi 
KH
> 
Kholil 
Ridwan, 
ketua 
Badan 
Kerjasama 
Pondok 
Pesantren 
(BKSPPI) 
se-Indonesia. 
Utusan
> 
ini 
menyampaikan 
ajakan 
kepada 
Kholil 
untuk 
“bertamasya” 
ke 
Negeri 
Paman 
Bush
> 
tersebut. 
Semua 
fasilitas 
dijamin, 
termasuk 
uang 
saku 
yang 
tak 
sedikit. 
Sungguh
> 
tawaran 
yang 
menggiurkan!
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Tentu 
saja 
Kholil 
tak 
mau
> 
memenuhi 
undangan 
tersebut. 
Ia 
tahu 
ada 
niat 
tersembunyi 
di 
balik 
ajakan 
itu.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Namun, 
belum 
sempat 
penolakan
> 
disampaikan, 
undangan 
tersebut 
buru-buru 
dicabut. 
”Mereka 
tahu 
saya 
ini 
anti
> 
Amerika,” 
ujar 
Kholil 
kepada 
Suara 
Hidayatullah.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Kholil 
tak 
sendiri 
menerima
> 
ajakan 
tersebut. 
Sejumlah 
kiai 
juga 
menerima 
ajakan 
serupa. 
Bedanya, 
mereka 
mau
> 
memenuhinya, 
Kholil 
tidak.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Maka, 
setelah 
itu, 
silih
> 
berganti 
kiai-kiai 
mendapat 
jatah 
terbang 
gratis 
ke 
negara 
AS. 
Selama 
di 
sana, 
mereka
> 
dilayani 
bagai 
tamu 
istimewa. 
Mereka 
diajak 
melihat 
”realitas” 
masyarakat 
AS.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Hasilnya 
sungguh 
fantastis. 
Mereka
> 
yang 
sejak 
awal 
bersuara 
lantang 
terhadap 
kekejaman 
AS 
di 
Irak, 
Afghanistan, 
dan
> 
negeri 
Islam 
lainnya, 
mulai 
bersuara 
parau, 
jika 
tak 
ingin 
dikatakan 
lembek. 
Kata
> 
mereka, 
rakyat 
AS 
itu 
tidak 
sejahat 
pemerintahnya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Menurut 
Kholil, 
inilah 
tanda
> 
keberhasilan 
AS 
mengubah 
cara 
pandang 
negatif 
> 
masyarakat 
Muslim 
terhadap 
negaranya. 
Ini 
pula 
awal 
penyusupan 
paham
> 
liberal 
ke 
pesantren.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Meski 
begitu, 
tak 
berarti
> 
pesantren 
yang 
kiainya 
terkena 
bujuk 
rayu 
AS 
langsung 
dicap 
sebagai 
liberal. 
Mereka
> 
hanya 
perlu 
diwaspadai. 
Sebab, 
upaya 
AS 
tentu 
tak 
akan 
berhenti 
sampai 
di 
sini.
> 
Mereka 
akan 
terus 
berupaya 
menyusupkan 
pemikiran 
liberalnya 
ke 
dalam 
pesantren
> 
tersebut. 
Sekali 
kena 
jaring, 
boleh 
jadi 
selanjutnya 
kembali 
terperosok.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Menurut 
pemerhati 
pemikiran-pemikiran
> 
Barat, 
Adian 
Husaini, 
program 
Barat 
sekarang 
ini 
ingin 
membuat 
”Islam 
yang
> 
lain” 
menurut 
versi 
mereka. 
”Tentu 
yang 
menjadi 
sasaran 
utama 
adalah 
pesantren
> 
dan 
perguruan 
tinggi 
Islam 
sebagai 
tempat 
strategis 
pembinaan 
umat,” 
tandasnya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Muncullah 
pertanyaan 
di 
benak
> 
kita, 
mengapa 
pesantren 
begitu 
mudah 
disusupi 
mereka? 
Apa 
yang 
salah? 
Bagaimana
> 
pula 
pemikiran 
liberal 
itu 
bisa 
menyusup 
ke 
ruang-ruang 
mengaji 
di 
pesantren?
