BERSYUKUR ATAS KELAHIRAN
NABI MUHAMMAD SAW
( Dimuat juga di Bulettin Nurul Yaqin, Edisi 1 Th I )
Kurang lebih 14 Abad yang lalu seharusnya dunia ini sudah dihancurkan
Allah Swt. Betapa tidak! Tidak ada sejengkal tanah pun di atas muka bumi ini
kecuali dipenuhi oleh kemaksiatan dan kedurhakaan terhadap Allah. Sementara
nama Allah sudah hampir tidak disebut-sebut lagi di belahan bumi manapun.
Romawi yang hebat dan terkenal dengan sistem kerajaannya, nyatanya hanyalah
sebuah mesin penindasan yang paling ganas terhadap rakyatnya sendiri. Sistem
perpajakannya yang zalim menjadikan seluruh rakyatnya tidak mampu membayar
pajak, meski bekerja keras sepanjang tahun. Parsi pula adalah pusat kemaksiatan
dan kedurhakaan tiada tara di atas muka bumi ini. Kemusyrikan majusi bersanding
rapat dengan kesombongan dan kemaksiatan yang berpusat pada istana-istana
Kisra Parsi sendiri. Sementara India yang musyrik telah menggantikan kedudukan
Allah dengan ribuan sembahan. Bahkan binatang seperti sapi, gajah, elang, ular
pun mereka jadikan tuhan. Sementara sistem kasta India yang zalim masih lagi
dapat kita saksikan sampai ke zaman kita hari ini. Lalu, bangsa Arab apa
kurangnya. Di sana tiada siapa lagi yang dapat mengenal definisi kebenaran.
Sebab kosakata itu telah ribuan tahun lamanya tertimbun debu sejarah.
Bukankah tidak salah jika Allah hancurkan bumi saat itu? Allah pernah
menghancurkan kaum Aad dan Tsamud dan kaum Luth hanya karena syirik plus satu
kedurhakaan? Maka tiada siapa yang dapat menghalangi Allah untuk menghancurkan
dunia yang sudah dipenuhi oleh kemusyrikan berbungkus ratusan jenis
kedurhakaan! Namun Allah sendiri yang telah menetapkan atas Zat-Nya rahmat dan
kasih sayang. Bahkan Nabi SAW menerangkan bahwa rahmat Allah lebih luas dari
kemurkaan-Nya. Maka Allah tidak menghukum manusia atas dosa mereka saat itu.
Bahkan sebaliknya diteteskan-Nya ke atas muka bumi yang panas ini setetes embun
dari pelimbahan kasih-Nya. Itulah Muhammad SAW.
Bulan ini kita mengenang dan mensyukuri kembali peristiwa kelahiran
itu. Kelahiran yang mengakibatkan terpadamnya api sembahan di biara-biara
Majusi, menggoncangkan istana-istana kisra Parsi serta meruntuhkan puluhan
gereja di Buhairah. Kelahiran yang membungkam kesombongan jin Ifrit dan pasukan
intelnya, yang paska kelahiran itu tidak bisa lagi mencuri berita dari langit.
Kelahiran yang disambut gembira oleh seluruh makhluk Allah di langit dan di
bumi.
Sudah seimbangkah kesyukuran dan kegembiraan kita terhadap kelahiran Nabi Saw
dengan kegembiraan Abu Lahab yang terkutuk? Dia yang namanya dikutuk Allah
sampai kiamat dalam surah Al-Lahab pernah gembira mendengar kelahiran
Rasulullah Saw. Sampai-sampai Tsuwaibah budak perempuan yang menyampaikan
berita itu dimerdekakannya serta merta!
Umat Yahudi yang terbebaskan dari kejaran Firaun pada tanggal 10
Muharam menjabarkan kesyukurannya dengan berpuasa, bersedekah, dan berbuat amal
kebajikan pada tanggal itu. Menyaksikan hal tersebut, Rasulullah Saw langsung
mengesahkannya sebagai sebuah kesyukuran yang patut pula dilaksanakan oleh umat
Islam. Lalu mengapa kegembiraan akan selamatnya seluruh umat manusia dari azab
Allah dengan kelahiran Rasulullah Saw tidak boleh diekspresikan dengan
memberikan makan fakir miskin, membaca sirah perjalanan hidupnya, bersedekah,
dan membuat amal kebajikan pada hari tersebut?
Justru itulah Imam Ibnu Hajar, An-Nawawi dan As- Suyuti bahkan
mensunnahkan perayaan Maulid Nabi Saw. Sepengetahuan penulis tidak pernah
terdengar seorangpun ulama salaf dari zaman dahulu yang mengharamkan peringatan
Maulid Nabi Muhammad Saw. Lucunya orang zaman sekarang justru banyak yang
berani membid'ahkan hal ini dengan merujuk pendapat ulama-ulama zaman sekarang.
Tinggalkanlah polemik mengenai itu. Hari ini, marilah kita
mengenang tangisan Rasulullah Saw saat tubuhnya yang suci berlumuran darah
dilempari batu oleh penduduk Taif. Dekatkan telinga kita ke bibirnya yang harum
saat beliau merintihkan sakitnya kepada Allah seraya berkata: "Duhai Allah,
karuniakan petunjuk-Mu pada umatku, karena sesungguhnya mereka belum menyadari."
Hari ini, marilah kita berdiri di sampingnya saat Abu Jahal
mencaci maki Rasulullah dan memukul kepala beliau dengan batu hingga berdarah.
Duhai..tinggallah sebentar bersamanya saat Abu Lahab, paman yang tadinya amat
menyayanginya tiada henti menghinanya sebagai orang gila dan tukang sihir. Atau
saat Uqbah bin Mu'ith mencabik-cabik baju Nabi Saw dan meludahi wajahnya yang
suci? Allahumma shalli 'ala sayyidina wa habibina wa mawlana Muhammad, wa 'ala
aalihi wa sahbihi ajma'in.
Tidak ada yang diharapkan Nabi saat ia menanggung semua
penderitaan itu, kecuali agar kita umatnya meyakini ajarannya dan mengikuti
sunnah-sunnahnya. Jika kita mengamalkan ajarannya dan melaksanakan sunnahnya,
maka benarlah cinta kita kepadanya. Jika sebaliknya..jangan harap kita dapat
melihat wajahnya di dunia ini, apalagi di akhirat nanti. Bahkan Nauzubillah,
beliau tidak akan berkenan memberikan seteguk air pun dari telaga al-Kautsar
saat kehausan mencekik leher dan jantung di padang Mahsyar. Padahal seteguk
saja air tersebut kita minum dari tangan beliau yang harum, hilanglah dahaga
kita sampai masuk ke dalam syurga.
Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rasul
Serasa dikau di sini.
? Ust. H. Arsil Ibrahim MA
http://www.nurulyaqin.org/index.php?option=com_content&task=view&id=113&Itemid=39_______________________________________________
is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam