Assalamu'alaikum wr wb,

Dari Umar bin Khottob rarodiyallohu’anhu dia berkata:
”Aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda:
’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada niat.
Setiap orang akan dapat sesuai niatnya. Oleh karena
itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan
Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Dan barangsiapa yang hijrah untuk mendapatkan dunia
atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka
hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya
(niatnya).” [Bukhari-Muslim]

Seorang teman, Eko BS,  menulis bahwa saat ini ada dua
sisi ekstrim. Ada juru dakwah yang aktif berdakwah
hingga ke pedalaman sehingga lupa mencari nafkah dan
hidup miskin sehingga keluarganya agak terlantar. Di
kutub lain ada pula orang yang sangat makmur hingga
jadi CEO yang sangat kaya raya namun sumbangsihnya
terhadap Islam boleh dikata nol besar.

Di satu sisi ada orang yang ”Anti Dunia”, di sisi lain
ada pula yang Hubbud Dunia (Cinta Dunia) sehingga
melupakan ummat Islam lain yang kelaparan.

Pada akhirnya semua itu tergantung pada niat atau
tujuan. Apakah niat kita untuk Allah ta’ala, atau
sekedar jadi kaya agar keluarga tidak terlantar?

Banyak dalil atau versi yang dapat digali atau
dijadikan hujjah. Namun hendaknya kita bisa menimbang
dan menyusun berbagai dalil tersebut sehingga
terbentuk susunan/puzzle yang benar.

Ada yang mengatakan bahwa orang yang memberi nafkah
seorang yang kerjanya hanya ibadah saja itu lebih
baik. Ini memang ada haditsnya. Seorang aktivis dakwah
tidak bisa hanya berdakwah tanpa berusaha berbisnis /
usaha untuk mencari nafkah. Jika tidak, dia akan jadi
beban bagi masyarakat.

Di sisi lain juga banyak orang yang katanya mujahid
atau aktivis dakwah getol mencari uang untuk
memakmurkan keluarganya sehingga akhirnya takut
kehilangan jabatan dan hilang kepeduliannya kepada
ummat.

Ada pendapat umum bahwa orang yang ”baik” itu harus
terjun ke politik. Sebab jika tidak, maka orang yang
”buruklah” yang akan meramaikannya sehingga korupsi,
kolusi, dan nepotisme merajalela.

Itu benar. Namun sekali lagi kita harus tahu bahwa
baik itu sifat. Bisa berubah-ubah seperti iman. Kata
Nabi, iman itu kadang naik dan kadang turun. Seorang
yang beriman bisa saja berzina. Pada saat itu imannya
hilang. Dia juga bisa mencuri atau korupsi. Pada saat
dia melakukan itu imannya kosong. Jadi kita
benar-benar harus meluruskan nawaitu kita. Tidak
jarang orang yang ingin ”membersihkan” akhirnya
berubah sama kotornya dengan orang yang ingin dia
”bersihkan.”

Sebagai contoh, banyak ummat Islam yang terjun ke
politik untuk ”membersihkan” dunia politik Indonesia.
Tapi alih-alih jadi bersih, meski presiden, wapres,
pejabat, dan anggota DPR dipegang ummat Islam, korupsi
dan pemborosan makin merajalela. Rakyat makin banyak
yang kurang gizi atau busung lapar bahkan banyak yang
mati.

Kita hitung parpol yang mayoritasnya Muslim ada PKB
(12% dari total suara), PPP (9%), PKS (7%), PAN (7%),
PBB (2%), PBR (1%). Total ada 44% atau hampir separuh
kursi. Bahkan di partai yang betul-betul sekuler
seperti Golkar dan PDIP pun banyak Muslimnya. Tapi
kenapa kehidupan rakyat kita semakin menderita?

Ini karena niat sebagian besar dari mereka jadi
pejabat untuk jadi kaya. Bukan memperkaya ummat.
Sehingga mereka diam saja melihat kemungkaran. Mereka
tutup mata melilhat pemborosan. Mereka tidak berani
bersuara ketika banyak rakyat busung lapar karena
khawatir dicopot.

Sebagian juga ada yang begitu dapat uang dari
perusahaan asing langsung ”berjihad” membela
kepentingan perusahaan asing tersebut. Seorang anggota
DPD yang gigih memperjuangkan agar blok MIGAS Cepu
dikelola bangsa Indonesia sehingga hasilnya bisa
dinikmati bangsa Indonesia cerita bahwa ada 2 ”Ikhwan”
yang menemuinya agar menghentikan suaranya menolak
perusahaan asing yang mengelola blok Cepu tersebut.
Para ”Ikhwan” ini karena dapat uang akhirnya membela
kepentingan perusahaan asing yang kafir ketimbang
memakmurkan rakyat Indonesia.

Ada lagi pejabat dari partai Islam yang mengeluh kalau
gajinya yang 20 juta per bulan itu kurang. Padahal
gaji itu sudah lebih dari 128 kali angka penghasilan
rakyat miskin di Indonesia. Alasannya dia tidak bisa
”optimal” bekerja meski anggaran Departemennya
trilyunan rupiah.

Niat kaya yang tidak lillahi ta’ala ini akhirnya
membuat banyak pejabat Muslim kehilangan kepedulian
pada rakyat.

Contoh lain saya pernah menemani pak Budiman, pendiri
Ar Rahman TV ke seorang tokoh Islam yang katanya
”Mujahid” untuk mendapatkan izin siaran dan frekuensi
karena dia kenal dengan pejabat yang memiliki wewenang
untuk itu. Sebetulnya izin itu sekedar tanda tangan di
atas secarik kertas saja. Kalau pun ada biaya
administrasinya paling di bawah rp 10 juta. Namun
”Mujahid” ini begitu ketemu langsung bertanya, ”Apa
dealnya?” Dia seolah-olah menganggap itu sebagai
peluang untuk mendapat uang. Bukan peluang untuk
menjayakan Islam. 

Kemudian ujung-ujungnya keluar angka Rp 19 milyar yang
harus keluar untuk izin tahun pertama dan Rp 12 milyar
untuk tahun berikutnya. Tak heran jika pejabat yang
memegang wewenang itu sanggup mengadakan pesta
pernikahan Rp 2 milyar lebih untuk anaknya sementara
TV Islam pertama di Indonesia, Ar Rahman Channel,
akhirnya bangkrut karena tidak bisa siaran secara
terrestrial (hanya bisa lewat parabola saja) sehingga
penonton dan iklannya pun sedikit.

Itu contoh niat kaya yang akhirnya tidak membawa
sumbangsih untuk Islam.

Begitu banyak tokoh pemuda yang berjuang membela
rakyat dengan resiko kena peluru akhirnya ketika jadi
pejabat lupa kepada rakyat. Entah itu tokoh pemuda
ORBA, atau pun tokoh pemuda Reformasi sekarang ini.

Begitu jadi pejabat mereka lebih sibuk memperkaya diri
dan keluarganya. Mereka tidak bersuara lagi ketika
rakyat justru lebih menderita. Mereka takut kehilangan
jabatan.

Islam atau rakyat hanya dijadikan barang dagangan agar
mereka bisa jadi ”Tokoh Islam” atau ”Tokoh Pembela
Rakyat”. Begitu mereka besar dan dapat jabatan dan
kekayaan dari ketokohannya, mereka lupa karena memang
niat awalnya hanya untuk memperkaya diri. Bukan
mensejahterakan rakyat.

Memang Islam menyuruh ummat untuk mencari rezeki agar
mereka kuat:

”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah
kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”
[Al Jumu’ah:10]

Hanya saja, sesuai sunnah Nabi kita, kekayaan yang
mereka dapat itu sebagian besar diinfakkan kembali
untuk ummat Islam. Bukan untuk keluarganya.

Sering Nabi bersedekah sehingga justru uangnya tidak
tersisa sama sekali sehingga Allah menegur agar tidak
terlalu pemurah sehingga menyedekahkan semua harta
yang ada tanpa sisa:

” Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada
lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya
karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [Al
Israa’:29]

Para sahabat Nabi seperti Usman, Umar, dan Abu Bakar
adalah orang kaya, tapi mereka menginfakkan sepertiga,
separuh, bahkan seluruh harta untuk Islam. Nah
sepertinya semangat sedekah/memberi inilah yang
kelihatannya kurang pada mayoritas ummat Islam mau pun
motivator Islami. Yang ada cuma kayaaaa saja.

Sebaliknya miskin karena kepepet, meski sebagian
sahabat ada yang seperti itu, namun itu bukan yang
dilakukan Nabi. Nabi itu jika mau kaya gampang. Tahan
saja seperlima dari harta yang dia dapat, niscaya Nabi
akan sangat kaya karena kerajaan Romawi dan Persia itu
sudah hampir berada di genggamannya.

Nabi ketika ditawari jabatan, kekayaan, dan wanita
agar menghentikan dakwah Islam menjawab, ”Seandainya
matahari ditaruh di tangan kiriku dan rembulan di
tangan kananku, niscaya tidak akan merubah pendirianku
untuk menyebarkan Islam.”

Ini beda kan dengan sebagian besar tokoh Islam yang
takut jabatan dan kekayaannya lepas sehingga diam
melihat kemungkaran seperti korupsi, pemborosan, dan
ketidak-adilan. Bahkan sebagian ada yang jadi agen
asing yang membela perusahaan-perusahaan asing
sehingga puluhan juta hektar hutan, perkebunan, dan
pertambangan dikuasai oleh perusahaan asing sementara
rakyat banyak justru tidak kebagian. Banyak yang jadi
Abdul Kafiruun atau Budak Harta.

Umumnya ummat Islam keinginan kayanya masih berpaham
”Karunisme” atau orang yang bermegah-megahan seperti
surat At Takatsuur. Bukan seperti Nabi. Orang kaya
yang dermawan jarang... kata seorang ustad.

Ketika jadi Nabi dan Penguasa Jazirah Arab pun Nabi
Muhammad menyumbangkan sebagian besar hartanya
sehingga tidak pernah keluarga beliau kenyang 3 hari
berturut-turut seperti dituturkan ’Aisyah istri Nabi.
Bahkan pernah Nabi mengganjal perutnya dengan batu
karena lapar. Umar bahkan menangis terharu melihat
punggung Nabi yang berbekas akibat tidur di atas
pelepah kurma.

Ibaratnya Nabi Muhammad itu kalau mau dapat Rp 100
milyar bisa. Tapi beliau infakkan yang Rp 99 milyar
dan menyisakan hanya Rp 1 milyar untuk rumah dan
kendaraan keluarganya. Ini tentu jauh beda dengan
orang yang hartanya misalnya Rp 50 trilyun, tapi
paling banter hanya menyumbang 0,1% saja atau bahkan
tidak sama sekali. Bahkan dalam berusaha sering
merugikan orang dan negara trilyunan rupiah. Ini juga
beda dengan orang sederhana karena kepepet yang memang
hartanya cuma Rp 50 juta dan menyumbang hanya Rp 500
ribu.

Saya pribadi punya pengalaman ketika baru lulus
ditawari kerja di BRI oleh teman Bapak menolak, karena
takut itu riba. Begitu pula ketika baru-baru ini
ditawari adik kerja di satu perusahaan otomotif tapi
karena di divisi financing, saya tolak karena khawatir
riba. Padahal gaji di perusahaan tersebut cukup besar.
Paling tidak 2-3 kali lipat gaji saya sekarang.

Saya tidak mau saya dan keluarga saya memakan dari
hasil riba. Dari barang yang haram. Itu sama dengan
memakan bara api neraka. Saya tidak mau membuat murka
Allah. Kalau Allah ridho dengan kita, insya Allah
semua akan gampang.

Selama bertahun-tahun jadi IT Manager paling tidak ada
lebih dari setengah milyar pembelian produk IT yang
saya tangani. Kalau mau dibikin-bikin bisa milyaran
rupiah pembelian dilakukan. Toh saya tidak pernah
meminta sepeser pun komisi dari para supplier. Begitu
ada yang memberi komisi/uang, langsung saya laporkan
pada atasan saya dan uangnya dipergunakan untuk
kepentingan perusahaan.

Pernah ada kejadian lucu seorang supplier memberi saya
amplop di lift. Ketika saya tolak, dia ngotot
memberikan kembali. Sehingga daripada jadi pusat
perhatian, akhirnya saya terima dan saya laporkan
pemberian itu ke atasan saya. Atasan saya dan saya
memilih supplier tersebut karena memang pekerjaannya
sangat memuaskan. Bukan karena mengharap komisi.

Mungkin saya ingin kaya, tapi ridho Allah bagi saya
lebih utama sehingga hal-hal yang haram bahkan komisi
yang umum saya hindari. Jadi luruskan niat untuk Allah
ta’ala. Jangan cuma niat jadi kaya.

Sebaliknya saya menerima SMS dari seorang teman bahwa
seorang tokoh yang sederhana yang meski jadi anggota
DPR tapi tetap gelayutan di bis disidang oleh oknum
petinggi partai Islam karena memprotes elit partai
yang hidup mewah sementara para kadernya hidup dalam
kemiskinan.

Bagaimana para elit partai tersebut bisa
mensejahterakan rakyat kalau mereka sendiri enggan
mensejahterakan kadernya?

Ketika saya konfirmasi dengan seorang teman yang
bernama Eko W, teman yang pengusaha ini berkata, itu
memang benar ”H” yang menyidangnya katanya. Dan saya
kalau bisnis malas kalau lewat parpol, apalagi parpol
Islam. Pejabat Parpol Islam lebih parah lagi. Cuma
jadi makelar saja belum apa-apa sudah minta komisi 20%
katanya sementara pejabat parpol yang biasa malah cuma
5%.

Pejabat tersebut sebenarnya bisa memberdayakan ummat
Islam dengan membantu pengusaha Muslim (tentu dengan
menerapkan profesionalitas). Tanpa diminta imbalan
pun, orang bisa berterimakasih. Cuma itu tidak
dilakukan. Yang diminta adalah komisi dan komisi.

Itulah niat kaya tanpa dilandasi niat lillahi ta’ala.
Orang baik atau tokoh Islam pun bisa terjerumus karena
iman kita selalu naik turun. Kita harus terus
introspeksi agar tetap bisa istiqomah.

Saat ini rakyat sengaja dimiskinkan secara struktural
sehingga banyak rakyat yang tewas karena kelaparan
(baca: www.infoindonesia.wordpress.com ). Ini karena
Negara sering menggusur rakyat tanpa ganti rugi yang
sepadan. Sering pasar ”kebakaran” (atau dibakar?)
ketika akan direnovasi sehingga modal para pedagang
habis terbakar. Begitu pasar baru jadi seperti di
pasar Tanah Abang, para pedagang lama yang umumnya
Muslim (seperti pedagang Arab, Padang, dan Bugis)
tergeser karena modal mereka habis terbakar dan
diganti oleh pedagang non Muslim. 

Puluhan juta hektar hutan, perkebunan, dan
pertambangan yang harusnya bisa digunakan rakyat untuk
mencari uang diserahkan ke berbagai perusahaan asing.
Para pengusaha dengan sistem Kapitalis Neo Liberalisme
dibiarkan menguasai 100% usaha sementara BUMN
diprivatisasi dijual ke segelintir pemilik modal.
Akibatnya sebagai contoh, 100% perkebunan kelapa sawit
dikuasai oleh segelintir pengusaha terkaya di
Indonesia. Begitu harga minyak kelapa melonjak dari Rp
6.000/kg jadi Rp 16.000/kg pemerintah tak bisa apa-apa
karena perkebunan itu 100% dikuasai oleh para
pengusaha dan para pengusaha yang menaikan harga
minyak itu adalah penyumbang dana kampanye para
politikus kita.

Boleh dikata para pejabat yang mayoritas Muslim hanya
bisa berdiam diri melihat rakyat kelaparan dan
ketidak-adilan ini karena mereka sudah kenapa penyakit
Hubbud dunia. Kenapa Indonesia yang pejabatnya
mayoritas Muslim ini sering menempati ranking 5 besar
dalam hal korupsi? Karena cinta harta.

Dari Tsaubah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris
orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian
seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata
seseorang: Apakah karena jumlah kami sedikit waktu
itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu
banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas
air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu
terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu
penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah,
apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan
takut mati”. (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278.
Abu Na’im dalam Al-Hilyah)

Ahmad Sofyan seorang teman menulis satu doa, ”Ya
Allah...letakkanlah dunia di tangan kami. Jangan di
hati kami”

Bagaimana pun juga kita mencari rezeki, maka biarlah
kekayaan itu diletakkan di tangan kita hingga sebagian
bisa kita infakkan untuk Islam. Jangan sampai kita
mencintai kekayaan sehingga jadi malas sedekah dan
tega menempuh jalan yang haram dengan menjadi agen
asing, Abdul Kafiruun, dan Budak Harta.

Semoga kita semua diberi kesabaran oleh Allah SWT
untuk selalu istiqomah di jalan Allah.


===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs
_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke