sulit ma'mur dr oil industry kalo pengelolaannya dipercayakan kapitalis barat. 
prinsip mereka, "boleh jadi gak punya resources di negeri sendiri, tapi rampas 
milik mereka dgn perjanjian/kontrak". bentuk kontrak skrg tidak cuma macam psc, 
tac, job, teknologi & project tapi bisa meliput global country security. 
   
  di INA yg dibutuhkan itu org2 bersih, yg komit dgn peraturan yg dibuatnya 
sendiri. para kapitalis itu bisa merusak tatanan kalo pejabat yg berkepentingan 
buruk mental. 
   
   
  salam,
  Fahru
  
A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Assalamu'alaikum wr wb,
File Presentasi “Tak Ada Subsidi BBM” ternyata menyebar ke mana-mana. 
Bahkan ada yang mengaku tinggal di AS sampai menerima 2 kali dari pengirim 
berbeda.

Namun beberapa saat kemudian saya merasa file tersebut ada kekurangannya. 
Terlampau kasar (mungkin karena kemarin masih sangat emosi) dan terlalu condong 
kepada satu versi: versi Kwik Kian Gie.

Secara matematis memang dengan jumlah konsumsi minyak 1,2 juta bph 
(barrel/hari), produksi 1 juta bph, dan impor 0,2 juta bph dengan biaya 
produksi US$ 15/barrel, harga jual US$ 77/barrel dan harga minyak Internasional 
US$ 125/barrel Indonesia harusnya untung US$ 49,4 juta per hari atau Rp 165,8 
Trilyun/tahun(1 barrel=159 liter dan 1 US$ = Rp 9.200). Anda juga bisa 
menghitung sendiri dengan spreadsheet/kalkulator anda.

Tapi pernyataan rugi pemerintah bisa jadi satu kebenaran/bukan kebohongan 
karena “Cost Recovery” tahun 2008 untuk produksi sekitar 1 juta bph 
besarnya menurut LMND Rp 74 trilyun ditambah bagi hasil 15%. Seorang staf BP 
Migas mengatakan bahwa bagi hasil berikut cost recovery bisa mencapai 60:40. 
Jika ini benar, pada produksi 1 juta bph dan harga minyak US$ 125/barrel 
Indonesia memberi operator asing sebesar Rp 167 Trilyun setiap tahun! Meski 
menurut beberapa pengamat seperti Revrisond Baswir dan Amien Rais Indonesia 
tetap menikmati keuntungan meski harga minyak naik.

Saya coba muat perhitungan kedua versi yang berlawanan dan mencoba menganalisa 
mengapa Indonesia yang harusnya untung Rp 165 trilyun lebih menurut versi 
pertama, kok justru rugi sampai Rp 128 trilyun menurut versi yang lain?

Sebagian data dan asumsi saya ambil dari US Energy Information Administration 
dan California State Energy Commission. Saya meyakini validitasnya karena 90% 
minyak Indonesia justru dikelola perusahaan asing yang mayoritas justru dari AS.

Antara seharusnya untung dan akhirnya justru jadi rugi mungkin ada faktor X. 
Kita harus mencari faktor X yang merugikan. Jika kita bisa mengurangi bahkan 
menghilangkan faktor X ini, bisa jadi rakyat Indonesia bisa makmur.

Jika kita tahu penyebabnya dan bisa mencari solusinya, maka ini bisa 
menyelamatkan 5 juta anak Indonesia yang saat ini sedang kurang gizi/kelaparan 
dari jurang kemiskinan.

Silahkan dibaca dan dipelajari jika perlu diperbaiki jika ada kesalahan.

File Presentasi dan Simulasi bisa didownload di:
www.infoindonesia.wordpress.com

File Simulasi dengan 3 versi bisa didownload di:
www.infoindonesia.wordpress.com

Jika kita tak mampu membantu orang miskin, jangan sengsarakan mereka.


===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com



_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/listinfo/is-lam


       
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/listinfo/is-lam

Kirim email ke