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Setidaknya, 
kupasan 
Suara
> 
Hidayatullah 
dalam 
Laporan 
Utama 
kali 
ini 
bisa 
menambah 
khazanah 
pengetahuan
> 
bagi 
jutaan 
orangtua 
yang 
ingin 
memasukan 
anaknya 
ke 
pesantren. 
Selamat 
membaca.  
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
>  
> 
***
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Santri 
Dirayu, 
Kiai 
Digoda
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Beberapa 
tahun 
lalu, 
Laskar
> 
Santri 
menggelar 
unjuk 
rasa 
menentang 
sikap 
Amerika 
Serikat 
(AS) 
yang 
represif
> 
terhadap 
umat 
Islam. 
Para 
santri 
Surakarta 
ini 
dengan 
lantang 
meneriakan 
yel-yel
> 
anti 
Yahudi 
dan 
AS.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Salah 
seorang 
di 
antara 
mereka
> 
ada 
yang 
bernama 
David 
Adam 
Al-Rasyid. 
Dialah 
santri 
paling 
lantang 
berteriak
> 
di 
antara 
demonstran 
lainnya. 
Di 
hadapan 
massa 
dia 
berkata,  
”Hancurkan 
Yahudi! 
Hancurkan 
Amerika!”
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Kenangan 
itu 
kini 
tinggal
> 
rekaman 
peristiwa 
masa 
lalu. 
Sejak 
David 
diundang 
mengikuti 
pertukaran 
pelajar
> 
ke 
Amerika 
selama 
satu 
tahun, 
ada 
yang 
berbeda 
dari 
dirinya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
”Kalau 
dulu 
waktu 
jadi 
Laskar
> 
Santri 
saya 
mengatakan, 
’Hancurkan 
Yahudi! 
Hancurkan 
Amerika!’ 
Tapi 
sekarang, 
siapa
> 
yang 
mau 
dihancurkan? 
Tidak 
semua 
orang 
Amerika 
jelek,” 
ujar 
David 
saat 
ditemui
> 
Suara 
Hidayatullah 
di 
Pesantren 
As-Salam, 
Surakarta, 
beberapa 
waktu 
lalu.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Saat 
David 
hendak 
berangkat 
ke
> 
AS, 
ia 
sempat 
meminta 
masukan 
kepada 
salah 
seorang 
kakak 
kelasnya 
di 
pesantren
> 
yang 
sama. 
Sang 
kakak 
kelas 
memberi 
wejangan, 
”Ternyata 
Amerika 
tidak 
memusuhi
> 
Islam.”
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Lalu, 
berangkatlah 
David 
ke
> 
Negara 
Paman 
Sam. 
Selama 
di 
sana, 
David 
dititipkan 
pada 
keluarga 
Katolik 
di
> 
Corvallis, 
Oregon. 
Menurutnya, 
keluarga 
yang 
ia 
diami 
amat 
toleran. 
Buktinya, 
ia
> 
bisa 
melaksanakan 
shalat 
dan 
membaca 
al-Qur’an 
secara 
rutin.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
“Mereka 
juga 
bertanya-tanya
> 
tentang 
Islam, 
mengapa 
harus 
shalat? 
Mengapa 
harus 
puasa? 
Bahkan 
kadang-kadang
> 
mereka 
menegur 
saya 
jika 
terlambat 
shalat. 
Rupanya 
tidak 
semua 
orang 
Amerika
> 
jahat 
” 
kenang 
David.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Santri 
asal 
Yogyakarta 
ini 
juga
> 
menceritakan 
kehidupan 
bebas 
remaja 
di 
sana. 
Pernah 
suatu 
hari, 
David
> 
dikejutkan 
oleh 
tangan 
yang 
sekonyong-konyong 
melingkar 
di 
pinggangnya. 
Saat
> 
menoleh 
ke 
belakang, 
ternyata 
tangan 
itu 
milik 
seorang 
perempuan. 
Menurut 
David,
> 
di 
Amerika, 
hal 
seperti 
itu 
biasa-biasa 
saja. 
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
David 
cuma 
satu 
dari 
sekian
> 
banyak 
pelajar 
Indonesia 
yang 
mengikuti 
program 
Youth 
Exchange 
Study 
(YES). 
Program
> 
ini 
diselenggarakan 
oleh 
AFS 
(American 
Field 
Service) 
bekerjasama 
dengan
> 
Yayasan 
Bina 
Antara 
Budaya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Program 
ini 
dirancang 
setelah
> 
peristiwa 
11 
September 
2001, 
dirancang 
khusus 
untuk 
negara 
yang 
mayoritas
> 
berpenduduk 
Muslim. 
Setiap 
bulan 
para 
peserta 
dibekali 
uang 
saku 
sebesar 
125
> 
dollar 
AS, 
atau 
sekitar 
Rp 
1,2 
juta.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Tahun 
2007, 
dari 
97 
orang
> 
pelajar 
Indonesia 
yang 
diberangkatkan, 
30 
di 
antaranya 
dari 
pesantren 
seperti
> 
Darunnajah, 
Darul 
Falah, 
Insan 
Cendekia, 
dan 
IMMIM 
Makassar, 
Sulawesi 
Selatan.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Suara 
Hidayatullah 
sempat
> 
menyambangi 
kantor 
Yayasan 
Bina
> 
Antara 
Budaya 
yang 
terletak 
di 
Jakarta 
Selatan. 
> 
Menurut 
Ketty 
Darmadjaya, 
humas 
yayasan, 
program 
ini 
didesain 
untuk
> 
meningkatkan 
wawasan 
santri 
serta 
mengubah 
pandangan 
masyarakat 
terhadap
> 
pesantren 
yang 
selama 
ini 
dianggap 
terbelakang.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
ImageKetty 
tak 
menapik 
kemungkinan
> 
tertularnya 
para 
santri 
tersebut 
dengan 
paham 
liberal. 
“Makanya, 
sebelum
> 
berangkat, 
kita 
memberikan 
orientasi 
kepada 
mereka 
tentang 
AS. 
Sepulangnya 
dari
> 
AS, 
mereka 
juga 
kita 
orientasi 
kembali. 
Kita 
katakan 
kepada 
mereka 
bahwa
> 
pengalaman 
satu 
tahun 
di 
AS 
bukanlah 
segalanya. 
Kita 
tidak 
ingin 
mengubah
> 
pandangan 
mereka 
terhadap 
Islam 
mejadi 
liberal,” 
jelasnya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Bahaya 
Mengancam
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Ternyata, 
tak 
hanya 
santri 
yang
> 
mendapat 
jatah 
’terbang’ 
ke 
Amerika. 
Kiai 
pimpinan 
pondok 
pesantren 
juga
> 
menjadi 
sasaran 
untuk 
diperkenalkan 
dengan 
’wajah 
manis’ 
Amerika.
>
>
>
>
> 
Melalui 
Institute 
for 
Training
> 
and 
Development 
(ITD), 
sebuah 
lembaga 
milik 
Amerika, 
mulai 
pertengahan
> 
September 
2002, 
para 
kiai 
bergantian 
bertandang 
ke 
negeri 
itu. 
Di 
awal 
program,
> 
lembaga 
itu 
mengundang 
13 
utusan 
pesantren 
’pilihan’ 
yang 
berasal 
dari 
Jawa, 
Madura,
> 
Sumatera, 
Kalimantan, 
dan 
Sulawesi.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Menurut 
KH 
Kholil 
Ridwan, 
Ketua
> 
Badan 
Kerjasama 
Pondok 
Pesantren 
se-Indonesia 
(BKSPPI), 
program 
ini 
terbukti
> 
efektif 
mengubah 
pandangan 
para 
kiai 
terhadap 
Amerika. 
Banyak  
kiai 
yang 
setelah 
pulang 
ke 
tanah 
air
> 
mengatakan, 
“ 
Rakyat 
Amerika 
tidak 
sejahat 
pemerintahnya. 
Mereka 
sangat 
baik.”
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Kholil, 
yang 
juga 
Ketua 
MUI, 
menolak
> 
keras 
pernyataan 
para 
kiai 
itu. 
“Di 
mana 
sikap 
baiknya 
rakyat 
Amerika? 
Amerika
> 
menyerang 
Irak 
atas 
persetujuan 
kongres, 
lalu 
kongres 
itu 
kan 
wakil 
rakyat. 
Jadi,
> 
artinya, 
rakyat 
Amerika 
sama 
jahatnya 
dengan 
pemerintahnya,” 
ungkap 
pengasuh
> 
Ponpes 
al-Husnayain 
ini.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Apabila 
sikap 
kiai-kiai 
itu
> 
melunak 
kepada 
Amerika, 
kata 
Kholil 
lagi, 
maka 
liberalisasi 
akan 
sangat 
mudah
> 
masuk 
ke 
pesantren. 
Kalau 
pesantren 
sudah 
terjangkit 
virus 
liberalisasi, 
maka
> 
akan 
berdampak 
pula 
terhadap 
pola 
pikir 
santrinya.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Nah, 
santri-santrinya 
ini 
pada
> 
akhirnya 
akan 
menjadi 
guru 
madrasah. 
Kalau 
gurunya 
liberal, 
bisa 
dipastikan 
murid-muridnya
> 
juga 
liberal. 
Generasi 
muda 
kita 
menjadi 
liberal 
semua. 
Perjuangan 
umat 
Islam
> 
pun 
melemah. 
“Ini 
sangat 
berbahaya!” 
Kholil 
memperingatkan.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Hal 
yang 
sama 
juga 
diungkap
> 
Adian 
Husaini, 
salah 
seorang 
ketua 
Dewan 
Dakwah 
Islamiyah 
Indonesia 
(DDII).  
”Salah 
satu 
kelemahan 
pesantren 
adalah 
tidak
> 
bisa 
memberikan 
framework 
(bingkai) 
yang 
jelas 
kepada 
para 
santrinya,” 
jelas
> 
Adian.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Santri 
hanya 
ditekankan 
pada
> 
satu 
aspek 
saja, 
misalnya, 
fiqih 
atau 
lughah 
(bahasa). 
Tapi, 
framework 
menghadapi 
tantangan
> 
berfikir 
kadang 
kurang.
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
> 
Salah 
satu 
pesantren 
yang 
telah 
membekali 
santrinya 
untuk
> 
menghadapi 
tantangan 
berfikir, 
kata 
Adian, 
adalah 
Gontor. 
”Di 
Gontor, 
santri
> 
yang 
akan 
lulus 
diberi 
bekal 
agar 
bisa 
menyiapkan 
diri 
menghadapi 
pemikiran
> 
Barat. 
Kalau 
tidak, 
ya, 
dia 
akan 
menganggap 
itu 
sebagai 
hal 
yang 
benar,”
> 
jelasnya. 
. 
[diambil 
dari 
Majalah 
Suara 
Hidayatullah, 
edisi 
Januari 
2008/www.hidayatullah.com]
> 
berlanjut...
>
>
>
>
>  
> 
===
> 
Syiar 
Islam. 
Ayo 
belajar 
Islam 
melalui 
SMS 
> 
Untuk 
berlangganan 
ketik: 
REG 
SI 
ke 
3252
>  
> 
Untuk 
berhenti 
ketik: 
UNREG 
SI 
kirim 
ke 
3252. 
Sementara 
hanya 
dari 
Telkomsel 
> 
Informasi 
selengkapnya 
ada 
di 
http://www.media-islam.or.id
>
>
>
>
>
>  
  
  
 
____________________________________________________________________________________
> 
Never 
miss 
a 
thing.  
Make 
Yahoo 
your 
home 
page. 
> 
http://www.yahoo.com/r/hs
> 
_______________________________________________
> 
is-lam 
mailing 
list
> 
[email protected]
> 
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
>
>  
 

_______________________________________________
is-lam 
mailing 
list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam






      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke